
Dengan berat hati Yura sampaikan undangan pernikahannya untuk Keita. Dia kirimkan lewat pesan gambar dan bagaimana reaksi Keita saat menerima undangan itu?
Keita pandangi dua nama yang terukir indah di dalam undangan itu. Sesak memang sesak, perih memang perih tapi Keita tak punya pilihan lain selain menerima kenyataan.
'So, ini takdir! Ini takdir kalian, gue bisa apa? Gue cuma bisa berharap takdir ini adalah yang terbaik buat kalian!' batin Keita. Walau berat, ternyata Keita tetap mendoakan yang terbaik. Hati Keita memang sangat lapang dan besar, dia tak mencoba merutuki pernikahan mantan terindah dan sahabat terbaiknya itu, dia tetap mengharapkan yang terbaik.
***
"Kabarnya Arkan liburan di Bali, apa si Yura juga?" tanya Alana pada Ahsan. Saat itu mereka sedang duduk bersama di meja makan menikmati sarapan berdua saja karena orang tua mereka sudah kembali ke Swiss.
"Sejak kemarin tokonya tutup!" jawab Ahsan singkat. Dia seperti patah arang, dia juga seperti menyesal tak menyadari perasaannya sejak awal.
"Tuh kan bener? Heh, menyebalkan! Gimana bisa mereka liburan bersama?" gerutu Alana.
"Terus kamu mau susul mereka ke Bali?" tanya Ahsan menantang.
"Gak bisa! Aku masih punya beberapa pesanan yang harus aku selesaikan!" sahut Alana penuh sesal.
"Ya sudah, sebaiknya kamu selesaikan pekerjaan kamu! Jangan hampiri mereka lagi, jangan sakiti diri kamu sendiri terus-terusan!" kata Ahsan.
"Itu benar ... tapi aku selalu merasa kalau aku masih punya kesempatan untuk merebut hati Arkan kembali!"
'Itu sulit! Itu akan sangat sulit Alana! Kalau mampu, aku juga ingin merebut hati Han Yura! Bukan karena aku ingin menolongmu! Tapi, karena sekarang aku benar-benar ingin memilikinya!' batin Ahsan. Ya, belakangan, perasaan benci Ahsan perlahan berubah menjadi perasaan yang aneh cenderung menjadi perasaan suka, perasaan itu semakin dalam dan alhasil, Ahsan mulai merasakan penyesalan itu.
"Aku suka Arkan sejak dia masih menjadi adik kelasku di SMA! Sejak saat itu, aaah ... sudah lama sekali dan sampai detik ini perasaan itu gak pernah berubah! Bahkan ... bahkan semakin dan semakin mendalam! Perasaan ini, benar-benar menyakitkan!" kenang Alana, jelas sekali kalau saat ini dia sedih tapi Ahsan bisa apa? Ahsan juga sadar kalau hubungan Arkan dan Yura kian lama kian solid dan erat.
"Udahlah, jangan berlarut-larut terus! Dan sebaiknya ...." Ahsan menahan kata-katanya.
"Sebaiknya apa Bang?" tanya Alana.
"Mungkin sebaiknya kita selesaikan ini! Lupakan dia!" kata Ahsan, Alana malah tersenyum kecut lalu geleng-geleng kepala. Mungkin Alana tak mengerti kenapa Kakaknya menyuruhnya untuk menyerah.
"Apa? Lupakan Bang? Bukannya kamu yang ngajarin aku untuk selalu mengejar apapun yang aku mau mau?"
"Al ...."
"Baru sekarang aku dengar Bang Ahsan nyuruh aku buat menyerah!"
"Tapi ini semakin hari semakin menyakiti kamu!"
"Kalau begitu cepat ambil si Yura dari tangan Arkan! Ambil dia, dan dengan begitu Arkan akan kembali ke pelukanku Bang!" Alana tampak begitu emosional. Dan setelahnya Alana pergi menuju kamarnya meninggalkan Ahsan dan rasa sesalnya sendirian di ruang makan itu.
'Aku memang mau dia Al! Aku mau Han Yura! Tapi, Abang yakin ini tak akan mudah!' batinnya.
Bagaimana keadaan di Bali?
