Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
SWEETEST MOMENT


__ADS_3

Besok adalah acara opening toko kue Yura. Dan hari ini dia sibuk menyiapkan beberapa produk untuk menyambut hari esok bersama Alika.


'LULU CAKE AND KOOKIES'


Banner dan board di depan toko itu sudah terpampang. Yura sangat bangga dengan nama brand-nya. Dia akan menjadikan nama tokonya itu sebagai semangat untuk menapaki usahanya itu.


Dan kebahagiaannya bertambah sejak hari kemarin, karena sejak kemarin ia sudah resmi menjalin hubungan dengan Arkan. Walau itu terlihat cepat, tapi sebenarnya keduanya sudah mengalami pergulatan batin sejak bertahun-tahun yang lalu.


"Ya, siapa yang tahu jodoh kita itu siapa? Semoga hubungan kalian langgeng ya, seperti apa yang kalian harapkan!" kata Alika yang ikut sibuk mencetak beberapa kue.


"Aamin Al, dan semoga gak ada yang berniat jahat atas hubungan kami! Walau sebenarnya, pasti akan ada yang menjegal sih, kamu tahu kan kalau selama ini Kak Alana begitu setia nungguin Kak Arkan!" harap Yura.


"Aku malah ngira mereka jadian sejak dulu, ternyata enggak ya? Huh, kasihan juga ya ... tapi ya mau bagaimana lagi? Sudah ada yang memilih dan sudah ada yang terpilih!"


"Entahlah!" Yura pasrah, inginnya dia fokus membuat kue tapi jujur saja, statusnya sebagai pacar Arkan saat ini masih membuatnya meragu, Yura masih kadang dihantui ancaman dan kecaman Ahsan.


"Terus, Kak Ahsan gimana? Gak ada kesempatan dong buat dia?" goda Alika, dan ya! Yura ingat sosok Ahsan beserta arogansinya.


'Heh, dia! Aku harus tetap tenang menghadapi orang seperti dia! Ayah benar, aku gak boleh terus mengalah, aku harus bisa memperjuangkan kebahagiaanku sendiri!' batin Yura, dia mencoba menyingkirkan bayang-bayang Ahsan.


Dan Yura sepertinya harus berjuang melawan Ahsan.


Siang ini Alana sakit, sakit hati selebihnya. Semalaman dan sampai siang ini dia drop, tak mau keluar dari kamarnya. Keputusan Arkan untuk memutuskan penantiannya dan keputusan Arkan untuk memilih Yura adalah kombinasi sempurna yang membuatnya sakit se-sakit-sakitnya seperti saat ini.


Ahsan marah besar, dan satu orang yang menjadi sasaran kemarahannya adalah Yura! Padahal Ahsan bisa saja marah dan menghajar Arkan, tapi Ahsan sudah diliputi kebencian dan kemarahan terhadap Yura sehingga membuatnya menuduh Yura sebagai biang dari kesedihan adik kesayangannya itu.


Ahsan masuk ke kamar Alana dengan sepiring makanan yang sejak pagi tak mau Alana sentuh. Alana hanya terbaring seharian dan matanya sudah lebih dari sembap-sembap.


"Come on girl! Jangan sakiti dirimu sendiri!" kata Ahsan lalu ia duduk di tepi tempat tidur Alana yang masih saja terdengar terisak.


"Ini terlalu menyakitkan Bang! Dia, dia udah mengambil semua semangatku pergi jauh!" sahut Alana di antara isak tangisnya.


"Abang harus beri pelajaran sama si Arkan?" tanya Ahsan sembari dia singsingkan kemejanya, sebagai isyarat kalau dia sangat marah.


"Jangan lukai Arkan! Aku yakin, biang dari kekacawan ini cuma Han Yura! Cuma dia!" tegas Alana semakin menyalakan api amarah Ahsan. Walau Arkan sudah melukainya dengan sempurna tapi Alana ternyata sama sekali tak ingin pujaan hatinya itu terluka.


"Apa yang bisa abang lakukan padanya? Bagaimana Abang bisa membalaskan rasa sakit hatimu terhadapnya?" tanya Ahsan, mungkin Ahsan tak tahu cara untuk membalas dendam pada perempuan. Tapi yang pasti, dia sangat marah pada Yura.


