
"Terima kasih banyak ya, ditunggu lagi kedatangannya!" kata Yura pada pelanggan yang baru saja membayar di meja kasir.
Ya, walau tak seramai hari kemarin, tapi hari ini Yura sudah menjual beberapa produk. Walau hanya sedikit, tapi Yura sangat senang dan hal itu menambah semangatnya.
"Yur, tambah lagi nih orderan online!" kata Lulu yang sedang mengemas beberapa toples kue yang sudah matang di bagian belakang toko.
"Oh ya? Waaah, syukur kalau gitu!" Yura menghampiri, dan membantu Alika yang kewalahan.
"Iya, tapi produktifitas kita kurang nih, kayaknya kamu butuh satu pegawai lagi deh!" kata Alika.
"Iya, biar nanti kita cari ya, coba kamu juga cari info tentang orang yang mau kerja disini!"
"Okay!"
"Duh, besok Kak Arkan ke Surabaya ...." gumam Yura agak mengeluh.
"Lah, ngapain?"
"Finalnya disana! Dan sayangnya aku gak bisa nemenin!" keluh Yura lagi. Semakin hari dia semakin merasakan perasaan yang semakin dalam. Sama seperti saat dia selalu merindukan dan mengkhawatirkan Keita.
"Ciee ciee!" goda Alika.
"Apaan sih! Kan kamu tahu sendiri kalau aku awalnya suka sama dia sejak dulu," akui Yura.
"Iya sih, dan tahu gak Yur? Beneran ya, kalau setiap kejadian itu selalu ada hikmahnya. Heum, kalau kita mau berpikir positif, bisa jadi si Dara itu adalah jalan kamu untuk sampai pada Kak Arkan seperti sekarang ini!" tutur Alika, dan Yura pikir asumsi Alika ada benarnya. Tapi tetap saja, perpisahannya dengan Keita masih menyisakan kenangan buruk dan menyesakkan.
"Iya sih, tapi ... aku pikir ini masih gak adil buat Kak Keita!"
"Tapi dia udah move on lebih dulu loh ya sama bule itu, udahlah! Terima aja takdir ini, jalan yang sudah kamu lalui ini memang jalan takdir kamu! Sekarang, kamu cuma perlu menjaga dan mempertahankannya!" Alika memberi wejangan baik untuk Yura, dan Yura menyambutnya dengan senyuman.
"Oke my bestie!"
"Im happy for you! Always!"
"Makasih ya!"
Serentak Alika dan Yura menoleh ke arah pintu masuk saat pintu toko terbuka. Dan tahu kah siapa yang datang?
Ahsan!
Mood Yura seketika jatuh. Tapi Yura heran karena saat ini Ahsan membawakannya sebucket bunga. Yura yakin kalau ada maksud terselubung dari sikap manisnya yang secara tiba-tiba itu.
"Sana, kamu layani! Kali aja mau borong banyak!" bisik Alika lalu mendorong Yura untuk kembali ke depan toko menyambut Ahsan. Ya mau tidak mau Yura harus lalukan itu sebagai adab seorang penjual.
"Selamat siang, ada yang bisa dibantu?" sapa Yura walau tanpa aksen. Akhirnya Ahsan menemukan pemilik toko, dia berjalan mendekat dan Yura malah agak skeptis. Ia tahu kalau Ahsan sangat tidak suka dengannya tapi anehnya siang ini dia membawakan sebucket bunga untuknya.
"Selamat ya! Semoga sukses!" kata Ahsan sedikit lebih melunak lalu dia berikan bunganya.
"Ya, makasih! Tapi, apa kamu gak salah orang? Rasa-rasanya, baru beberapa hari lalu kamu ngancam-ngancam saya!" sahut Yura, lalu secara to the point dia menanyakan maksud Ahsan yang siang ini seperti berubah 180°.
"Mana mungkin saya salah orang! Yang saya cari itu Han Yura! Gadis manis yang menabrak saya di Bandara!"
'Apa sih ini maksudnya? Aku harus tetap waspada!' batin Yura sigap.
