
Arkan mengalah, dia mau menemui Alana di ruang perawatannya. Alana sangat senang dengan kedatangan Arkan.
"Apa sama sekali gak ada anggota keluarga kamu yang bisa datang kesini?" tanya Arkan, sampai sejauh ini Alana memang tak bisa menghubungi siapa pun. Seluruh anggota keluarganya ada di luar negeri.
"Gak ada, kan kamu tahu sendiri kalau aku sendirian di Jakarta! Aku sangat butuh seseorang buat menemani aku sampai sembuh disini! Setidaknya, sampai rasa shock-ku berhenti!" tukas Alana manja, Yura merasakan betapa Alana ingin bermanja-manja ria dengan suaminya. Ingin diam saja tapi jujur, hal itu membuatnya sebal.
"M, biar aku yang temani Kak! Aku akan menemani Kak Alana sampai Kak Alana pulih!" Yura menyambar, Yura tak ingin Alana berlama-lama bermanja dan merajuk pada Arkan.
"Tapi kamu juga punya banyak urusan sayang! Udahlah, biar nanti kita minta orang lain aja buat nemenin ... Alana disini!" cegah Arkan, sepertinya Arkan tak rela istrinya repot-repot menjaga orang yang selama ini bersikap julid pada istrinya sendiri.
'Sayang?' dan panggilan mesra Arkan pada Yura membuat Alana semakin meradang.
"Kak ...."
"Heum?" Mata Arkan berkata kalau Yura harus menuruti kata-katanya. Yura pun mengalah dan diam saja. Mungkin Arkan tak ingin Yura lama-lama dekat dengan Alana, Arkan tak ingin sesuatu yang buruk terjadi. Tak bermaksud untuk over thingking, hanya saja Arkan ingin menjaga situasi hubungannya dengan Yura tetap kondusif.
"Gak usah repot-repot, aku bisa panggil asisten rumah tangga-ku kesini!" sela Alana kesal. Dia terlanjur bad mood, dia kesal karena walau dalam keadaan cedera seperti ini Arkan tetap tak memberinya perhatian lebih. Hanya sebagai teman biasa saja, dan sialnya, Arkan malah menunjukan sedikit kemesraannya pada Yura, sesak sekali.
Setelah keputusan itu diambil, Yura dan Arkan pulang saja. Lagi pula tak ada lagi yang bisa mereka kerjakan disana. Vano sudah pulih dan diperbolehkan pulang, bahkan Arkan mengantarkannya lebih dulu sebelum dirinya dan istrinya pulang ke rumah mereka. Sedangkan Alana, dia akan tetap di ruang perawatannya sampai dia benar-benar siap untuk pulang. Pada akhirnya dia ditemani oleh asisten rumah tangganya, dia kesal bukan main.
Sesampainya di rumah ....
"Aaah iya, kita gak sempat makan malam Kak, Kak Arkan pasti laparkan?" Mereka malah baru sadar saat sampai di rumah, rencana yang sudah dia rancang sepulang dari pertandingan tadi malah batal karena harus pergi berkunjung ke Rumah sakit.
"Order lewat jasa pesan antar aja! Kamu pasti cape kan?" usul Arkan, dia pengertian sekali.
"Iya sih, iya deh ... biar aku yang pesankan! Aku siapkan dulu air hangat ya buat Kak Arkan mandi!"
Mereka masuk ke dalam rumah nyaman mereka. Seperti rencananya, Yura segera menyiapkan air untuk mandi Arkan dan setelah siap Arkan segera memasuki kamar mandi.
Karena cukup lelah, Yura membaringkan tubuhnya dibatas tempat tidur dengan posisi sembarang. Dia lelah sembari memikirkan kondisi Alana. Yura tahu betul kalau saat ini Alana pasti kesepian, tapi Yura juga sebenarnya tak mau Alana memanfaatkan sitiasi ini.
'Huh, sebenarnya kita gak ada hak buat menemani dia di Rumah sakit! Tapi kok aku kasihan ya sama Kak Alana ....' pikirnya dengan mata yang kian lama kian lelah, bahkan sebentar lagi jiwanya malah siap untuk bertualang ke alam mimpi.
