
Hari berikutnya, Yura hanya dibantu Alika karena Zahran harus kembali bekerja di bengkel. Ada beberapa tukang juga yang memperbaiki beberapa etalase yang kurang sempurna. Dan Yuki juga belum datang karena dia ada urusan penting.
"Ayah Yuki tuh benar-benar baik ya Yur, beruntung banget kamu punya Ayah angkat sebaik dia!" kata Alika memulai obrolan.
"Iya, aku beruntung banget Al! Kebayang gak kalau sampai sekarang aku tinggal sama Ibu dan Tania? Aku pasti gak akan sampai di titik ini!" sahut Yura penuh syukur.
"Tapi Ayah Yuki juga beruntung sudah mengangkat kamu menjadi anaknya! Dia jadi gak kesepian lagi, dan kelihatan jelas, kalau dia begitu sayang sama kamu!"
"Semoga! Semoga aku bisa membahagiakan dia!" harapnya. Dan sebuah mobil terparkir begitu saja di depan toko. Yura kenal sekali dengan mobil itu. Ya, itu memang mobil Arkan.
'Mau apa Kak Arkan kesini?' tanyanya dalam hati.
"Kak Arkan, mau ngapain dia kesini?" tanya Alika dan Arkan sudah sampai di dalam ruang toko yang sedang dipercantik itu.
Begitu masuk Arkan langsung memperhatikan seisi ruangan dan matanya berhenti menjelajah saat dia menangkap sosok Yura dengan tatapan matanya.
"Hm ... hm ....!" Alika malah menggoda dengan mengretak-gretak sembari menginjak kaki Yura. Yura hanya memicingkan matanya.
"Selamat ya! Semoga usaha lo sukses!" kata Arkan begitu dia sampai di dekat Yura.
"Iya makasih Kak!" jawsb Yura singkat.
"M, gue mau ajak kalian makan siang! Kalian lapar kan?" ajak Arkan.
"Iya, udah laper banget nih," sambar Alika dengan gaya tengilnya, kapan lagi makan siang bareng sama atlet basket top kayak Arkan, pikirnya.
"Gue juga udah beli makanan buat para pekerja, gue ambil dulu ya, di mobil!" kata Arkan lalu dia kembali menuju mobilnya.
Yura tak tahu harus bersikap bagaimana, dia sudah berjanji akan menjadi gadis yang tegas.Tapi Yura belum tahu bagaimana menghadapi Arkan yang kadang masih plin-plan dan sulit diprediksi.
"Waah, lumayan, kamu bisa hemat budget Yur!" bisik Alika, ya, dia tahu betul kalau saat ini Yura sedang berusaha menekan pengeluarannya untuk efisiensi anggaran.
"Aku baru aja mau pesan makanan buat Abang-abang yang bantuin kita," kata Yura.
"Too late! Tuh, Kak Arkan udah bawa seabreg makanan!" tunjuk Alika pada Arkan yang baru saja membawa beberapa paket makanan junkfood untuk para tukang yang membantu Yura saat ini.
Yura cukup senang, karena bagaimana pun juga makanan gratisan adalah yang dia andalkan saat ini untuk menekan angka pengeluaran. Yura akan mulai mengatur keuangannya dengan baik.
"Rehat dulu Bang! Makan dulu nih ...." seru Alika sudah belagak seperti mandor. Arkan letakan makanan yang sudah di belinya itu di atas meja.
"Makasih Kak!" ucap Yura tanpa menatap Arkan sedikit pun. Walau sudah kenal lama, tapi selalu saja setiap momen adalah momen yang canggung.
"Heum Kak Arkan, ngomong-ngomong kita mau makan dimana?" tanya Alika masih dengan tingkah tengilnya.
"Terserah owner toko ini!" jawab Arkan agak menggoda, Alika tersenyum menggoda lagi ke arah Yura.
"Iiih apaan sih! Ayo lah!" Yura malah mendahului langkah Arkan dan Alika. Yura meninggalkan keduanya yang masih berdiri di dalam toko.
"Hmm, jikalau kau cinta! Benar-benar cintaaa!" Alika menyusul dan malah bersenandung, Arkan hanya tersenyum miris. Batinnya berkata, 'ya! Gue cinta! Tapi semuanya gak akan mudah!'.
