Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Penyesalan Arkan


__ADS_3

Mereka tak bisa jalan-jalan jauh-jauh. Ada Mall besar di dekat Rumah sakit, Zahran dan Yura menemani Chiyo bersenang-senang disana.


Tawa Chiyo, kebahagiaan Chiyo adalah hal paling berharga untuk Zahran dan kini Yura juga merasakan hal itu. Chiyo begitu ceria manaiki sebuah komidi putar, Zahran dan Yura menunggu di tepinya.


"Yur ...." panggil Zahran tak kala Yura fokus memperhatikan kesenangan adiknya.


"Heum," Yura menoleh.


"Gue udah putuskan buat gak ngikutin permainan si Dara lagi!" ungkap Zahran, Yura cukup tertarik dengan pengkuan itu. Yura merasa percaya tak percaya. Dia ragu kalau benar Zahran melepaskan uang dari Dara karena Yura tahu kalau saat ini Zahran sangat membutuhkan uang.


"Tapi kamu udah dapat sebagian uangnya kan?"


"Yang dulu iya, udah aku habiskan uangnya! Dan di perjanjian baru, gue udah lepas semuanya!"


"Yakin? Padahal Dara hampir ngasih uangnya ke kamu!"


"Apa gue harus menghancurkan reputasi orang baik seperti lo demi uang itu?"


Yura senang, dia senang sekali akhirnya Zahran sadar akan kesalahannya. Hanya saja Yura merasa bersalah, karena sumber harapan Zahran salah satunya adalah Dara.


"Tapi kamu hampir dapat uangnya kan?"


"Gue yakin bisa! Lagian, mana mungkin Chiyo akan benar-benar sembuh dengan uang hasil curang kayak gitu, enggak kan? Sekarang gue akan bekerja keras! Gue akan kerja 2 shift!"


Yura tatap Zahran sekali lagi. Sesungguhnya pria menyebalkan yang ada di sampingnya ini adalah seorang Kakak baik hati yang sangat menyayangi adiknya. Yura yakin kalau niat baik Zahran akan membuahkan hasil yang baik.


"Aku bantu sedikit-sedikit ya!" kata Yura.


"Kenapa ada orang baik kayak lo Yur? Gak heran sih kalau si Dara kayak kebakaran jenggot menghadapi lo! Orang iri dengki kayak dia mana bisa menyaingi kebaikan lo!"


"Perilakunya agak mengkhawatirkan, dia harus cepat-cepat diselamatkan!"


"Ya, dia memang pshyco! Obsesif! Gak tahu lagi, harusnya dia konsul sama psikiater! Hampir sakit jiwa dia!"


Yura setuju dengan asumsi Zahran. Ya, Dara memang sudah terlalu jauh melangkah. Yura khawatir kalau hal ini akan terus berkembang dan sampai memakan korban. Dan hubungan baiknya dengan Keita adalah korban pertamanya.


"Gue harus cepat-cepat kasih tahu mantan pacar lo itu, kasihan kalau udah masuk jebakannya!" kata Zahran, Yura semakin memikirkan Keita. Tapi Yura takut kalau Keita tak akan percaya lagi dengannya.


"Semoga Dara belum berhasil meracuni dia, aku takut kalau Kak Kei terlanjur termakan dengan kata-katanya!"


"Tenang aja! Nanti biar gue sendiri yang bicara semuanya sama dia! Gue masih nyimpen transkrip chat gue sama dia, tenang aja ya!"


Yura bisa bernafas lega, akhirnya Zahran kini benar-benar ada di pihaknya. Yura yakin kalau kekeliruan ini sebentar lagi akan segera clear.


"Kakak!" seru Chiyo, dia melambaikan tangannya, sepertinya dia sudah cukup puas dengan permainan hari ini. Zahran dan Yura segera mendekat dan menurunkan Chiyo dari kuda-kudaan yang dia naiki itu.


"Udah cukup, kita pulang ya," bujuk Zahran.


"Iya Kak! Aku udah cape!" keluhnya dan dia memang tampak sangat kelelahan, Yura jadi agak cemas.


"Kok keringet dingin gini sih, sebaiknya kita cepet-cepet balik ke Rumah Sakit!" kata Yura panik. Dan benar saja, perlahan Chiyo semakin melemah, bahkan perlahan dia kehilangan kesadarannya dan jatuh begitu saja untuk Zahran dengan sigap menopangnya.


