
"Halo Bu? Ibu jangan cemas ya, sekarang ini Tania tinggal di sebuah rumah kos! Ya ... gak jauh dari kampusku dulu, aku akan selalu mengawasinya! Ibu jangan terlalu memikirkan dia ya, dia pasti baik-baik saja, kalau ada apa-apa, nanti aku kabari Ibu lagi!"
Yura baru saja selesai mengabari Ibu tirinya. Dia memang sudah mengintai Pergerakan Tania beberapa hari terakhir ini. Dan hal itu lumayan menguras energinya. Setelah berbulan-bulan membantu Chiyo, dan kini ia harus menangani masalan Tania.
"Aaah ...." Yura memegangi kepalanya. Dia kelihatan tidak fit. Dia pasti sakit, sudah berbulan-bulan dia kehilangan waktu istirahat ekstranya.
Yura berhenti di anak tangga, hampir saja dia jatuh, kepalanya begitu pusing beruntung tangannya sigap dan memegangi teralis tangga itu.
"Sayaaang, pikirkan dirimu sendiri! Terlalu banyak yang kamu urusi sampai kamu melupakan kesehatan kamu! Menepilah ... tenangkan hati dan pikiran kamu!"
Yura merasakan seseorang berbisik di telinganya, suaranya lembut sekali sampai membuai Yura dengan sempurna. Suaranya seperti suara Lulu. Yura sampai terduduk lemas di anak tangga itu. Mungkin dia kini sedang berada dalam titik terlemahnya. Yura hampir pingsan.
***
Ting Tong ....
Ada yang bertamu. Yura yang rebahan santai di di sofa di depan televisi segera bangkit. Wajahnya masih agak pucat. Sejak kemarin dia memang terlihat sangat tidak fit.
Yura berjalan perlahan lalu membuka kan pintunya. Ternyata yang datang Nara, Nara pun langsung menyadari kalau Yura sedang tidak sehat sekarang ini.
"Yuraa, kamu sakit?" sapa Nara begitu pintunya terbuka.
"M, iya sedikit gak enak badan Bu!" sahutnya tapi dia masih sempat menyambut Nara dengan senyuman.
"Udah ke dokter?"
"Belum sempet."
"Ya ampun, kita ke Dokter ya?"
"Nanti aja lah Bu, mungkin aku cuma perlu sedikit istirahat!"
"Iya, kamu pasti kecapean ini!"
"Oh iya, ayo masuk Bu ...."
"Sebenarnya saya mau ajak kamu ke rumah baru Arkan, kita makan-makan disana!"
"Rumah Kak Arkan?"
"Iya, dia sudah punya rumah sendiri, heum ... kamu ikut aja yuk, kamu bisa tetap istirahat disana!" ajak Nara, Yura agak ragu. Sebenarnya sejak malam dimana Arkan mengobrol dengannya di teras rumah, Yura tak pernah bertemu Arkan lagi. Pasti pertemuannya nanti akan kembali canggung.
"M, baik Bu ... saya, ganti baju dulu ya!"
"Oke," Nara menunggu.
Ya! Sekarang Arkan memang sudah punya kediaman sendiri. Predikat sebagai pria mandiri benar-benar sudah dia sandang. Alana maupun Keyla akan semakin berharap memiliki tempat spesial di hatinya.
Rumahnya tidak terlalu luas, tapi interiornya begitu modern dan membuat siapapun nyaman. Siapa pula yang tak akan nyaman tinggal di rumah itu bersama Atlet basket muda se-keren Arkana? Hampir seluruh gadis-gadis mendambakannya.
Yura masuk bersama Nara. Dia pun takjub dengan rumah baru Arkan. Di dalam ternyata sudah ada Alana juga yang sedang berbincang hangat dengan Azka, orang yang Alana harapkan menjadi Papa mertuanya kelak.
Entah kenapa Yura jadi agak sedikit terganggu, mungkinkah Yura juga merasa cemburu kali ini?
"Kamu baik-baik saja?" sapa Azka yang juga melihat betapa pucat dan layu-nya Yura saat ini.
"Iya Om, cuma sedikit gak enak badan aja ...." sahutnya, Alana hanya memicingkan sebelah matanya. Terlihat jelas kalau Alana sangat tidak senang dengan ke datangan Yura, apalagi Yura datang bersama Nara.
"Ya sudah, kamu istirahat saja ya," kata Azka penuh perhatian.
"Iya Om, makasih."
"Yang masak biar Bi Marni sama Mama-nya Arkan!"
"Sama aku aja deh Om, aku mau bantuin tante Nara masak!" kata Alana mencoba mendominasi.
"Oh boleh boleh," persilakan Azka dan Alana pergi menuju dapur yang ada di salah satu sudut ruang rumah Arkan ini. Yura masih bisa menyaksikan keseruan di area dapur karena memang tak ada sekat pemisah di ruang lantai bawah rumahnya ini.
