
"Hai Yuraaa."
"Hai Yura, selamat datang lagi di sekolah."
Hampir seluruh teman sekelas Yura menyambut saat Yura kembali ke sekolah. Mereka tahu kalau Yura mendapat musibah tapi mereka tak tahu betul apa yang sebenarnya terjadi, mereka hanya mengira kalau Yura memang benar-benar terpeleset di anak tangga.
Yura duduk di bangkunya walau agak kesulitan, dia juga letakkan tongkatnya di sisi mejanya. Dia senang akhirnya bisa kembali ke sekolah, dia sudah sangat merindukan suasana sekolah.
"Tangan kamu masih sakit gak?" tanya Alika yang setia menjaga Yura sejak tadi.
"Udah baikan kok," sahut Yura.
"Ini sebagian yang udah aku bantu catat!" kata Alika lalu dia menyodorkan tumpukan buku kearah Yura.
"Makasih banyak ya Al."
"Iya sama-sama."
"Yur, si Tania benar-benar resign dari sekolah?" tanya Alika memulai obrolan lagi, Yura terdiam sejenak, sudah berhari-hari dia tak pernah memikirkan nasib Ibu dan Tania lagi.
"Mungkin, bahkan aku gak tahu sekarang mereka tinggal dimana." sahutnya lalu lanjut mencatat beberapa catatan yang masih tertinggal.
"Heh, tragis banget hidup mereka! Mereka terlalu jahat sih sama kamu! Dan lihat sekarang, kamu bisa hidup jauh lebih baik, jauh lebih layak dari sebelumnya! Kesabaranmu selama ini terbayar sudah!"
Yura hanya tersenyum, itu semua memang benar, kini Yura hidup bahagia bersama keluarga barunya.
Jam istirahat sudah tiba, jam yang paling dinanti-nantikan seluruh siswa di seantero sekolah. Yura memutuskan untuk tetap di kelas, dia tak ingin orang-orang bertanya tentang kondisinya sekarang.
"Tunggu deh, aku beli sesuatu dulu yaa." kata Alika lalu dia beranjak, mungkin ke kantin untuk membeli sesuatu, meninggalkan Yura sendiri saja di kelas itu.
Hari ini Arkan dan seluruh team Basket yang kemarin bertanding mendapat libur, mungkin sebagai hak istimewa untuk pemulihan stamina. Dan jujur saja, sekolah tanpa cowok-cowok populer itu terasa sangat hampa.
Dan satu hal yang tiba-tiba membuat Yura terkaget, Keyla dan Dara menghampirinya ke ruang kelasnya. Yura takut dan trauma, dihampiri Kakak kelas yang punya pengaruh besar seperti mereka adalah hal yang mendebarkan dan Yura takut kalau dia akan dapat tindakan bullying lagi.
"Jangan takut! Kita gak akan ngapa-ngapain lo kok!" kata Keyla yang langsung duduk di bangku samping milik Yura, sedangkan Dera duduk di depannya.
"Kita cuma mau tanya-tanya soal si Tania!" tambah Dara. Walau begitu tetap saja Yura merasa takut, apalagi saat ini Arkan dan Keita tak ada di sekolah, tak ada lagi penyelamat kalau saja nanti Keyla maupun Dara bertindak yang tak diharapkan.
"Jawab jujur ya, jadi lo kenal si Tania?" tanya Keyla, Yura hanya mengangguk pelan.
"Apa hubungan kalian?" tanya Dara kali ini, Yura sudah seperti seorang saksi di pengadilan yang di brondong pertanyaan oleh seorang jaksa.
__ADS_1
"Jawab aja, gak usah takut! Gue curiga aja, selama ini lo dapat ancaman dari si Tania kan?"
"M, dia itu saudara tiriku!" jawab Yura tanpa berani mengangkat wajahnya sedikitpun.
Keyla dan Dara saling berpandangan, mereka baru tahu fakta itu dan kini mereka merasa kalau tuduhan Keita dan kawan-kawan tempo hari memang benar.
"Jadi bener, kalau sepatu yang dia pakai beberapa hari lalu itu memang sepatu milik lo?" tanya Dara antusias.
"Iya Kak!" akui Yura.
Keyla dan Dara semakin merasa dipermainkan.
"Terus, apa bener Ibunya itu punya bisnis di singapura?"
"M, maaf Kak sebelumnya, mungkin sebaiknya aku jujur sama kalian tentang Kak Tania selama ini,"
"Ya, gak apa-apa, ceritain aja! Kita gak akan marah sama lo kok, kita rasa lo gak punya salah apa-apa!" kata Keyla dan pernyataan itu membuat Yura merasa lega.