Apa yang terjadi dengan Chiyo?


Ya, dia memang kelelahan. Tapi Suster dengan sigap sudah memberikan penanganan terbaik. Berbagai selang infus terpasang di tangannya.


"Sistem imunitasnya kan sangat lemah, makanya dia gak boleh melakukan kegiatan seperti orang normal!" kata Suster setelah selesai menangani Chiyo.


"Iya Sus!"


Dia berlalu kembali meninggalkan mereka bertiga saja.


"Huh, kebayang dong penatnya dia seharian ada di ruangan ini?"


"Iya, duh, haus deh, ke kantin dulu ya!" pamit Yura.


"Iya, gue juga laper! Kantin bareng yuk!"


"Heum, oke lah!"


Mereka juga putuskan untuk keluar bersama. Dan ya! Lagi dan lagi, di satu koridor mereka bertemu dengan Arkan. Mereka berpapasan, dan tentu saja sangkaan Arkan semakin liar melihat Yura dan Zahran ada di rumah sakit seperti ini.

__ADS_1


"Kak Arkan ...." sapa Yura, Arkan tampak malas menyapa Yura tapi langkahnya memang terhadang oleh keduanya.


Zahran mencoba mengingat, dan dia yakin kalau Arkan adalah salah satu teman Yura yang sudah termakan permainan Dara.


"Ngapain disini? Cek kandungan?" sapa Arkan membimuat Yura terperangah, Zahran juga. Apa maksud pertanyaan Arkan? Aneh sekali.


Yura hanya belum sadar kalau Dara sudah menyebar isu busuk tentang Yura. Karena merasa sangat terpojok, Dara malah menyebar kabar kalau Yura sudah sering melakukan hubungan badan dengan Zahran, bahkan dengan sembarang pria. Hal itu sukses membuat orang-orang semakin jijik padanya.


"Maksud Kak Arkan apa?" tanya Yura cukup sakit hati dengan pertanyaan Arkan.


"Gimana hasilnya bro! hamstring lo baik-baik aja kan?" tak lama Rado datang, sepertinya Arkan memang sedang memeriksa keadaan cedera ringannya.


Rado kembali mengingat Yura, tempo hari juga ia bertemu di lorong Super market. Rado melihat raut kebencian dan sarkasme di diri Arkan.


"M, gue tunggu di mobil aja ya!" kata Rado dan kembali meninggalkan Arkan bersama Yura dan kini ditambah ada Zahran yang semakin merasa bersalah karena menempatkan Yura dalam posisi sesulit ini.


"Jadi bener isu-isu liar yang beredar tentang lo! Seharusnya ini bukan urusan gue, tapi ... perbuatan lo ini bener-bener keterlaluan Han Yura!"


Kini Yura sudah tak tahan lagi, dia menangis karena nyatanya Dara sudah sangat berhasil membuat cerita bohong dan membuat namanya cemar.


"Bro! Lo harus tahu kebenarannya!" kata Zahran akhirnya mulai memberi pembelaan.


"Heh, bener-bener gak nyangka gue Yur!" Arkan tak mau mendengarkan Zahran, dia juga mulai menarik langkahnya untuk pergi dari sana, meninggalkan Yura yang menangis perih di dekat Zahran.


"Dia dijebak!" cetus Zahran, Arkan menghentikan langkahnya lalu berbalik kembali.


"Ini semua permainan si Dara! Dan gue yang salah!" ungkap Zahran lagi semakin membuat Arkan penasaran dengan maksud kata-katanya.


Zahran berjalan mendekat ke arah Arkan.


"Gue dibayar buat jadi pengacau hubungan Yura sama pacarnya! Lo mau tahu kenapa gue lakukan hal bodoh itu?" tanya Zahran, Arkan diam saja, mungkin dia sedang mencoba mempercayai Zahran.


"Ikut gue sebentar!" kata Zahran, dan ia kembali berjalan menuju ujung koridor menuju ruangan Chiyo.


Arkan awalnya tak ingin peduli, tapi saat ia menoleh pada Yura yang masih menangis perih di tengah-tengah lorong akhirnya membuat Arkan sudi mengikuti langkah Zahran. Mungkin Arkan juga memang sangat penasaran dengan pengakuan Zahran.


