Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
First flight, first holiday


__ADS_3

"Aku akan usahakan minggu depan! Ibu jangan cemas!" kata Yura, Ibu malah terus menangis.


"Aku udah lupain semuanya bu! Jangan anggap kalau kedatanganku ini buat memanas-manasi Ibu! Aku sayang kalian, aku sudah memaafkan kalian!" kata Yura lalu dia tarik sepedanya, dan pergi mengayuh pedalnya melewati gang sempit itu.


Ibu melihat Yura berlalu begitu saja, sampai detik ini dia masih sangat kesulitan menerima ketulusan Yura. Dia masih merasa Yura adalah bayang-bayang kelam padahal Yura adalah cahaya yang nyata untuk kehidupannya dan kehidupan Tania.


Sepanjang jalan Yura mengayuh sepedanya, dia tak bisa berhenti menangis. Sakit rasanya tak dianggap baik oleh Ibu dan saudari sambungnya. Selama ini Yura selalu berusaha mengalah sebagai amanat penting dari mendiang Ayah, dan tetap saja keduanya tak bisa menerima ketulusan hati Yura.


'Ayah, aku sayang mereka walau tak jarang aku juga kesal pada mereka! Tapi lihat Ayah, kehadiranku sama sekali bukan hal penting untuk mereka! Bolehkah aku benar-benar mengabaikan mereka sekarang?' batin Yura sepanjang jalan.


Ya, Yura bukan seseorang yang hebat, tapi mindset dan niatnya adalah kekuatan yang membuatnya lebih dari sekadar hebat untuk ukuran seorang anak remaja.


***


'Bali im coming' Teriak Yura dalam hati, tak sabar rasanya dan yang membuat jantung berdegup kencang saat ini adalah dia duduk tepat di samping Arkan saat ini.


"Udah ya Kak, aku bentar lagi take off, aku harus segera matikan ponselku!" bisik Yura saat dia ingin mengakhiri telphon dari Keita.


Arkan hanya memicingkan matanya, dia merasa terganggu dengan panggilan mesra itu. Arkan diam-diam masih selalu merasa sesak walau Yura dan Keita sudah menjalani hubungan asmara mereka selama lebih dari dua bulan.


"Huh," dengusnya.


"Kenapa kak?" tanya Yura.


"Lo tahu udah berapa kali si Kei nitipin lo sama gue?" tanya Arkan sedikit kekik.


"Berapa kali?"


"Lebih dari 10 kali pastinya!"


"Oh, hehe," Yura malah tertawa geli, dia merasa tersanjung saat Keita begitu mengkhawatirkannya.


WUZZZZZ, pesawat airbus itu sudah take off dari Bandara Soekarno Hatta menuju Bandara Ngurah Rai Bali. Yura tak sabar, ini adalah holiday pertamanya. Dia lupakan respon Ibu tadi sore saat dia mengunjunginya. Dia akan merefresh pikiran dan jiwanya.


Dan setibanya di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Yura mengalami jetleg. Dia tampak sangat kelelahan karena ini adalah perjalanan udara pertamanya.


"Heh, lo ini!" Cibir Arkan saat melihat Yura yang kepayahan.


"Ini pertama kalinya aku naik pesawat Kak," sahutnya lemas.

__ADS_1


"Ini cuma ke Bali! Gimana kalau suatu hari lo liburan ke luar negeri, huh?" Arkan masih asyik menggoda Yura yang kelelahan bukan main.


"Ayo sayaaang semangat! Kok kamu lemas begitu sih!" semangati Lulu yang sudah stand by di depan taksi. Yura ingin mempercepat langkahnya tapi tetap saja langkahnya begitu berat sampai Arkan iseng mendorongnya dari belakang agar Yura bisa sampai lebih cepat. Para orangtua hanya tertawa kecil melihat adegan manis itu.


Yura juga tak menyangka kalau Arkan akan membantunya mempercepat langkah, sayang sekali dia sudah tak punya tenaga lebih untuk melayani tindakan iseng Arkan, lagipula ini sudah sangat malam, dia ingin segera membenamkan tubuhnya ke dalam tempat tidur di sebuah cottage yang sudah Para orangtua pesan sejak dari Jakarta.


***


Wangi bunga kamboja menyeruak, membangunkan Yura yang sudah terjaga di atas tempat tidur serba putih itu. Kelopak bunga-bunga yang cantik menemaninya bahkan wanginya membuai sampai membuatnya terlelap begitu lama.