CKTT, sampai beberapa menit kemudian, Arkan kembali dari kamar mandi dan mendapati Yura yang kelelahan sudah terbaring dan terlelap di atas tempat tidur. Posisinya masih sembarang, kakinya masih menjuntai ke lantai, Arkan hanya tersenyum, dia pikir istrinya itu benar-benar kelelahan.
Selepas Arkan memakai pakaiannya, dia membantu Yura melepaskan alas kaki yang masih menempel di kaki indahnya, dengan perlahan membenarkan posisi tidurnya sampai di atas bantal dan mungkin saking lelahnya, Yura hanya sedikit menggeliat. Dia tak terusik, Arkan juga menyelimutinya penuh kasih, tak lupa dia meninggalkan kecupan di keningnya. Walau rencana untuk menghabiskan malam yang biru gagal total, tapi Arkan tak merasa masalah, dia biarkan istrinya istirahat dengan lelap.
***
"Maaf ya, semalam aku ketiduran Kak!" ucapnya di sesi sarapan pagi. Yura merasa bersalah karena semalam dia tak menempati janjinya.
"Gak apa-apa, kamu semalam kecapean kan?" sahut Arkan, dia sama sekali tak mempermasalahkan perkara itu.
"Iya sih, aku ...."
DRDDD ... DRDDD ... getaran ponsel Arkan yang terletak di atas meja menyela kalimat Yura yang tak sempat selesai. Kebetulan Yura juga melihat siapa yang saat ini menghubungi suaminya dan menyela obrolannya. Alana! Ya, Alana ....
"Angkat Kak, mungkin penting!" kata Yura saat Arkan sama sekali tak mempedulikan panggilan itu.
__ADS_1
"Penting apa? Paling dia minta ditemani, kamu mau aku temani dia?" sahut Arkan lalu dia bertanya, tentu saja Yura tak mau Arkan pergi menemani Alana karena dia tahu kalau orang-orang seperti Alana akan memanfaatkan situasi, tapi di satu sisi dia juga merasa kasihan pada Alana, tetap merasa kasihan.
"Takutnya dia butuh sesuatu Kak, biar aku aja yang kesana!"
"Gak usah, pokoknya aku gak mau siapapun memanfaatkan situasi apapun buat merebut kesempatan! Sayaang, kamu tahu kan Alana seperti apa? Kamu tahu kan kalau dia masih suka ngawur berharap aku ... suamimu ini merespon keinginannya? Jadi, sebaiknya kamu tetap disini aja, gak usah khawatirkan dia, oke?" Arkan meyakinkan Yura untuk tak terlalu peduli dengan Alana.
Setelah Yura pikir-pikir, setelah melewati pergulatan batin, akhirnya Yura putuskan untuk menuruti apa kata Arkan. Arkan benar, kadang-kadang, pengorbanan dan kebaikan tak akan cukup berarti bagi orang yang tetap membenci. Apapun yang kita lakukan akan tetap menjadi biasa atau bahkan salah, mungkin maksud Arkan, Arkan tak ingin kebaikan dan ketulusan hati istrinya menjadi sia-sia. Ia tahu betul kalau Alana masih menganggap Yura sebagai saingannya selama ini.
Alana kecewa, panggilan ketiganya tak jua mendapat respon. Kini Alana semakin sadar kalau Arkan memang sudah semakin jauh dari pandangan dan hatinya. Semakin sulit menggapai dan menggenggam hati lelaki yang itu, hati satu-satunya lelaki yang selama ini berhasil membawa hatinya pergi jauh.
"Gimana Non? Kita pulang sekarang?" tanya asisten rumah tangganya yang semalam menemani kesendiriannya.
Sebenarnya perih jadi Alana, dalam keadaan terpuruk seperti ini dia harus melewatinya sendiri. Tanpa keluarga, tanpa teman, karena selama ini Alana memang tak bersahabat dengan siapapun.
KRIIING, ponselnya balik berdering, ia berharap itu Arkan tapi harapannya pupus. Bukan Arkan, melainkan Keyla. Ya, belakangan Keyla lah yang berperan sebagai teman Alana, walau bukan bestie sejati seperti halnya Yura dan Alika karena Alana dan Keyla masih terpisah jarak oleh kesibukan mereka masing-masing.
