
Kegiatan belajar di sekolah SMA Harapan Bangsa ....
Hening, senyap dan damai, hanya seruan pada guru yang terdengar dan sesekali sahutan para murid juga menghentak.
"Iya Paaak! Iyaaa Bu!"
Kriiiing, sampai akhirnya tiba jam istirahat. Jam dimana seluruh siswa berkesempatan untuk mengisi perut kosong mereka atau melepaskan kepenatan setelah beberapa jam mengikuti jam pelajaran yang selalu terasa menjemukan, tapi untuk sebegian siswa saja karena yang lainnya ada yang masih menyempatkan diri pergi ke perpustakaan ada juga yang tetap stay di kelas untuk menyempurnakan pemahaman tentang kajian yang para guru berikan barusan.
"Aku masih belum ngerti yang ini nih Yur, maksudnya apa yaaa!" kata Alika lalu menunjuk beberapa rumus logaritma yang cukup rumit.
"Sama Al, padahal rumus-rumus begini nih yang sering muncul di Ujian nanti!" sahut Yura.
"Kayaknya otak sama perut yang gak bisa sinkron nih, ke kantin dulu yuk! Laper nih," ajak Alika, Yura hanya mengangguk tanda setuju. Mereka masukan kembali buku-bukunya ke dalam tas dan bersiap untuk pergi ke Kantin.
Dengan sabar Alika mensejajarkan langkahnya dengan langkah Yura yang masih sedikit tertatih, berjalan di lorong koridor adalah hal pertama yang harus mereka lewati sebelum sampai di kantin.
"Ooh jadi dia orangnya? Eumm, jarang lihat ya tapi tahu-tahu udah jadian aja sama Keita!"
Tak sengaja Yura dan Alika mendengar desas-desus beberapa siswa saat mereka masih berjalan.
"Waah, mendadak jadi seleb!" bisik Alika menggoda, Yura hanya tersenyum simpul.
"Kamu udah jadian resmi sama Kak Kei?" tanya Alika masih berbisik-bisik.
"Nggak kok, kita gak jadian." sahutnya menyangkal karena pada kenyataannya acara kencan mereka kemarin memang batal karena peristiwa tragis yang Arkan alami.
"Kamu mah gitu! Masa aku gak dibolehin buat tahu sih kisah cinta manis antara kamu sama Shooting guard terbaik sekolah kita!"
"Iih, mulai deh, lebay!"
__ADS_1
Dan langkah yang awalnya lancar itu tiba-tiba terhenti saat Amanda and the gank datang menghadang. Yura baru tahu kalau mereka sudah lolos dari hukuman skorsing. Dia merasa ketakutan lagi, dia pikir hukuman level skorsing tak akan membuat Amanda cs merasa jera.
"Haha, ada nenek-nenek pake tongkat sok sok-an mau jadi pacarnya Arkana di sekolah ini?" sapa Amanda selalu dengan gaya nyelenehnya.
'Sok-sok an jadi pacarnya Arkana? Ketinggalan info kali yaa orang ini!' gerutu Yura kesal.
"Inget Diy, dia juga genit banget sampai deket-deketin Keita tuh!" timpali Nadya mencoba menyulut emosi Diya yang diketahui sebagai budak cintanya Keita juga.
Yura dan Alika diam saja, selain karena takut, mereka juga tak ingin membuat keributan baru karena keduanya sadar, ribut-ribut di sekolah itu tindakan yang sangat tidak baik.
"Hey, dendam gue belum tuntas ya! Lihat aja apa yang akan gue lakukan di luar lingkungan sekolah nanti!" ancam Amanda, ketenangan yang sudah Yura rasakan beberapa hari terakhir ini kembali terusik dengan kecaman Amanda cs.
Mereka memang sudah tak berani bertindak bar-bar lagi di lingkungan sekolah, mereka melengos meninggalkan Yura dan Alika yang hanya ketakutan di tengah-tengah koridor itu.
"Lapor aja sama Kak Kei!" usul Alika berbisik.
Yura bukan tipe cewek manja yang pengadu, lagipula dia merasa belum ada apa-apa diantara dirinya dan Keita, dia hanya mencoba menyangkal ancaman Amanda tadi.
Dan di koridor lainnya dia bertemu Keita cs dalam situasi yang berbanding terbalik dengan situasi yang terjadi saat tadi dia berpapasan dengan Amanda and the gank. Kali ini situasinya terasa manis dan dinding bangunan yang dicat dengan warna putih jadi tampak sedikit warna warni saking manisnya interaksi yang terjadi di antara keduanya itu.
