
Alika menemani Yura belanja bahan-bahan kue di sebuah super market besar, Yura dorong trolinya menyusuri lorong-lorong rak bahan-bahan yang Yura butuhkan.
"Udah berapa kali praktek Yur?" tanya Alika yang setia menemani Yura dengan sabar.
"Kalau hitung-hitung? Aku udah lebih dari 7 kali coba dan kamu tahu dari 7 kg tepung yang benar-benar bisa dimakan itu berapa banyak?" jawabnya lalu dia mencoba menantang Alika untuk menebak berapa banyak hasil ujicobanya.
"Berapa banyak?"
"Mentok di 4 toples kecil! hehe," jawab Yura lalu dia mentertawakan dirinya sendiri, Alika juga tertawa geli, tapi dia yakin kalau Yura pasti akan berhasil karena Alika tahu betul kalau Yura adalah anak yang gigih dan tak pantang menyerah.
"Keep fighting sist! Aku yakin, someday kamu pasti bisa sampai di tujuan kamu, aku tuh saksi hidup perjalanan kamu yang penuh liku! Rasanya, apa yang kamu lakukan selama ini akan berbuah manis sebentar lagi, jadi ... sabar sabar yaaa!" semangati Alika, Yura menoleh lalu dia tersenyum manis sekali.
"Tapi setelah ini aku sendirian lagi Al, Ayah besok berangkat ke Aussi!" keluhnya lalu dia masukan beberapa cup margarin ke dalam trolinya.
"Mungkin Ayah Yuki cuma mau ngambil waktu buat bisa lupain kenangan-kenangan indah sama Ibumu Yur, pasti berat banget ada di posisi dia, secara ... mereka itu kan pasangan yang selalu akur dan selalu harmonis."
Yura menghentikan langkahnya dan dia ingat juga betapa indah momen-momen bersama Lulu dan Yuki. Walau singkat, tapi kehadiran keduanya adalah oase nyata yang Yura dapatkan setelah sekian lama berputar-putar di tengah gurun terik bersama Ibu dan Tania.
"Tania?"
Yura tersadar dari lamunan, Alika baru saja menyebut satu nama yang dia lamunkan barusan. Tania? Yura mengikuti fokus sorot mata Alika, dan akhirnya Yura temukan saudara sambungnya itu di salah satu lorong di super market itu. Jaraknya memang agak jauh tapi itu memang Tania dan orang yang ada di sampingnya cukup mengejutkan.
"Itu bener si Tania kan? Sama siapa tuh? Suaminya?" tanya alika kritis sekali, Yura mencoba mengamatinya sekali lagi. Suami? Masa iya? Saat ini Tania sedang dirangkul oleh pria setengah baya dengan perut buncit dan gaya yang agak perlente. Sontak sangkaan Yura dan Lulu mengarah pada sesuatu yang negatif.
"Kok kayak 'Om-Om' yaa?" tanya Alika dan Yura hampir berbarengan, ya saat ini mereka memang memikirkan hal yang sama. Pria yang sedang merangkul mesra Tania itu seperti seorang 'Om-Om'.
"Kamu mau nyapa dia?" tanya Alika, Yura agak bingung, dia takut Tania merasa malu kalau Yura tiba-tiba menyapanya tapi Yura juga sangat mengkhawatirkan Kakak tirinya itu. Yura langsung memikirkan nasib Tania kalau dia ketahuan sama istri Om itu, Tania bisa di cap sebagai pelakor.
__ADS_1
"Kayaknya gak usah deh Al, aku takut ganggu," sahut Yura dan dia mendorong trolinya menjauh dari sana, Alika hanya mengangkat kedua belah bahunya, dia pikir apa yang Yura katakan benar. Rasanya gak perlu lagi mengurusi urusan orang tak ada akhlak macam Tania.
***
Yura mengantar Yuki ke Bandara, hari ini adalah hari keberangkatannya ke Australia.
"Jaga dirimu baik-baik!" Kata Yuki sembari mengusap pundak Yura, Yura mengangguk pasti. Dia tak ingin ada airmata lagi, dia akan mendukung apapun langkah Ayah angkatnya itu.
"Ayah juga, jaga diri Ayah baik-baik ya disana!"
