
Arkan bermain luar biasa di pertandingan sore ini. Dia mencetak banyak poin dan bermain di setiap babak. Permainannya telah memukau coach dan para rekan. Tak terkecuali para supporter yang semakin mengenal Arkan sebagai pemain baru yang potensial.
Azka dan Nara lebih dari sekedar bangga, mereka merasa kalau momen petang ini adalah salah satu momen paling membahagiakan di dalam hidup mereka.
"Aaah Arkanaaa! Kamu bikin Mama bangga!" kata Nara dan matanya tak lepas menatap Arkan yang masih beraksi di tengah lapangan.
Yura juga melihat Arkan begitu onfire hari ini. Ada rasa bangga tapi kadang ada rasa percuma. Yura merasa selama ini banyak yang menyukainya tapi itu terasa percuma karena banyak aral yang menjegal.
Yura merasa lemah, dan kini dia merasa harus mulai bangkit. Semakin banyak orang menyebalkan dalam hidupnya. Kata-kata Alana yang sarkas, kata-kata Keyla yang sinis dan kini, tambah lagi makhluk arogan yang membuat Yura kesal menjalani hari-harinya, Ahsan! Yura berharap tak akan bertemu Ahsan lagi dalam kesempatan apapun.
Hampir setiap ada kesempatan melihat ke arah tribun, Arkan melempar pandangannya ke arah orang tuanya terduduk dan tentu saja dia juga menatap ke arah Yura, walau Yura tak begitu menyadarinya.
Alana kembali meradang, Alana merasa kalau Arkan sejak tadi melihat ke arah Yura terus. Bukan kepadanya. Dia kelihatan sangat kesal.
"Kenapa cemberut gitu? Pacarmu mencetak banyak poin, apa kamu gak senang?" tanya Ahsan dengan nada menggoda, Keyla menoleh, 'pacar? Kenapa Ahsan mengklaim Arkan sebagai pacar Alana? No! Aku pastikan itu gak akan pernah terjadi!' batin Keyla.
"Sejak tadi dia gak lihat ke arah sini! Sebel!" keluh Alana manja dan bibir tipisnya itu malah semakin tertekuk.
"Dia kan lagi fokus bertanding! Manja amat kamu ini!" cibir Ahsan, tapi kemudian Ahsan melihat fokus pandangan Alana yang berkali-kali menatap ke arah tribun paling depan dan dia melihat Yura disana. Untuk beberapa detik Ahsan juga menatap Yura dari kejauhan, dari tempatnya duduk sekarang.
"Ada apa dengan gadis tengil itu? Apa dia ganggu kamu?" tanya Ahsan sembari matanya menunjuk ke arah Yura, Alana semakin kelihatan bad mood.
"Aku ke toilet dulu ya!" Alana malah pamit ke toilet. Ahsan yakin kalau mood buruk adiknya itu ada kaitannya dengan sosok Yura.
"Aku temenin ya Kak!" tawarkan Keyla.
"Gak usah, tolong temani Bang Ahsan aja ya!" tolaknya lalu cepat-cepat beranjak, meninggalkan Ahsan dan Keyla berdua saja.
Sepertinya Ahsan semakin kesal dengan sosok Yura, tapi di lubuk hatinya yang terdalam, dia juga seperti semakin penasaran dengan gadis yang dia temui untuk pertama kalinya di Bandara kemarin dalam momen yang tidak mengesankan itu.
"Kamu tahu cewek itu?" tanya Ahsan pada Keyla, dan Keyla cukup terheran-heran kenapa Ahsan menanyakan Yura padanya.
"Yang pakai cardigan hitam itu?" yakinkan Keyla.
"Ya!" jawab Ahsan tegas dan matanya masih fokus pada sosok Yura.
"Oh, Han Yura!" jawab Keyla dengan nada nyeleneh, Ahsan juga heran kenapa Keyla bersikap seperti itu saat menyebut nama Yura.
"Kamu kenal?"
"Kenal dekat sih nggak! Dia, mantan adik kelasku di SMA dulu!" jawab Keyla mulai akrab dengan Ahsan.
"Berarti mantan adik kelas Alana juga?"