Lalu dimana Arkan? Mata dan hati Yura mencari-cari, sejak masuk tadi Yura tak menemukan sosoknya. Walau Yura selalu berusaha menghindari tatapan anak lelaki itu tapi Yura diam-diam merindukannya juga.
"Apa kabar Ayahmu? Apa dia masih intens menelpone?" tanya Azka kembali membangun topik pembicaraan dengan Yura.
"Sepertinya Ayah senang ada disana Om! Mungkin dia bisa menikmati hari-harinya tanpa terbelenggu kenangan disini!" jawab Yura lugas.
"Iya, pasti berat sekali kehilangan istri yang paling dia sayangi, tapi beruntung dia punya anak baik sepertimu!" sanjung Azka, Yura jadi tersipu, senang sekali rasanya mendapat sanjungan dari Papa Azka.
"Minggu depan dia pulang kan?"
"Iya, semoga jadwalnya gak terganggu lagi!"
"Yura, jaga Ayahmu baik-baik ya, sayangi dia seperti dia adalah benar-benar Ayahmu!" kata Azka.
__ADS_1
"Iya Om, dia adalah Ayah yang sangat baik, walau kami tak terikat ikatan darah, tapi beliau, menyayangi saya dengan sepenuh hati!"
Azka tersenyum, senang rasanya sahabat baiknya itu memiliki malaikat kecil seperti Yura, Azka tak akan mengkhawatirkan apapun lagi sepertinya. Yuki berhak mendapatkan kebahagiaan.
Nara, Alana dan Bi Marni sibuk mengolah makan siang di dapur asri milik Arkan. Dan jujur saja, Alana juga merasa cemburu melihat Yura terlihat akrab dengan Azka.
"Mereka lagi ngobrolin apa sih, serius banget!" kata Nara yang juga diam-diam memperhatikan interaksi Yura dan Azka.
"Kayak menantu sama Bapak mertua ya Non ...." celetuk Bi Marni, dan itu membuat Alana merasa tersengat. Celotehan Bi Marni semakin menyulut api cemburu di hatinya.
"Emangnya saya sama Azka udah pantes gitu punya menantu Bi?" gurau Nara.
"Mungkin tunggu 2 sampai 3 tahun lagi Non!"
Alana diam saja. Sesak rasanya mendengar obrolan ringan itu, harusnya yang mereka perhatikan itu adalah dirinya, bukan Han Yura, pikirnya.
"Sayaaang, Arkan masih dimana ya? Kok dia lama banget," tanya Nara pada Alana yang sejak tadi diam dan cemberut.
"Mungkin jemput Vano Ma," sahutnya, dan dengan akrabnya dia sudah memanggil Nara dengan sebutan Mama. Alana tak akan merelakan posisi calon istri Arkan untuk siapapun.
"Oh iya, sampai sekarang Vano tetep gak bisa bawa kendaraan ya? Huh, Vano Vano, kenapa dia begitu trauma mengendarai kendaraan sampai dewasa ini!"
"Iya Ma, kecelakaan kecil waktu dia masih SD masih lekat di pikirannya, makanya dia tetap gak berani bawa kendaraan sendiri!"
"Oh gitu ya, kasihan juga sih. Harusnya dia jalani trauma healing, karena jaman sekarang, ya ... setidaknya kita harus bisa menguasai salah satu jenis kendaraan."
Akhirnya Arkan datang, tapi dia datang sendiri dengan satu set alat makan. Dia sampai harus mendadak membelinya karena rumahnya ini memang masih sangat kosong melompong.
Yang Arkan lirik saat pertama dia melewati pintu adalah Yura. Tapi Arkan antarkan terlebih dahulu set alat makannya itu ke dapur.
"Ini cukup kan Ma?" tanya Arkan.
"Heum, cukup lah buat sementara!"
"Yura datang sama Mama?" tanya Arkan.
Yura lagi, Yura lagi! gerutu Alana, dia kesal karena dia merasa Yura sudah mengambil alih perannya.
"Iya, tapi dia sedikit kurang fit! Coba kamu bujuk dia buat periksa ke dokter, mukanya pucat banget, takutnya dia kecapean atau ada hal serius, kasihan kan dia cuma tinggal sendirian gak ada yang perhatikan dia!" pinta Nara, Alana? Semakin kesal, Nara memang kurang peka, Nara gak tahu kalau Alana begitu mencintai puteranya dan begitu cemburu kepada Yura.
"Iya deh, aku bujuk dia!" Arkan berlalu dan Alana semakin, semakin dan semakin meradang.
"Sayaaang, hati-hati pisaunya kena jari kamu!" kata Nara menyadarkan saat Alana tanpa sadar memotong-motong sayuran tanpa aturan.
