
"Apa kabar sayaang?"
Nara menyambut kedatangan Yura dengan sapaan dan pelukan hangat. Rasanya senang sekali mendapat pelukan hangat itu.
"Baik Bu, terima kasih udah mengundangku untuk makan malam bersama disini Bu," sahutnya penuh suka cita.
"Iya Yur, sekarang ini kamu cuma sendirian di Jakarta tapi Yuki udah nitipin kamu pada kami, jadi jangan sungkan yaa, kalau kamu merasa kesepian, kamu boleh datang kesini!" kata Nara, menambah kehangatan yang Yura rasakan.
"Makasih banyak Bu."
"Iya, yuk Om Azka sudah menunggu di dalam!"
Mereka berjalan beriringan, langsung menuju ruang tengah. Dan Azka memang sudah menunggu disana. Yura langsung memberi salam hormat. Setelahnya mereka duduk bersama.
"Oh iya, ini kue buatanku ... semoga kalian suka!" Dengan bangga Yura persembahkan dua toples kookies buatannya di atas meja.
"Waah, kamu hebat banget lho ... dari tampilannya saja udah sangat menggugah selera!" puji Nara bangga, Yura jadi semakin merasa tersanjung.
"Apa kamu sudah siap dengan sebuah gerai atau toko?" tanya Azka.
"M, belum Om, aku masih harus banyak belajar untuk memiliki toko sendiri," sahutnya.
"Ya, belajar lah terus! Yuki dan mendiang Lulu pasti akan sangat bangga padamu!" tambah Azka.
"Iya Om, semoga!"
"Pokoknya kalau ada apa-apa cepat-cepat hubungi kami yaa."
"Iya Bu."
Dan begitulah, walau saat ini Yura kembali sendirian tapi dia tak pernah kekurangan orang-orang yang peduli dan sayang kepadanya.
"Langsung makan yuk, Arkan laper!" kata Arkan tiba-tiba bersuara.
__ADS_1
"Uuuh, anak Mama udah laper? Ayo, kita langsung makan aja yuk, hari ini Bi Marni masak banyak sekali buat kita!"
Mereka beralih ke meja makan bersama-sama. Mereka tampak hangat layaknya sebuah keluarga, Yura senang sekali berada di tengah orang-orang baik seperti mereka.
Selain kebersamaan, Yura juga dimanjakan dengan hidangan-hidangan lezat yang sudah disiapkan Bi Marni untuk mereka semua.
"Kata Yuki, belakangan kamu makannya sedikit, gak teratur pula! Sekarang kamu harus makan yang banyak yaa," kata Nara dan dia sudah menyendok nasi cukup banyak di piring yang dia sodorkan untuk Yura.
"Waah, ini terlalu banyak Bu," sahutnya.
"Pokoknya harus habis, kamu harus makan yang banyak!" paksa Nara, Yura hanya tersenyum.
"Setelah ini kamu berkemas kan Ar?" tanya Nara kembali membangun topik pembicaraan di meja makan, mereka sudah hampir menghabiskan isi piring mereka.
"Iya, Ma!" jawabnya singkat.
"Oh, jadi Kak Arkan langsung tinggal di mess ya?" tanya Yura, dia mencoba berbaur dengan keluarga Arkan.
"Iya, buat efisiensi!" sahut Nara.
"Papa langsung dapat temankan di team?" tanya Arkan.
"Heum, sebenarnya dulu Papa orang yang sulit berbaur. Hampir satu bulan lamanya dan Papa kesulitan mendapat teman yang pas sampai akhirnya Om Yuki lah yang membimbing dan jadi teman Papa, teman yang sangat baik!" kenang Azka, Nara hanya tersenyum. Nara jadi ingat apa-apa saja yang terjadi di masa lalu, dia bahkan ingat bagaimana pertama kali dia mengenal Azka dan bagaimana dia bertemu Yuki di lorong sebuah super market.
"Oh, Om Yuki itu senior Papa kan?" tanya Arkan lagi.
"Ya, dia sudah dua musim lebih dulu sebelum Papa debut! Dia pemain yang hebat, dia salah satu panutan Papa di Sunrise!" kenang Azka lagi.
