
"Ini kamar kamu!"
Yura berdecak kagum, selain mendapat perlakuan yang sangat baik dari kedua orangtua barunya, dia juga diberi fasilitas yang luar biasa. Sebuah kamar yang cukup luas dan nyaman dengan televisi dan kasur yang empuk di dalamnya.
Saat dia masih tinggal di rumah lama, Yura tak pernah merasakan momen menonton TV karena tak ada fasilitas itu di dalam kamarnya, sementara ruang TV selalu dikuasai Ibu dan Tania setiap harinya.
"Sebenarnya ada kamar di lantai atas, tapi sampai kaki kamu pulih, kamu tempati dulu kamar yang ini ya," kata Lulu lalu mendorong kursi roda Yura sampai Yura benar-benar masuk ke dalam kamarnya itu.
"Terimakasih banyak, Ibu ... Ayah." ucap Yura lalu dia melirik ke arah Lulu kemudian pada Yuki, keduanya bahagia sekali dan Yura merasakan yang lebih dari yang dia bayangkan.
"Iya, semoga kamu betah ya,"
"Jangan sungkan, kalau ada sesuatu yang kamu inginkan, katakan pada kami!" kata Yuki.
"Iya, Ayah."
Yuki tersenyum, lepas sekali lalu dia juga membelai rambut Yura dengan lembut. Yura merasa ini adalah hari kemerdekaan yang sangat membahagiakan untuknya.
"Dulu kami tinggal di appartemen yang hanya memiliki satu ruangan, belakangan kami ingin sekali pindah ke rumah ini, walaupun kami tak punya anak tapi entah kenapa waktu itu saya ingin sekali memiliki rumah dengan satu atau dua kamar tambahan dan ternyata hal itu karena kami akan kedatangan kamu, hari ini! Kami senang, karena keputusan kamu ini, rumah ini akan mendapat anggota keluarga baru, menghangatkan dan meramaikan rumah ini!" kata Lulu panjang lebar, dia memang masih diliputi perasaan bahagia, tak bisa dipungkiri lagi.
"Terimakasih, terimakasih banyak untuk semua kemurahan hati yang kalian berikan pada saya selama ini. Saya ragu karena saya takut mengecewakan kalian nantinya, tapi, saya akan berusaha jadi anak yang baik untuk kalian, saya janji, saya gak akan coba-coba untuk membuat kalian kecewa dan marah." ungkap Yura kali ini.
"Kamu adalah anak yang baik, kami tahu itu!"
Kehidupan baru yang sungguh sangat sempurna, Yura sudah menanamkan tekad dalam hatinya, dia akan berusaha menjadi yang terbaik untuk Lulu dan Yuki apapun yang terjadi nanti.
***
"Syukurlah, saya ikut bahagia!" kata Danty saat mendengar kabar terbaru Yura dari Nara.
__ADS_1
"Ya, mereka pantas mendapatkannya, mereka akan saling melengkapi!" sahut Nara.
Seluruh pegawainya juga turut berbahagia dengan apa yang Yura terima saat ini, mereka turut mendo'akan yang terbaik untuk Yura, Lulu serta Yuki.
Nara yakin kalau ini adalah keputusan terbaik yang pernah dia saksikan, dia merasa tak perlu untuk mengkhawatirkan Yura lagi, dia juga yakin kalau sahabatnya akan mendapatkan hari-hari yang lebih berwarna lagi dengan hadirnya Yura.
***
Yura ingin belajar berjalan dengan tongkat kruk, duduk di atas kursi roda membuatnya sangat tidak nyaman dan Yura mencobanya dengan gigih.
"Jangan memaksakan diri, tangan kamu masih agak linu kan?" kata Lulu yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan sementara Yura sedang belajar berjalan lagi di sekitarnya.
"Kelihatannya mudah, tapi ternyata sangat sulit." kata Yura tapi dia tak menyerah, dia coba lagi walau hanya satu atau dua langkah.
"Kamu gak usah sedih, sebentar lagi kamu sembuh kok, nanti kita ke tempat wisata ya kalau kamu sudah benar-benar pulih!" kata Lulu penuh semangat dan Yura juga menyambutnya dengan senyum penuh semangat.
