Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
UNTITLED


__ADS_3

Kompetisi sudah selesai, Arkan dan Sunrise sudah resmi menjadi kampiun Liga Basket Nasional musim ini. Ini adalah musim debut yang sangat manis untuk Arkan. Walau dia bukan pemain terbaik tapi hal itu tak mengurangi rasa bahagianya karena dia bisa menyelesaikan kompetisi dengan baik.


Semua orang bangga padanya. Nara dan Azka, seluruh teman-temannya dan tentu saja Yura, dia merasakan euforia yang luar biasa kala sang pacar mendapatkan gelar juaranya musim ini.


***


"Selamat ya ... aku sangat bangga sama kamu Kak!"


Yura datang ke rumah Arkan dengan sebuah tart kemenangan yang dia buat sendiri. Arkan semakin merasakan manisnya kemenangan.


"Makasih ya, semuanya berkat doa terbaik dari kalian semua! Do'a Mama Papa, do'a kamu!" imbuh Arkan, manis sekali.


"Heum, kita potong kuenya yuk!"


Arkan mendorong langkah Yura dengan memegang pundaknya dari belakang, aaah, interaksi mereka memang selalu manis. Mereka terus berjalan sampai ruang tengah, ruang paling central di rumah Arkan itu.


"Kita potong ya ...." kata Yura begitu mereka duduk disana. Dengan hati-hati Yura potong kuenya lalu langsung menyodorkannya tepat ke mulut Arkan.


Nyam ... nyam, Arkan memakannya dengan lahap. Senang sekali rasanya mendapat dua kebahagiaan sekaligus di sepanjang tahun ini.


"Ini beneran kamu yang bikin?" tanya Arkan agak meragukan.


"Kenapa? Apa Kak Arkan masih ragu?"


"Heum, beruntungnya punya calon istri seperti kamu! Apa lagi ya yang mungkin aku tunggu?"


"Kak Arkan, mulai deh ... jangan bikin aku baper-baper terus ya!" kata Yura malu-malu.


"Oh jadi kamu baper ...." Arkan paling senang menggoda Yura, saat Yura menunduk dan menyembunyikan wajahnya, Arkan selalu mencarinya dengan tatapan menggoda.


"Iiih Kak ...." Yura mendorong dada kokoh Arkan agar dia bisa tetap menyimpan rasa saltingnya tapi Arkan malah terus-terusan mendekat dan menangkap mata Yura dengan tatapannya, so intens.


"Aku sayang kamu, Han Yura ...." bisik Arkan ketika mereka semakin mendekat. Tak ada jarak lagi yang mungkin bisa mereka gebrak.


"Aku juga Kak," sahutnya.


Semakin lama, saat setiap detik berlalu, peristiwa saling pandang itu kini sudah berganti dengan rasa yang lebih intens. Bibir mereka saling perpautan, bermain-main dengan nafsu yang kian lama kian terpacu. Sentuhan Arkan, sentuhan Yura, sentuhan mereka menjalar sampai rasa ingin terus saling memiliki semakin terpupuk.


'I will never let you go! Never!' batin Arkan dengan keyakinan penuhnya. Setiap janji dia jalin setiap deburan nafsu kian menggulung kedua insan yang tengah dimabuk asmara itu.


'Aku harap, kamu adalah yang terakhir buatku Kak!' batinbYura kemudian, sungguh, Arkan sudah memberikan pengalaman lain dalam sebuah hubungan. Mereka sudah melakukan ciuman seperti ini sampai beberapa kali. Dulu, Yura sampai hampir jarang sekali melakukannya dengan Keita. Tapi Arkan, Arkan memang sedikit lebih nakal dari pada Keita.


"Sudah Kak, cukup ...." Yura akhiri permainan lidah yang luar biasa itu, dia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi. Yura sadar kalau dirinya dan juga Arkan adalah manusia biasa yang mungkin tak akan bisa menghindari godaan.


"Han Yura ... ayo kita menikah!" ajak Arkan lagi, sekali lagi dia ungkapkan keinginannya.


Yura tatap Arkan lekat-lekat. Yura tahu kalau di sorot matanya itu ada nafsu yang menggebu-gebu, tapi Yura juga menemukan kesungguhan yang mungkin bisa menjadi penguat keyakinannya untuk berkata 'ya!'. Mungkin tidak ada salahnya menikah muda, lagi pula, selama ini begitu banyak pihak yang ingin mengganggu dan menggodanya. Mungkin, menikah dengan Arkan bisa jadi pilihan tepat untuk mendapat jaminan keamanan dan ketenangan.