Dan Nara malah semakin terkenang, kalau boleh memuji, Nara harus mengakui kalau Yuki adalah salah satu figure lelaki yang nyaris sempurna. Bahkan sekitar 20 tahun yang lalu, saat skandal ciuman Azka dan Kalyla hampir menghancurkan rumah tangganya, Yuki adalah salah satu pemeran penting dalam redanya badai dalam rumah tangganya, kala itu Arkan kecil bahkan selalu merasa aman dan nyaman dalam buaian Yuki. Nara menghela nafas ....
"Aku juga mau belajar banyak dari Om Yuki, sayang dia malah pergi ke Aussi!" ungkap Arkan.
"Ya, kalau kamu mau belajar jadi atlet profesional, kamu harus belajar padanya!"
__ADS_1
'Heum, ayah Yuki memang ter'the best', aku sayang Ayah Yuki! Tuhan, tolong jaga ia yang jauh disana!' batin Yura, obrolan Arkan dan Azka membuatnya hanyut.
"Om Yuki memang terbaik!" puji Nara tiba-tiba dan seketika Azka melirik kearahnya, Nara hanya menyambut dengan senyum tengil.
"Heh, benarkan? Dia memang yang terbaik, kamu juga harus mengakuinya!" tambah Nara dengan nada menggoda, dan setelah itu Azka juga hanya tersenyum, harus dia akui kalau Yuki memang terbaik dalam segala hal.
Sulit memang melupakan apa yang terjadi di masa lampau. Ada manis, ada pahit dan getir dan ada banyak hikmah yang bisa diambil. Nara bersyukur, setelah badai yang dia alami 20 tahun lalu, semuanya berjalan sesuai yang dia inginkan. Yuki menemukan cinta sejatinya walau pada akhirnya Yuki juga harus kehilangan cinta sejatinya itu dengan cepat.
Setelah makan malam itu selesai, Yura menemani Arkan berkemas. Lagi pula sebentar lagi dia harus pulang dan rencananya Arkan akan mengantarnya pulang lagi tapi dia harus sedikit menunggu sampai Arkan selesai berkemas.
"Semoga Kak Arkan betah di mess!" harap Yura lalu dia membantu Arkan melipat rapi beberapa potong pakaian yang sudah Arkan pilih untuk dibawa ke messnya nanti.
"Apa lo mau jadi supporter sunrise setelah ini?" tanya Arkan mencoba membangun obrolan ringan.
"Kita lihat saja nanti, jangan kaget kalau nanti aku histeris yaa!" sahutnya dengan nada gurauan.
Yura sudah selesai, dia sudah memasukan semua pakaian Arkan ke dalam koper besar. Arkan senang karena pekerjaannya terasa lebih ringan dengan bantuan Yura.
Sekali lagi, Arkan mencuri pandang ke arah Yura yang sedang asyik berbalas pesan dengan seseorang. Yura tampak senang dan Arkan langsung menduga kalau orang yang sedang berbalas chat dengan Yura adalah Keita.
"Miss you so hard!" Yura sedang membuka voice note dari Keita lalu dia terkekeh sendiri.
"Miss you more!" balas Yura.
Sesak, cukup sesak menjadi saksi kemesraan Yura dan Keita bagi Arkan. Rasa tersembunyi itu kembali tergugah. Jatuh cinta tak pernah sesesak ini untuk Arkana.
"Ayo pulang!" ajak Arkan.
"Iya Kak," Yura kemasi tasnya, dan dia bersiap untuk pulang bersama Arkan.
KLIKK
aarrgghh, tiba-tiba sesuatu yang tak terduga terjadi. Mati lampu dan ruangan Arkan seketika gelap gulita. Karena agak panik Yura sampai setengah berteriak. Dia kaget dan ketakutan. Tak ada yang bisa dia lihat, tak ada cahaya sama sekali, bahkan di luar sana juga sampai gelap gulita, mungkin ini pemadaman listrik secara masal.
__ADS_1
"Kak," panggil Yura, dan tanpa sadar dia tadi jatuh dalam pelukan Arkan. Arkan nyalakan ponselnya dan benar saja, karena kaget dan panik, tanpa sadar Yura kini tengah berlindung dalam pelukan hangat Arkan.
DEG DEG DEG, keduanya malah sama-sama nervous, ada apa?