
Kejutan ...
Hari ini Azka pulang dan tidak memberitahu Nara maupun Arkan. Dan Azka tahu betul kalau saat ini istrinya pasti sedang berada di cafe dan tentusaja dia langsung menuju cafe langsung dari Bandara.
"Wah, Pak Azka!" sapa Danty dan beberapa pegawai lainnya saat Azka masuk ke dalam cafe.
STT, tapi Azka mengisyaratkan untuk tidak terlalu berisik, dia ingin memberi kejutan manis untuk istrinya dan para pegawai mengerti, mereka pun kompak menutup mulut, mereka terkekeh dengan sikap manis Azka.
"Ambilah, untuk kalian!" kata Azka pelan lalu memberikan satu paperbag besar pada Danty dan kawan-kawan. Mungkin itu oleh-oleh dari singapur.
"Wah, terimakasih banyak pak." ucap Danty, Azka hanya mengangguk lalu tersenyum kemudian dia berjalan menuju ruang kerja istri kesayangannya. Tak sabar rasanya ingin mencurahkan kerinduan yang selama berbulan-bulan dia pendam.
TOK TOK TOK
"Masuk!" seru Nara yang saat ini tampak sibuk mengurusi laporan keuangannya.
CKKTT, Azka membuka pintu perlahan dan dia dapati istri cantiknya sedang duduk dengan muka serius di depan laptop, Azka senang sekali, dia benar-benar merindukan Nara dan Nara belum menyadari kedatangan Azka.
"Hm, I love you!" gretak Azka, Nara terpaku, dia kenal sekali suara itu, dia angkat wajahnya dan rasa penatnya hilang begitu saja saat tahu kalau yang datang itu ternyata suaminya.
"Sayaaang!" Nara langsung bangkit dan berjalan ke arah Azka yang sudah menunggu sembari merentangkan tangan-tangannya menunggu Nara sampai di pelukannya.
"Ya Ampun, kenapa kamu gak bilang kalau mau pulang? Aku kan bisa jemput di Bandara!" kata Nara dan seketika dia jatuh dalam pelukan Azka, pelukan hangat yang selalu dia dambakan.
"Kejutan!" bisik Azka.
"Hehe, bisa aja kamu! i love you!" kata Nara dan pelukannya semakin erat.
"Love you more!" balas Azka lalu dia kecup kepala Nara yang terbenam dalam dekapan hangatnya.
Bahagia sekali rasanya detik ini, si boss manis dan kejamnya itu kini memberinya cinta yang begitu banyak sampai-sampai Nara tenggelam dan larut di dalamnya.
"Arkan masih di sekolah?" tanya Azka.
"Iya, ini baru jam istirahatnya! Oh iya, hari ini dia bertanding, kita nonton ya!" ajak Nara girang.
__ADS_1
"Tentu, apa dia bermain bagus?"
"Tentu saja, dia bermain bagus lebih dari Papanya!"
"Benarkah?"
"Ya, dia sangat merindukan kamu! Hari ini dia pasti akan bermain lebih semangat lagi,"
"Aku juga sangat merindukan kalian!"
Nara lepaskan tubuhnya, lalu dia berjinjit kaki dan meraih bibir Azka dengan bibir manisnya, dia cukup kesulitan karena faktanya Azka memang jauh lebih tinggi darinya. Azka tersenyum saat mendapat kecupan selamat datang dari Nara, dia bungkukan tubuh jangkungnya dan kini mereka bisa leluasa mencurahkan hasrat menggebu yang sudah mereka simpan selama berbulan-bulan itu.
Kembali ke sekolah ....
Tania semakin merasa resah dan paranoid, dia sudah sadar kalau saat ini Arkan, Keita dan Vano sedang mencurigainya.
Jam pelajaran selesai dan waktunya istirahat.
"Wah, sepatu baru lo keren banget Tan! Dapet beli tuh?" tanya Vano penuh dengan nada sindiran, Tania malah salah tingkah.
"Ya kali aja dapet nyolong dari pembokatnya sendiri!" sindir Vano lagi, Tania semakin tertekan apalagi saat ini Arkan dan Keita ikut menghakiminya dengan menatap tajam ke arahnya.
