Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Sweet Yuki


__ADS_3

Nara sebenarnya malu karena Yuki jadi tahu kalau saat ini dia hendak pergi dari rumah, tapi Yuki tak akan mungkin membiarkan Nara dan Arkan sendiri dalam keadaan seperti ini.


Yuki turun dari motornya lalu mendekat kearah Nara yang masih momong Arkan yang tak kunjung berhenti menangis.


"Kalian mau kemana?" tanya Yuki, apalagi saat dia lihat ada koper dan Tas besar di dalam taxi itu.


Nara tak mampu jawab, dia tak tahu harus jawab apa pada Yuki, dia sungguh sangat malu karena Yuki jadi tahu kalau masalahnya dengan Azka semakin memburuk.


"Ini udah malam, pasti Arkan kedinginan...kita mampir dulu ke cafe itu ya?" ajak Yuki, dia memang tak tega melihat keadaan Nara dan Arkan saat ini.


Nara pikir apa yang Yuki sarankan ada benarnya, diapun menganggukkan kepalanya dan berharap Arkan bisa lebih tenang setelah ini.


Yuki membayar argo taxi Nara lalu dia mengeluarkan koper dan tas Nara lalu dia berjalan menuju cafe yang tak jauh dari tempat taxinya itu mogok, Nara hanya mengikuti langkah Yuki, dia akui saat ini dia memang butuh pegangan dan arahan.


Setelah beberapa saat...


Ajaibnya Arkan bisa tenang dalam pangkuan Yuki, saat sampai didalam cafe beberapa menit lalu Yuki langsung mengambil Arkan dari Nara yang tampak kelelahan dan ternyata Arkan bisa tenang dan terlelap dalam buaian Yuki.


Setelah Arkan terlelap, Nara kembali menangis. Dia ingat apa yang terjadi padanya akhir-akhir ini, dia ingat bagaimana Azka bersikap dingin padanya dan tentusaja dia ingat kata-kata Kalyla tadi sore. Hatinya hancur sekali, dia tak kuasa membayangkan bagaimana Azka mencumbu Kalyla semalam. Yuki menatapnya dengan lekat...


"Oke, menangislah!" kata Yuki lalu mengusap punggung Nara, dia berharap dengan itu Nara mampu mencurahkan rasa sesaknya.


"Ini sakit...sakit sekali.." gumam Nara lirih, Yuki mengerti dan dia sangat menyesal karena tak bisa membantu Nara mengatasi rasa sakitnya itu.


"Kenapa lagi?" tanya Yuki.


"Entahlah! aku malas membahasnya! mereka benar-benar keterlaluan!" ucap Nara diantara isak tangisnya, Yuki mencoba memaklumi itu.


Dia membiarkan Nara puas menangis tanpa mengajukan pertanyaan apa-apa lagi, dia hanya fokus membuai Arkan agar dia tetap nyaman dalam pangkuannya. Yuki memang tak bisa berbohong kalau dia sangat mencintai dan menginginkan Nara, tapi melihat Nara tertekan seperti ini dia tak pernah terpikirkan untuk memanfaatkan situasi.


Setelah airmatanya hampir kering, Nara perhatikan Yuki yang dengan sigapnya menjaga buah hatinya dalam pelukannya, Nara terharu dan merasa hangat melihat pemandangan itu.


"Ini udah malam, rencananya kalian mau kemana?" tanya Yuki sesaat setelah Nara tampak tenang.


"Aku mau cari rumah sewa untuk sementara waktu," sahut Nara, Yuki tatap jam di dinding cafe dan ini sudah cukup larut.


"Gak mungkin, waktunya gak akan cukup...aku antar kalian pulang aja ya ke rumah Azka," tawarkan Yuki.


"Gak! aku gak mau pulang kesana! aku butuh waktu buat menerima sikapnya akhir-akhir ini, aku butuh waktu buat sendiri!" tolak Nara mentah-mantah.

__ADS_1


"Cari rumah sewa itu gak akan mudah, apalagi ini udah malam! kasian Arkan kan?"


"Pokoknya aku gak mau pulang!" tegaskan Nara, Yuki coba untuk mengerti.


"Atau, kalian pulang kerumah keluarga Azka? biar aku antar kalian kesana!"


"Gak! aku gak mau mereka tahu semua ini!"


Yuki gak tahu lagi harus bagaimana, sepertinya Nara memang bersikeras ini mengasingkan diri dari Azka.


"Ya udah, buat sementara...kalian tinggal di apartementku saja, untuk malam ini!" usul Yuki, Nara belum yakin, dia takut kalau dia ikuti Yuki, ini akan memicu konflik baru lainnya.


"Gak usah terimakasih," sahut Nara masih menolak.


"Ayolah, lihat Arkan...kasian dia," bujuk Yuki.


Nara menatap Arkan yang terlelap kelelahan, Nara sendiri juga memang sudah agak lelah karena seharian ini dia menangis dan emosi. itu semua cukup menguras staminanya...


