
Nara tak bisa merasakan apapun selain perpaduan antara rasa cemburu dan khawatir. pikiran liarnya melabur memikirkan hal-hal yang membuatnya sesak dan stres.
'gimana kalo mereka benar-benar ketemu malam ini?' pikirnya.
'gimana kalo ternyata selama ini mereka berencana untuk balikan sebagai sepasang kekasih '
'mungkin setelah anaknya lahir dia gak akan peduli lagi, dan mungkin dia akan kembali jadi orang yang savage..'
spekulasi-spekulasinya menyiksa dirinya sendiri.
Dia berdandan alakadarnya, lalu dia tarik tas kecilnya sepertinya Nara bersiap untuk pergi dari rumah, dia ingin menetralkan rasa sesaknya.
"Bi, saya pergi dulu ya.." pamit Nara pada Bi Marni, Bi Marni heran karena selama ini Nara tak pernah pergi sendirian.
"mau kemana non?" tanya Bi Marni.
"ada urusan sebentar.."
"Bibi temenin ya.." tawarkan bi Marni, dia khawatir kalau Nara pergi sendiri.
"gak usah bi, saya mau ketemu temen saya.. sebentar kok.. saya pergi dulu ya.."
"tapi non.."
"taxi saya sudah menunggu didepan.."
"oh.. hati-hati ya non, kalo ada apa-apa segera hubungi den Azka, atau hubungi bibi.." kata Bi Marni masih tampak cemas, dia tahu tadi pagi ada pertengkaran kecil diantara Nara dan Azka.
Nara pergi menaikki taxi yang sudah dia pesan.
Entah akan kemana dia pergi.
***
Azka juga jadi badmood, sepanjang latihan bersama team dia terlihat tidak fokus. dia jemu mendengar tuduhan Nara, dia merasa Nara terus mencari-cari alasan untuk menyalahkannya.
Budi mendekat, dia tahu Azka sedang bermasalah..
"kenapa?" tanya Budi sembari menyodorkan air mineral pada Azka.
Azka tak menjawab, dia tarik botol air mineral itu lalu meneguknya satu kali tegukan.
"lo gak boleh begini.. lo harus fokus pada dua hal saat ini.." kata Budi lagi, Azka masih diam.
"selain fokus ke kompetisi, lo juga harus fokus menjelang kelahiran anak lo.. jangan sampai masalah setitik membuat lo stres dan memicu masalah lainnya.." nasihati Budi pelan-pelan, Azka masih belum menyahut, dia mencoba menerima kata-kata Budi.
Sejak menikah, Azka memang jadi lebih dewasa, dia mau mendengarkan orang lain, jauh dari citranya dulu, dia tidak pernah bersedia menerima saran orang lain.
"ayo cerita! lo juga gak boleh pendam masalah lo sendirian.." bujuk Budi.
"apa bener, wanita hamil itu jadi lebih skeptis?" tanya Azka, kini Budi tahu kalau Azka sedang menghadapi masalah rumah tangga.
"ya.. begitulah, orang-orang bilang begitu, mereka jadi mudah marah,tersinggung,cemburu,curiga.. ya.. begitulah.." jawab Budi, Azka kembali terdiam.
__ADS_1
"kenapa? si Nara rewel lagi??" tanya Budi, Azka masih belum menyahut.
"lo harus sabar ya, jangan bandingkan rasa jengkel kita dengan sikap rewelnya, lo bayangkan.. si Nara melewati minggu-minggu yang berat diawal kehamilan, dia gak bisa makan, pusing hampir serupa vertigo.. lo lihat sendirikan?"
Azka masih diam, dia mencoba mencerna kata-kata Budi.
"terus sekarang, lo lihat sendirikan dia sangat kepayahan mengandung anak lo dalam perutnya, susah gerak,susah tidur, diserang rasa insecure karena merasa jadi jelek... jangan anggap sepele perjuangan wanita hamil.. lo harus terima itu !" kata Budi makin bijak dan semakin menyentil Azka, dia malu karena tadi pagi dia marah pada Nara.
"belum lagi, nanti pas melahirkan.. kata sodara perempuan gue, sakitnya melahirkan itu gak akan bisa dibayangkan oleh seorang pria, karena cuma para kaum ibu saja yang merasakannya.. pokoknya, kita harus sayangi dan hargai mereka.."
Azka sepertinya bisa lebih tenang, dia hanya merasa bersalah saja, mendengar kata-kata Budi membuat Azka tak sabar ingin segera pulang dan meminta maaf pada Nara.
"apa dia nuduh yang nggak nggak lagi sama lo?" tanya Budi, Azka hanya mengangguk lalu tersenyum, dia merasa malu dengan dirinya sendiri.
