Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Bidadari Tak Bersayap


__ADS_3

Untuk pertama kalinya Arkan mengikuti latihan resmi bersama Sunrise. Dia mencoba bersikap profesional walau hukum senior junior sepertinya berlaku saat ini di dalam team. Harus Arkan akui kalau dia masih sangat canggung dan nervous, tapi dia tetap menjaga profesionalitasnya dengan baik.


"Bokapnya kan mantan pemain andalan Sunrise belasan tahun lalu, pasti dia bisa masuk squad inti karena akses istimewa itu!" seseorang mengumpat di belakang Arkan tapi Arkan bisa dengar itu, dia ingin marah tapi benar kata Yuki, dia harus mengolah emosinya dengan baik jika ingin jadi pemain yang kuat dan hebat.


Arkan mencoba tak mempedulikannya, dia masih membereskan barang-barangnya di lokernya.


"Oh, Azka? Azka Putra Wijaya itu kan? Ya ya, dia kan cukup legend, bisa jadi sih, bisa jadi dia masuk kesini karena hak istimewa bokapnya itu!" umpat temannya yang lain.


Telinga dan hati Arkan sama panasnya, sesak sekali rasanya diremehkan dan dianggap menumpang pada popularitas Azka, Arkan akan membuktikan kalau dirinya bisa berada di team Sunrise karena kemampuannya bukan karena eksistensi Papanya di masa lalu.


"Udah gue duga begitu bro! Lo pada setuju kan? Lihat dia! Lo yakin dia bisa cetak poin di debutnya nanti, hahaha!"


Situasinya semakin memuakan tapi Arkan masih mencoba menahan ledakan emosinya. Dia duduk di bench di dekat lokernya dan dia kencangkan tali-tali sepatunya.


Hahahahaha, tawa para seniornya benar-benar menguji mental Arkan sebagai atlet profesional.


"Mulut lo pada Bro! Lemes kayak emak-emak arisan!" Ada seseorang yang tampaknya kontra dengan obrolan panas rekan-rekannya yang lain. Sekilas Arkan melihatnya dan dari nomor punggung dan nama di jersey latihannya itu, dia adalah Rado, pemain benomor punggung 24, dia adalah kapten team dan sudah semestinya dia menegur teman-temannya yang melakukan tindakan bully secara tidak langsung terhadap Arkan.


"Yaaak, jangan sok bijak lo bro! Tugas lo sebagai kapten cuma di dalam arena!" kata Dandi, yang sejak awal mentertawakan Arkan.


"Jangan salah, selama lo mengganggu rekan satu team yang lain, gue akan mencegahnya, gue laporin sama coach mau lo?" ancam Rado.


"Heh, pengadu, ayo bro cabut!"


Sebagian para pemain rese itu sudah mulai meninggalkan loker room, dan sebagian pemain yang bersikap cuek dan dewasa masih berada di dalam sana bersama Arkan.


"Gak usah didengarkan! Lo harus tetap semangat!" kata salah satu senior Arkan, Arkan mengangguk pasti. Dia kuat karena orang yang menyemangatinya lebih berharga dari orang-orang yang mencemoohnya.

__ADS_1


Rado mendekat lalu duduk di samping Arkan yang tengah memasang arm sleeve di tangan kanannya.


"Semangat ya!" kata Rado lalu dia menepuk punggung Arkan, Arkan melempar senyum sebagai tanda terimakasih.


"Bokap lo adalah panutan gue! Dia adalah salah satu pemain lokal yang membuat gue semangat untuk meraih cita-cita gue!" kata Rado lagi dan Arkan sangat bangga mendengarnya.


"Thanks Bang!"


"Anytime! Yok gabung yang lain, jangan merasa canggung, enjoy aja, oke?" semangati Rado, dia memang layak diberi ban kapten karena dia adalah sosok yang tegas dan motivator yang baik untuk para rekan-rekannya.


Di tempat lain ....


Yura masih belum menyerah, secara berkala dia lakukan trial and error dan semakin hari hasilnya pun semakin baik. Dia bangga walau hasilnya masih belum maksimal.


