
Sejak menikah 14 tahun yang lalu, Lulu dan Yuki tak kunjung dikaruniai seorang anak, sudah banyak upaya yang mereka tempuh tapi Lulu tak kunjung hamil, dan kenyataan yang menyakitkan itu terungkap, ternyata Lulu memang di vonis mengidap kemandulan.
Tapi Yuki tak pernah menyalahkannya sedikitpun. Yuki tetap setia pada Lulu walau pada kenyataannya Yuki tak bisa mendapatkan keturunan dari Lulu.
"Yuki itu, benar-benar pria yang sangat sempurna! Gue sangat beruntung bisa memiliki dia!" ungkap Lulu, dia memang tak pernah sedikitpun merasa menyesal sudah menikah dengan Yuki.
"Kalian memang ditakdirkan untuk bersama! Yuki pantas mendapatkan lo, dan begitu pun sebaliknya!"
Lulu memeluk Nara dengan hangat, Nara adalah satu-satunya sahabat yang selalu membuatnya merasa sangat nyaman.
Selama ini Lulu mendapat banyak kecaman dari keluarga Yuki, karena dia tak bisa menjadi istri yang sempurna. Tapi kehadiaran Yuki dan Nara menguatkannya kembali, Lulu tak pernah sekalipun merasa lemah saat Nara ada di dekatnya.
Apa kesibukan Yuki saat ini?
Dia adalah pelatih fisik di Sunrise, dia memang pria idaman sejuta umat. Dia tak pernah sekalipun menyalahkan Lulu atas situasi ini, dia tetap mencintai dan menyayangi Lulu dengan sepenuh hatinya.
***
Yura cuci bersih jaket milik Keita, dia setrika dengan rapi lalu dia bubuhkan beberapa semprotan parfum berharap Keita terkesan dengannya.
Huh, dengusnya lalu mendaratkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur. Dia masih terbayang-bayang kejadian tadi siang. Tapi ada beberapa hal juga yang membuatnya merasa tenang. Dia pikir Papinya Amanda akan menganggap masalah ini selesai begitu saja, dan dia lega karena pikiran polosnya tak berpikir liar lagi.
Yura tatap sebuah potret usang yang terpajang di meja samping tempat tidurnya, ada sepasang muda-mudi yang tampak dilanda panah asmara di dalamnya. Itu adalah potret Mendiang Ayah dan Ibunya belasan tahu lalu, mungkin jauh sebelum Yura sendiri lahir ke dunia ini.
__ADS_1
"Ayaah, Ibuu .... aku merindukan kalian!" gumamnya lirih sekali sampai tak sadar airmatanya sudah meniti begitu saja dari ujung matanya.
Yura tatap lekat-lekat potret itu, senyum yang tergambar seolah-olah senyum yang keduanya sunggingkan untuk Yura malam ini. Yura ingin sekali memeluk keduanya, sangat mustahil tapi dia berharap malam ini dia memimpikan keduanya. Yura dekap bingkai photo usang itu, lalu terlelap bersamanya.
"Anneyong ..." seorang gadis manis tersenyum kearah Yura, gadis manis itu tersenyum dengan gigi kelincinya, matanya yang menyipit seolah-olah ikut tersenyum.
"Ibu," panggil Yura, saat ini Yura berada di dunia berbeda, dia sebuah padang ilalang yang tingginya hampir setinggi dirinya.
"Ya, aku ini Eomma-mu! eomma sangat menyayangi kamu!" ucapnya lalu mundur perlahan dan pergi begitu saja, menghilang di antara ilalang-ilalang tinggi itu, hanya dalam hitungan detik Yura bisa bermimpi dengan Ibunya, Yura tak berusaha mengejar karena dia tahu pasti kalau itu hanyalah mimpi.
Satu hal menyedihkan yang Yura alami, dia tak sempat mengucapkan betapa dia menyayangi dan merindukan almarhum ibunya itu.
***
Yura menunggu kedatangan Keita di tempat parkir, dia perhatikan lagi deretan sepeda motor para siswa yang berjejer rapi di area parkir dan dia memag belum melihat milik Keita. Yura berharap bertemu dengannya di area parkir yang sepi dengan begitu Yura tak perlu merasa risih lagi dengan perhatian orang-orang.
"Ngapain disini?" tanya Arkan.
"M, aku mau kembalikan jaket milik Kak Keita ini!" ucapnya malu-malu, "oh," sahut Arkan lalu dia melengos melewati Yura begitu saja. Yura masih menunggu dan Keita tak kunjung datang.
"Kak, Kak Arkan!"
Yura menyusul langkah Arkan dan Arkan berhenti menunggu sampai Arkan ada di dekatnya.
__ADS_1
"Boleh nitip gak?"
"Heum," sahutnya enteng.
"Nih, makasih ya Kak, tolong sampaikan juga ucapan terimakasihku sama kak Keita!" ucapnya masih saja malu-malu.
"Heum!" sahut Arkan lagi dengan jawaban malas cirikhasnya.
Yura membiarkan Arkan berjalan lebih dulu, dia tak mau dianggap mencari-cari kesempatan lagi. Kejadian kemarin sudah cukup menjadi pelajaran berharga untuknya, dia tak mau berurusan lagi dengan orang-orang penting di sekolah.
Grruuuung, tak lama Yura melihat Keita baru saja memasuki area parkir tapi jaketnya sudah terlanjur dia titipkan pada Arkan. Tapi, akhirnya Yura menunggu Keita saja karena dia ingin mengucapkan banyak-banyak terimakasih pada Keita.
Beberapa saat kemudian ....
"Hey," sapa Keita dengan senyum khasnya.
"Hai, aku tadi udah titipkan jaket Kak kei sama Kak Arkan!" ucapnya.
"Oh, oke."
"Makasih banyak ya kak, terimakasih juga buat pembelaan yang Kak Kei lakukan kemarin!"
"Itu memang yang seharusnya kita semua lakukan biar gak ada lagi praktek bullying di sekolah ini!"
__ADS_1
"Iya.", perlahan Yura mulai mengagumi sosok Keita yang benar-benar hadir bak pahlawan sejati untuknya.
"Ke kelas yuk, lima menit lagi jam pelajaran pertama dimulai!" ajak Keita, Yura menyahut dengan anggukan pelan, dan akhirnya mereka berjalan beriringan menuju kelas mereka masing-masing.