Entah kemana mereka akan pergi.
"Makan siang pakai sambal enak kali yaa!" kata Alika yang duduk di jok belakang, dia mencoba mencairkan suasana yang sebelumnya beku.
"Sambil duduk lesehan!" sahut Yura menyambut.
"Cocok! Heum, kangen makan masakan ambu di Bandung!" kata Alika mengenang.
"Gue tahu!" kata Arkan tiba-tiba.
"Tahu apa?" tanya Yura heran karena kalimat singkat Arkan bermakna samar.
"Tempat makan yang kalian mau!" jawabnya.
__ADS_1
"Oh ya? Kak Arkan tahu? Heum, kita kesana ya?" bujuk Alika.
"Heum!" sahut Arkan.
Dan kalau saja apa yang Arkan pikirkan adalah sebuah rumah makan khas nusantara bernuansa rumahan yang biasa dia kunjungi dengan Alana, maka saat ini, Alana dan Ahsan juga sedang makan siang disana. Ahsan ingin makan makanan rumahan sama seperti yang ingin Alika dan Yura rasakan sekarang juga.
Konsepnya memang lesehan, mereka duduk di sebuah saung di atas kolam ikan dan disuguhi meja rendah untuk meletakan hidangan yang akan disantap sementara pengunjung duduk di atas tikar.
"Ini salah satu yang paling Abang rindukan selain kamu Alana!" kata Ahsan sembari dia nikmati ikan bakar khas yang sudah tersaji sejak tadi.
"Puas-puasin Bang! Makanan ini adalah surga buat lidah Bang Ahsan yang cuma bisa makan junkfood di Jerman, iya kan?"
"Disana juga ada sajian khas yang enak! Tapi, makanan Indonesia tetap juara buat Abang!"
Dan benar saja, Arkan, Yura dan Alika memang memutuskan untuk makan di restauran yang sama. Alana sudah melihatnya sejak Arkan masuk ke area restauran. Dia langsung terdiam, menatap Yura dengan panuh rasa benci dan cemburu.
Ahsan merasakan aura Alana lalu dia menoleh ke belakang, dan sekarang dia tahu penyebabnya. Dan yang pertama dia lihat adalah Yura, hatinya semakin kesal dan bertanya-tanya.
'Dia lagi, dia lagi! Gue harus bereskan cewek sialan itu! Gue gak akan biarkan siapapun merebut kebahagiaan Alana!' batinnya dan sorot matanya begitu menegaskan kalau saat ini dia begitu membenci Yura.
Karena terlanjur menyadari kehadiran masing-masing, akhirnya Arkan, Yura dan Alika bergabung dengan Alana dan Ahsan. Situasinya semakin canggung dan Yura semakin tidak nyaman dengan tatapan tajam Ahsan.
"Kalian habis dari mana?" tanya Alana menyapa.
"Kita gak dari mana-mana kok, kita kebetulan ketemu di ... di jalan dan akhirnya kami putuskan untuk makan sama-sama!" jawab Yura mencoba meminimalisir rasa curiga Alana.
"Kalian udah lama disini?" tanya Arkan yang kini benar-benar duduk di antara Alana dan Yura. Dua perempuan yang ada di pusaran benaknya.
"Ya, belum sampai setengah jam!" jawab Alana malas.
"Oke, well ... berarti saya tunggu makanan kalian di serve ya! Biar kita makan sama-sama!" kata Ahsan lalu dia hentikan acara makannya untuk sejenak. Begitu pun dengan Alana.
"Gak apa, lanjut saja," kata Arkan.
"No, makan bersama akan lebih terasa nikmat!"
"Siapa?" bisik Alika dan matanya tak lepas memperhatikan Ahsan yang memiliki paras dan fisik nyaris sempurna. Tapi itu bukan hal yang mengesankan untuk Yura karena kesan pertama pertemuan mereka begitu mengesalkan bukan mengesankan.
"Abangnya Kak Alana!" gumam Yura sembari berpaling dari Ahsan yang sejak tadi curi-curi pandang ke arahnya.
"Oh, pantesan cakep!" bisik Alika lagi.