"Yuhuu, dapat juga yang bagus dua toples, hehe ...." ucapnya sembari dia rapikan hasil karyanya itu ke dalam toples kecil dan entah kenapa setelah kue-kue itu tersusun rapi dalam toples, Yura jadi ingat Ibu dan Tania.


'Apa kabar Ibu sama Tania?' batinnya dan konsentrasinya seketika buyar. Yura tak bisa membenci mereka karena setiap ingat mereka yang Yura ingat adalah wejangan almarhum Ayah.


'Berbuat baik tak harus kepada orang yang berbuat baik kepada kita saja! Lakukan itu untuk semua orang, maka hidupmu akan selalu damai Yura, lakukan itu!'


Ya, setiap kata-kata Ayah memang selalu terekam jelas dalam ingatannya. Terlebih Ayah lah yang pertama kali mengajarkan segala kebaikan, itu sebabnya Yura selalu mencoba berpikir positif atas nestapa maupun kekejaman yang dia terima dari siapapun itu.


Dan Yura tak menunggu waktu lama, dia kembali kunjungi rumah kontrakan Ibu dan Tania. Sekarang mereka tinggal di rumah yang agak luas, selama ini mereka memang selalu berpindah-pindah.


Yura datang dengan dua toples kue buatannya tadi, Yura yakin kalau saat ini Ibu tak pernah membuat kue lagi karena Ibu tak punya anggaran dan modal untuk itu. Yura berikan sebagai buah tangan berharap Ibu dan Tania mau menerimanya.


Seperti biasa, hanya ada Ibu saja. Setiap berkunjung Yura jarang sekali bertemu Tania, entah kemana Tania pergi.

__ADS_1


"Tolong dicoba Bu, aku mau coba buat usaha kookies seperti ini," kata Yura lalu dia sodorkan toplesnya mendekat ke arah Ibu, Ibu sepertinya tertarik dan mulai mencobanya, Yura senang bukan main.


"Enak!" tanggapi Ibu singkat dan datar saja.


"Syukurlah, aku tanya Ibu karena Ibu jagonya bikin kue kayak gini," ucapnya lagi masih mencoba berbasa-basi berharap suasana cair lagi.


"Kebetulan kamu datang!" kata Ibu tiba-tiba.


"M, memangnya kenapa Bu?"


"Pinjami Ibu uang!" jawabnya to the point, Yura sudah menduganya karena setiap kali Yura datang pasti Ibu akan meminta uang kepadanya dengan embel-embel meminjam.


"Iya ada, tapi gak banyak soalnya aku baru belanja bahan-bahan kue buat percobaan Bu," sahut Yura dengan segala kebaikan hatinya, dia segera rogoh tas kecilnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang sisa uang jajannya dari Yuki.


"Kali ini Ibu butuh uang yang banyak!" kata Ibu membuat Yura ciut, Yura masih tak habis pikir. Ibu selalu menganggap kalau bantuan Yura adalah hal kecil dan sepele sampai dia selalu lupa berterima kasih bahkan malah meminta hal yang lebih lagi.


"Kalau banyak aku gak punya Bu, selama ini aku dapat uang jajan dari orangtua angkatku dan sebagian aku selalu sempatkan buat menyisihkannya buat Ibu walau sedikit dan jarang," tukasnya.


"Kamu puas ya?"


"Puas apa Bu? Walau sekarang kita gak sama-sama tapu sungguh aku selalu ingat kalian! Demi Ayah, aku memang gak bisa bantu banyak karena cuma ini kemampuanku."


SRTTT, Ibu merebut uang dari tangan Yura yang belum sempat Yura berikan ke tangannya secara langsung.


"Ya sudah! Segini juga lumayan!" ucapnya tanpa rasa malu sedikit pun, tapi Yura merasa itu bukan masalah, itu hal biasa.


"Do'akan saja aku semoga aku bisa sukses, dan mudah-mudahan aku bisa membantu kalian keluar dari utang piutang kalian!" pinta Yura, dia selalu mengharapkan do'a dan restu dari ibu sambung kejamnya itu.

__ADS_1


Yura memang definisi orang baik yang sebenarnya, walau tak sempurna tapi sikap yang dia tunjukan adalah cerminan dirinya. Dia adalah bidadari tak bersayap yang sebenarnya.


__ADS_2