"Apa kamu masih menuntut saya untuk minta maaf atas kejadian itu? Saya kan sudah minta maaf, dan saya pikir kita sama-sama salah kok! Dan ... soal kecaman kamu di rumah makan beberapa hari lalu, maaf! Semua orang punya pilihan! Jadi, tolong hargai pilihan kami!" Yura semakin tegas, dia sepertinya sudah menggebrak rasa segan dan takutnya. Kali ini Yura benar-benar ingin memperjuangkan hak dan kebahagiaannya.
Ahsan datar saja, dia masih menatap Yura lamat-lamat. Dan diam-diam Alika menguping. Dia pasang telinganya baik-baik. Kisah cinta sahabatnya memang selalu seru untuk disimak.
"Hey! Take it easy! Apa kamu masih marah sama saya?"
'Masih mencurigakan, sebaiknya aku gak mudah percaya sama sikap tenangnya ini! Dia kan aslinya ketus dan arogan!' batin Yura lagi.
"Jadi, menurut kamu semua orang punya pilihan kan?" tanya Ahsan, dan sikapnya masih tenang.
"Ya!"
"Jadi saya juga masih berhak memilih?"
Yura merasakan sesuatu yang tidak beres, pasti Ahsan masih berusaha memenangkan posisi adiknya. Yura kembali takut. Ya! Ujian cintanya bersama Arkan ternyata belum berakhir. Yura tahu kalau orang-orang seperti Ahsan adalah seorang yang tak akan mudah menyerah dengan misinya.
"Kamu memang hebat! Bisa mengalahkan Alana dalam segala hal! Dan saya sadar, ya! Kamu memang menarik Han Yura! Kamu tahu apa yang sedang saya pikirkan sekarang?" Intrik dimulai, tapi Yura mencoba tetap tenang.
__ADS_1
"Jadi, apa yang kamu mau dari saya?"
"Saya akan mengambil kamu dari Arkana! Lihat saja!" kata Ahsan tegas dan penuh keyakinan. Seketika senyum kecut Yura tersungging. Ahsan benar-benar sudah mempermainkan emosinya.
Alika yang setia menguping di dapur toko pun sampai terkejut mendengarnya. Terlebih dia miris sekali, karena dia merasa sahabatnya ada dalam ancaman yang nyata. Alika merasa kasihan pada Yura, karena dia tahu kalau kisah cintanya selalu penuh ranjau dan penuh liku.
'Ya Tuhan! Apa lagi ini? Ternyata Kak Ahsan begitu banget yaaa? Semoga Arkan Yura selalu kuat menghadapi ujian apapun! Aamiin!' batin Alika penuh harap.
Yura masih memajang wajah sinisnya, tak seperti biasanya. Tapi sikap dan kata-kata Ahsan siang ini begitu mengusik ketenangannya.
"Heh, lelucon apa lagi ini? Setelah kamu hujat dan kecam saya habis-habisan, sekarang kamu malah membual? Ingat! Saya gak selemah yang kamu kira!" tegas Yura, dia begitu berbeda.
"Lihat aja! Seorang Ahsan gak pernah gak mendapatkan apapun yang dia inginkan!" balas Ahsan. Walau Yura mencoba tegak tapi sebenarnya hatinya begitu takut.
"Heh, gak akan semudah itu!"
"We'll see! Sampai jumpa lagi nanti, di momen yang lebih manis lagi ... sayaang!" pamit Ahsan, dan saat ia ucapkan kata 'sayang', Ahsan membisikannya langsung ke telinga Yura. Yura sampai terpaku karena dia tahu kalau Ahsan pasti tak akan main-main.
Ahsan pergi, meninggalkan Yura dan rasa galaunya. Lalu kemudian Alika datang dengan rasa penasarannya.
"Astaga! Apa yang aku dengar barusan Yur? Jadi kisah cinta jajar genjang kamu belum juga berakhir?" tanya Alika.
"Gak kok gak ada apa-apa! Ayo kita kemas lagi kuenya!" kata Yura berpura-pura tegar.
"Yur ...." Tapi Alika tahu bagaimana perasaan Yura saat ini. Alika tahu kalau Yura kembali terguncang atas kedatangan Ahsan.
