Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
KEJUJURAN YANG MENYAKITKAN


__ADS_3

Terpaksa! Yura akhirnya mau pulang dengan diantar Ahsan. Alika malah terkekeh sendiri melihat perang dingin antara Yura dan Ahsan yang duduk di seat depan. Sementara Ahsan sibuk mengemudi, Yura sibuk menghitung jarak yang sudah mereka lewati sejak keluar dari halaman restauran tadi.


"Heum, kayaknya aku ganggu deh!" kata Alika spontan. Yura hanya memicingkan matanya.


'Udah deh Alika, gak usah bikin situasi ini makin canggung! Biarin aja! Jangan sampai ada obrolan di antara kita bertiga!' batin Yura kekik. Yura sedang tak ingin melakukan interaksi apapun dengan Ahsan yang beberapa saat lalu telah mengecam dan mengancamnya.


"Ngobrol kek! Biar lebih mantep gitu pedekate-nya!" goda Alika, Yura makin gemas. Ahsan malah tak memberi respon apapun dan yang dia pikirkan saat ini hanyalah adiknya, Alana! Ahsan sedang mencari cara untuk menyingkirkan Yura dari kisah cinta Alana.


"Alikaaaa!" seru Yura, seperti seruan seorang guru yang sedang memanggil muridnya yang nakal.


"Heum, iya iya!" tukas Alika dan akhirnya dia pun putuskan untuk tetap diam di sisa perjalanan mereka menuju toko kue Yura yang akan segera beroperasi itu. Diam lebih baik, pikir Yura.


"Sudah, berhenti disini saja!" kata Yura begitu sampai di depan tokonya dan Ahsan hanya berhenti di tepi jalan tanpa memasuki area halaman toko kecilnya itu.


"Makasih banyak ya Bang!" kata Alika seraya turun dari mobil.


"Terima kasih banyak!" ucap Yura lalu dia juga lucuti safety belt-nya, dia kesulitan dan ya ... Ahsan membantu membuka sabuk pengaman itu sampai kini mereka ada pada jarak yang sungguh dekat.


'Astaga!' batin Yura terkaget dan wajah Ahsan yang dingin kini ada tepat di depannya.


"Huh, buka kayak gini aja lama! Sengaja? Biar saya batu bukain?" cetusnya membuat Yura makin bad mood.


"Apa? Heh, kalau boleh memilih, saya juga gak mau kok kamu anterin! Rasanya lebih baik naik taksi atau angkutan umum lainnya!" gerutu Yura lalu setengah badannya sudah mulai keluar dari dalam ruang mobil Ahsan tapi tiba-tiba Ahsan menahan sampai membuat Yura semakin tak mengerti dengan sikapnya itu.


"Han Yura!" gumam Ahsan, dia aneh sekali, Yura tak mengerti dengan sikapnya, tapi selebihnya Yura takut karena perilaku Ahsan memang mengingatkannya pada Dara, selalu mengintimidasi.


'Gue akan dapatkan hati lo, lalu gue akan mencampakannya dan membuat lo jatuh!' batin Ahsan, jahat sekali.


Yura hempaskan tangan Ahsan dari lengannya lalu dia pergi begitu saja masuk ke dalam tokonya diikuti Alika tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi pada Ahsan yang semakin lama semakin memperhatikan sosok Yura.


Dan di perjalanan lain, Arkan dan Alana masih dalam perjalanan. Semakin hari, status hubungan mereka semakin tidak jelas. Arkan semakin menegaskan kalau dirinya memang belum siap menjalani komitmen dengan Alana, tapi situasi dan kondisi selalu menjegal niatnya untuk memberi jawaban pasti pada Alana.


"Heh, mana mungkin Bang Ahsan tertarik sama si Yura? Aneh banget kalau iya!" kata Alana dengan nada sarkas. Ada ataupun tak ada Yura, dia masih suka merendahkannya.


"Kalau iya memangnya kenapa?" tanya Arkan.


"Hello, Bang Ahsan bisa tertarik sama yang lebih baik dari dia! Heh, Han Yura, dia punya magnet apa sih sampai orang-orang begitu tertarik! Fisikly? Itu relatif! Bahkan seseorang bisa lebih sempurna dibanding dia! Tapi anehnya dia dapat semua perhatian!" Alana tak ragu lagi mengungkapkan unek-uneknya. Tanpa sadar kalau pria di sampingnya juga sudah bertahun-tahun terjerat cinta seorang Han Yura yang baru saja ia sepelekan itu.