"Eh, baru aja mau nyamperin ke kelas lo!" sapa Keita, Yura hanya tersenyum malu-malu dan tak berani menatap kesekitar, bukannya ke-pedean tapi dia yakin kalau orang-orang juga pasti sedang memperhatikannya.
"Hey! Ayo duluan! Jangan jadi pengganggu deh!" kata Vano sembari menarik tangan Alika untuk menjauh dari tempat Yura dan Keita berdiri sekarang, bagaimana reaksi Arkan? Ekpresinya datar walaupun sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Ayo Ar, duluan aja! Kei, ditunggu di pojok kantin ya!" seru Vano yang sudah berlalu mengikuti langkah Arkan dan Alika juga ikut gabung bersama kedua Kakak kelas kecenya itu.
"Yuk!"
Dengan sabar Keita mengurangi kecepatan langkahnya untuk mengiringi langkah Yura yang belum bisa berjalan sempurna. Pemandangan itu jadi pusat perhatian dan tentunya jadi trending topik di jagat sekolah. Yura memang fenomenal, dalam sekejap dia sudah berhasil jadi siswi yang membuat Keita jatuh hati pada pandangan keduanya, waktu yang sangat singkat untuk menaklukan hati seorang kapten basket pujaan sisiwi-siswi di sekolah.
__ADS_1
Bahkan seorang Arkana putra Azka yang dikenal dingin juga sampai ikut-ikutan menaruh harapan pada Yura. Ya, Arkan memang tak mengungkapkannya tapi sungguh dalam hatinya dia mulai merasakan benih-benih cinta sejak dia menjalani beberapa interaksi tak terduga dengan Yura.
"Eh, semalam kamu minta nomor Arkan buat apa?" tanya Keita sesaat membuat Yura degdegan dan merasa terpojok, ya semalam dia memang minta nomor Arkan pada Keita tanpa alasan yang jelas.
"M, semalam ... Ayah yang minta, ya ayah Yuki yang minta nomornya!" jawab Yura mulai nakal berbohong.
"Oh,"
'Ya aku pengen aja nomornya Kak Arkan, jujur aja semalaman aku gak bisa tidur karena memikirkan keadaannya, huh! Aku ini kenapa ya? Padahal udah jelas kalau yang lagi deketin aku tuh Kak Kei, kok masih sempet-sempetnya aku mikirin Kak Arkan! Ayolah Yura, jangan jadi pucek girl kamu!' batinnya berkecambuk. Yura memang belum bisa menentukan hatinya, Keita maupun Arkan sama-sama sudah membuatnya baper tak karuan.
"Kalau nanti gue ajak lo jalan lagi pasti Tante Lulu gak akan izinin, iya kan?" tanya Keita yang masih berjalan dan Kantin sudah mulai terlihat.
"Kayaknya iya, Ibu pasti gak akan ngizinin kalau aku keluar rumah sering-sering Kak!" sahutnya, dan Keita mengerti hal itu.
Dari dalam kantin Arkan juga bisa melihat kebersamaan manis itu dengan cukup jelas. Dia ingin menghindari pemandangan menyesakan itu tapi mau bagaimana lagi, Keita adalah sahabat baiknya, tak mungkin Arkan tak ikut menerima dan menghargai kedekatan Keita dan Yura saat ini.
"Lihat deh, mereka cocok yaaa! Udah kayak Romeo and Julian jaman modern aja!" goda Vano.
"Jangan Romeo and Juliet Kak, endingnya mereka minum racun sama-sama, iiih serem tahuuu!" sahut Alika bergurau.
"Aah iya yaa! Ya udah deh, mereka itu kayak cinderella sama pangerannya, iya gak? Setuju gak? setuju gak?"
"Nah kalau itu cocok kak! Kalian khususnya Kak Keita sudah membantu Yura buat lepas dari kejahatan Ibu sama saudara tirinya! Benerkan? Kayak kisah cinderella?"
"Bener banget lho, kok kisah cinderella ini relate banget ya sama kehidupan si Yura! Iya gak sih Ar?" tanya Vano girang lalu menepuk pundak Arkan.
"Heum!" tanggapinya malas.
Dan sekali lagi ingin Arkan katakan, harusnya yang jadi pangerannya itu dirinya bukan Keita. Tapi ya mau bagaimana lagi? Arkan memang terlambat sepersekian saat dan dia cukup menyesalinya.
__ADS_1