Arkan bergabung di sofa di ruang utama rumah barunya itu. Arkan duduk di samping Yura yang merasa canggung lagi apalagi dia tahu kalau Alana tak melepaskan pandangannya darinya.
"Lo sakit?" tanya Arkan lalu dia letakan telapak tangannya di kening Yura.
"Cuma sedikit gak enak badan kok!" sahutnya lalu dia turunkan tangan Arkan dengan tangannya, Azka malah senyum-senyum melihat interaksi keduanya.
"Sakit tuh gak boleh nunggu sampai parah! Ayo gue antar ke Dokter!" ajak Arkan langsung memaksa.
"Gak usah, aku mau bantu-bantu di dapur ah!" tolak Yura dan dia malah bersiap untuk beranjak tapi Arkan masih menahan tangannya.
"Bandel, susah banget dibilangin!"
"Iih Kakak ini, apaan sih, lihat Kak Alana! Jaga perasaannya dong!" bisik Yura kesal, Azka semakin merasa terhibur. Dia baru benar-benar sadar kalau anaknya sudah bujang dan hal itu mengingatkan pada masa lalunya bersama Nara yang bisa dibilang sulit sekali untuk akur di awal pertemuan, sekitar 23 tahun yang lalu.
"Yura, sebaiknya kamu chek up saja dulu, jangan biarkan Ayahmu tahu kalau kamu sakit sekarang ini, kamu harus kembali sehat!" kata Azka.
"Tapi, saya cuma perlu istirahat kok Om!"
"Huh, benar-benar susah dibilangin!" gerutu Arkan.
"Pergilah, biar Arkan yang antar! Mumpung dia mau! Biasanya dia susah dimintai antar!" kata Azka lagi, Yura memicingkan matanya pada Arkan yang justru sedang mencuri kesempatan saat ini.
"Makan siang biar mereka yang urus! Pergilah!"
Karena Azka sudah bicara maka Yura juga tak mungkin menolak terus niat baik Arkan. Baiklah, kata Yura, lagi pula sejak tadi Alana bersikap judes padanya, kenapa tidak sekalian saja membuat gadis se-cantik dia cemburu, pikir Yura. Pikiran jahatnya muncul tiba-tiba, dan dia malah terkekeh membayangkannya.
"Ma, aku antar Yura ke Dokter dulu ya!" pamit Arkan.
"Iya sayang, hati-hati ya ...."
Alana be like 'Damn! Sialan Han Yura! Kenapa lo selalu dapat kesempatan itu?'.
Mau tak mau akhirnya Yura harus menerima niat baik dan perhatian Arkana. Yura masuk ke dalam mobilnya.
"Sebenarnya aku gak enak sama Kak Alana," ungkap Yura pelan saat mobilnya sudah melaju.
"Kenapa lo selalu memikirkan perasaan orang lain tanpa memikirkan perasaan orang lain? Akui saja Han Yura, lo juga cemburu kan lihat Alana ada di dekat gue?" kata Arkan panjang lebar, Yura hanya tersenyum masam.
__ADS_1
"Cemburu? Jangan menduga-duga Kak, bagian terbesar dari hatiku masih menunggu Kak Keita!" akui Yura dan kini Arkan lah yang merasakan api cemburu itu.
"Tapi di masa depan lo harus jadi istri gue! Tinggal di rumah itu, gimana? Bisa?" gurau Arkan, senyum Yura semakin masam saja padahal dalam benaknya dia juga membayangkan, bagaimana jadi isteri seorang Arkana di masa depan?
Dalam benak Yura ....
2 atau 3 tahun kemudian ....
"Sayaaang, sarapannya sudah siap?" Arkan datang lalu memeluknya dari belakang saat dia sedang menyiapkan sarapan di dapur.
"Tunggu sebentar lagi ya," sahutnya sembari dia mainkan spatula di atas wajannya, mengaduk-aduk nasi goreng buatannya di pagi khayalannya itu.
"Thanks for being my wife, honey! I love you so much!" bisik Arkan.
Sayang, itu cuma angan-angan liar Yura, malah Yura agak senyum-senyum sendiri dan Arkan jadi heran sendiri melihat tingkah aneh Yura.
"Huh, kayaknya demam lo benar-benar tinggi!" cetusnya, Yura tersadar dan jadi malu.
"Maksudnya?"
"Senyum-senyum sendiri! Bayangin apa sih, bayangin si Keita balik terus nembak lo lagi, gitu?" terka Arkan dengan nada kekik, Yura kembali tertawa.
'Bayangin kamu Kak! Tapi itu lucu aja jadinya, karena aku tahu itu gak akan pernah nyata! Walau kamu sayang aku, aku juga sayang kamu, tapi begitu banyak hati yang harus kita jaga!' batin Yura lalu dia memalingkan wajahnya. Dia ingin mengakhiri khayalan gilanya, memiliki Arkan masih sangat tabu untuknya, masih banyak hati yang harus dia pertimbangkan dan dia jaga.