Zahran dan Arkan berdiri di depan jendela kamar Chiyo, Arkan menatap sosok anak kecil yang sedang meringkuk itu. Apakah hati Arkan tersentuh?


"Dia adik gue! Kami yatim piatu, dan dia mengidap kanker darah stadium 3!"


"Gue jahat, ya gue jahat! Karena mau-maunnya mengikuti perintah si Dara buat mencemarkan nama baik si Yura! Awalnya gue ikuti alurnya, tapi ... semakin lama gue semakin sadar, kalau si Yura itu orang baik! Gak seharusnya gue mengambil keuntungan dengan membuat nama seseorang jatuh!" tutur Zahran, penuturannya cukup lugas dan Arkan sudah bisa mengerti apa maksudnya.


"Jadi lo dibayar si Dara buat jadi pacar pura-pura si Yura?" tanya Arkan.


"Yap! Benar!"


"Terus kenapa si Yura bersikap seolah-olah kalau lo ini benar selingkuhannya?"


"Ancaman! Waktu di London, si Dara mengancamnya!"


Arkan mulai semakin mengerti. Dia terbungkam. Tak seharusnya dia bersikap sinis pada Yura selama ini, tapi permainan Dara memang halus dan mulus sampai membuat semua orang terpedaya.


"So, *p*lease! Jangan judge dia! Dia gadis yang sangat baik, gue sangat menyesal sudah menjadi bagian dari si Dara! Gua akan segera klarifikasi ini, nanti, Yura bilang setelah adik gue ini dinyatakan pulih dari penyakitnya ini!"


Arkan terdiam, dia pasti menyesal sudah sempat membenci Yura. Tapi penjelasan Zahran sudah sangat membuatnya sadar.


Arkan pergi dari Zahran, semakin lama, langkahnya semakin cepat, dia pasti mencari Yura. Tapi Yura sudah tak ada di lorong itu. Arkan sepertinya benar-benar menyesal sudah menyimpan rasa benci dan jijik pada gadis baik hati itu.


Arkan kembali berlari mencari Yura dan akhirnya dia temukan dia di halaman Rumah sakit. Yura sedang berjalan dan dia pun masih terisak perih. Yura merasa tak akan bisa lepas dari permainan licik Dara.


GAP, Arkan berhasil menahan lengannya. Yura agak kaget tapi kemudian dia memalingkan wajahnya. Yura tak mau menatap Arkan, Arkan sudah terlalu sering bersikap sinis padanya dan itu sungguh sangat menyakitkan.


"Tolong lepas! Sikapmu selama ini benar-benar menyakitkan!" Kata Yura sembari mencoba melepaskan tangannya dan menyeka airmatanya perlahan.


GAP, tapi Arkan malah menjatuhkan Yura dalam pelukannya. Yura terkaget, kenapa Arkan berubah menjadi sangat hangat begini? Apa Zahran sudah menjelaskan semuanya? Pikirnya.


"Maafi gue! Maafin gue Han Yura!" ungkapnya. Yura terdiam, dia sedang mendengar detak jantung Arkan.


'Maaf?' batin Yura.


"Kenapa lo gak bilang dari awal kalau ini semua cuma akal-akalan si Dara?" tanya Arkan dan dia masih menjaga Yura dalam pelukannya.

__ADS_1


'Apa Zahran sudah menjelaskannya? Aah, kenapa setelah ini aku mencemaskan sesuatu? Aku takut Dara akan melakukan sesuatu yang buruk padanya dan pada Chiyo!' batin Yura berkecamuk.


Arkan lepaskan pelukannya, dia pegang kedua belah pundak Yura lalu menatap gadis bernetra indah itu. Arkan menatap Yura dengan lekat. Mata Yura yang masih berkaca-kaca membuat Arkan semakin merasa menyesal.


"Jelaskan!" kata Arkan tegas.


"Semuanya udah terjadi! Apa akan ada yang masih percaya denganku?" tanya Yura.


"Jelaskan!" tuntut Arkan lagi lebih tegas.


Yura menghela nafas, dia mencoba memberanikan diri, tapi ketakutannya terhadap Dara masih sangat mengganjal dan membuatnya ragu-ragu.


"Han Yura!"


"Dara mengancamku!" ungkapnya. Dan hanya dengan kalimat singkat itu, Arkan percaya pada Yura. Sorot mata yang tak bisa berbohong itu sudah mengungkapkannya.