"Maaf sebelumnya, maaf kalau selama ini Kak Tania sudah membohongi kalian. Kami sudah tinggal bersama-sama sejak 8 tahun yang lalu, Ayahku seorang kontraktor dan Ibu, Ibu Kak Tania hanya seorang Ibu rumah tangga, kami hidup sederhana, aku maupun Kak Tania, ditambah lagi Ayahku sudah meninggal dan Ibu hanya mengandalkan usaha kecil rumahan untuk menghidupi kami berdua, beliau bukan pengusaha besar seperti yang selama ini Kak Tania Katakan pada kalian." Cerita Yura panjang lebar sampai detail, Keyla maupun Dara menyimak dengan seksama, mereka sampai tak percaya dengan fakta itu.
"Kita pernah beberapa kali berkunjung ke sebuah rumah yang dia akui sebagai rumah pengasuhnya, apa itu rumah kalian?" tanya Keyla masih asyik menyimak.
"Ya, itu rumah kami,"
"Dia Ibu, Ibu kami! Ibu sambungku, ibu kandung Kak Tania!"
Keyla dan Dara sampai berdecak berkali-kali, sungguh mereka sudah dibohongi selama bertahun-tahun lamanya, mereka sangat tak habis pikir.
"Terus kenapa kita gak pernah sekalipun lihat lo di rumah itu?"
"Setiap kalian berencana untuk datang ke rumah, Kak Tania selalu melarangku untuk pulang sebelum kalian pulang,"
"Padahal itu asalnya rumah orangtua lo kan?"
"Iya Kak!"
Keyla dan Dara benar-benar marah, bukan marah pada Yura tapi tentu saja pada Tania yang kini hilang bagai di telan bumi. Selama bertahun-tahun Tania membual dan membuat Keyla dan Dara percaya.
"Jadi bener dong kalau sepatu itu juga sepatu milik lo?" tanya Keyla lagi yang belum selesai dengan rasa penasarannya.
"Iya Kak."
__ADS_1
"Heh, astaga! Apa benar kita sudah dibohongi sampai sejauh ini?" Keyla tak henti-hentinya merasa sangat menyesal.
"Jangan-jangan, kondisi lo ini juga ada hubungannya sama si Tania?" tanya Dara kali ini.
"Iya iya, apa selepas hari dimana dia pake sepatu baru lo itu dia menyakiti lo sampai seperti ini?"
Yura tak ingin mengungkapkannya, sudah cukup dia mempermalukan Tania di depan teman-temannya, Yura tak akan membuat Tania tampak lebih buruk di mata keduanya.
"Gak kok, ini gak ada hubungannya sama sekali." jawab Yura tegas.
"Terus apa sekarang dia ada di rumah?"
"Kurang tahu Kak, aku udah pergi dari rumah itu beberapa hari terakhir ini!"
"Jadi lo udah gak serumah lagi sama mereka?"
"Gak Kak."
Tak lama Alika datang dengan beberapa makanan ringan, dia sampai ikut panik saat melihat Keyla dan Dara ada di antara Yura, dia takut kalau Yura akan mendapat perundungan lagi.
"Keterlaluan benget dia! Sial memang kita udah kena tipu selama bertahun-tahun!" gerutu Dara.
"Gak nyangka gue! Ya udah deh, gitu aja sih! Semoga sekarang hidup lo lebih baik lagi!" harap Keyla, Yura tak menyangka kalau Keyla mendoakan yang baik-baik untuknya.
Mereka pergi begitu saja tanpa menyinggung masalah Keita atau yang lainnya dan Yura lega. Alika langsung menghampiri dengan wajah paniknya.
"Mereka ngelabrak kamu lagi?" tanya Alika heboh sendiri.
"Nggak kok, mereka cuma nanya soal si Tania,"
"Terus-terus kamu cerita semuanya?"
"Ya, mereka udah tahu sekarang, kecuali masalah kecelakan di malam itu. Cukup lah mereka tahu kalau selama ini Tania seorang pembohong, dan soal Tania yang menjelma jadi seorang phsyco, cukup kita saja yang tahu!"
"Huh, syukur deh! Biar tahu rasa dia, bohong itu awal akhir juga pasti akan ketahuan," rutuki Alika.
"Betul, jadi ...."
"Kita gak boleh bohong-bohong!"
"Setuju!"
__ADS_1
Mereka akhiri perbincangan serius itu dengan canda tawa, kini tak akan ada lagi hari-hari yang membuat Yura khawatir, hati dan pikirannya jauh lebih relax, jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya.