
Sampai pagi Azka masih bersikap dingin, Nara merasa kehilangan sosok manis Azka.Nara merasa Azka sudah kembali pada dirinya yang dulu, walaupun merasa sesak tapi dia harus bisa terima itu.
Sarapan pagi.
sudah hampir 10 menit duduk dimeja makan yang sama dan tidak ada obrolan sedikitpun.
"m.. gue duluan ya.." kata Nara, dia menuntaskan sarapannya lalu dia menarik tasnya bersiap untuk pergi ke cafe.
"tunggu, kita pergi sama-sama, gue ada latihan pagi ini!" tahan Azka.
Selanjutnya dalam perjalanan.
Kriing, telphon Azka berdering dan Nara juga bisa lihat kalau yang menelphone adalah Kalyla. Azka tatik earphonnya.
"ya..udah merasa lebih baik?"
Nara merasa sesak, dia tahu dia gak berhak menuntut Azka untuk selalu setia padanya karena tujuan awal pernikahan ini memang bukan untuk itu.
Nara mencoba terlihat baik, tapi Azka terlanjur melihat ekspresi kekecewaannya dan dia mulai merasa bersalah.
"m.. pagi ini memang ada latihan.."
"aku sendirian, shita sibuk ngurus pekerjaan yang udah banyak aku tinggalkan.. aku bosen nih, aku pengen ada kamu disini..." terdengar kalimat Lyla dari sebrang sana, Nara makin sesak, dia hanya pura-pura gak dengar lalu memalingkan wajahnya ke luar jendela.
"oh, m..nanti sepulang latihan aku kesana.. " kata Azka, Nara meradang.
"bener ya.. jangan bohong.."
"iya!"
Tak terasa sudah sampai didepan cafe Nara
"sepulang latihan aku ke rumah sakit lagi ya, kasian Lyla gak ada yang jagain.." kata Azka.
"iya, kasian dia.." sahut Nara mencoba tegar.
"tapi gue pastikan nanti gue makan malam dirumah!"
Nara hanya mengangguk lalu dia turun. tapi tiba-tiba Azka menahannya sejenak.
"gue gak akan.. mencoba kembali lagi sama dia, gue jamin itu.." tiba-tiba Azka bicara seperti itu, membuat Nara sedikit tenang.
"iya.." tanggapi Nara singkat lalu dia benar-benar turun dari mobil Azka dan masuk kedalam cafe.
Azka tahu sikap diamnya ini sebagai bentuk rasa kecewa, dia pun jadi dilema.
__ADS_1
***
Sepanjang hari di cafe Nara terlihat murung, Lulu tahu itu dan dia jadi cemas.
"makan dulu gih.. lemes banget kelihatannya.." kata Lulu , Nara hanya melirik sekilas lalu dia pura-pura menulis pembukuan.
"Nar.." panggil Lulu
"apa?" masih belagak sibuk menulis.
"kenapa sih? kalau ada apa-apa cerita dong.."
"gak ada apa-apa kok.."
"bohong, dari pagi lo kelihatan gak semangat, padahal hari ini cafe rame seperti hari-hari kemaren.."
"semalam gue kurang tidur, makanya lemes.." dalih Nara, dia gak mau Lulu tahu perasaannya.
"aaah gue tahu, semalam lembur ya.." goda Lulu, Nara hanya tersenyum masam.
"oh iya, soal karyawan baru itu gimana? belum ada yang minat ya?" Nara cepat-cepat mengganti topik obrolan.
"ada, tapi dia baru bisa bergabung antara besok atau lusa, dia harus selesaikan dulu urusan sama tempat kerjanya yang dulu.."
" oh, syukurlah.."
'kenapa jadi begini..' pikirnya.
dia menepi kepinggir lapangan dan mengambil sebotol air, Yuki pun ikut menepi.
"apa dia udah baikkan?" tanya Yuki tiba-tiba.
"kenapa tanya gue, lo kan pacarnya.. harusnya gue yang tanya begitu.." kata Azka dengan nada gurauan.
"bukannya kemarin lo jagain dia sampai malam?"
sejenak Azka terdiam.
"m.. lo gak usah cemburu ya, kita itu pernah bertetangga cukup lama, keluarga kami juga dekat.. jadi gue udah anggap dia kayak saudara sendiri " kata Azka mencoba menjelaskan.
"gue gak cemburu, gue senang lo ada buat dia.."
"ki, dia.. dia sangat mengharapkan lo, jujur aja gue gak pernah lihat dia jatuh cinta seperti sekarang ini.." Azka mulai bicara serius, Yuki teguk air minumnya dan dia mencoba jujur pada perasaannya sendiri.
"orang bilang dia sempurna, ya!! jelas sekali dia sempurna, tapi lo tahu.. gue gak menemukan apa-apa dalam perasaan gue, gue gak tahu harus gimana, atau mungkin gue emang gak siap jadi pasangannya..gue gak tahu harus bilang apa sama dia.."
__ADS_1
Azka semakin yakin kalau Yuki memang tidak cukup tertarik pada Lyla, Azka semakin mengkhawatirkan keadaan Lyla dengan adanya kenyataan ini.
***
Azka sudah sampai diruangan Kalyla, disana memang gak ada siapa-siapa hanya da Lyla yang terkulai lemah dan tampak bosan.
Lyla senang saat Azka datang..
"akhirnya kamu datang juga.." kata Lyla manja.
"gimana sekarang? masih lemes?" tanya Azka.
"udah lebih baik sih, udah gak pusing lagi.."
Azka bawakan Kalyla makanan, dan Lyla sangat senang..
"Wah.. makasih ya.."
"makanlah.. " kata Azka.
Lyla mulai melahap beberapa makanan kecil yang Azka bawakan.
"m.. dari kemarin aku pengen pie buah ini tapi Shita sibuk terus, dia gak sempat beli kan.." kata Lyla, Sebenarnya Azka prihatin dengan Lyla tapi bagaimana lagi dia juga mulai menjaga perasaan Nara, dalam hatinya dia tidak ingin ada satupun yang terluka.
"apa kata dokter?"
"cuma kelelahan, nanti malam atau besok pagi udah bisa pulang.." jawab Lyla yang masih semangat menyantap buah tangan Azka.
"sepulang dari sini harus bed rest, tunda dulu pekerjaan pekerjaan yang sudah menunggu.."
"iya , Shita udah atur semuanya kok..oh iya, Nara gak marah kemu kesini lagi sekarang?"
"gak, dia gak marah.. "
"m.. syukurlah.."
Azka duduk di sofa tunggu yang ada disana, dia emang tampak kelelahan dan dalam hitungan menit dia malah sudah terlelap disana.
Kalyla pandangi dari jauh, tiba-tiba hatinya menyesal, dia menyesal sudah mengabaikan Azka.
Sementara itu dirumah Nara menunggu Azka.
Dia menunggu dimeja makan, lalu dia tatap jam tangannya dan ini sudah cukup larut.
dia juga hendak menelphone tapi urung dia lakukan karena takut menggangu, malam ini Nara benar-benar galau.
__ADS_1
'lagi ngapain ya mereka? apa Kalyla udah bicara banyak tentang perasaannya.. huh, kenapa gue sangat takut..'
Bersambung.