
Nara tidak ingin berlarut-larut dia pun membuat rencana lain, pagi sekali dia bangun, dia kumpulkan segenap tenaga dan semangat lalu dia pergi ke dapur dan bersiap membuatkan kue untuk Azka.
Dia berkutat sampai tepung menempel dipipinya, dia sangat semangat, berharap Azka terkesan karena dia membuat kue dengan tangannya sendiri.
Ting tong,
Tiba-tiba ada tamu diluar sana.
Azka juga baru saja selesai mandi dan dia sudah sampai dilantai bawah, Azka menyapa Nara dengan senyum lalu dia berjalan kearah pintu dan membukakan pintu.
Nara belum tahu siapa yang datang.
Ternyata itu Kalyla, dia juga sepertinya membawakan tart yang cukup besar.
"aku dengar Nara sakit, jadi aku pikir dia gak sempat buatkan kue buat kamu.." kata Kalyla.
"masuklah!"
Keduanya masuk, betapa terkejutnya Nara saat tahu yang datang itu Kalyla, apalagi saat ini Lyla membawa sebuah tart, lagi-lagi Nara merasa kecolongan, lagi-lagi Kalyla menjadi yang pertama memberi sesuatu yang spesial untuk Azka.
Nara kesal bukan main, pergulatannya didapur terasa sia-sia! ingin rasanya dia teriak tapi dia selalu berusaha terlihat biasa-biasa saja.
Nara hampiri mereka diruang tengah.
dia lihat Kalyla sedang unboxing kue tart yang dia bawa.
"hai.. aku gak tahu kalau kamu juga lagi buatin kue.. aku pikir kamu masih sakit.." sapa Lyla.
"iya gak apa-apa, makasih udah bawakan dia tart yang gak sempat aku buatkan.." kata Nara, Azka sebenarnya tahu kalau Nara pasti merasa cemburu tapi Azka juga mencoba tetap bersikap baik pada Kalyla, dia jadi dilema.
"ayo duduk sama-sama.."
"sini, duduk disini.." kata Azka mempersilahkam Nara untuk duduk disampingnya.
"aku mandi dulu deh.." kata Nara lalu dia pergi keatas dengan perasaan sedih dan kesal.
'iih, lagi-lagi gue keduluan, kenapa sih dia selalu jadi yang pertama..iiih..' gerutu nya disepanjang langkahnya menyusuri anak tangga.
Azka mulai merasa bersalah.
"Nara sakit kenapa?" tanya Kalyla memulai lagi obrolan.
"belum tahu, dia gak mau di ajak ke dokter..katanya dia cuma merasa pusing dan mual.. mungkin masuk angin.." jawab Azka.
"oh.."
sejenak suasana hening..
"ka..gak terasa ya..kita udah dewasa, kita sudah melewati banyak hal, kamu tahu? sebelum kita benar-benar jadi orang sibuk! kamu itu seperti notifikasi buatku, mengingatkan ini, mengingatkan itu, huh.. sekarang banyak yang berubah.." kata Kalyla mengenang, Azka hanya diam.
__ADS_1
Lyla melirik kearah Azka.
"aku pikir, kamu akan tetap seperti itu.." kata Lyla lagi dan tatapannya semakin dalam.
"kelak akan ada yang menggantikan peran itu.." kata Azka dan dia coba hindari tatapan Kalyla, dia gak tega melihat sorot matanya yang menyimpan banyak luka dan kekecewaan.
"gak! gak akan ada yang seperti kamu.. gak ada!"
"pasti ada.. mungkin, dia sedang berjalan kearah kamu.."
"gak ka! kamu tahu apa yang aku rasakan sekarang?"
Kalyla semakin menatap lekat, Azka tak bisa menghindar lagi. Azka tak kuasa melihat sepasang bola mata yang indah itu berbinar dan membendung airmata yang sebentar lagi tumpah.
" aku menyesal! benar-benar menyesal!"
Air matanya mulai meniti, Azka diam..
"andai saja.. ada sesuatu yang bisa aku tukar dengan.. kamu, aku akan menukarnya! apapun itu.. "
Azka terkejut dengan pernyataan itu.
Dan tahukah, ternyata Nara belum benar-benar sampai dilantai atas, dia tertahan diujung anak tangga dan dia dengar semuanya, dia membatu.
"La, please.. jangan seperti ini.." kata Azka.
"aku gak bisa! jujur.. aku gak akan bisa kalau gak sama kamu!"
"apa kamu akan tetap bertahan sama dia , yang baru saja kamu kenal? dan mengabaikan aku yang sudah tahu hampir seluruh kehidupan kamu..?"