"Iya, dia 2 tingkat di bawah Kak Alana dan satu tingkat di bawahku! Kenapa Kak? Apa Kakak mau kenalan juga sama dia?" tanya Keyla dengan nada menggoda, Ahsan malah membalas dengan senyum masam.
"No way! Tapi, kenapa Alana kayaknya bete banget sama cewek itu? Apa kamu tahu alasannya?" Ahsan terus bertanya.
'Bukan cuma Alana, aku juga bete sama dia!' batin Keyla dan dia juga sedang menatap Yura dengan tatapan sinis dari kejauhan.
"Dia memang menyebalkan!"
"Maksudnya?" tanya Ahsan, dia semakin penasaran.
"Dia selalu tebar pesona! Dia selalu mencoba mendominasi dan hasilnya, Arkana sempat tergoda, wajar aja kalau Kak Alana marah dan benci sama dia, dia itu genit sama pacar orang!" tutur Keyla, menyulut api di hati Ahsan.
Kesan pertama yang buruk dan kini ditambah dengan hasudan Keyla telah membuat Ahsan makin hilang respect terhadap Yura. Ya, memang begitu lah nasib Yura. Kebaikan dan ketulusan hatinya selalu berhasil dimanipulasi oleh orang-orang yang iri padanya sampai membuat orang yang belum begitu mengenalnya secara personal menjadi memandang buruk terhadapnya, seperti Ahsan saat ini.
"Sialan!" gerutu Ahsan dan kebencian tersirat jelas di sorot matanya. Ahsan memang pria yang dingin, arogan tapi dia sangat menyayangi adiknya. Dia tak akan membiarkan siapapun menyakiti adiknya itu.
Entahlah, entah apalagi yang akan Yura alami setelah ini. Kini sudah bertambah satu lagi orang yang membencinya.
__ADS_1
***
"Kita mau kemana sih Yah?" tanya Yura pada Yuki.
Siang ini mereka sedang dalam perjalanan, Yura tak tahu kemana Yuki akan membawanya. Yuki sama sekali tak menjelaskan apapun.
"Kita akan makan siang di luar!" jawab Yuki dan rona mukanya begitu bahagia siang ini. Yura curiga kalau Yuki menyembunyikan sesuatu darinya.
'Heum, Ayah kelihatan cerah banget hari ini, apa dia mau kenalin aku sama calon Ibu baru? Aaah, mana mungkin! Gak mungkin Ayah menemukan pengganti Ibu secepat ini!' batin Yura menduga-duga. Banyak sekali pertanyaan dan spekulasi yang berkecamuk di dalam hati dan batinnya.
Sampai akhirnya mereka sampai di depan sebuah toko, tapi tokonya kelihatan kosong. Yura semakin heran dan penasaran.
"Ayo turun!" ajak Yuki, Yura pun turun dari seat-nya dan masih bertanya-tanya, kenapa Yuki mengajaknya makan siang di sebuah toko kosong seperti sekarang ini. Yura meragukan Yuki.
"Kita akan makan siang disini?" tanya Yura aneh, Yuki malah membalas dengan senyum simpul dan yang lebih membuat Yura bertanya-tanya lagi, Yuki memegang kunci toko kecil itu. Dia buka kunci dan pintunya dan mereka masuk.
Toko berukuran 4x4 meter itu masih agak berdebu, tapi di dalamnya masih ada beberapa etalase dan showcase. Yura masih tak mengerti.
"Besok, kamu ajak Alika buat beres-beres disini ya!" kata Yuki, Yura masih bengong.
"Kalau sudah bersih, sudah rapi, kamu bisa menjual produk-produk kookiesmu di toko ini!" jelaskan Yuki.
Apa? Toko ini untuk Yura? Yura semakin bengong dan terbelalak.
"Maksud Ayah?"
"Ayah sudah membayar sewa toko kecil ini untuk satu tahun ke depan! Ayah pikir ini cocok untukmu, letaknya juga cukup strategis dan gak terlalu besar! Cocok untukmu yang masih mencoba merintis!"