"Entah, aku juga gak tahu! Dia itu diam-diam sudah merebut semua perhatian Arkan! Perlahan namun pasti dia sudah mencuri Arkan dariku Bang! Hiks!"


"Tenanglah, aku akan melakukan sesuatu nanti untuk membuatnya jera! Sekarang kamu makan dulu ya!" bujuk Ahsan, tapi Alana malah menggeleng, tak ada nafsu makan sama sekali.


"Ayolah! Kamu jelek banget kalau kayak gini! Apa-apaan ini, kamu bisa kalah dari si Yura kalau kamu kuyu layu kayak gini!" kata Ahsan mencoba membangkitkan gairah Alana.


"Maksud Bang Ahsan apa? Apa menurutmu dia menarik?" tanya Alana dan bibirnya ia tekuk karena merasa Ahsan agak memuji Yura.


"Ya sekarang logikanya, si Arkan sampai berpaling sama cewek tengil itu! Kalau kamu layu kayak gini, mana bisa kamu merebut kembali perhatian si Arkan!"


"Terus, kenapa waktu itu Bang Ahsan mau anterin dia pulang?"


"Itu kan biar kamu bisa pulang sama si Arkan!"


"Ya tapi hari itu ... hari itu Arkan sudah putuskan buat lepas dariku, aaaah ... hiks ... hiks ...." Alana begitu sensitif hari ini. Setiap ingat Arkan, dia juga ingat obrolan menyakitkannya hari itu.


"Udahlah, makan dulu! Cepet!" paksa Ahsan.


"Gak mau! Semuanya hambar! Semuanya bahkan terasa getir buatku sekarang ini Bang!"


Ahsan tak tega melihat adik kesayangannya itu down seperti ini, dan tangis Alana menambah kadar rasa bencinya terhadap Yura. Apa yang akan Ahsan lakukan pada Yura?


***


Hari itu tiba ....


"Hari ini LULU CAKE & COOKIES resmi dibuka!" kata Yura lalu iya panjatkan do'a dalam hati. Berbagai ornamen pendukung promosi sudah terpasang. Balon-balon, kertas crepe warna warni dan banner promosi, 'Spesial off 25%' khusus di acara opening ini.


Dan do'a Yura bersambut. Letak tokonya memang cukup strategis, beberapa orang yang lewat begitu tertarik dengan toko baru yang baru saja buka itu. Baru 5 menit resmi dibuka, sudah ada dua pelanggan masuk dan melihat-lihat produk yang Yura jajakan di etalase dan meja-meja yang tersedia.


"Semangat Al!" kata Yura penuh rona bahagia.

__ADS_1


"Semangat dong! Dua konsumen pertama, semoga penglaris buat hari ini dan hari-hari berikutnya!" harap Alika dan Yura cepat-cepat mengamininya, "aamiin."


"Ayo layanin!" Yura segera hampiri ke satu sudut dan Alika melayani pelanggan satunya di sudut yang lain.


"Selamat pagi menjelang siang Kak, selamat datang di Lulu cake & cookies. Hari ini kami baru saja buka secara resmi, ada 25% off untuk semua produk, untuk varian cookies, silakan cicipi sample-nya Kak! Selamat berbelanja!" sapa Yura, lugas sekali. Keramahan dan aura positifnya membuat konsumennya terlihat nyaman dan senang.


"Waah, ada diskonnya ya?" tanya konsumennya itu cukup antusias dan itu membuat Yura semakin optismis dan semangat.


"Iya, silakan Kak!"


Yura senang sekali walau baru beberapa orang saja tapi hal itu benar-benar berarti untuk Yura. Dan benar saja, dua orang pertama yang masuk adalah konsumen perdana Yura, mereka membeli beberapa produk Yura.


Selepas itu Arkan datang, dia baru saja memarkir mobilnya dan saat turun dari depan kemudinya dia juga membawa serta se-bucket mawar merah. Benar-benar manis.


Dia dapati pacarnya sedang melayani beberapa pengunjung. Arkan bangga padanya.


"Terima kasih banyak ya, ditunggu lagi kehadirannya!" kata Yura penuh manner pada pelanggan yang baru saja membayar belanjaannya. Senyumnya rekah, dan semakin rekah saat Arkan masuk ke tokonya dengan mawar di tangan. Yura jadi malu dan salah tingkah. Apalagi Alika dan pembeli yang tersisa lansung memperhatikan momen manis itu. Momen manis saat Arkan datang menghampiri Yura di meja kasir.