Yuki baru saja turun dari lantai atas, Yura melihatnya sekilas dan dia merasa percaya tak percaya kalau pria gagah baik hati itu kini sudah menjadi Ayahnya. Yuki menyapa Lulu dengan kecupan dan jujur saja itu membuat Yura senang, dia juga mulai berangan-angan memiliki pasangan sebaik Ayah barunya itu.
"Pa-pagi Ayah." sapa balik Yura.
"Kita sarapan dulu ya!" kata Yuki lalu dia perlahan membantu Yura berjalan sampai ke meja makan dan Yura merasakan lagi kehangatan itu. Bagaimana pun juga Yura memang belum begitu terbiasa.
"Makanlah yang banyak!" kata Yuki setelah selesai membantu Yura duduk di kursinya.
"Terimakasih Yah."
Pagi yang sempurna, duduk bersama orang-orang baik dengan sajian lengkap yang pagi ini sengaja Lulu sediakan untuk menyambut sarapan pertama Yura.
Lauk pauk yang banyak dan segelas susu, potongan buah segar membuat Yura merasa berada di alam baru dalam kehidupannya. Biasanya dia hanya akan mendapat sejumput nasi dan telor mata sapi saja di sarapan-sarapan sebelumnya.
__ADS_1
"Sebenarnya Ibumu ini gak biasa masak, biasanya ada bi Ica yang masakin tapi dia lagi mudik, semoga kalian suka ya." kata Lulu, dia tidak yakin kalau hasil karyanya bergelut beberapa jam di dapur akan membuat Yura dan Yuki terkesan.
"Waah, makasih banyak Bu, dari penampakannya saja sudah sangat menggugah selera." sahut Yura excited.
"Benarkah? Nih, kamu makan yang banyak ya, kamu perlu banyak asupan protein biar luka dalam di kaki kamu bisa cepat sembuh!" Lulu mengambilkan sepiring nasi dengan lauk pauk komplit.
"Iya Bu, terimakasih." dan Yura tak henti-hentinya mengucapkan kata terima kasih sepanjang pagi ini.
Yura menyendok suapan pertama dan sungguh, bahkan dalam masakannya saja Yura merasakan ada kasih sayang dalam masakannya itu. Tak henti-hentinya Yura mengucap syukur dalam hatinya.
"Oh iya, hari ini ada pertandingan Arkan dan kawan-kawannya lagi kan?" tanya Lulu memulai obrolan di pagi yang indah ini.
"Ya, babak semifinal dan mereka bermain di jam kedua!" jawab Yuki.
"Wah, bener-bener ya, Arkan tuh mewarisi bakat-bakat dari Papa dan Omnya!" tukas Lulu menggoda.
"Arkan memang hebat, dia sangat potensial, setelah ini dia pasti akan mendapat training camp bersama Sunrise!"
"Wah, pasti Nara sama Azka bangga banget ya!"
"Pasti!"
"Oh iya, bagaimana dengan Keita? Aku rasa dia juga bermain cukup bagus." tanya Lulu lagi lalu saat menyebut nama Keita Lulu melirik ke arah Yura, dia tahu kalau saat ini Keita sedang melakukan pendekatan terhadap anaknya itu.
"Keita ya? Dia Shooting guard yang hebat, dia juga masuk salah satu list untuk seleksi!"
"Waah, aku ikut bangga deh sama mereka! Tapi sayang, hari ini aku gak bisa ikut nonton, aku mau temani Yura hari ini di rumah!"
"Iya, kalian di rumah saja, kalau nanti mereka menang, kita akan menonton pertandingan final mereka bersama-sama di venue secara langsung!"
__ADS_1
Yura senang sekali mendengarnya, akhirnya dia bisa berkesempatan untuk merasakan euphoria berada di tribun secara langsung nantinya. Satu hal yang terasa sangat mustahil saat dulu dia masih ada di kehidupan lamanya.
Yura tak sabar menantikannya, dia berharap Arkan dan team menang petang ini, dengan begitu lusa dia akan menonton pertandingan finalnya.