'Dia punya segalanya!' batin Arkan.


"Aku gak akan biarkan Bang Ahsan dekat-dekat sama dia! Aku gak rela! Benar-benar gak rela!"


"Bagus!" sambut Arkan, Alana menautkan kedua ujung alisnya, dia tak mengerti apa maksud Arkan berkata seperti itu.


"Apa? Bagus? Maksud kamu apa?"


"Suruh Abangmu itu jauh-jauh dari Yura!" tegas Arkan.


"Biar kamu bisa mendekatinya juga?"


Arkan tepikan mobilnya, ini sudah sampai di halaman parkir butiknya. Tapi Alana tak cepat-cepat turun dari mobil Arkan, dia sedang mencari tahu sekali lagi apa yang sebenarnya Arkan inginkan selama ini.


"Arkan! Please! Gak usah menunggu sampai kompetisi selesai! Sekarang aja! Katakan apa yang kamu rasakan! Dan beri aku kepastian!" tuntut Alana, mungkin dia lelah menunggu sementara Arkan sudah menunjukan gelagat kalau ia sudah jatuh hati pada gadis lain.


Arkan menghela nafas, sepertinya ini sudah saatnya dia tegaskan perasaannya. Dia juga lelah berada dalam posisinya sekarang ini. Selama ini Arkan hanya mencoba menjaga hati dan perasaan Alana, itu saja.


"Sebenarnya aku udah punya jawabannya sejak lama! Tapi, aku masih mencoba mencari-cari, mencari-cari alasan untuk menerima kamu!"


"Dan kamu gak pernah menemukan alasan itu?" tanya Alana, matanya sudah hampir menumpahkan air matanya lagi. Begitu banyak air mata.


"Ya!" tegas Arkan. Seketika kelopak matanya tak bisa menahan lagi. Jawaban singkat Arkan benar-benar mengoyak nuraninya. Cukup sudah, penantiannya selama bertahun-tahun selesai detik ini. Walau Arkan baru menjelaskan sedikit saja tapi itu itu sudah cukup jelas menegaskan kalau Arkan memang masih tak bisa menemukan alasan untuk menerimanya menjadi pasangannya.


"Kita gak bisa pura-pura! Aku gak bisa memaksakan perasaanku lagi!"

__ADS_1


"Dan selama ini kamu pura-pura?"


"Kamu mau aku jujur?"


"Ya, jujur aja!"


"Setelah Yura datang! Semuanya sudah berubah! sejak dia datang!"


BYAAAR, sudah selesai. Pernyataan Arkan membuat hati Alana hancur berkeping-keping. Tapi, dia tahu kalau selama ini Arkan memang tak bisa memberikan cintanya itu, Alana bisa merasakannya. Tangis perih Alana pecah, dan Arkan tak bisa apa-apa lagi. Dia tahu kalau kejujuran akan menyakiti Alana, dan jika dia terus membohongi hatinya maka semuanya akan tetap semu dan gantung.


"Kamu tahu? Sudah berapa hati yang takut dengan kedatangan Han Yura dalam kehidupan ini?"


"Jangan salahkan dia! Ini bukan salah dia!"


"Sure ini kesalahan dia! Dia sudah mencuri hati kamu dariku! Dia sudah mencurinya!" hentak Alana dan dia sedikit histeris. Dia sangat emosional.


Ya, Yura memang sudah mencuri hati Arkan sejak lama dan itulah masalah terbesar dalam hubungan Alana dan Arkan.


"Tahun-tahun yang menyakitkan! Dan sekarang kamu menyempurnakan rasa sakit ini!" kata Alana.


"Aku udah pernah kasih kamu jawaban kan? Dan kamu masih tetap menunggu?" Arkan balas menyerang.


Ya, kalau ditarik kebelakang, selama ini memang Alana lah yang memaksa untuk tetap menunggu jawaban Arkan padahal sebelumnya Arkan sudah sering meminta Alana untuk tak menunggunya dan mencari pria lain. Tapi Alana masih saja ingin menunggu sampai Arkan menemukan kembali tempat di hatinya untuk Alana dan sialnya, saat ini tempat di hati Arkan sudah sepenuhnya dikuasai oleh Han Yura.