"Selamat, semoga sukses ya!" kata Arkan lalu dia sodorkan bucket mawar merah itu membuat Yura merasa semakin spesial hari ini.


"Makasih!" sahutnya pelan dan tersipu.


"Heum, cieeee ... hm hm!" goda Alika, dia merasakan rasa bahagia Yura. Yura semakin tak bisa mengendalikan rasa gugup dan salah tingkahnya.


"Gimana? Udah rame?" tanya Arkan.


"Heum, belum sih ... teman-teman kampus rencananya mau pada datang tapi mereka belum hadir!" sahut Yura.


"Tetap semangat ya!" kata Arkan sembari mengusap lembut kepala Yura, membuat yang melihatnya sampai merasa baper. Yura hanya mengangguk malu-malu.


"Mama juga pasti datang kok!"


"Iya barusan nelpon kok, dia masih ada urusan penting di Cafe!"


"Heum, sorry ya aku gak bisa lama-lama, ada latihan penting siang ini!"


"Oke, Kak Arkan juga tetap semangat ya!"


Sebelum beranjak Arkan tatap Yura beberapa saat, dia ingin memuaskan matanya. Dan setelah berpamitan Arkan menarik kembali langkahnya dan undur diri dari ruang toko sang kekasih.


'Huh, jadi ini rasanya jatuh cinta lagi? Ya ampun, kenapa Kak Arkan berubah menjadi sangat manis! Bikin aku deg-degan setiap saat, huh!' batin Yura dan jadi senyum-senyum sendiri.


Sampai Alika datang menghampiri dengan pembeli yang siap untuk membayar.


"Heum, manis banget ya Kak Arkan," goda Alika menyadarkan Yura dari lamunannya.


"Itu pacarnya ya Mbak? Duh, serasi banget deh, sama-sama cakep!" pembeli itu juga malah ikut-ikutan menggoda Yura.


"Cocok kan Kak? Yang satu pemilik toko kue dan yang satu lagi Atlet basket profesional!"


Yura hanya geleng-geleng kepala mendengar Lulu begitu semangat dan antusias menjelaskan hubungannya dengan Arkan saat ini.


"Waaah, jadi yang tadi itu atlet basket ya? Pantesan aja tinggi banget Mbak! Duh, bener-bener serasi deh! Saya do'akan semoga hubungan kalian langgeng ya! Dan sampai di jenjang pernikahan nantinya!" do'akan si pembeli, diam-diam batin Yura menyambar cepat dengan ucapan amin, 'aamiin!'.


"Aamiin Kak, hey Yur, aminin dong! "


"Iya aamiin, makasih banyak Kak!"


Dan begitulah tanpa Yura tahu kalau do'a-do'a orang-orang yang tulus akan membantu menguatkan hubungannya dengan Arkan.


Semakin siang, toko kecil Yura makin ramai. Teman-temannya berdatangan dan Yura maupun Alika begitu senang dan saat Nara datang dengan para karyawannya, termasuk Danty, Yura juga begitu senang dan jadi sedikit nervous.


Bahkan Nara memberikan karangan bunga papan yang langsung terpajang di depan toko. Nara juga kelihatan sangat bangga pada Yura. Nara semakin melihat banyak kesamaan antara dirinya dan diri Yura.


"Selamat ya sayang! Semoga semakin berkembang dan sukses!" kata Nara lalu dia peluk Yura dengan hangat sampai orang-orang yang melihatnya begitu hangat.


"I-iya Bu ...." sahutnya masih agak terbata-bata karena salah tingkah.


"Lho, kok Ibu lagi sih? Mama!" kata Nara.

__ADS_1


"Aaah iya, Ma ...."


Sungguh, hari yang sempurna untuk Yura. Dia tak akan melupakan momen indah ini, momen dia membuka usahanya sendiri yang didukung oleh berbagai pihak.


"Selamat ya Yura ...."


"Yura, selamat! Semoga sukses!"


"Sukses selalu ya girl!"