"Maksud lo apa sih Van? Kok lo julid banget sama sahabat gue?" bela Keyla, dan Tania hanya bisa menunduk ketakutan.
"So sorry sih, tapi coba lo berdua tanya sekali lagi, dia dapat sepatu itu dari mana?"
Dara dan Keyla sama sekali tidak mengerti dengan maksud Vano yang penuh teka-teki.
"Udah deh, lo gak usah main teka-teki begitu, jelasin aja secara gamblang, apa yang membuat lo julid sama Tania! Dia salah apa, huh?" tuntut Dara mendesak, Tania masih tak berani mengangkat wajahnya.
Keita bangkit lalu berdiri tepat di depan Tania yang sudah seperti tersangka saat ini.
"Lo kenal sama Yura?" tanya Keita, Dara dan Keyla semakin tak mengerti dengan gelagat Vano dan Keita termasuk Arkan.
"Lo serumah kan sama dia?" tanya Keita lagi, Dara dan Keyla makin dan semakin tak mengerti.
__ADS_1
"Wait, wait! Tunggu dulu, ini sebenarnya ada apa? Gue sama Keyla butuh penjelasan, pleas!" kata Dara mencoba menetralkan situasi yang terlanjur menjadi tegang apalagi Tania semakin tertekan saat ini.
"Tunggu aja! Kita akan segera dapat jawabannya! Biarkan dia yang bicara dan jelasin semua ini, kenapa sepatu baru Yura bisa lo pakai hari ini?" Keita semakin menuntut penjelasan dari Tania, dia benar-benar marah saat tahu kalau Tania merampas sepatu itu.
"Ada apa sih?"
"Diam! Biarkan dia yang ngomong!"
Bahkannkeributan itu sudah menarik perhatian teman-teman satu kelas mereka.
"Kenapa kalian nuduh yang enggak-enggak sih? Tega banget kalian," ujar Tania yang sudah menangis dengan derai airmata saat ini.
"Heh, lo tinggal jawab aja, lo kenal kan sama Yura? Selama ini lo serumah kan sama dia?" desak Keita.
"Yura? Yura siapa sih? Adik kelas kita yang tengil itu?" tanya Dera lalu dia akhiri dengan cibiran terhadap Yura dan Keita sungguh sangat marah mendengarnya.
"Jaga mulut lo itu! Dia calon pacar gue!" tegaskan Keita dan betapa tertamparnya Dara saat ini, dia sampai terbungkam saat Keita menyatakan pernyataan menyakitkan itu.
"Kalau sampai benar sepatu itu milik Yura, gue gak akan pernah maafin lo Tania!" kata Arkan kali ini lalu dua beranjak dari sana, kalimat pamungkas dari Arkan menambah beban moril yang Tania terima saat ini.
"Semuanya akan segera terungkap!" kata Vano lalu dia juga beranjak mengikuti langkah Arkan begitupun dengan Keita.
Tania menangis ketakutan dan Dara maupun Keyla masih bertanya-tanya dengannm situasi panas yang tiba-tiba saja terjadi.
"Tania, ada apa sih sebenarnya? Kenapa mereka mengait-ngaitkan lo sama si Yura?" tanya Keyla.
"Jangan-jangan benar lo kenal sama cewek tengil itu?" duga Dara yang juga mulai mencurigai Tania.
"Dan, gue heran aja, kenapa Keita, Vano bahkan Arkan kelihatan marah banget dan bahas sepatu baru yang lo pakai sekarang!"
"Sebenarnya ada apa sih?"
Tania tak tahan, dia sudah terjebak di dalam permainannya sendiri. Dia seperti dipenjara dengan pertanyaan-pertanyaan curiga dari teman-temannya. Dia sudah tak tahan, dia benar-benar tak tahan lagi.
"Jelaskan Tan!" tuntut Keyla.
__ADS_1
"Maaf! Gue gak bisa jelaskan semuanya sekarang, maaf teman-teman!" kata Tania lalu dia menarik tasnya dan pergi dari kelas begitu saja, sepertinya dia juga akan pergi dari sekolah. Saat ini dia sudah sangat terdesak dan akalnya buntu sampai dia putuskan untuk pergi saja dari sekolah menyisakan tanya di benak Dara dan Keyla.