
Azka dan Nara benar-benar ingin memberi pelajaran pada Kalyla, disaat Kalyla tengah terpuruk mereka malah pergi liburan untuk beberapa hari. Mereka pergi berdua saja, tanpa Arkan dan itu memang sengaja mereka lakukan untuk menikmati masa-masa bulan madu yang pernah mereka lewatkan dulu.
Rencananya mereka akan menghabiskan beberapa hari yang biru di Bali, dan ini adalah liburan ke Bali pertama untuk Nara. Tentu saja dia sangat exited, tahun-tahun yang berat sudah pernah dia lewati dan sekarang adalah waktu terbaik untuknya untuk menikmati buah kesabarannya.
Sesampainya di bandara Ngurah rai, Bali...
Nara selalu mengalami jetleg, bahkan waktu dulu mereka terbang bersama ke Jogja, Nara tak bisa lepas dari masalah jetleg. Tapi Azka melindunginya dengan menopang tubuh lemasnya.
"Gimana nanti kalau kita keliling eropa?" gumam Azka menggoda, Nara hanya memicingkan matanya.
"Heh, belum puas ngeledek nya???" tanya Nara kekik.
"Gak sayang, aku gendong aja ya..." tawarkan Azka.
"Gak usah!" tolak Nara lalu dia berjalan lebih cepat meninggalkan Azka yang gemas dengan tingkah kekik Nara, Azka memang hobi sekali menggoda istri tersayangnya itu.
Paket liburan ini adalah hadiah dari ibu dan ayah, bahkan ibu menyediakan akomodasi terbaik untuk keduanya, ibu memesan sebuah resort bintang lima untuk Nara dan Azka. Setelah menempuh 1 jam perjalanan dari bandara mereka sampai di sebuah resort di kawasan ubud.
Nara sampai speechless, dia di suguhi kamar resort mewah yang benar-benar memanjakan jiwa. Begitu sampai Nara langsung menjatuhkan tubuh lelahnya diatas tempat tidur yang sudah di taburi kelopak bunga mawar merah yang menyeruak memberikan energi positif untuknya, dia bahagia sekali hari ini.
"Kayaknya Arkan bentar lagi punya adik nih..." ucap Azka yang duduk di samping Nara yang masih terbaring.
"Apa?" hentak Nara terkaget.
"Kenapa?" tanya Azka innocent.
"Adik? dia itu baru mau jalan 4 bulan, dikira hamil sama melahirkan itu gampang apa..." gerutu Nara kekik, Azka senang melihat Nara yang selalu menggerutu padanya.
"Oke, aku tahu," ucapnya lalu Azka mendekat menopang tubuhnya tepat diatas Nara yang masih terbaring.
"Jujur, kenangan melahirkan Arkan masih lekat dalam ingatan! rasa sakitnya masih terbayang-bayang!" kata Nara lalu dia sedikit murung, Azka mencium keningnya...
__ADS_1
"Maaf ya,"
"Ngapain juga minta maaf, kan bukan salah kamu!"
"Maaf kalau dengan atau tanpa sadar aku melukai hati kamu! padahal kamu tuh udah memberikan kebahagiaan yang tak ternilai untuk kehidupanku!" tukas Azka dalam sekali, Nara menatapnya, jarak pandang mereka hanya berjarak beberapa inchi saja.
"Iya, di maafkan!"
"Aku ingat betul gimana perjuanganmu di ruang bersalin! kalau ingat itu, rasanya...aku ini bukan apa-apa!" tutur Azka membuat Nara terhanyut.
"Nah, udah tahu begitu berarti jangan pernah nakal-nakal lagi ya," goda Nara, Azka mengangguk lalu tersenyum.
"I love you !!" bisiknya.
"love you too !" balas Nara, dan kalau sudah begitu jangan tanya lagi apa yang mereka lanjutkan selanjutnya.
Di tempat lain...
Kalyla duduk diatas kursi roda, dia menatap ke luar jendela ruang perawatannya, wajahnya kusut sekali. Dia sedang meratapi nasib tragisnya, harusnya Kalyla sadar kalau bermain-main dengan api pasti akan membuatnya terluka, bahkan saat ini dia mendapat luka ganda, luka hati dan luka secara fisik.
"Saya sudah dapat hasil rontgennya..." kata dokter lalu memberikan map itu, Kalyla membukanya dan mencoba mencari tahu sendiri apa yang terjadi dengan kakinya.