"Permisi, ke toilet dulu bentar ya!" pamit Yura lalu dia beranjak dari sana.
"Anterin jangan Yur? Ini tempatnya luas loh, nanti kamu nyasar!" tawarkan Alika dengan nada gurauan.
"Gak usah, makasih, gak mungkin sampai nyasar ke Amerika kan? Hehe," canda Yura, Alika tersenyum masam dan sebenarnya Ahsan juga tergelitik dengan candaan dua gadis di depannya itu.
"Aahiiiew, bisa juga ya Han Yura ngelawak!" kata Alika dan Yura sudah semakin menjauh. Arkan juga hanya tersenyum mendengarnya, dan satu-satunya orang yang tidak suka dengan candaan Yura dan Alika adalah Alana. Sejak kehadiaran Arkan, Yura dan Alika wajahnya tertekuk dengan sempurna.
Dan beberapa menit kemudian, Ahsan juga putuskan untuk ke toilet juga.
"Abang mau kemana?" tanya Alana saat Ahsan bangkit.
"Toilet!" jawabnya enteng lalu beranjak begitu saja.
Kini tinggal lah Alana, Arkan dan Alika.
"Bagus ya, kalian semakin akrab! Kayak adik Kakak beneran!" cetus Alana dengan nada sarkas. Arkan hentikan permainan gamenya lalu melirik ke arah Alana yang duduk di sampingnya.
"Kenapa? Apa kata-kata-ku barusan kasar? Kenapa kamu lihat aku kayak gitu?" tanya Alana yang sudah terlanjur bete sejak tadi. Arkan semakin tak nyaman dengan sikapnya.
Lagi pula, jika ditarik ke belakang. Arkan sudah pernah ingin menjaga jarak dari Alana tapi Alana terus datang kepadanya. Arkan hanya mencoba menjaga perasaan Alana. Arkan mencoba menggali hatinya untuk menemukan tempat terbaik untuk Alana tapi sampai detik ini penggalian itu masih terasa percuma.
__ADS_1
"Heh, dan sebenarnya kamu sudah tahu kan selesai kompetisi nanti keputusanku apa?" tanya Arkan kini dia juga bicara cukup sinis ke arah Alana. Alana semakin terusik dan takut.
"Kamu benar-benar jahat!" desisnya kesal.
Alika merasa jadi pengganggu, dia pun putuskan untuk mencari Yura saja. Dia tak nyaman ada di antara ketegangan Arkan dan Alana.
'Heum, alamat perang batin! Duh, Yura dimana ya?' batin Alika, dia mencari letak toilet di restauran bergaya outdoor itu.
Dan ....
Ahsan menunggu Yura di depan pintu masuk area toilet wanita. Yura sampai terkaget mendapati Ahsan menunggu dan menahan langkahnya.
"Han Yura ...." panggil Ahsan, aneh sekali dia menyebut nama Yura dengan suara rendah yang cukup menyeramkan. Yura tahu kalau Ahsan selalu kesal dan marah padanya.
"Ya, itu nama saya!" tegas Yura mencoba jadi gadis yang kuat dan tegas di hadapan pria pongah itu.
"Kamu tahu kan kalau saya ini Kakaknya Alana?"
"Ya, jelas! Kalian sama!" tegas Yura lagi dengan makna ambigu. 'Sama-sama Arogan!' lanjut Yura dalam batinnya.
"Dia adik kesayangan saya! Saya gak akan membiarkan siapapun yang membuatknya sedih bisa hidup tenang!"
"Jadi ini maksudnya apa? Apa kamu sedang mengancam saya?" Yura benar-benar keluar dari zona nyamannya. Kini Yura tampak tegas dan berani. Dia sudah jengah ditindas, dia sudah jengah menjadi pihak yang selalu lemah dan mengalah karena Yura sadar kalau sikap mengalahnya tak jua dihargai oleh orang-orang seperti Alana.
"Turunkan dagumu! Saya gak suka dengan perempuan yang bicara seperti itu!" kata Ahsan mengecam, heh ... bahkan Yura berani melempar senyum kecut ke arah Ahsan yang hanya berjarak beberapa inci saja darinya saat ini.