'Huh, aku kira itu kamu Arkan ... kenapa? Kenapa jarak kita semakin menjauh! Apa aku benar-benar sama sekali gak berarti? Begitu?' batinnya kesal. Alana jemu dengan sikap Arkan terlebih saat ini ia semakin sulit menggapainya karena ada hati yang lain yang jauh lebih istimewa untuk Arkan saat ini.
Dan hati Han Yura, memang diciptakan untuk selalu peduli pada siapapun. Sampai siang, sampai di dalam tokonya, dia masih saja memikirkan kondisi Alana. Tapi apa yang dikatakan Arkan juga ada benarnya. Karena perasaan iri dan benci, setulus apapun dia pada Alana, tetap saja Alana akan menganggapnua sebagai saingan. Rasa empati Yura akan selalu terasa sia-sia.
Alika yang sedang membantu beberapa pembeli mengambilkan produk kookies yang mereka inginkan sampai beberapa kali melirik ke arah Yura yang hanya bengong di meja kasir.
'Sebenarnya kasihan banget sih Kak Alana, ya tapi mau bagaimana lagi? Siapa yang tahu hati seseorang, huh ... gak kebayang gimana reaksi Kakaknya kalau tahu ini semua! Saat ada Ahsan, setidaknya Kak Alana tak kesepian dan sekarang, tak ada seorang pun yang nemenin dia! Huh,' batinnya bersama pandangan dan lamunan yang melabur.
"Terima kasih banyak ya, datang lagi!"
Tanpa sadar Alika mengambil alih mesin kasir karena sejak tadi Yura hanya bengong.
Ya, Alika memang sigap, dia bisa menghandle semua pekerjaan saat temannya hanya melamun dan bengong.
"Udah puas bengongnya?" tanya Alika penuh canda.
"Thanks ya Al, kamu selalu fokus di saat aku gak fokus 100%!" kata Yura, dia menyadari kesalahannya.
"Emang kenapa lagi sih? Penganten baru gak boleh banyak pikiran kayak gini, pikiran harus tetap relax, santai ... biar cepet-cepet dapat dedek bayi!" goda Alika, seperti biasa dengan candaan garing tapi selalu berhasil membuat Yura tersenyum masam, ya walau masam setidaknya Yura dapat mengurai rasa resahnya.
"Aku masih kepikiran Kak Alana aja Al, kasihan dia ... dia sakit dan dia sendirian!"
"Udah deh Yur, sekarang mah jalani hidup masing-masing! Kamu harus ingat gimana abangnya memperlakukan kamu dengan tidak baik selama ini! Dan yang aku tangkap, sikap buruk Ahsan itu karena provokasi adiknya, udahlah ... cukup memikirkan orang lain, ini udah saatnya kamu memikirkan kebahagiaan kamu sendiri!"
"Tapi Al ...."
"Nikmati peran baru kamu sekarang, oke? Stop mikirin Alana!"
"Alikaaa ...."
"Gimana? Udah ada tanda-tanda?"
"Tanda-tanda apa?"
__ADS_1
"Pembuahan ... pembuahan ...." Alika tersenyum tengil, dia memang paling bisa mengalihkan fokus Yura dan membuat situasi yang awalnya terasa dingin menjadi mencair.
"Astaga! Kamu mah bahasnya itu mulu! Nanti kamu mau bahaya kan?"
"Aku cuma perlu menunggu kok!"
"Menunggu Zahran?" Yura balik menggoda.
"Heum, itu tahu!" dia melengos karena salah tingkah.
Yura senang karena Alika maupun Zahran bersatu. Keduanya adalah teman yang selama ini hampir selalu ada saat Yura merasa sendiri dan kesulitan. Yura juga senang karena saat ini semuanya selalu berjalan dalam orbitnya, walau kadang selalu saja ada hal yang menjegal ketenangan batinnya.
Dan itu dia ....
Yura lihat seseorang baru memarkir kendaraannya di depan toko. Orang yang sudah beberapa minggu ini mengisi hari-harinya. Orang yang sudah bertahun-tahun ini mengisi hatinya.