Alana meangisinya lagi, memang benar, sudah berkali-kali Arkan memintanya untuk tak menunggu dan malah Alana sendiri yang ingin terus menunggu.


"Oke, selama ini aku selalu berusaha mencarikan tempat buat kamu, disini ...." kata Arkan lalu dia meletakan tangannya di dadanya, "Tapi gak ada! Tetap gak ada! Maaf aku harus jujur!" pungkasnya.


Alana terus menangis dan Arkan juga mulai tampak emosional. Arkan merasa bertahun-tahun ini dia terpenjara oleh Alana dan akhirnya, saat ini dia bisa melepaskan dirinya walau pada akhirnya dia sangat menyakiti hati Alana. Tapi, Arkan memang harus jujur, dia juga tak bisa terus menjaga hati yang Alana, dia juga harus memikirkan hatinya.


"Kamu masih mau menunggu?" tanya Arkan, Alana masih menangis perih, berat rasanya untuk beranjak dari dalam mobil Arkan. Rasa sakit, malu dan kecewa, Dia tak ingin orang-orang melihatnya.


"Jangan menunggu lagi!" tegas Arkan.


Arkan kesal, ternyata setelah jujur pun Alana masih ingin menunggunya? Sial! Arkan benar-benar terperangkap dalam penjara hati Alana.


'Gue harus segera kunci hati Han Yura! Ya, cuma itu yang harus gue lakukan sekarang ini!' batinnya lalu dia memutar kendaraannya dan apakah Arkan akan langsung menemui Yura saat ini?


Ya, Arkan kembali menemui Yura di tokonya yang sampai sore akhirnya sudah selesai direnovasi. Ruang toko itu kini sudah siap untuk diisi. Yura senang sekali, cita-cita dan mimpinya akhirnya terwujud walau hanya sebuah toko kue kecil tapi itu adalah anugrah yang akan selalu dia syukuri.


"Sudah selesai ya neng, kalau ada apa-apa, bisa hubungi kami lagi!" kata seorang tukang yang beberapa hari ini membantu Yura.


"Iya, makasih banyak ya Bang!"


Dan setelah para tukang itu pulang, Arkan kembali datang. Situasi kembali berubah. Dan Alika adalah saksi dari cinta rumit yang selama ini sahabatnya itu alami.


"Well, semuanyakan udah selesai, aku pulang duluan ya Yur!" pamit Alika, Alika sepertinya ingin memberikan waktu pada Yura dan Arkan. Tapi, Yura menahan lengannya, Yura tak ingin terjebak dalam ruang toko berdua saja dengan Arkana.


"Kita pulang bareng!" kata Yura.


"Aku buru-buru, udah ya ... babay! Kak Arkan, tolong antar Yura manis pulang dengan selamat ya!" kata Alika, tengil sekali dan dia berhasil melepaskan diri dari Yura.


"Heum!" sahut Arkan, kini tinggal lah mereka saja.


"Mau langsung pulang?" tanya Arkan.


"Kak, please, jangan datang terus!" kata Yura lalu dia memalingkan wajahnya, dia tak ingin menatap Arkan yang kini berdiri tegak menjulang di hadapannya.


"Kenapa?" tanya Arkan singkat dan matanya tak lepas dari Yura.


"Banyak yang gak berkenan dengan kedatangan Kak Arkan seperti ini! Masih banyak hati yang harus kita jaga!" jawab Yura dan dia masih memalingkan wajahnya.


"Kita harus tetap menjaga perasaan orang lain sementara perasaan kita terabaikan, gitu?"

__ADS_1


"Kak ...."


"Gak usah basa-basi lagi, Han Yura ... apa lo punya perasaan sama gue?" tanya Arkan dan kini Arkan menarik wajah Yura perlahan sampai Yura tak bisa berpaling lagi. Sepasang mata yang sedang dilema bertemu, Yura tahu ini jahat, tapi ya! Dirinya memang memiliki perasaan itu terhadap Arkan. Tapi, dia ingat lagi ancaman dan kecaman Ahsan.


"Han Yura, jangan bohong lagi! Kita saling mencintai kan?" tanya Arkan lagi semakin mengaduk emosi.


"Lepaskan!" kata Yura lalu dia mencoba melepaskan tangan Arkan yang masih menopang pipi manisnya.