Kalyla semakin berani jujur dengan perasaannya dan Azka semakin bingung harus berbuat apa.
"sejak dulu, kamu gak pernah menolak permintaanku.. apa sekarang.. kamu mau menolak?"
"kamu baik-baik saja kan?"
"aku baik baik saja, bahkan aku sekarang tersadar dari kesalahanku selama ini, kesalahan membiarkan kamu dimiliki orang lain.."
Nara semakin sesak, dia tidak tahan lagi mendengarnya, dia pacu langkahnya menjauh dan pergi kekamarnya.
'apa ini? kenapa jadi begini? gimana kalau kata-katanya itu benar, mana mungkin Azka akan tetap bertahan dan meninggalkan Kalyla begitu saja.. kenapa gue bodoh sekali!' Nara jatuh bersandar dipintu kamarnya, perasaannya hancur dan ragu.
Dia menyesal sudah menanggapi Azka terlalu dalam, dia pikir Azka akan goyah dengan permintaan dan bujukan Kalyla, dia yakin itu.
Kalyla tarik tangan Azka lalu menggenggamnya..
"dulu aku keliru, aku selalu menganggap kamu hanya sebatas sahabat! tapi, itu salah! aku pikir sebelum bertemu Nara, kamu mengharapkan aku untuk jadi lebih dari sahabatkan?" tanya Kalyla.
Azka diam, dia hanya menghela nafas, dia benar-benar dalam situasi yang sulit.
__ADS_1
"dan aku yakin, sisa-sisa rasa sayang kamu masih ada kan buat aku?"
"la, please.. ya! itu benar.. tapi.." Azka menahan kalimatnya, Kalyla menunggu penuh harap.
"tapi kamu harus tau juga, aku udah memilih Nara !! aku gak mungkin ninggalin dia untuk alasan apapun !!"
Seketika hati Kalyla hancur, wajahnya muram.
"untuk alasan apapun? buat aku ka? aku yakin, kita bisa memulainya lagi.."
Azka melepaskan tangannya lalu dia pegang kedua belah pundak Kalyla yang rapuh saat ini.
"kamu akan dapat yang lebih baik lagi.. pasti! bersabarlah!" kata Azka menguatkan.
Lyla semakin menangis, dia gak percaya kalau Azka akan menolaknya seperti ini. dia sangat menyesal karena dia terlambat menyadari kalau Azka adalah yang terbaik untuknya.
Lyla melepaskan tangan Azka ,lalu dia berpaling. rasa kecewanya sangat dalam.
"aku yakin.. saat ini kamu sedang membohongi perasaan kamu sendiri, tapi aku gak akan nyerah.. aku aku selalu berusaha sampai kamu sadar dan kembali sama aku.." tekad Lyla, Azka semakin dilema.
beberapa saat kemudian Nara turun , dia sudah selesai berdandan dan kini dia sudah terlihat cantik tak kalah cantik dengan Lyla.
Nara mencoba bersikap seolah-olah dia tidak tahu tentang apa yang tadi Lyla katakan.
"maaf ya, nunggu lama.. kenapa gak mulai saja sejak tadi?" kata Nara.
"duduklah.." kata Azka.
"m..tentu saja kami harus menunggu kamu.." imbuh Lyla.
"m, sayang sekali, barusan Lulu nelphon, ada sesuatu yang penting yang harus diurus di cafe.." kata Nara.
"oh.. urusan mendadak ya.." tanya Lyla.
"iya, maaf ya.."
Nara mendekat kearah Azka.
"maaf ya, aku harus pergi.. selamat ulang tahun.." kata Nara sederhana lalu dia memeluk Azka sejenak, Azka tahu ada sesuatu yang aneh didiri Nara.
"oh.. ya udah kalau begitu aku juga pergi.." kata Lyla
"gak, gak usah pergi.. Azka akan sangat membutuhkan kamu, hari ini.. aku lupa hari ulang tahunnya, aku juga terlambat dan gak sempat memberinya kejutan, terimakasih ya karena kamu sudah berikan itu semua.. tetaplah disini.." kata Nara, nadanya memang agak sarkas tapi Kalyla senang dengan hal ini, Azka mulai bingung lagi.
"oh, begitu ya.. tapi kamu jangan salah faham ya, kami biasa merayakan ulang tahun bersama seperti ini sejak dulu.."
"iya, aku tahu! m, aku pergi dulu ya.. taxi pesananku udah didepan .. bye.."
Nara pergi begitu saja dengan luka yang dia sembunyikan rapat rapat, Azka tak bisa mencegah karena tiba-tiba Kalyla menarik tangannya lagi.
__ADS_1
Azka benar-benar dalam dilema yang besar.
Bersambung.