Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Drunk


__ADS_3

Kemana Azka pergi?


Awalnya dia tak tahu harus pergi kemana, dia ingin sekali melepaskan rasa sesaknya. Dia mengemudi tak tentu arah sampai akhirnya dia menepi di sebuah bar langganannya dulu. Sudah lama dia tidak mengunjungi tempat seperti ini, karena pertengkaran tadi dia sangat ingin menenggak beberapa gelas minuman.


Bar langganannya ini memang sudah buka sejak sore, Azka duduk di kursi didepan meja bartender.


"Whoaaa, siapa yang datang???" sapa Alex, bartender sahabat Azka, Azka hanya tersenyum hambar, dia memang sudah setahun lebih tidak pernah datang lagi ke bar ini.


"Gue denger lo udah married? udah punya anak juga?" tanya Alex yang langsung menyuguhi Azka dengan pertanyaan.


"Iya!"


"Wah, hot daddy!" goda Alex.


"Ambilkan minuman favorit gue!" pinta Azka to the point.


"Kenapa lo?" tanya Alex heran.


"Udahlah, gak usah banyak tanya! gue mau minuman favorit gue!"


"Oke,"


Azka benar-benar kalut, karena tak bisa menyelesaikan masalahnya dia malah lari pada kebiasaan lamanya. Sebenarnya Azka hanya perlu membuka hati, dia hanya perlu mendengarkan penjelasan Nara dengan kepala dingin, karena tadi mereka saling menyalahkan maka masalah sepele ini pun menjadi sangat pelik dia rasakan.


Sedangkan Nara?


Setelah puas menangis sendiri didalam kamarnya, dia tak mau semakin larut maka diapun pergi menuju rumah ibu untuk segera menjemput Arkan. Sebelum berangkat Nara sengaja memakai make up tebal agar bisa menutupi wajah sembapnya, dia tidak ingin ibu,ayah dan kakek curiga kalau saat ini dia sedang bertengkar dengan Azka.


"Kalian gak nginep disini lagi? semalam lagiiiii aja..." bujuk ibu yang tak rela berpisah dengan Arkan.


"Nanti kami nginep lagi disini, bi Marni kan lagi pulang kampung, jadi sayang kalau rumah ditinggal kosong!" sahut Nara, Ibu perhatikan lagi Nara.

__ADS_1


"Gak biasanya kamu dandan seperti ini?" tanya ibu yang heran melihat penampilan Nara yang membuat pangling.


"M...aku baru dari kondangan teman bu!" jawabnya ngasal, Ibu hanya tersenyum.


"Kalau dandan kamu jadi pangling, makin cantik...pantas saja Azka makin sayang sama kamu!" goda ibu, Nara hanya tersenyum hampa. Dia hanya berharap apa yang ibu katakan benar, bahwa Azka akan semakin sayang padanya.


"Oh iya, Azka mana?" tanya ayah, saat Nara datang Arkan memang sedang diasuh oleh kakek neneknya di ruang keluarga, sedang kakek? mungkin kakek istirahat di kamarnya.


"Iya, kamu gak sama Azka?" tanya ibu kemudian, Nara bingung harus jawab apa...


"M...Azka, dia ada urusan mendadak tadi," jawab Nara ngasal lagi, dia hanya tidak ingin kalau masalahnya ini diketahui oleh seluruh keluarga, dia sadar betul itu akan membuat ibu,ayah ataupun kakek merasa cemas.


"Oh, ya sudah...nanti biar mang diman yang antar kalian ya.." kata ibu, Nara hanya mengangguk.


***


Malam sudah larut, Arkan sudah tertidur nyenyak.


'Tolong, cepatlah pulang!' batinnya.


Dan beberapa menit kemudian, Nara malah dikejutkan dengan mobil asing yang tiba-tiba datang dan berhenti didepan gerbang rumahnya. Nara merasa tidak asing dengan mobil itu, tapi dia tidak peduli, dia segera berlari ke lantai bawah lalu keluar dari rumah dan bergegas membukakan pintu gerbang.


Saat gerbang terbuka detak jantungnya terasa berhenti, ternyata yang datang adalah Kalyla. Kalyla datang bersama Azka yang tampak mabuk terduduk lemas di samping jok Kalyla. Nara benar-benar mati rasa melihat pemandangan itu.