"Jawab jujur Kak, apa yang ada dalam hati kamu sekarang? Cinta? Sayang atau cuma nafsu? Aku mau ketiganya! Bukan cuma nafsu!" tanya Yura, dia benar-benar ingin meyakinkan hatinya.


"Apa aku harus menjawabnya? Apa kamu gak mau cari tahu sendiri lewat sorot mataku?" tukas Arkan lalu dia balik bertanya, obrolan itu merubah situasi menjadi semakin syahdu dan biru.


"Aku takut, aku takut salah menebak! Karena yang terlihat jelas sekarang itu cuma nafsu! Kamu selalu memancingnya Kak! Kita kan harus bisa menunda hal ini sampai kita benar-benar menikah nanti!" keluhnya malu-malu, dia juga menautkan kedua ujung telunjuknya, benar-benar seperti anak kecil. Arkan semakin gemas saja.


"Ya, jujur saja, kamu selalu memancing libidoku naik dengan cepat!" akui Arkan.


"Iiih, Kak Arkaaan ...."


"Tapi aku akan menunggu yang itu sampai kamu benar-benar siap! Aku gak akan memaksa! Sekarang yang penting, kita sudah terikat dalam tali pernikahan biar gak ada lagi jarak yang bisa membatasi kita, kamu ngerti kan apa maksud hatiku?"


Yura meletakan kedua telapak tangannya yang lembut di kedua sisi pipi Arkan, si Atlet basket penuh pesona itu. Penantian yang kini telah berlabuh di satu titik rasa, rasa tak ingin kehilangan, rasa ingin selalu memiliki.


"Coba kamu katakan permintaan itu sekali lagi!" tantang Yura.


"Han Yura ... Will you marry me?"


Yura masih memancing Arkan, dia permainkan Arkan dengan senyum manisnya dan Arkan sabar menunggu jawabannya.


"Yes ... i will!"

__ADS_1


Arkan sampai sedikit membelalakan matanya. Akhirnya, akhirnya dia dapatkan kepastian dan jawaban yang sesuai dengan apa yang dia inginkan. Sepertinya Yura sudah meyakinkan hatinya sendiri. Ancaman Ahsan, cibiran Alana dan Keyla juga telah membuatnya yakin untuk menerima permintaan Arkan. Yura yakin kalau niat Arkan adalah niat baik, dan dia akan mencoba menjalaninya walau terasa terlalu cepat.


"Serius? Serius itu jawaban kamu sekarang?" yakinkan Arkan yang seperti merasa percaya tak percaya, karena beberapa hari sebelumnya Yura masih menolak ajakannya untuk menikah.


"Cintai aku dengan sepenuh hati kamu Kak, jaga jiwa dan ragaku dengan segenap hati kamu! Ada banyak hal yang aku takuti dalam kehidupan ini, aku mau kamu melindungi aku dari ketakutan itu!" ungkap Yura dan tangannya masih melekat di wajah Arkan yang senang bukan kepalang dengan pengakuan Yura.


"Ya, kamu gak usah takut! Gak akan ada lagi yang bisa ganggu kamu! Kita akan segera bicarakan ini sama orang tua kita ya! Semoga mereka menyambut baik niat baik ini!"


"Iya Kak!"


"Makasih ya ...."


"Buat apa?"


"Karena sudah menerima lamaranku!"


"Iya Kak, sebaliknya ... aku juga mau berterima kasih karena Kak Arkan sudah mau mencoba mencintai aku dengan tulus!"


"Tulus dan dengan sepenuh hati!" tegaskan Arkan.


Yura hanya tersenyum, begitu pun dengan Arkan. Tak ada lagi ketakutan yang menghantuinya selama ini, semuanya sudah hilang seiring niat suci Arkan terpatri dan jika memungkinkan, janji suci antara Arkan dan Yura juga akan segera terucap, dan setelah ini mungkin mereka bisa menghadapi dunia bersama-sama.