Arkan datang dengan penampakan yang selalu menawan. Apapun yang ia kenakan selalu membuat Yura berdebar. Hari ini dia baru selesai latihan. Sisa-sisa keringat yang masih membasahi tubuh atletisnya selalu membangkitkan gairah yang tersimpan. Arkan adalah orang yang Yura cintai jiwa raganya, dengan sepenuh hatinya. Karena cukup banyak aral yang harus mereka lewati walau tak lama mereka akhirnya bisa bersatu tanpa menunggu lama.
"Hai ...." sapa Yura dengan senyum manis yang sudah menjadi candu untuk Arkan. Arkan selalu merindukan senyuman itu tak sampai seharian penuh.
"Kenapa? Kok kelihatan lesu gitu?" tanya Arkan yang melihat rasa berbeda dalam senyum yang Yura tunjukan. Yura memang sulit untuk tak memikirkan Alana belakangan ini.
"M, kenapa-napa kok! Al ... closing yuk!" ajak Yura pada Alika. Yura juga merasa tak fit hari ini, dia ingin segera pulang bersama Arkan dan melepas lelah.
"Gak nunggu beberapa menit lagi? Dari tadi cukup rame lho ... kan lumayan kalau ada dua atau tiga pelanggan lagi Yur ... eh, ada Kak Arkan! Heum ... oke deh, Yura pasti gak nahan pengen cepet-cepet pulang ke rumah kalau lihat penampakan macam begini ...." Alika selalu dan selalu menggoda.
"Alika ... mulai lagi ...."
Arkan cukup terhibur. Alika memang paling bisa membuat Yura tersipu dan malu-malu dan Arkan masih tetap suka dengan tingkah malu-malunya itu.
"Gak apa-apa kali Yur, aku kan bicara fakta! Yang penting bukan hoax, gak hasud dan bukan ujaran kebencian," Alika masih bercanda, sembari dia bereskan seisi toko dengan giat.
"Apaan sih, gak nyambung banget Alika!" cibir Yura.
"Semangat bekerja lagi ya, gak sabar nunggu kalian punya momongan, aduuuh ... makin lengkap deh kebahagiaan kamu Yur, nikah muda dan otewe jadi Mama muda!"
"Astaga Alikaaaaaa!"
"Aaah iya, kenapa kita gak pernah membicarakan masalah anak ya? Kita gak pernah merencanakan apapun, apa kamu mau mendapatkannya dengan cepat atau menundanya untuk beberapa tahun ke depan?" bisik Arkan diam-diam merasa tergugah untuk membicarakan apa yang Alika singgung barusan.
"Terserah Kak Arkan aja, aku gak tahu menundanya apakah akan membuat hubungan kita lebih baik atau bagaimana," sahut Yura pelan, sembari terbawa perasaan lagi.
"Kita gak usah menunda ya, kamu siap kan jadi seorang Mama?" kini giliran Arkan yang menggoda Yura sampai terjerembab dalam perasaan berdebar-debar, selalu berdebar-debar walau semuanya sudah berjalan beberapa minggu.
"Apapun yang kamu inginkan, aku akan selalu siap!" jawab Yura lugas walau pelan, lalu Yura menghindari pandangan nakal Arkan dan membantu Alika membereskan seisi toko yang agak berantakan.
"Heum, apa bagian terindah dari sebuah hubungan adalah bisik-bisik manja yang sukses bikin mesam-mesem tak karuan!" bisik Alika tak hentinya menggoda Yura.
"Jangan diteruskan!" kecam Yura, Alika malah tersenyum geli. Tapi selebihnya dia bahagia melihat kebahagiaan nyata yang selama ini Yura kecap. Alika sangat, sangat, sangat tahu apa saja yang Yura alami. Rasa sakit, kesepian, kegetiran dan strugle nyata yang tak henti menempa sampai menjadikannya kuat seperti sekarang ini.
__ADS_1
'Kamu pantas sekali, pantas selalu ada dalam kebahagian ini Yur! Selanjutnya kamu harus mendapatkan kebahagiaan lainnya, semoga Arkan Yura junior cepat-cepat hadir dalam kehidupanmu ya sahabat! Im so happy for you!' harap Alika dalam hati dengan penuh ketulusan sembari sesekali melirik ke arah Yura yang sudah sampai pada kebahagiaannya.