Ya, tempat digelarnya pernikahan Arkan Yura sudah ditata sedimikian rupa, konsepnya sama persis seperti yang Yura inginkan. Garden party, jadi mereka akan menggelar pesta kecil di luar ruangan.
Sebuah halaman berumput hijau sudah dihiasi dengan beberapa pilar putih dan kain-kain sutra putih yang berterbangan diterpa angin.
Di sudut-sudut area pesta juga sudah dihiasi dengan taman-taman kecil dengan ratusan tangkai mawar putih, hanya mawar putih. Yura maupun Nara benar-benar semuanya serba putih, all white. Karena putih adalah lambang dari kesucian dan lambang dari sesuatu yang sakral.
"Good! Ini sudah 99%! Terima kasih banyak ya team atas kerja keras kalian!" kata Nara pada para pegawai wedding organizer yang membantunya mewujudkan persiapan pesta yang sempurna ini.
"Sama-sama Bu Nara! Semoga acara besok berjalan lancar ya! Pasti acara besok adalah acara prestise kan untuk anda?" sahut pemilik wedding organizer itu.
"Iya, rasanya ... baru kemarin saya menjalani prosesi pernikahan dengan suami saya, dan besok ... malah putra kami yang akan melaksanakannya!"
Nara ingat hari bahagianya dulu, sekitar 23 tahun yang lalu ....
*Azka menggandeng tangan Nara menyapa tamu-tamu lain yang takjub dengan pasangan pengantin ini.
"Huh ... gue gak tahu ...." gumam Nara, dia kebingungan dan Azka dengar itu.
"Kenapa ?" tanya Azka.
"Gue gak tahu harus bilang apa sama para tamu, ah, pesta ini ... ini terlalu besar buat gue," kata Nara sangat kebingungan, Azka menghentikan langkahnya lalu menghadap pada Nara.
"Relax, yang penting tetap senyum," kata Azka mencoba menenangkan, bahkan dia memperagakan senyum yang harus Nara lakukan, boom!! gummysmile itu lagi, satu panah asmara kembali tertancap di hatinya*.
Nara ingat pesta pernikahannya itu, saat itu belum ada cinta di antara hatinya dan hati Azka, tapi setelah itu, mereka malah terjebak dalam permainan mereka sendiri.
'Aaah, rasanya baru kemarin dia menjadi Bos galakku! Sekarang, malah buah cinta kita akan menjalani pernikahan! Huh, time flow so fast!' batinnya sembari mengenang.
"Nyesel dulu kita gak ngadain pesta seperti ini juga?" tiba-tiba dua tangan melingkar di pundaknya dari belakang, Nara sangat mengenal tangan-tangan itu.
__ADS_1
"Huh, jangankan merencanakan konsep pernikahan, bahkan dulu aku masih shock dengan pernikahan pura-pura yang kita jalani!" kata Nara mengenang.
"Tapi kemudian kita gak bisa menahannya kan?" bisik Azka dengan nada menggoda.
"Idiiiih, coba diingat lagi! Kamu yang gak bisa menahan perasaan kamu, iya kan? Hayoo ngaku aja!" goda Nara kali ini, Azka tertawa geli.
Dia ingat betul pertama kali dia melakukannya bersama Nara, Azka malah merasa konyol.
"Itu sangat berkesan kan sampai kamu gak bisa lupain momen itu?"
"Heum, kamu emang paling bisa memutar balikan fakta!" Nara merajuk, Azka malah makin gemas. Ya, walau mereka sudah puluhan tahun hidup bersama tapi romansa indah hampir tak pernah padam di antara mereka.
"Iya iya, aku memang yang gak bisa menahan diri!" akui Azka mencoba membujuk Nara agar tak cemberut lagi.
Arkan melihat kemesraan Mama dan Papanya itu dari kejauhan. Dia ikut merasakan aura positif yang selalu orang tuanya tunjukan. Arkan juga berharap dirinya bisa memiliki momen emas seperti itu dengan Yura kelak.
'Makasih Ma, Pa! Karena sudah melahirkan aku ke dunia ini! Terima kasih karena sudah menjadikan aku anak yang beruntung, beruntungnya menjadi putra kalian! Aku sayang kalian! Dan aku akan selalu sayang kalian sampai kapan pun juga!' batinnya. Hatinya begitu damai menyaksikan interaksi manis Papa dan Mamanya itu.