Begitu banyak ucapan selamat dan do'a, dan itu membuat Yura semakin semangat, Yura sambut dan amini doa-doa itu.


***


Ting tong, Arkan baru selesai mandi, segar sekali penampakannya, walau hanya mengenakan celana kargo pendek dan kaos putih polos, dia tak pernah kehilangan pesonanya.


Ada yang memencet bel rumahnya, dan dia turuni tangga dengan agak malas.


Ting tong, belnya berbunyi lagi dan Tadaaa ... Arkan yang awalnya malas terlihat begitu sureprise begitu tahu siapa yang datang ke rumahnya pagi ini.


"Udah sarapan?" Ternyata yang datang Yura, dan begitu pintunya terbuka dia langsung menanyakan sarapan pada kekasihnya itu.


"Belum, kamu mau buatkan?" jawab lalu Arkan kembali bertanya.


"Heum! aku udah belikan!" sahut Yura singkat.


"Masuklah!" Dengan manis Arkan menarik tangan Yura dan membawanya langsung masuk ke rumahnya itu.


Sepertinya Yura mencoba membangun chemistry bersama Arkan. Dia ingin Arkan saja yang menjadi pelabuhan terakhirnya. Sebelum pergi ke tokonya, ia sempatkan untuk mengunjungi Arkan dan membawakan sarapan untuk sang kekasih.


"Aku bawain sarapan, kita makan sama-sama ya," kata Yura lalu dengan leluasa dia jelajahi dapur Arkan, dia mencari piring untuk sarapan yang ia bawa itu dan dengan manis Arkan menunggunya di meja makan.


"Kamu gak ke toko?" tanya Arkan agak berseru.


"Habis dari sini aku baru ke toko!" sahutnya dan dia kembali dengan piringnya.


Yura letakan dua bungkus makanan yang ia beli tadi di atas piring lalu menyodorkannya pada Arkan. Sungguh manis pagi ini, sebelumnya Arkan tak pernah mengalami hal semanis ini bersama Alana karena ia selalu berusaha menghindarinya.


"Makasih ya ... sayang!" ucap Arkan dan kata terakhir yang dia ucapkan semakin menambah bumbu-bumbu rasa baper Han Yura.


"Iya," sahutnya. Mereka pun lanjutkan acara makan itu.


"Kata Mama, kemarin acara openingnya berjalan sukses! Kamu menjual banyak produk, benar begitu?" tanya Arkan memulai obrolan.


"Iya, seneng banget rasanya! Pagi ini aku harus bikin banyak lagi, karena beberapa pesanan online juga terus berjalan!"


"Waah, hebat banget! Kamu pantas ada di titik ini sekarang! Bahkan kamu pantas lebih dari sekarang ini!"


"Iya, semoga!"


"Tapi tenaga kamu jangan terlalu diforsir! Nanti kamu kecapean, santai aja ya ...." Arkan sungguh bersikap manis luar biasa, dia menasehati Yura sembari membelai lembut kepalanya. Yura merasakan sentuhan seorang Kakak dan seorang pacar sekaligus.


"Iya, Kak Arkan juga ... jangan lupakan kesehatan Kak Arkan sendiri! Aku gak bisa tiap waktu memperhatikan Kakak kan?" Yura membalas dengan ungkapan perhatiannya, dan itu cukup untuk Arkan.


"Oke!"


"Aah iya Kak, katanya, seri terakhir kompetisi liga akan diadakan di Surabaya ya?"


"Iya, akan ada 3 pertandingan terakhir buat menentukan siapa yang keluar sebagai juara musim ini!"


"Oh, berapa hari Kak Arkan dan Sunrise akan ada disana?"


"Sekitar ... seminggu!"


"Heum, baiklah!"


"Gak usah kangen ya ...." goda Arkan.


"Kak Arkan kali ya bakalan kangen sama aku, hihi ...."

__ADS_1


Arkan dan Yura tertawa bersama. Saling menggoda, saling memberi semangat dan saling berharap kalau momen manis seperti pagi ini akan terus mereka rasakan sampai mereka benar-benar naik ke pelaminan nantinya. Tak ada lagi harapan lainnya, Arkan maupun Yura, berharap mereka akan sampai pada jenjang pernikahan karena hubungan yang mereka jalani saat ini bukan hanya untuk main-main lagi.


__ADS_2