"Pasti, jaga rumah itu baik-baik! Ayah akan usahakan untuk pulang setiap bulan atau 3 bulan sekali,"
"Iya, Ayah harus fokus dengan pekerjaan Ayah! Jangan cemaskan aku, aku akan menjaga rumah kalian dengan baik!"
"Rumahmu juga!" tegaskan Yuki dan Yura sudah tak kuasa lagi menahan rasa haru, akhirnya dia jatuh juga dalam peluk hangat Ayahnya.
"Ayah juga! Setelah Ibumu tiada, hanya kamu yang Ayah miliki saat ini. Ayah gak bermaksud meninggalkanmu, tapi, jujur saja Ayah butuh kegiatan yang bisa mengalihkan rasa sedih Ayah setelah kepergian Ibu!" kata Yuki cukup panjang lebar, Yura eratkan pelukannya.
Rasanya nyaman sekali ada dalam pelukan Yuki, Yura sudah tak merasa canggung lagi karena selama ini Yuki juga memperlakukannya dengan sangat baik.
"Kalau ada apa-apa, cepat hubungi Ayah yaa!" kata Yuki, Yura hanya mengangguk, dia sudah tak mampu berkata-kata lagi. Sebuah perpisahan selalu menyisakan rasa sesak yang tertinggal.
***
Dan sejak hari itu, Yura kini tinggal sendirian lagi. Tapi Yura tinggal bersama kenangan yang Ayah dan mendiang Ibunya tinggalkan di rumah yang cukup besar itu. Yura berjanji akan selalu menjaga rumah itu dengan baik dan dia juga akan memulai hidup baru sebagai independent girl yang kuat.
Dia tak menyerah walau percobaannya membuat kue selalu gagal dan hasilnya, hari ini dia sudah mulai menunjukan progress yang baik. Kini tangannya semakin luwes dan terampil, Yura mulai menemukan caranya dan hasilnya dia sudah menyelesaikan beberapa jenis kookies dalam satu kali percobaan, dia bangga sekali.
__ADS_1
"Huh, akhirnyaaa! Orang-orang harus coba kue-kue ini! Mereka harus tahu kalau kue buatanku ini enak!" ucapnya bangga dan dia sudah menyusun rapi beberapa kue dalam deretan toples cantik di atas meja.
JEPRET JEPRET, dan dengan bangganya dia potret hasil karya tangannya itu dengan kamera ponselnya dan langkah selanjutnya tentu saja mempostingnya di media sosial berharap ada yang menanggapi dan memujinya.
"Pamer sekaligus promosi, hehe! Semoga sukses buat diriku sendiri!" ucapnya penuh percaya diri dan Yura memang selalu percaya akan dirinya sendiri, sebuah usaha dan do'a akan menghasilkan sesuatu yang maksimal.
Yura bereskan dapurnya yang berantakan, rasanya senang sekali memiliki semangat dan aura positif. Apapun yang telah terjadi padanya selama ini, suka maupun duka adalah hal-hal yang harus dia syukuri dan pelajari. Yura memang kadang-kadang menggerutu, merutuki orang lain dalam batinnya tapi selebihnya banyak sekali pelajaran berharga yang bisa diambil dari kesabarannya.
DRRRDDD DRRRDDDD
Ponselnya bergetar, lantas Yura mencari tahu siapa yang menghubunginya saat ini.
Nara? Mata Yura terbelalak, sudah lama mantan bosnya itu tak menghubunginya. Dengan semangat Yura mengangkat telphon dari Nara.
"Ha, halo Bu, apa kabar?" sapa Yura penuh antusias.
"Baik sayang, barusan saya lihat postingan kamu, menarik sekali lhoo," terdengar suara Nara yang hangat mengalun membuat Yura senang.
"Oh itu yaa? Iya bu, masih belajar sih, nanti aku kirim ke rumah yaa, sebagai tester, hehe." jawabnya malu-malu.
"Waaah, makasih banyak lhoo, ini malahan saya mau langsung order."
"Oh ya? Kali ini masih free buat Bu Nara, eumm, satu jam lagi saya kesana yaaa," kata Yura.
"Waah baiklah, langsung ke rumah saja ya sayang, hari ini saya lagi di rumah kok, kita makan malam bareng sama Om Azka dan Arkan!"
"Terima kasih banyak, saya akan hadir."
__ADS_1