"Perempuan yang bicara seperti saya? Saya belajar dari adik kamu kok!" balas Yura, sepertinya 'Brand new Han Yura' sudah lahir ke dunia ini. Yura menggebrak sisi lemahnya. Dia akan gunakan sisi arogansinya untuk menghadapi orang-orang seperti Ahsan, dia sudah berjanji untuk tidak menjadi lemah lagi.
"Heh, benar-benar menantang!" desis Ahsan yang merasa sangat tersentil dengan kata-kata sarkas Yura.
"Sudah selesai? Boleh saya lewat?" tanya Yura, Yura yang baru semakin mempesona bahkan Ahsan tak bisa melepaskan pandangannya terhadap Yura yang bersikap berani terhadapnya saat ini.
"Saya gak akan pernah melepaskan kamu! Kecamkan itu!" kata Ahsan lalu dia malah mendahului Yura untuk beranjak. Yura tak mengerti apa maksud kata-kata Ahsan barusan.
'Gak akan melepaskan aku? Maksud pria arogan itu apa? Heh, aku harus kuat! Aku harus tetap berdiri tegak di atas kakiku ini!' batin Yura sembari dia perhatikan punggung Ahsan yang semakin menjauh dan menghilang dari pandangannya.
Alika yang melihat kejadian itu dari kejauhan segera berlari menghampiri Yura yang masih berdiri kesal di depan area toilet wanita.
"Apa yang kalian bicarakan? Kelihatannya serius banget!" tanya Alika penuh antusias, Yura hanya tersenyum simpul menghadapi pertanyaan Alika. Yura tak ingin Alika mencemaskan posisinya yang kini kembali mendapat ancaman dari orang-orang baru yang menganggapnya sebagai pengganggu dan musuh seperti Ahsan.
"Dia cuma nanya nomor hape-ku!" jawab Yura asal, padahal kenyataannya jauh dari apa yang Yura tuturkan pada Alika. Yura benar-benar tak ingin Alika cemas kalau sebenarnya tadi Ahsan begitu mengintimidasinya.
"Whoaaaa! Temanku ini emang selalu berkesan buat pria manapun! Semoga pedekate kalian sukses ya! Sudah waktunya kamu move on dari Kak Keita!" goda Alika, Yura hanya tersenyum getir.
Dan sepanjang acara makan siang itu di gelar. Tak ada obrolan yang mampu menghangatkan suasana. Suasana tetap beku dan dingin. Mereka berlima kecuali Alika, memang sedang berperang batin. Alana menginginkan Arkan dan Arkan menginginkan Yura, dan kini bertambah satu aktor baru yang akan mengusik kedamaian Yura tapi Yura mencoba menghadapinya dengan sabar namun tegas. Yura janji untuk tidak lemah lagi.
"Arkan! Tolong antar Alana kembali ke butiknya!" pinta Ahsan tegas.
"Gak usah Bang, aku kan kesininya sama Bang Ahsan, pulangnya sama Bang Ahsan lagi dong!" sambar Alana.
"Abang ada perlu sama Han Yura! Biar mereka berdua Abang yang antar!" jawab Ahsan, semua orang cukup berdecak.
Yura mengerti maksud Ahsan. Dan Arkan? Dia curiga kalau Ahsan juga tertarik dengan pujaan hatinya itu.
"Heh, apa urusan kalian?" tanya Alana sinis.
"Gimana Arkan? Kita tukeran penumpang ya!" tanya Ahsan pada Arkan.
"Oke," jawab Arkan lesu.
Yura tak bisa bayangkan pulang satu mobil dengan Ahsan. Baru mengobrol beberapa menit saja hati dan emosinya selalu tersulut, mungkin kalau mengobrol lebih lama lagi, akan timbul api di hatinya, api yang menyala-nyala.
'Apa maksud orang ini? Aku harus bersikap gimana lagi?' batin Yura kesal.
__ADS_1
"Baiklah, kami duluan! Ayo Ar!" pamit Alana dan dia menggandeng tangan Arkan yang kesal tapi dia tak bisa protes karena dia mencoba menghargai permintaan Ahsan.
Tinggal lah Ahsan, Yura dan Alika. Apa yang sebenarnya Ahsan rencanakan?