"Ini yang dia inginkan! Gak cukup membuatku putus dan dibenci oleh Kak Keita! Ternyata dia juga ingin semua orang membenciku, termasuk kamu Kak!" tutur Yura, Arkan semakin menyesal.


"Ya, gue sudah terjebak!" akui Arkan.


"Sekarang mau bagaimana lagi? Hampir semua orang membenciku, bagaimana bisa aku memberi pembelaan? Pasti sulit mengembalikan semuanya seperti sedia kala! Aku gak peduli, sekarang aku sedang fokus dengan Chiyo!" kata Yura malu dia seka lagi sisa-sisa air mata yang tertinggal di ujung matanya.


"Jadi anak kecil itu namanya Chiyo?"


"Kamu sudah melihatnya?"


"Heum!"


"Sudah malam, aku mau pulang!" kata Yura lalu dia mulai bersiap untuk melangkah pergi meninggalkan Arkan dan rasa bersalahnya.


Arkan menyusul lagi.


"Gue antar lo pulang!" kata Arkan lalu menarik tangan Yura menuju tempat parkir. Yura bisa merasa lebih tenang sekarang. Dia merasa Arkan percaya padanya, Yura senang.


Zahran melihat hal itu dari kejauhan. Dan dia juga sangat lega melihat Arkan yang sepertinya sudah tersadar dari kekeliruan ini. Zahran senang melihatnya.


'Lo adalah salah satu orang baik dan tulus yang pernah gue temui di dunia ini Han Yura! Terima kasih, terima kasih untuk semua kebaikan lo! Gue yakin, lo akan mendapatkan kebahagiaan yang sempurna kelak!' batin Zahran dan dia tersenyum melihat Yura berlalu besama Arkan.


Yura masih agak canggung karena saat ini bukan hanya ada dirinya dan Arkan saja dalam mobil. Tapi juga ada Rado yang semakin penasaran dengan sosok Yura. Sesekali Rado memperhatikan Yura yang duduk di jok belakang lewat spion di atas kepalanya.


"Hm ...." gretaknya mencoba mencairkan situasi dingin dan canggung itu.


Arkan yang sedang fokus mengemudi hanya menoleh.


"Kenapa Bang?" tanya Arkan.


"M, gak kenapa-napa," sahutnya.


Arkan juga sesekali memperhatikan Yura lewat kaca spion itu. Aaah, gadis itu, gadis yang dia puja dalam diamnya, gadis yang sempat dia ragukan dan kini Arkan kembali merasakan getaran itu lagi. Terlebih, rasa keliru dan rasa penyesalannya sudah menyadarkannya.


"Gue antar dulu temen gue dulu ya Bang!" kata Arkan meminta izin Rado.


"Oke oke, tapi ngomong-ngomong, gue kagak dikenalin nih sama dia?" tanya Rado berbasa-basi mencoba menghangatkan suasana.


"Kenalan aja gih! Lo gak akan nyangka kalau dia adalah anak dari salah satu legend di Sunrise!" kata Arkan dengan nada gurauan, Yura jadi malu. Tapi suasana memang menjadi lebih hidup dan hangat.


"Oh ya? Siapa?" tanya Rado penasaran.


"Hai ...." Yura hanya say 'hai' tapi Rado semakin penasaran.


"Kenalin, gue Rado, kapten team Sunrise!" ucapnya Bangga lalu dia sodorkan tangannya ke belakang, ke arah Yura.


"Han Yura, anaknya Ayah Yuki!"


Seketika mata Rado terbelalak, matanya melotot membulat mendengar pernyataan singkat Yura.


"Benarkah? Omaigaaaat, senang banget bisa jabat tangan sama gadis manis puteri dari salah satu pemain favorit gue!" kata Rado heboh sendiri, Yura hanya tersenyum geli, dia sedikitnya merasa terhibur.


"Hm...." gretak Arkan sembari melirik ke arah tangan Rado yang masih erat menjabat tangan Yura. Mungkinkah dia menunjukan rasa jealousnya?


"Heum, sorry sorry!" kata Rado lalu dia lepaskan tangannya.

__ADS_1


Yura menghela nafas, akhirnya ... bertambah lagi satu orang yang mempercayainya. Yura senang, dia akan semakin fokus dengan Chiyo.


'Terima kasih Zahran! Aku akan membantumu merawat Chiyo! Aku janji!'


__ADS_2