"Besok, kita cari rumah sewa yang nyaman untuk kalian..." kata Yuki, Nara kembali memikirkan tawaran itu secara matang dan dia tatap Yuki kembali, entahlah...


Nara melihat ketulusan didiri Yuki, dia yakin kalau Yuki memang tulus membantunya seperti bantuan-bantuannya di masa lalu yang tak pernah mengharapkan balasan apapun dari Nara.


Sementara menunggu sampai besok pagi, Nara akhirnya mau mengikuti Yuki untuk menginap di apartementnya, lagipula Nara tak tega kalau Arkan harus dia bawa berkeliling mencari rumah kontrakan.


Apartement Yuki memang nyaman, walau hanya ada satu ruangan besar tanpa sekat tapi Yuki menata furniture-furniture minimalisnya serapi mungkin. Hanya ada satu tempat tidur disana dan Yuki segera membaringkan Arkan dengan hati-hati disana.


"Kalian tidur disini ya... nanti aku tidur di sofa!" kata Yuki penuh perhatian.


"Ya, terimakasih banyak!" ujar Nara yang merasa lebih tenang.


"Istirahatlah!" kata Yuki lalu meninggalkan Nara disana, dia sendiri segera menjauh menuju ruang santai yang berjarak beberapa meter dari tempat Nara berdiri saat ini.


Nara terdiam, dia tatap sekali lagi sosok Yuki. Nara kini yakin kalau Yuki memang tulus mencintainya, dia selalu membuat Nara merasa tenang dan merasa lebih baik.


Bagaimana dengan Azka???


Dia menyesal karena sudah berjam-jam mencari dan dia tak kunjung menemukan Nara dan Arkan. Di tambah lagi Nara tak dapat dilacak karena dia sengaja mematikan ponselnya sejak sore tadi.


Azka sudah mencari ke kontrakan Lulu, ke rumah ibu tiri Nara dan hasilnya nihil. Dia bahkan sempat menggeledah seisi rumah ibu dan dia tak dapat menemukan anak dan istrinya disana.

__ADS_1


Azka hampir menyerah, dan tentusaja dia sangat menyesal. Dia kini sadar kalau seharusnya dia tak bersikap dingin pada Nara, seharusnya dia tidak menyia-nyiakan kesabaran Nara, hanya saja Azka belum tahu kalau yang benar-benar membuat Nara marah hari ini adalah pernyataan Kalyla tadi sore yang dengan percaya dirinya menyampaikan kalau semalam mereka sempat melakukan ciuman hangat saat Azka dalam keadaan mabuk.


"Aaaaarggggh! Shit!" pekik Azka yang marah pada dirinya sendiri, dia mengemudi tanpa tujuan dengan penyesalan yang amat sangat dalam.


Nara juga tak dapat memejamkan matanya, dia tatap Arkan yang terlelap nyaman di tempat tidur milik Yuki, hatinya perih memikirkan bagaimana masa depan Arkan jika pada akhirnya nanti dia tak bisa mempertahankan pernikahannya.


Nara juga lihat Yuki masih terbangun di depan televisi, dia sudah sangat tenang dan dia ingin mengucapkan banyak-banyak terimakasih padanya. Nara bangkit lalu berjalan mendekat kearah Yuki yang cukup terkaget dengan kehadiran Nara yang tiba-tiba duduk di sekitarnya.


"Belum tidur?" tanya Yuki, Nara hanya menggeleng.


"Makasih banyak ya, buat semua yang sudah kamu lakukan untuk aku dan Arkan..." kata Nara.


"Iya, ini memang sudah seharusnya aku lakukan,"


Ting...ting...ting...


Ada notifikasi masuk dalam ponsel Yuki, dia segera cek, dia belum mengerti berita apa yang dia dapat hanya saja sebelum dia putar video dalam berita itu dia bisa mengenali kalau objek dalam video itu adalah Kalyla dan azka.


Apa yang Yuki dapatkan?


Berita apa yang dia dapat sampai membuatnya terdiam dan matanya terbelalak, Nara sendiri penasaran dengan apa yang Yuki lihat barusan.


"Ada apa?" tanya Nara penasaran.


"M..gak ada apa-apa kok..." sahutnya.


Apa yang Yuki lihat?


Ternyata kebersamaan Kalyla dan Azka semalam di bar sudah tersebar luas, parahnya ada adegan dimana Azka dan Kalyla sekilas seperti sedang berciuman, videonya memang amatir jadi semuanya agak blur dan tak tampak jelas tapi tetap saja video itu akan jadi bom yang siap meledak di hadapan publik.


Yuki tak kuasa, dia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Nara jika dia tahu tentang semua itu. Yuki pun segera menyembunyikan dan menjauhkan ponselnya dari rasa penasaran Nara.


"Udah sana, sebaiknya kamu istirahat..." kata Yuki.


"M...baiklah, selamat malam!"


Pamit Nara yang kembali terbaring bersama Arkan, Yuki tak habis pikir, bagaimana bisa Azka dan Kalyla melakukan itu semua, tapi Yuki yakin kalau ini semua adalah salah satu permainan Kalyla, dia yakin itu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2