Yura terdiam. Entah kata apa lagi yang bisa ia ucapkan untuk kasih sayang dan kemurahan hati Ayah angkatnya itu. Yura serasa ini mimpi. Malaikat tak bersayap itu nyata ada di hadapannya saat ini. Yuki telah mengganti rasa duka yang dia alami berbulan-bulan ini.
"Ayah perhatikan usaha Kookiesmu begitu potensial! Kamu pasti bisa! Bahkan di masa depan mungkin kita bisa membeli toko ini! Kamu yang sabar ya!"
"Makasih Ayah, bagaimana aku bisa aku mengganti semua kebaikanmu!" ucapnya dan dia sudah terdengar terisak dalam pelukan Yuki, Yuki mengusap punggung Yura dengan lembut.
"Tetaplah jadi anak yang baik! Yang selalu tulus menolong orang lain yang membutuhkan! Ayah yakin, suatu hari usahamu ini akan melesat! Sukses!"
"Iya Ayah, terima kasih banyak!" kata Yura lalu dia lepaskan pelukannya. Yura seka beberapa titik air mata yang meniti dari matanya.
"Yura! Abaikan orang-orang yang melemahkanmu! Keluarkan sedikit power dari dalam dirimu jika mereka sudah bertindak keterlaluan! Jangan lemah ya, tapi juga jangan meninggi!" nasehati Yuki.
"Iya Ayah!"
"Walaupun kita terpisah jarak ribuan mil! Tapi Ayah bisa merasakan sesuatu yang mengganggu setiap kamu dapat tekanan dari Dara, dia sangat keterlaluan kan?"
Yura tertegun, benarkah? Seerat itu ikatan batinnya dengan Yuki. Yura memang merasakannya. Setiap Dara mengecam dan mengancam, tak lama Yuki selalu menghubunginya.
"Dia udah pergi lagi ke London kok Yah, Ayah gak usah cemas lagi!"
"Dan kamu kehilangan Keita!"
Yura hanya mengangguk, ingat Keita dan hatinya jadi sedikit lesu. Yuki mengerti akan hal itu tapi dia percaya kalau Yura akan mampu menghadapi rintangan apapun.
"Ya sudah, kita makan siang dulu ya, besok kita akan bersihkan toko ini sama-sama!" kata Yuki mencoba membuat situasi tak berlarut-larut lagi.
"Iya Ayah, sekali lagi makasih banyak ya ...." ucap Yura berulang kali, Yuki mengangguk diikuti senyum hangat ciri khasnya.
Yura sangat bahagia, untuk sejenak dia lupakan orang-orang yang mencemoohnya. Kehadiran Yuki dalam hidupnya sudah mampu menghapus luka yang selama bertahun-tahun ia kecap.
***
Keesokan harinya ....
__ADS_1
Yura begitu bersemangat membereskan ruang tokonya itu. Alika membantu bahkan Zahran juga datang untuk menyumbang tenaga. Yura bahagia sekali, orang-orang yang mendukungnya selama ini berkumpul dan kembali membantunya membangun mimpi-mimpinya.
"Ini sih keren banget Yur! Akhirnya ... kamu punya toko sendiri!" kata Alika girang dan tangannya masih sibuk menyeka debu di rak-rak kaca yang ada disana.
"Selamat ya Yur! Gue udah yakin, kalau lo akan sukses! Ya, dimulai dari toko ini!" ucap Zahran yang sedang membersihkan dinding toko yang siap di cat ulang.
"Makasih ya! Makasih atas do'anya! Dan makasih juga atas kedatangan kalian hari ini, maaf jadi ngerepotin!"
"Aku kan karyawan kamu nantinya Yur! Nah, ini adalah hari pertama aku kerja di toko ini!" jawab Alika, Yura hanya tertawa mendengar dan melihat semangat Alika.
"Ini sudah waktunya Han Yura bangkit!" kata Zahran dan Yura kembali tertawa geli.
"Betul tuh! Tunjukan sama orang-orang yang sudah meremehkan kamu Yur! Kita pasti bisa! Jangan pedulikan omongan pedas mereka! Kamu harus ingat sama kasih sayang dan kepercayaan yang Ayah Yuki kasih! Lo harus tetap semangat!"
