
Nara dan seluruh keluarga sudah sampai di tempat tujuan. Mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu di sebuah lodge yang mengahadap langsung ke sebuah bukit hijau yang indah. banyak spot-spot menarik yang sangat digemari para pengunjung, objek wisata ini sudah cukup tenar dikalangan orang-orang pribumi.
Banyak wahana dan fasilitas yang bisa dinikmati, malah ibu antusias ingin mencoba menaiki sky swing, zip bike, bamboo sky dan masih banyak lagi wahana yang cukup memacu adrenalin.
Pemandangan pohon pinus yang berjejer rapi dan menghijau benar-benar membuat siapapun betah berlama-lama disana. Kakek lebih memilih menunggu di sebuah balkon rumah makan dan menikmati keindahannya dari sana.
Ibu dan ayah benar-benar menikmati waktu mereka dengan menaiki wahana-wahana extreme itu, ibu berhasil membujuk ayah yang sebenarnya enggan tapi rayuan ibu tak bisa dia tolak lagi.
Sedangkan Nara,Azka dan Arkan lebih memilih untuk treking menyusuri jalan setapak, menikmati sejuknya udara pegunungan yang tak mungkin mereka dapatkan di Jakarta saat pulang nanti. Arkan duduk nyaman diatas hipseat dalam pelukan Azka.
"Kita harus punya rumah di pedesaan yang udaranya masih sangat segar seperti ini! jauh dari hiruk pikuk, polusi, dan..." ujar Nara berharap, tapi tiba-tiba kalimatnya terhenti dia ingat kembali pada Kalyla.
'Dan jauh dari siapapun yang hendak mengganggu kebahagiaan kita bertiga!' batinnya.
"Dan apa?" tanya Azka yang ternyata menunggu lanjutan kalimat Nara tadi.
"Dan apa ya..." Nara malah memancing Azka untuk bergurau, dia masih enggan mengungkapkan perihal intimidasi yang Kalyla berikan padanya. Dia tidak ingin Azka menganggapnya sebagai pengadu.
"Are you okay? " tanya Azka, dia tahu Nara sedang menyembunyikan sesuatu. Sejak kemarin Azka perhatikan kalau Nara lebih banyak melamun.
"Ya,"
"Bohong..."
"Memangnya kenapa?"
"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Azka yang mulai mencoba mengorek apa yang Nara simpan dari kemarin.
'Bilang gak yah? tapi...udahlah! kalau aku mengadu sekarang, pasti masalahnya akan semakin rumit!' pikir Nara, dia benar-benar tidak mau Azka tahu semua kecemasan dan ketakutannya.
__ADS_1
"M...aku lagi kepikiran kafe, Lulu bilang grafiknya agak menurun, mungkin karena aku kurang promosi karena fokus jagain Arkan!" jawabnya mengalihkan kenyataan yang dia rasakan saat ini.
"Sabar, setiap usaha kan selalu begitu..." kata Azka mencoba menyemangati, Nara hanya mengangguk.
Mereka menghentikan langkah di sebuah spot, di pinggir sungai kecil yang mengalirkan air yang sungguh sangat jernih. Suara aliran air sungai yang bersahutan dengan nyanyian serangga yang bersembunyi dibalik semak sungguh sangat membuat hati terasa damai.
"Oh iya, kamu sama Kalyla sempat ketemukan beberapa waktu lalu?" tanya Nara, dia tak tahan ingin membicarakan hal itu kepada Azka.
"Iya, sudah agak lama..." sahut Azka, Nara menghela nafas, berat rasanya mengingat tentang Kalyla terus menerus seperti saat ini. Pikirannya sangat terganggu oleh kata-kata Kalyla beberapa hari terakhir ini.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Nara lagi.
"Dia cuma tanya soal Yuki,"
"Benar begitu?"
"Ya! mudah-mudahan mereka berjodoh!" harap Azka, itu pula yang Nara harapkan dengan begitu tak ada lagi yang akan mengusik rumah tangganya ini.
Azka menggandeng tangan Nara lalu dia menggenggamnya dengan erat, Nara merasa sangat kuat saat Azka memegang tangannya seperti itu, seperti ada energi positif yang mengalir dari dalam hati Azka menuju hatinya.
"Kenapa?" tanya Nara heran saat Azka tiba-tiba memegang tangannya.
"Dua tangan ini, akan selalu melindungi kalian!" kata Azka sangat dalam semakin membuat suasana mengharu biru, saat ini tangan kanan Azka memegangi tubuh Arkan yang masih tertidur dan tangan kirinya menggenggam erat tangan istrinya. Nara benar-benar terharu, matanya sampai berembun mendengar kata-kata manis dari mantan bos galaknya itu.
"Sweet," goda Nara.
"Cuma kalian yang bisa merubah seseorang yang angkuh dan 'savage' jadi sangat sweet seperti ini!" akui Azka.
"Huh akhirnya ngaku juga!" cibir Nara.
__ADS_1
"itu kata orang-orang! aku merasa biasa aja," sahutnya.
"Hiiih, coba diingat-ingat lagi, gimana angkuhnya seorang Azka saat dulu masih jadi bosnya seorang gadis malang bernama Nara!" gerutu Nara mengenang, Azka hanya tertawa geli. Dia ingat semuanya, dulu Azka memang semena-mena pada Nara.
"Oke, aku ingat semuanya!" sahut Azka.
"Heh, masih ingat juga kan pas kamu lempar bola ke tiang dan pantulannya kena kepalaku sampai aku masuk rumah sakit semalaman!" Nara masih mengenang masa-masa saat dia masih jadi pembokat suaminya dulu, Azka semakin ingat dan dia malah terus tersenyum mengenangnya.
"Kamu ingat kalau saat ini kamu mencoba mengganggu seorang Azka yang lagi badmood?" balas Azka.
"Ya...abisnya waktu itu aku memang kepo! heh, dan setelah itu gak ada kata maaf sama sekali yang keluar dari mulut kamu!" Nara masih mengenang dan perasaannya dongkol bukan main kalau ingat Azka 'savage mode on' waktu itu.
"Maaf sayang..." ucapnya lalu mencium tangannya dengan hangat.
"Telat! udah lewat satu tahun lebih!" sahutnya sewot.
Arkan menggeliat sepertinya dia akan terbangun dari tidur panjangnya, bibir mungilnya melebar dan suara rengekan manja keluar dari sana.
Hiks..hiks..hiks..
Suara dan ekspresinya menggemaskan sekali, apapun yang terjadi pada Arkan adalah tampilan sempurna yang selalu Azka tunggu-tunggu sepanjang hari.
"U..uhhh sayaang, sini sini mama gendong!" Nara mengambil alih Arkan dari Azka dan dia segera tenang dalam dekapan mamanya.
"Jagoan gak boleh rewel!" kata Azka sembari mengusap-ngusap kepala Arkan yang sudah tenang dalam buaian istrinya.
"Anak siapa ya ini, gemesnyaaaa..." goda Nara, Arkan sampai tersenyum dibuatnya.
"Anak papa Azka sama mama Nara dong," sahut Azka dengan suara lucu yang dia buat, Nara sampai tertawa mendengarnya bahkan Arkan tampak senang lalu menghentakkan tangan dan kaki mungilnya.
__ADS_1
Mereka benar-benar figure keluarga kecil yang sempurna, mungkinkah badai akan mampu menggoyahkan dan menghancurkan kebahagiaan mereka?
Bersambung.