Mereka sampai di sebuah klinik, Arkan menepi dan keduanya turun bersama-sama. Begitu turun dari dalam mobil dan terkena terik matahari Yura kembali merasa pusing, dia hampir ambruk tapi Arkan menangkapnya di waktu yang tepat.
"Benerkan lo sakit? Susah banget dibilangin!" gumamnya menggerutu, Yura masih berpegangan pada lengan-lengan Arkan.
Dengan sigap Arkan memapah Yura sampai ke dalam ruang klinik dan kebetulan klinik sedang sepi, Yura dan Arkan tak usah mengantri lagi, keduanya langsung ke ruang Dokter.
"Langsung baringkan saja disini ...." kata Dokter begitu melihat Yura begitu pucat dan lemas, Arkan membantu Yura naik ke atas ranjang pemeriksaan.
"Gejalanya apa? Mual? Pusing?" tanya Dokter sembari dia siapkan stetoskopnya.
"M, ya ada mual sedikit dan pusing kunang-kunang Dok!" jawab Yura yang kini terbaring lemas.
"Apa kalian sudah lama menikah? Mungkin saja kamu hamil sayang," kata Sang Dokter malah menduga yang tidak-tidak. Yura sampai geli mendengarnya, dan Arkan juga jadi salah tingkah dengan sangkaan Dokter.
Maunya begitu, tapi nyatanya mereka memang sepasang insan yang saling mencintai walau tak bisa bersama dalam sebuah ikatan cinta.
"Bu-bukan kok Dok, kami bukan pasangan suami istri!" sangkal Yura cepat-cepat.
"Lho, saya kira! Kalian masih pacaran? Nah loh, apa kalian sudah berbuat dosa?"
"Nggak kok Dok! Dia ... dia Kakak saya!" sangkal Yura lagi, dan Arkan memilih untuk diam saja dan diam-diam dia amini apa yang dikatakan Dokter tadi, dasar Arkan! Sepertinya hatinya memang sudah dia kukuhkan untuk Han Yura saja untuk saat ini, kalau sekarang dia masih dekat dengan Alana, itu murni karena dia hanya ingin menjaga hatinya.
"Oh, Kakak? Maaf ya saya menuduh yang aneh-aneh, habisnya kalian ini serasi sih," godanya.
Arkan hanya tersenyum dan Yura juga hanya tersipu. Ada saja yang membuat situasi menjadi canggung.
"Kamu kelelahan! Benarkan? Belakangan kamu banyak kegiatan kan?" tanya Dokter lalu ia periksa tekanan darah Yura.
"Ya, begitu kira-kira Dok!"
"Apa kamu sering tidur larut malam?"
"Iya, sudah hampir sebulan saya sulit tidur!"
"Ya, itu penyebabnya! Tekanan darah kamu rendah sekali! Kelelahan, kurang istirahat dan menunda-nunda jam makan, itu adalah kombinasi yang membuat kamu anemia seperti ini!"
"Oh, hanya anemia ya Dok?"
"Kamu gak boleh anggap enteng, kalau dibiarkan anemia ini bisa berakibat fatal! Cepat-cepat perbaiki pola istirahat kamu! Ambil bed rest untuk 3 atau seminggu, makan makanan yang mengandung Zat besi!"
Pemeriksaan singkat sudah selesai, ternyata Yura terkena anemia. Dan Arkan tahu apa yang Yura alami saat ini.
Dalam perjalanan kembali ke rumah Arkan.
"Lo terlalu memikirkan orang lain! Bahkan lo juga terlalu memikirkan isi hati orang lain! Gini akibatnya!" kata Arkan.
Yura tak bisa membantah, itu memang benar. Tapi Yura senang dan tulus melakukannya. Senang sekali bisa membantu Chiyo lepas dari kankernya. Dan kini Yura juga sedang memikirkan masalah Tania dan Ibu tirinya.
"Hey, Han Yura!" panggi Arkan, Yura hanya menoleh.
"Mulai perhatikan diri sendiri! Lo sudah cukup berkorban untuk orang lain!"
"Iya Kak!"
"Heh, gue gak yakin!" cibir Arkan.
"Iya, mulai sekarang aku akan perhatikan diri sendiri!"
__ADS_1
'Mungkin ini yang membuat gue tetap gak bisa berpaling dari lo Han Yura! Lo terlalu berharga untuk gue abaikan!' batin Arkan sembari dia perhatikan Yura diam-diam.
Kisah cinta ini terlihat sederhana, tapi impian mereka untuk bisa bersama tampaknya masih agak jauh. Hati yang masih terbagi, hati yang masih harus terus dijaga dan akhirnya Yura sadari kalau cinta memang kadang tak harus saling memiliki.