'Ya, aku akan bangkit! Lupakan Kak Keita, dia harus bahagia dengan pilihannya saat ini! Aku gak boleh ingat-ingat dia lagi! Dan, lupakan juga Kak Arkan! Ranjau yang akan aku hadapi pasti akan lebih rumit lagi! Aku harus fokus dengan usahaku! Aku bisa! Aku pasti bisa! Aku gak boleh mengecewakan orang-orang yang sayang dan percaya sama aku!' batin Yura penuh tekad lalu dia tatap satu-satu orang yang ada di sekitarnya saat ini.
Yura tatap Yuki yang sedang mengurus papan nama toko bersama beberapa tukang di halaman toko, lalu kemudian Yura tatap Alika dan Zahran. Alika yang selalu memberinya suntikan semangat dan Zahran, teman baru yang selalu melindunginya, walau Zahran berawal dari sebuah kesalahan.
"Oh iya, Chiyo apa kabar?" tanya Alika memulai obrolan baru, ya Yura juga ingin menanyakan hal itu pada Zahran.
"Iya, Chiyo apa kabar ya? Dia udah seminggu di jogja sama Bude kan?" tanya Yura.
"Dia sehat! Badannya juga sudah mulai berisi lagi, gue gak khawatir kalau dia sama Bude!" jawabnya santai membuat Yura tenang.
"Oh iya, kenapa kamu gak bilang sama Budemu pas Chiyo dirawat di Rumah sakit?" tanya Alika lagi.
"Gue cuma gak mau bikin orang-orang cemas! Bude juga punya kehidupan dan bebannya sendiri di Jogja! makanya gue gak kasih tahu dia, dan gue malah ngerepotin lo Yur!"
"Yang penting sekadang Chiyo sehat!" sahut Yura.
"Iya, gue gak akan pernah lupa sama semua kebaikan dan pengorbanan lo Yur! Makasih banyak ya! Gue yakin, lo akan mendapat kebahagiaan yang sejati di masa depan! Gue juga siap untuk jadi tameng buat lo dari siapapun yang coba-coba mengusik lo lagi!" kata Zahran membuat Yura terharu.
"Ciyeeee! Jadi Captain America dong! Hihi ...." goda Alika, mereka semua hanya tertawa-tawa kecil sambil melanjutkan pekerjaan mereka.
Yuki melihat tawa lepas Yura dari luar toko. Dia turut merasa bahagia setiap Yura tertawa lepas.
'Aku akan menjaganya! Aku akan menjaga anak angkat kita sayang!' batinnya, dia seperti sedang bicara pada mendiang lulu.
Ya, beberapa hari sebelum Lulu dinyatakan koma, Lulu sempat berpesan pada Yuki. Kala itu ....
Yuki duduk setia di samping brankar Lulu, dia genggam tangannya yang terbelit beberapa selang infus dan alat medis lainnya.
"Sayang, waktuku pasti sudah tak akan lama lagi!" kata Lulu bergumam pelan.
"Bertahanlah!" kuatkannya.
"Aku sudah siap! Aku sudah ikhlas kembali ke pangkuan tuhan!" kata Lulu dengan nafas yang agak tersengal, Yuki eratkan genggaman tangannya.
"Kita akan bersama-sama lagi, bersama Yura! Kita akan melihatnya tumbuh dewasa! Kita akan menyaksikan pernikahannya kelak! Kamu harus bertahan!" kata Yuki lagi, Lulu tersenyum dengan muka pucatnya.
"Semoga! Jaga dia baik-baik ya, dia adalah anak yang sangat berharga, dia akan menemani kamu, dia akan mendo'akan aku! Dia sudah kehilangan banyak darah selama proses operasiku!"
"Dia juga akan membutuhkan kamu! Jadi kamu harus kuat dan optimis!"
"Ya!"
"Kita akan menjaganya bersama-sama!"
"Iya, dan jika memang aku udah gak bisa bersama kalian lagi, tolong tetap jaga dia ya! Buat aku!"
Yuki mengangguk lalu dia kecup kening Lulu. Sejak saat itu Yuki berjanji untuk semakin menyayangi Yura. Dia tahu betul kalau Yura begitu berarti untuk mendiang istrinya.
__ADS_1