Lalu bagaimana dengan persiapan Han Yura?
Dia sedang melakukan treatment di sebuah rumah spa, dia benar-benar mempersiapkan diri secara lahir dan batin.
Pijatan punggung dan seluruh bagian jengkal tubuhnya begitu membuat jiwanya terasa relax. Aroma manggir yang wangi dan melembutkan juga sampai membuainya di atas dipan kayu di antara lilin-lilin aroma therapy. Benar-benar serasa ada di Surga.
'Mulai besok! Tubuhku ini akan menjadi milikmu Kak! Hanya milikmu!' batinnya, suasana hatinya tiba-tiba menjadi sangat biru.
Tapi jujur saja, di lubuk hatinya yang terdalam, Yura belum begitu siap melayani Arkan secara batin. Rasanya masih sangat tabu. Dia sama sekali belum pernah mendapatkan sentuhan lebih, bahkan untuk sekedar berfantasi saja masih sangat tabu. Mungkin beda ceritanya dengan para anak lelaki yang lebih sering membayangkan hal-hal erotis di masa-masa transisi mereka.
"Tubuhmu ini ranum sekali Nak, suamimu pasti akan mabuk saat malam pertama besok!" kata therapis yang sedang memanjakan Yura dengan pijatan tangannya. Yura tersipu.
"Aaah, bisa aja! Saya ... malah gak begitu percaya diri besok! Aaah, entahlah ...." sahut Yura malu-malu.
"Setiap jengkal tubuhmu ini memiliki aura bagus! Tak akan ada yang tak menyukaimu!"
"Aaah, Ibu bisa saja!"
"Ya, hanya beberapa wanita yang dianugrahi badan ranum seperti ini Nak, bersyukurlah!"
Ya, begitulah, seorang therapis pun sampai mengakui kecantikan seorang Han Yura. Yura memang bisa membuat banyak pria jatuh cinta dengan kecantikan ragawinya dan terlebih dengan kemuliaan hatinya.
***
Harusnya Yura merasa relax setelah mendapat treatment total seharian tadi. Tapi sungguh, malam ini dia masih saja tak bisa tertidur.
"Ayo dong, ngantuk dong! Masa besok aku punya kantung mata, gak lucu dong?" gumamnya sedikit menggerutu.
Lalu Yura pandangi gaun pengantinnya, gaun pengantin berwarna putih bersih yang begitu menjuntai indah. Besok dia akan mengenakannya di hadapan orang-orang.
Yura bangkit dari tempat tidurnya lalu berjalan mendekat ke arah gaun itu, dia susuri setiap detailnya dan terbesit rasa tak sabar ingin segera memakainya.
"Tunggu beberapa jam lagi Han Yuraaa!" bisik seseorang, Yura sampai terkaget mendengar suara pria dewasa yang terdengar tak asing di telinganya itu.
Ayah? Mata Yura berembun menatap bayangan semu mendiang Ayahnya. Yura tahu, kalau sang Ayah hadir secara tiba-tiba dalam ilusinya untuk memberinya restu.
"Ayaaah ...." gumamnya lirih.
"Selamat berbahagia Nak! Kamu pantas, kamu sangat pantas mendapatkan kebahagiaan ini!" suara itu terdengar lagi, walau samar tapi itu masuk meresap ke dalam jiwa Yura.
"Ayah, aku sayang Ayah, jangan pergi sampai hari esok berakhir Ayah!" pinta Yura, sepertinya dia masih berdelusi.
"Ayah selalu ada bersamamu! Ayah ada bersama do'amu!"
"Ayaah ... Ayaaah!"
"Yura! Yura! Bangun!"
Yura membuka matanya. Ternyata saat ia membelai gaun pengantin itu dia hanya bermimpi. Yura sampai terengah saat terbangun. Ada Ibu sambung, ada Alika dan juga ada Yuki yang tiba-tiba ada di sekitarnya.
"Kamu kenapa Yur?" tanya Alika.
Semua orang heran, ternyata sejak beberapa saat lalu Nara meracau dalam tidurnya memanggil-manggil nama Ayahnya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Yuki kali ini.
"Suaramu cukup keras sampai terdengar ke luar!" tambah Ibu.