"Ada tungkai betis yang patah! untuk bisa menyambungkannya lagi butuh waktu! tapi kemungkinan kamu untuk sembuh sangat besar, jangan cemas!" kabarkan sang dokter, Kalyla tak tahu harus bagaimana, yang pasti saat ini dia sedang berada di titik terendah dalam kehidupannya, dia sebenarnya sedang sangat butuh seseorang untuk menopang lukanya saat ini, dia berharap Azka tapi tentu saja itu sudah sangat mustahil untuknya. Keserakahan menghancurkan segalanya.
Kembali ke Bali, ke acara liburan manis Nara dan azka. Nara sudah tampil sangat manis dengan terusan bunga-bunga, dia ingin tampil sempurna di depan Azka, tapi Azka malah asyik main game di gawainya. Azka malah rebahan santai dengan ponsel di tangannya, Nara jadi sebal melihatnya...
"Niat liburan gak sih?" tanya Nara ketus, bibirnya cemberut sekali.
"Emangnya mau pergi kemana sih? inikah udah sore, tanggung! kalau mau pergi nanti aja malam sekalian!" sahut Azka dan matanya masih fokus pada gamenya.
"Justru aku pengen lihat sunset di tanah lot! ayolah, nanti telat lagi," paksa Nara lalu menarik tangan Azka sampai game yang Azka mainkan berakhir dengan kekalahan. Azka menoleh dan dia baru menyadari Nara yang sudah tampil manis dengan bareface dan terusan manisnya.
__ADS_1
"Wah, istri siapa ini...manis sekali..." goda Azka lalu memeluk Nara yang berdiri didepannya sedang dia masih duduk di tepi tempat tidur.
"Huh, mulai lagi..." cibir Nara.
"Im so happy tobe yours!!" Azka mulai melancarkan lagi kata-kata rayuannya.
"Heh, sejak kapan?" cibir Nara lagi yang sebenarnya salah tingkah dengan serangan rayuan Azka yang bertubi-tubi menyerangnya.
"Sejak malam itu..." jawab Azka.
"Malam biru di bath up???" yakinkan Nara dengan tatapan menggoda.
"Iya! Ayo kita ulangi lagi sekarang..." pinta Azka, nafsunya memuncak lagi.
"Gak ah! aku mau lihat sunset dulu di Tanah lot pokoknya!" tegaskan Nara merajuk manja.
"Manja..."
"Gak suka?"
"Suka!"
"Ayo dong cepat! kalau gak mau aku pergi sendiri aja lah, cari aja tourguide yang ganteng, ngapain minta sama kamu juga kelihatannya males banget!" gerutu Nara lalu dia melepaskan pelukan Azka dan bersiap untuk pergi, Azka tak akan membiarkan hal itu terjadi, diapun bangkit dan menyusul langkah Nara ke luar kamarnya.
Mereka pergi dengan mengendarai sepeda motor, Nara memeluk erat Azka yang merasa hangat dengan pelukan itu. Mereka merasa kasmaran lagi, rasanya dunia hanya milik mereka saja saat ini, sebelah tangan Azka memegang erat tangan Nara yang melingkar mesra di perutnya.
Menuju Tanah lot butuh waktu sekitar satu jam dari tempat menginap mereka, dan mereka tiba disaat yang tepat. Langit sudah menjadi jingga dan matahari sudah hampir menyingsing ke ufuk barat.
Nara tersenyum damai, menyaksikan mentari yang seolah-olah tenggelam perlahan di lautan membuat hatinya puas, kebesaran tuhan yang sungguh sangat sempurna. Apalagi saat ini Nara di temani pria yang telah menguasai hatinya, pria yang sudah membuatnya jatuh dalam romansa cinta.
"Lihat siluet pura di atas tebing, indah ya..." kata Nara saat melihat pemandangan yang lebih menakjubkan lagi, siluet pura di atas tebing batu menambah kesempurnaan petang Nara dan azka.
__ADS_1
Azka memegang erat tangan Nara lalu dia menoleh kearahnya, kombinasi keindahan yang sungguh menyejukan mata. Lautan, langit jingga, siluet pura diatas tebing dan wajah manis Nara, itulah keindahan yang tengah Azka nikmati saat ini.
liburan hari pertama yang sungguh sangat romantis.