Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Tania si anak manja


__ADS_3

"Han Yuraaaaa!"


Lagi-lagi Yura harus mendengar teriakan menggelegar dari Ibu tirinya.


Huh, Yura hanya mendengus lalu dia rapikan seragamnya sekali lagi di depan cermin. Dia pastikan semua buku yang harus dia bawa pagi ini sudah siap dalam tasnya.


"Yuraaaa!"


"Iya Bu!" balas Yura lalu dia segera hampiri sumber suara itu. Yura setengah berlari di tangga menuju ruang bawah, Yura yakin saat ini Ibu dan Tania sudah menunggu di meja makan.


"Kenapa bu?" tanya Yura lalu dia daratkan tubuhnya yang cukup lelah karena setengah berlari tadi di kursi kayu di depannya.


"Barusan Bu Arini menelphone! Pesanannya salah! dan kamu tahu? Pesanannya tertukar dengan milikBu Djoko!" omeli Ibu, Yura mencoba mengingat dan dia malah merasa kalau pekerjaannya kemarin sore sudah benar.


"Teledor banget sih? Lo mau usaha ibu kacau huh?" cibir Tania yang sudah menghabiskan hampir separuh sarapannya.


"Benar begitu bu?" yakinkan Yura.

__ADS_1


"Sekali lagi kamu buat kesalahan, Ibu gak akan memaafkan kamu! Untung rumah mereka berdekatan!"


Yura pasrah saja walau pagi-pagi dia harus menerima omelan heboh, toh itu memang sudah biasa dia dapatkan.


"Makan!" kata Ibu lalu dia sodorkan sarapan Yura dan Yura senang sekali, akhirnya omelan ibu tak berlangsung lama, biasanya Ibu bisa memarahinya bermenit-menit kalau Yura sedikit saja membuat kesalahan.


"Bu, sepatuku udah usang lho, tuh lihat! Modelnya udah ketinggalan banget juga," keluh Tania lalu dia tunjukan sepatunya yang Yura rasa masih cukup bagus kalau dibanding miliknya saat ini. Bahkan Yura selama ini tak pernah membeli sepatu baru, dia akan merasa barangnya baru kalau Tania merasa bosan dan Yura baru bisa memilikinya, baru bekas pakai Tania.


"Aduh sayang, minggu ini produksi kue ibu sedikit lho, otomatis laba kita juga sedikit, tahan dulu ya ...." sahut Ibu penuh kelembutan, berbanding terbalik kalau dia bicara pada Yura.


"Iih, kok Ibu pelit banget sih sama aku sekarang?"


"Kebutuhan primer siapa? Kebutuhan primer Ibu? bedak Ibu? lipstik Ibu? Tas Ibu? Iyakan?"


Mendengar nada bicara Tania pada Ibu memang gak ada akhlak sama sekali. Ya, Tania memang begitu. Itu adalah akibat karena Ibu terlalu memanjakannya, Yura sudah biasa mendengarkan bantahan-bantahan Tania yang terdengar kurang sopan. Sebenarnya Yura ingin memperingatkan tapi itu tentu saja akan menjadi boomerang untuknya. Satu kata Yura mengingatkan Tania dan Tania akan membalas dengan omelan berpuluh-puluh kata.


"Sayaaang ...."

__ADS_1


"Terserah Ibu deh! Ibu emang gak sayang sama aku!", Tania merajuk lalu dia beranjak dari meja makan tanpa memberi salam pamit pada Ibu.


"Tania, sayaaang ...."


Walaupun Ibu sudah memanggil tapi Tania tak peduli, selepas Tania pergi Ibu terlihat tak semangat. Yura sih no comment, rasanya percuma juga kalau Hanna bilang bahwa sikap Tania tercipta karena Ibu terlalu memanjakan Tania.


"Aku berangkat bu," pamit Yura lalu dia raih tangan Ibu dan menciumnya tanda hormat. Ibu tak mengiyakan atau sekedar menoleh kearah Yura, Ibu sedang melaburkan lamunannya, aaah Yura tak peduli yang penting dia sudah berpamitan dan sudah mencium tangannya.


Yura bersiap dengan sepeda kesayangannya, saat mulai mengayuh Yura malah terpikir untuk kembali melewati jalan yang melewati rumah Arkan, dia memang suka pada Arkan. Bisa melihat Arkan dari kejauhan saja sudah menjadi booster untuk Yura atau bahkan mungkin untuk semua siswi di sekolah.


'Coba Kak Arkan ketinggalan buku PRnya lagi, hehe,' batinnya dan kakinya masih bertenaga untuk mengayuh pedal.


Itu dia, rumah Arkan sudah hampir dekat dan Yura lihat gerbangnya terbuka, apa mungkin mamanya sedang mencoba mencari bantuan lagi? pikirnya.


GRUUUUUNG


"Eh eh eh,"

__ADS_1


Apa yang terjadi?


__ADS_2