"Gak Al! Mulai sekarang aku gak akan mengalah lagi! Aku akan kuat! Aku gak akan biarkan siapapun merebut dan mengusik kebahagiaanku lagi! Aku tahu niat Ahsan! Udah bisa kubaca! Tapi dia gak akan berhasil!" tegas Yura, dan Alika bisa merasakan getirnya. Alika segera memeluk Yura berharap pelukannya bisa menenangkan.
"Ya, kamu bisa melewatinya! Kamu sudah menemukan kebahagiaan yang baru dan mulai sekarang kamu harus pertahankan itu!"
"Iya Al."
Yura nyaman dalam pelukan Alika sampai beberapa saat lamanya.
Dan setelah tokonya ditutup. Yura tak cepat-cepat pulang ke rumah. Dia ingin menemui Arkan sebelum Arkan besok pergi ke Surabaya.
"Kenapa gak telpon, kan bisa aku jemput!" kata Arkan, mereka berjalan menuju ruang tengah yang nyaman.
"Kak Arkan kan lagi sibuk packing buat besok!" sahutnya.
"Heum!"
Mereka duduk bersama, dan sejak awal datang, Yura perhatikan Arkan. Rasanya ego Yura bergejolak, untuk kali ini Yura tak akan mengalah lagi. Dia akan mempertahankan Arkan apapun yang terjadi.
"Kamu laper? Kita makan diluar?" tanya Arkan.
"Heum, gimana kalau aku yang masakain ...." tawarkan Yura, Arkan senang mendengarnya.
"Oke! Tapi, gak ada bahan masakan yang bisa kamu olah ...."
"Kita ke super market aja sebentar! Gak akan lama kok! Ayolah! Waktunya gak lama, aku kan gak boleh sampai malam disini!" ajak Yura lalu dia bangkit dan menarik tangan kekasihnya untuk segera bangkit. Arkan tersenyum lebar, rasanya bahagia sekali ada dalam momen manis seperti ini.
"Iyaaa, aku ambil dulu kunci mobilnya ya!"
Dan begitulah. Yura ingin membangun hubungan yang kuat. Sepulang dari toko dia sengaja mengunjungi rumah Arkan kemudian dia juga sengaja mengajak Arkan berbelanja bahan masakan agar mereka bisa menjalin bonding yang kuat.
Arkan mendorong troli dan Yura yang memilih bahan dan barang belanjaannya, manis sekali.
"M, Kak Arkan mau makan apa malam ini?" tanya Yura.
"Apa aja, yang penting yang masak kamu!" sahutnya lalu menggoda, Yura hanya tersipu.
"Ikan? Mau?"
"Oke!"
"Kak Arkan kan harus selalu makan makanan bernutrisi tinggi, rendah kalori, iya kan?"
"Heum, udah cocok banget nih kita nikah sekarang!"
Yura menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang pada Arkan yang hanya tersenyum innocent. Arkan tak tahu kalau kata-katanya telah membuat Yura baper se-baper-bapernya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Arkan saat Yura masih memicingkan mata ke arahnya.
"Lihat aja, sekarang pun kita tuh kayak pasutri! Aku ini suami baik yang nemenin istrinya belanja!" kata Arkan semakin membuat Yura salah tingkah.
"Iiih Kak Arkan!" ucapnya lalu berlalu mempercepat langkahnya dan meninggalkan Arkan yang masih senyam-senyum melihat pipi Yura yang merona karena tersipu.
Bahagia sekali rasanya malam ini, dan momen seperti ini lah yang selalu dia inginkan. Arkan sudah mengukuhkan hatinya. Dia berjanji tak akan melepaskan Yura walau apapun yang terjadi nanti.
Dan di tempat lain, Keyla juga ternyata sedang menyiapkan rencana keberangkatannya ke Surabaya. Semuanya benar-benar terasa sangat kebetulan. Keyla memang sedang ada acara off air di kota pahlawan itu. Keyla senang bukan main, karena jadwal manggungnya bertepatan dengan jadwal tour final Sunrise, itu artinya dia merasa punya kesempatan untuk menarik perhatian Arkan.
"Tumben, kamu kelihatan Happy banget! Biasanya kalau ada acara di luar kota kamu gak pernah se-happy ini!" kata Arum, salah satu kru Keyla. Arum mencium gelagat aneh dari artisnya itu.
"Huh, semangat, happy ... masih aja disentil! Jadi aku harus malas, bad mood, gitu?" sahut Keyla.