"Heum, kenapa kamu udah bikin aku nervous berkali-kali!" gumam Yura saat dia puas saling berpandang dengan Arkan, lalu dia memperbaiki cara duduknya yang tadi agak sedikit terdesak tubuh kokoh Arkan. Yura menegakan badannya dan beringsut menjauh beberapa inci dari Arkan.


"Sini, jangan jauh-jauh!" tahan Arkan lalu dia tarik jari jemari Yura sampai Yura tak bisa beringsut lebih jauh lagi.


"Udah deh, tunggu sampai Ayah Yuki kasih jawaban 'ya!'," kata Yura.


"Can i have your daughter for the rest of my life, say yes say yes cause i need to know!" Arkan malah menggoda Yura dengan melantunkan sepotong lirik lagu lama itu.


'Kak Arkaaan, why you shaking my heart again and again?' batinnya dan setelah itu dia mencoba menghindari pandangan Arkan lagi.


***


Arkan tak menunggu lama. Malam ini dia datang ke rumah orang tuanya, dan ikut makan malam disana. Sepertinya Arkan ingin mengungkapkan niat baiknya terhadap Yura.


"Ma, Pa ... ada hal penting yang mau aku katakan pada kalian!" kata Arkan.


"Kamu mau ganti mobil kamu?" tanya Azka, ya ... mereka memang orang tua yang pengertian.


"Bukan, bukan itu!"


"Jadi?" tanya Nara.


"Aku mau Han Yura!" tegasnya tapi masih menjadi teka-teki untuk Nara dan Azka.


"Kamu ini, kamu kan memang udah dapetin hati Yuraa, kamu mau apa lagi?" tanya Nara, dia cuma tersenyum mendengar celotehan anak bujangnya itu.


"Aku mau Han Yura jadi istriku, secepatnya!"


STUCK, barulah kini Azka dan Nara terkejut dengan pernyataan putera kesayangan mereka itu. Oke, Arkan memang sudah menginjak usia 22 tahun ini, tapi bagi Nara maupun Azka, Arkan masih terlalu dini untuk menikah.


"Apa kamu lagi bercanda?" tanya Nara, seketika dia tak bisa melanjutkan makan malamnya lagi.


"Serius! Aku serius!" jawab Arkan penuh keyakinan.


"Ya ampun sayaaang, apa kamu yakin?"


"Apa aku pernah memilih sesuatu yang meragukan?"


"Arkaaan ...."


"Ma, aku gak pernah memilih Alana karena aku gak pernah yakin sama dia! Sekarang aku memilih Yura karena, aku yakin sama dia! Aku gak mau terima jawaban yang kontra, pokoknya Papa sama Mama harus dukung niat baikmu ini!"


Nara melirik ke arah Azka yang malah tersenyum bangga pada Arkan. Nara malah sedikit meragukan niat besar Arkan.


"Tapi ...." kata Nara lagi tapi Azka tiba-tiba bersiap untuk menyela kalimatnya.


"Nikahi dia! Kami akan mendukungnya!" tegas Azka. Arkan senang sekali, dia tahu kalau sang Papa sangat mengerti apa yang dia inginkan saat ini.

__ADS_1


"Sayaaang ...." Nara masih tak habis pikir.


"Arkan sudah besar, sudah dewasa! Niatnya sangat baik! Sekarang dia bisa memilih jalannya sendiri, kita hanya perlu mendukung setiap jalan yang dia ingin pilih selama itu baik!" tutur Azka, dia benar-benar bijak sekali. Arkan makiin sayang dan bangga dengan Papanya itu.


'Emang gak salah gue mengidolakan Papa! Makasih banyak Pa! Papa emang Papa terbaik!' batin Arkan bangga.


"Arkan, kamu serius?" yakinkan Nara.


"Iya!" jawabnya tegas.


"Terus, Yura ... memangnya dia mau kamu ajak berkomitmen secepat ini?" tanya Nara lagi.


"Dia mau Ma!"


Nara hanya bisa tersenyum, dan sedikit tak percaya bagaimana bayi mungil yang 22 tahun lalu dia timang-timang dalam buaiannya kini sudah tumbuh menjadi pria yang sudah siap untuk menikah.


"Kamu ... kamu membuat Mama speechless!" ungkap Nara. Ada rasa haru dan bangga bercampur dalam dirinya saat ini.


"Tapi, Mama merestui niat Arkan ini kan?"