'Aah, sudah pagi!' batin Yura lalu dia meregangkan otot-otot antara lengan dan belikatnya, rasa lelahnya mulai pudar dan dia merasa sangat relax pagi ini.


Yura tergugah saat melihat seseorang bermain-main di kolam renang yang ada di samping cottage itu, tepatnya di samping kamar miliknya. Ada bekas jahitan memanjang di lengannya yang sudah hampir kering dan Yura tahu kalau itu adalah Arkan.


"Apa itu Arkan? Terus para orangtua kemana ya?" gumamnya lalu dia bangkit dan mencari tahu sendiri situasi cottage cantik itu.


Lokasi yang di pilih adalah sekitar Ubud, cottage dengan nuansa alam yang menenangkan jiwa. Yura berjalan melewati pintu kamarnya menuju kolam renang langsung.


"Yang lain kemana?" tanya Yura agak berseru berharap Arkan yang sedang asyik berenang sendiri dapat mendengarnya.


Arkan tersadar dengan kehadiran gadis manis yang baru terbangun itu, dan penampakan Yura yang baru terbangun dengan rambut yang agak messy dan pipi yang semakin chuby adalah pemandangan terbaik yang mengalahkan damainya suasana Ubud resident ini.


"Pagi-pagi begini?" yakinkan Yura.


"Pagi? Bangun woy! Ini siang!" sahut Arkan, siang? Apa benar ini udah siang? Pikir Yura.


Dia mencari ponselnya lalu dia memang baru sadar kalau ini sudah sangat siang, dia juga mendapat banyak sekali panggilan tak terjawab dari kekasihnya, Keita.


Arkan lihat itu dari kejauhan, lagi! Dia merasa tidak nyaman melihat betapa Yura menelphone Keita, sahabatnya.


Arkan sampai melaburkan lamunannya untuk beberapa saat sampai Yura tahu-tahu sudah ada di sampingnya. Dia bahkan menenggelamkan separuh kakinya kedalam air kolam.


"Semoga hasil ujian Kalian baik dan memuaskan ya!" kata Yura, Arkan hanya menoleh.


"Ya," jawabnya singkat.


"Apa kak Arkan sudah menentukan kampus mana yang akan Kak Arkan pilih untuk melanjutkan study nanti?" tanya Yura mencoba berbasa-basi.


"Udah,"

__ADS_1


"Heum, dimana?"


"Di Jakarta aja!"


"Oh, oke!"


Splash, dengan keusilannya Arkan malah mencipratkan air kolam ke arah Yura yang sedang asyik memakan jajan yang tersisa di tas kecilnya saat tadi dia mengambil ponselnya.


"Iiih Kak Arkan usil deh!" kata Yura lalu dia membalas.


"Mandi sana!" kata Arkan.


"Bentar lagi ah, nyawaku belum kumpul semua!" candanya.


"Heh, mandi ogah ngemeal iya!" cibirnya, ya! Belakangan kebersamaan mereka memang semakin sering terjalin dan mereka semakin dekat seperti sahabat bahkan mereka berdua sempat berharap yang lain lagi yang lebih dari sekedar sahabat.


"Soalnya laper!"


"Heh,"


"Lihat Luka Kak Arkan, semakin lama semakin pudar! Apa Mama Papa Kak Arkan sudah tahu yang sebenarnya?" tanya Yura yang kali ini membahas pasal bekas luka di lengan kanan Arkan.


"Gak! Ini masih menjadi rahasia antara kita ber-lima!" jawabnya datar, Yura mengerutkan keningnya.


"Berlima?"


"Ya, kita ber-empat dan Alana!" jawabnya Jujur.


"Oh," Yura mengerti.


"Yur," panggil Arkan dan tanpa menoleh sedikitpun, matanya masih memandang lurus pada hamparan air kolam yang biru.


"Ya, kenapa?"


"Apa gue boleh mengakui sesuatu,"


"Apa itu?"


Arkan menahan kalimatnya membuat Yura menunggu dan penasaran setengah mati, tapi Arkan tetap diam tak melanjutkannya lagi.

__ADS_1


Apa yang akan Arkan akui pada Yura? Apa dia juga akan mengungkapkan perasaannya saat ini?


__ADS_2