__ADS_1
"Ma-maaf! Aku ... aku merasakan kehadiran Ayahku!" akui Yura lalu dia malah menangis setelahnya, sungguh emosional. Ternyata Yura begitu merindukan mendiang Ayahnya.
Yuki langsung memeluk Yura, dia tahu kalau anak angkatnya itu sangat merindukan sosok Ayah kandungnya.
"Gak apa-apa menangislah! Beliau pasti ada, menyaksikan hari bahagiamu esok di tempat terbaik!" kata Yuki, soft sekali sampai membuat Alika dan Ibu ikut terharu.
"Iya Yur, kamu harus tetap mendo'akan dia! Dia juga pasti selalu ada buat kamu walau terpisah ruang Yur!" tambah Alika menambah haru suasana.
Yura lepaskan tangis rindunya dalam pelukan Yuki. Setidaknya dia merasa damai di dalamnya.
Setelah beberapa menit ....
"Tidurlah, masih sekitar 4 jam lagi! Tidur ya!"
Semua orang meninggalkan Yura sendirian lagi di dalam kamar resortnya. Yura memang perlu banyak istirahat untuk menghadapi hari esok.
Semua orang kembali masuk ke kamar mereka masing-masing, kebetulan Alika dan Ibu tidur di kamar yang sama dan tak lama sebelum dia masuk ke dalam kamarnya malah ada Zahran datang menghampiri dengan muka bantalnya.
"Ada apa sih? Kok pada keluar kamar?" tanya Zahran sibuk sendiri.
"Huu, telat!" cibir Alika kekik.
"Eh Al ... Al!" Zahran malah menahan langkah Alika yang hendak masuk ke kamarnya.
"Kenapa?"
"Hey, cepat masuk kamar masing-masing! Udah malam ini!" seru Ibu di ambang pintu.
"Tuh dengerin! Udah ya, bye ...." pamit Alika.
"Bentaran aja napa sih?" bisik Zahran genit.
"Iidiiih ...."
"Bentar dong, Bu! 5 menit aja!" pinta Zahran pada Ibu.
"5 menit! Gak lebih!"
Zahran senang bukan main, Alika merasa kalau Zahran mulai tebar pesona di hadapannya.
"Ada apa?" tanya Alika.
"M, besok, lo jangan jauh-jauh dari gue ya!" kata Zahran genit.
"Heum, bener-bener gak mau jauh-jauh dari aku ya!" goda Alika.
"Gue gak ada temen disini! Gak ada satu pun yang gue kenal selain lo sama si Yura! Masa iya gue ngintilin si Yura! Bahaya entar gue dapat bogem mentah si Arkan dong!" candanya, Alika hanya terkekeh mendengar candaan garing Zahran.
"Lihat besok aja!"
"Pokoknya besok lo gak boleh jauh-jauh dari gue!"
"Kenapa gak to the point aja sih, bilang ... Alika, lo mau gak jadi pacar gue?"
"Heleeeh, kepedean amat lo!"
"Ya udah! Besok gak usah ngarep ya aku temenin!" Alika melengos tapi Zahran menahannya lagi.
"Kok lo nyebelin sih?"
"Nyebelin? Kamu yang nyebelin! Kamu sudah buat aku menunggu cukup lama!" kata Alika ketus, lalu dia hendak pergi lagi tapi Zahran menahannya lagi.
"Menunggu?" tanya Zahran.
"Udahlah! Cowok slenge-an macam kamu mana peka sama perasaan rapuh perempuan!" Alika menghempas tangannya meninggalkan Zahran yang mencoba mengerti apa maksud kata-kata Alika.
"Hey Alika!" panggil Zahran saat Alika sudah sampai di depan pintu kamarnya, Alika menunggu.
"Gue suka sama lo! Lo mau gak jadi pacar gue?"
Alika terdiam, dia tersenyum tanpa Zahran tahu. Akhirnya Zahran mengakui cintanya Alika menoleh beberapa detik, lalu memalingkan wajahnya sampai akhirnya dia masuk ke dalam kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Zahran cuma garuk-garuk kepala, tak mengerti dengan sikap labil Alika malam ini.
"Huh, dasar perempuan! Katanya mau to the point! Giliran udah to the point malah langsung ditinggal! Huh!" gerutu Zahran lalu dia kembali ke kamarnya melanjutkan jam istirahatnya.
__ADS_1