Nara mengangguk, dia mengangguk pasti. Nara percaya kalau apapun pilihan Arkan adalah yang terbaik untuk Arkan. Nara tak akan membatasi keinginan putranya itu sementara itu baik.


"Makasih ya! Rencananya ... Arkan akan langsung menikahi Yura, gak akan ada pertunangan! Begitu Om Yuki pulang dan mengizinkan, aku akan langsung nikahi dia!" putuskan Arkan, Nara hanya mengangguk, dia percayakan saja semuanya pada Arkan.


***


Pagi-pagi Yura sudah mendapat kejutan. Yuki datang secara mendadak, tapi selebihnya Yura bahagia. Entah kenapa Yuki datang tanpa memberi kabar sebelumnya.


"Kok Ayah gak bilang-bilang pagi ini akan pulang?" tanya Yura yang masih merasa tak percaya.


"Ini kejutan untukmu!"


"Aaah, apa Ayah baik-baik saja? Apa ayah gak sakit?" cemaskan Yura.


"Nggak kok, Ayah justru ingin menanyakan sesuatu yang penting sama kamu! Kenapa kamu gak membicarakannya pada Ayah ...."


Yura mengerutkan dahi, Yura tak mengerti apa maksud Yuki.


"Maksud Ayah apa?"


"Beberapa hari yang lalu Arkan menelphone Ayah, dan dia ... dia meminta Ayah untuk merestui hubungan kalian! Of course, sejak awal Ayah restui kalian, tapi ternyata ... ternyata dia meminta restu untuk menikahi kamu dalam waktu terdekat ini!"


Yura kini tahu, Huh ... Yura hanya mendengus. Yura pikir Arkan main-main, ternyata Arkan serius dengan niatnya. Yura hargai itu, kini dia yakin kalau Arkan memang serius dengannya.


Yuki menatap Yura, dan Yura tahu apa artinya, pasti Yuki sedang menunggu penjelasannya. Yura menghela nafas.


"Iya Ayah ... Kak Arkan sudah mengutarakan niatnya itu sejak beberapa pekan yang lalu, aku gak tahu, tapi aku akan menyerahkan semuanya pada Ayah," kata Yura.


"Apa kamu senang dengan permintaan Arkan ini?"


"Jujur saja, iya Ayah! Aku ... aku sayang sama Kak Arkan!" akui Yura, ketika Arkan tak ada di sekitarnya, Yura memang lebih leluasa mengakui perasaannya.


"Ya sudah ...."


"Ya sudah, apa Ayah?"


"Kalau memang kalian saling cinta, saling sayang ... apa lagi yang mungkin menghalangi restu dari Ayah? Selama itu membuat kamu nyaman dan bahagia, restu Ayah selalu ada untukmu!"


Pernyataan Yuki sampai membuat Yura terharu, benar-benar terharu, matanya sampai berembun. Sinergi antara perasaannya, perasaan Arkan dan restu dari Yuki adalah sinergi yang sempurna. Tak ada alasan untuk tak bahagia dan tak ada alasan untuk tak mensyukuri semua kebahagiaannya ini.


"Apa lagi yang bisa aku katakan Ayah, sudah terlalu banyak kebahagiaan yang Ayah berikan untukku, aku ... aku ...."


"Dengar Yura, walau kamu bukan darah daging Ayah, tapi ... kamu sudah melengkapi hidup kami, Ayah dan mendiang Ibumu! Tahun-tahun bersamamu seakan-akan sudah mengganti nasib kami yang sebelumnya seperti tak akan pernah bisa memiliki anak! Kamu benar-benar melengkapi kami! Jadi, kalau memang kamu bahagia saat ini, semua ini sangat pantas kamu dapatkan! Kamu sendiri telah memberi kami kebahagiaan yang nyata!"


GAP, tak ada lagi yang yang Yura rasakan selain kedamaian dan kebahagiaan setiap ada di dekat Yuki. Hanya itu saja, dan tak ada lagi yang terbesit dalam hatinya, dia akan selalu menjadi anak yang berbakti untuk Yuki.


"Aku sayang Ayah ...."


"Ya, terima kasih Nak, tapi ... kamu juga harus tetap mendoakan mendiang Ayah kandung kamu ya, mendiang Ibu kandung kamu dan juga ... mendiang Ibumu, Lulu!"

__ADS_1


"Iya Ayah, itu pasti!"


__ADS_2