"Gak, lo harus ungkapkan kejujuran lo!" tahan Arkan.


"Jujur dan kita sudah melukai banyak hati!"


"Ayolah Yura! Lupakan itu! Lupakan perasaan orang lain! Pikirkan perasaan kita sendiri! Gue udah melepaskan Alana!"


Yura berdecak, apa? Arkan sudah melepaskan Alana? Apa maksudnya? Apa Arkan sudah memberi jawaban pada Alana? Tanya Yura dalam benaknya.


"Gue udah tegaskan, kalau gue gak bisa memberi jawaban 'ya' dan gue juga udah tegaskan kalau gue juga sedang menunggu lo Han Yura!" tegas Arkan, Yura semakin berdecak. Bagaimana kalau Ahsan tahu? Bagaimana posisinya sekarang? Apa Yura akan terus mendapat kecaman dan ancaman sepanjang hidupnya.


"Kamu sudah menyatakannya Kak?" yakinkan Yura dengan wajah risau, dia sangat takut kalau Ahsan akan semakin mengusik dan mengganggu ketenangannya.


"Ya!" tegas Arkan.


"Heh, bagaimana bisa?" gumam Yura.


"Karena perasaan gue sama lo gak bisa terbendung lagi!"


"Ini bukan Kak Arkan yang aku kenal ...."


"Ayolah Yura, harus berapa lama lagi gue sembunyikan kejujuran gue ini?"


"Kak!"


"Pokoknya lo harus jadi milik gue!" GAP, Arkan menarik tangan Yura untuk segera meninggalkan ruang toko itu.


"Kunci baik-baik!" kata Arkan lalu menunggu Yura mengunci tokonya itu. Yura sama sekali belum mengerti tapi selebihnya, dia dikuasai keraguan dan rasa takut, karena ancaman Ahsan masih cukup lekat dalam ingatannya.


Setelah selesai mengunci toko, Arkan kembali menarik tangan Yura lalu membawanya masuk ke dalam mobilnya, Arkan bertindak seperti dia tak akan melepaskan Yura untuk siapapun lagi.


***


Dan sampai pagi berikutnya, Yura masih stuck dengan ketegasan Arkan di hari kemarin. Insomnia semakin mengganggu, semakin banyak yang Yura pikirkan dan pertimbangkan selama ini.


Tap tap tap, Yura keluar dari kamarnya lalu turun menuruni tangga. Ada kejutan di dapur, Yuki sudah menyiapkan sarapan dan Yura sampai berdecak dibuatnya.


"Ayaah ...." sapanya setelah sampai di meja makan yang sudah tersaji dua piring nasi goreng buatan Yuki itu.


"Ayo, sarapan," kata Yuki, Yura hanya tersenyum.


"Maaf aku bangun terlambat, aku gak sempat buatin sarapan buat Ayah!" kata Yura.


"Gak apa-apa, sekali-kali kamu harus mencicipi nasi goreng buatan Ayah!" kata Yuki membuat Yura melupakan sejenak masalah-masalah yang membelenggunya. Yura merasa sangat hangat, sungguh Yuki adalah sosok yang menyinari hari-hari dan hatinya yang sedang berkabut.


"Ini sih nasi goreng double special!" kata Yura lalu duduk di meja makan.


"Habiskan!" kata Yuki, dia adalah sosok Ayah paling pengertian bagi Yura.


"Iya Ayah, makasih banyak ya ... entah, berapa banyak lagi kata terima kasih yang harus aku katakan pada Ayah!"


"Kamu gak usah mengucapkannya, kata-kata itu sudah tergambar dari wajahmu! Ayah tahu itu!"


Aaah Yuki, semakin tua dia semakin pengertian. Yura benar-benar hanyut dan merasa kalau tak ada masalah yang sedang dia hadapi saat ini setiap ada di dekat Yuki.


"Yura, tetap lah jadi dirimu sendiri! Dan, kamu juga harus perhatikan perasaanmu sendiri, jangan terlalu mengalah, oke? makanlah!" kata Yuki, dan itu mengingatkan Yura pada hatinya yang selalu mengalah, apakah kata-kata Yuki barusan akan menambah keyakinan Yura untuk segera memberi jawaban 'iya' pada Arkan?

__ADS_1


__ADS_2