***
Dalam perjalanan pulang,
Azka membeli sebucket mawar putih, dia ingin meminta maaf pada istri rewelnya. kata-kata Budi terasa menamparnya. tak seharusnya dia memarahi Nara yang saat ini dengan susah payah melewati masa-masa kehamilan. bahkan Azka tahu itu dan dia melihat dengan mata kepalanya sendiri perjuangan Nara selama ini.
Drdddd.. drddd..
ponselnya bergetar, ada panggilan masuk.
Azka lihat yang menelphonnya Kalyla, dia malas untuk mengangkatnya, dia sadar betul kalau selama ini Nara sangat cemburu pada Kalyla.
Drddd.. drdd..
Kalyla terus mencoba menghubunginya..
"halo Az.." sapa Kalyla diujung telphone.
"ya.." sahut Azka singkat dan datar.
"maaf ya.." kata Lyla, Azka tidak mengerti.
"maaf kenapa??"
"tadi aku salah kirim pesan, maaf banget.. harusnya aku kirim itu ke managerku, Shita.."
Azka masih belum mengerti dengan maksud Kalyla.
'pesan?' batin Azka.
"pesan apa?"
"lho.. kamu gak tahu? trus yang baca pesan dariku tadi siapa?" Kalylapun merasa heran.
Deg, Azka tiba-tiba ingat pada Nara, apa mungkin Nara yang membaca pesan itu.
"oh.. ya udah, udah dulu ya.. aku lagi di jalan.."
Tuut.. tuut.. tuut..
__ADS_1
Azka memutus telphonnya, membuat Lyla kesal.
Azka segera memeriksa pesan masuk.
Ternyata benar saja, ada pesan dari Aurel tadi pagi. kini Azka tahu dan sadar kenapa Nara bersikap ketus padanya tadi pagi, ternyata karena salah faham.
Azka makin merasa bersalah, dia langsung tancap gas berharap segera tiba dirumah.
Saat tiba dirumah dia semakin panik, dia tidak menemukan Nara dirumah, bahkan Bi Marni heran, dia juga ikut panik saat tahu Nara tidak pulang bersama Azka.
"tadi bibi sempat telphon non Nara, katanya dia mau pulang sama den Azka.. lhoo.. kok sekarang malah jadi begini.." kata Bi Marni panik.
"kapan dia pergi?"
"tadi siang.. saya mau ikut nemenin tapi dia malah buru-buru pergi.."
Gak kebayang lagi gimana paniknya Azka saat ini.
Dia menyesal sudah membalas sikap ketus Nara tadi pagi, dia benar-benar menyesal, bahkan Nara susah dihubungi saat ini, dia pasti sengaja mematikan ponselnya.
"Bibi coba telphon ke Ibu ya.. biar saya cari ke tempat lain, kalau ada kabar, segera hubungi saya.." kata Azka yang bersiap lagi untuk pergi.
"iya den.. hati-hati, gak usah ngebut-ngebut ya den.."
Azka tancap gas lagi, dia bergegas mencari.
Khawatir bercampur jadi satu dengan rasa menyesal, sepanjang jalan Azka tak sedikitpun tidak memikirkan Nara, penyesalan yang amat dalam menghampirinya.
Tempat pertama yang dia tuju adalah rumah Lulu, dia pikir lulu adalah orang pertama yang akan Nara kunjungi saat merasa sedih.
Tapi hasilnya nihil, Lulu pun tak tahu apa-apa tentang keberadaan Nara saat ini, dan tentu saja dia ikut panik.
"ya ampun Nar, kebiasaan kalo ngambek suka ngilang tiba-tiba.." gerutu Lulu.
"tapi kalian bertemu tadi siang?" tanya Azka.
"iya, tadi dia ke cafe sebentar, trus katanya mau pulang lagi naik taksi.. huh.. lo dimana sih.."
Lulu kasihan melihat Azka yang dilanda rasa panik luar biasa.
"gue pergi ya.." pamit Azka.
"iya, gue juga akan bantu cari.." kata Lulu.
"iya , makasih.."
Azka tak tahu lagi harus mencari Nara kemana, ini sudah gelap dan dia dapat kabar dari Bi Marni kalau Nara tidak ada dirumah keluarga besarnya.
Ibu terus mencoba menghubungi Azka, dan Azka enggan untuk mengangkatnya, dia tahu Ibu akan memarahi dan ikut merasa panik.
Kemana sebenarnya Nara pergi?
Apa dia akan kembali atau mempertahankan egonya untuk menguji kesabaran Azka.
__ADS_1
Bersambung.