Kalyla turun dari mobilnya lalu mendekat kearah Nara yang terdiam mematung di bibir pintu gerbang.


"Apa kalian ada masalah?" tanya Kalyla dengan nada sinis, Nara enggan untuk menjawab.


"Lihat, dia mabuk berat...beruntung tadi dia sempat telphon aku," tambah Kalyla, Nara bingung harus jawab apa tapi yang pasti saat ini perasaannya sangat hancur.


"Sepertinya kesempatanku sudah terbuka lebar!" kata Kalyla lalu tersenyum licik, Nara muak melihatnya dia segera berjalan melewati Kalyla lalu membukakan pintu mobilnya dan segera berusaha membawa Azka keluar dari sana.

__ADS_1


"Kamu tinggal menunggu waktu..." kata Kalyla lagi semakin menyebalkan, Nara tidak peduli dan kini dia sudah berhasil mengeluarkan Azka dan menopang tubuh jangkungnya dengan sudah payah.


"Rumah tangga kami akan baik-baik saja!" kata Nara tegas lalu dia memapah langkah Azka yang gontai, kesadarannya sudah hampir hilang.


"Oke, semoga saja! tapi, aku yakin...kalau sebentar lagi keadaannya akan berubah, satu masalah kecil akan memantik masalah lainnya!" kata Kalyla sarkas sekali, sejenak Nara menghentikan langkahnya tepat di hadapan Kalyla.


"Terimakasih banyak ya, sudah mengantar suamiku pulang!" ucap Nara tak kalah sinis, heh...Kalyla hanya menanggapinya dengan senyum licik.


Nara tak peduli lagi dengan Kalyla dia sekuat tenaga memapah dan menyeret langkah Azka yang semakin gontai, meninggalkan Kalyla dan niat busuknya.


Nara sampai diruang tengah lalu segera menghempaskan Azka di sofa, hatinya semakin kesal dan jengkel. Bagaimana bisa Azka lari pada botol-botol minuman keras sementara Kalyla datang memanfaatkan pertengkarannya ini.


Nara lihat kepergian Kalyla lewat jendela, hatinya sesak, sungguh sesak.


"Kenapa kamu lakukan ini, heh? bodoh! kamu tahu apa yang kamu lakukan ini adalah hal yang sangat bodoh!" gerutu Nara dan matanya kembali mencurahkan airmata yang tak kunjung surut.


Azka sangat lemas, tubuh dan otaknya sudah ada dibawah pengaruh minuman keras. Tapi tetap saja hati Nara tak tega melihat Azka seperti itu, dia bantu Azka melepaskan jaketnya, mata Azka tiba-tiba memicing pada Nara yang tepat ada didepannya saat ini.


"Tolong, jangan biarkan ini berlarut-larut, jangan biarkan orang lain masuk dalam masalah kita!" kata Nara sangat dalam, berharap Azka mendengarnya dengan baik dan jelas.


"Dia sudah membantuku merasa tenang," kata Azka pelan, dia memang agak meracau tapi Nara terhenyak dengan kata-kata singkat barusan.


"Siapa???" tanya Nara.


"Jangan marah padanya! dia sudah membantu...dia membantuku merasa tenang malam ini..." sahut Azka lagi, Nara semakin merasa sakit. Nara tahu kalau 'dia' yang Azka maksud adalah Kalyla.


"Dia sedang berusaha merebut perhatianmu lagi!" kata Nara keras, dia tak bisa menahan emosinya.


"Jangan menuduh dia seperti itu!" Azka malah balas membentak, lalu dia bangkit dan pergi meninggalkan Nara. Tubuhnya masih lemas dan oleng sampai baru berjalan beberapa langkah dia langsung terjatuh di lantai, tapi dia kembali bangkit lagi dan berjalan gontai menuju lantai atas, meninggalkan Nara dan kesedihannya.


Nara tak percaya kalau keadaannya semakin kacau, dia tidak percaya kalau Azka masih membela Kalyla yang jelas-jelas sedang memanfaatkan pertengakaran mereka ini. Entah apa yang akan terjadi di esok hari saat Azka tersadar.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2