"Ya bagus kalau Happy! Emang seharusnya begitu! Tapi yang bikin heran, apa sih yang bikin kamu semangat kayak gini? Pasti ada sesuatu kan?"
"Heh, kepo!"
"Siapa yang gak kepo, lihat seorang Keyla mesam mesem sendiri kayak orang kesambet, hehe ...."
"Huh, Kak Aruuuum ...." Keyla merajuk.
"Iya iya sorry! Syukur deh, semua orang senang kalau kamu senang! Tetap semangat ya!" semangati Arum.
DRDDDD ... DRRDDD, ponselnya berbunyi. Alana? Alana yang menghubunginya saat ini. Keyla pun segera mengangkatnya.
"Halo Kak ...." sapa Keyla.
"Halo Key, katanya besok kamu ke Surabaya ya?"
"Iya, aku ada acara off air disana Kak!"
"Heum, kamu tahu kan kalau Sunrise juga besok bertanding disana?"
"Oh ya? Beneran? Aku malah baru tahu ...." kata Keyla pura-pura tak tahu jadwal Arkan. Padahal sejak tadi hal inilah yang membuatnya berbunga-bunga dan bersemangat.
"Iya, Arkan juga akan kesana!"
"Oh, Kak Alana juga mau ikut dong?" tanya Keyla berharap Alana tak akan jadi penghalang dalam rencananya nanti.
"Gak tahu, lihat besok aja! Lagian ... aku sama Arkan udah gak ada hubungan apa-apa lagi kok!"
Keyla berdecak. Dia malah baru tahu kalau hubungan Arkan dan Alana baru saja merenggang. Tapi dalam hati dia begitu senang, bertambah lagi moodnya malam ini.
"Benarkah? Kok bisa kak? Ada apa?"
"Mungkin bukan jodoh kali!" jawab Alana pasrah.
"Aaah, sabar ya Kak! Mungkin nanti Kak Alana akan dapat yang lebih dari Arkan!" harap Keyla, dia sebenarnya hanya berpura-pura, padahal dalam hati dia berkata, 'yes! Arkana itu memang jodohku!'.
"Heum, ya begitulah! Tapi kalau masih mungkin, ya aku akan berusaha sekali lagi! Entahlah, masih gak rela aja kalau Arkan harus jadi milik si Yura!" ungkap Alana, lagi dan lagi Keyla berdecak. Kali ini adalah kala ia mendengar nama Yura disebut-sebut.
"Maksud Kak Alana apa?" tanya Keyla antusias.
"Mereka kan udah jadian!"
BYAAAAR, buyar sudah semangat yang Keyla bangun sejak tadi. Pernyataan Alana membungkamnya untuk beberapa saat. Baru saja dia mendapat beberapa kabar yang menurutnya baik, dan sekarang semuanya buyar begitu saja.
"Kabarnya mereka udah resmi jadian!" tegaskan Alana.
"Waw, kejutan apa lagi ini? Han Yura, berani-beraninya dia melangkahi Kak Alana ...." panas-panasi Keyla padahal dalam hati juga dia sangat meradang.
"Ya begitulah! Ini sangat menyakitkan! Tapi aku gak akan biarin mereka lama-lama bersama!"
"Iya Kak, jangan biarkan dia mendominasi!"
'Han Yura! Ternyata dia benar-benar berbahaya! aaaarrrgghh sialan! Sialaaaaan!' pekik Keyla dalam hati. Apa yang baru saja ia dengar benar-benar menghancurkan semangatnya.
Alana akhiri sambungan teleponnya. Dan tak lama Ahsan datang hendak menjemputnya pulang dari butik. Dan setiap melihat Alana murung, maka hati Ahsan juga semakin teriris.
"Ayo pulang!" ajak Ahsan.
__ADS_1
"Iya Bang!" jawab Alana lesu, lalu dia kemasi tasnya. Sejak hari itu, Alana benar-benar kehilangan gairahnya.
'Abang gak akan biarkan kamu sedih Al! Tenang aja, Abang akan bantu kamu menyingkirkan Han Yura dari Arkana! Abang gak akan biarkan siapapun mengusik ketenangan kamu!' tekadnya dalam hati.