Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
ZAHRAN


__ADS_3

Baru saja Yura keluar dari gerbang, ada seorang pria mengendarai sepeda motor berhenti di depannya. Dia buka helm-nya dan seorang pria dengan penampilan agak urakan menunjukan pesona dan senyum manisnya.


"Han Yura?" tanya pria itu, Yura pikir pria itu adalah Zahran, Yura hanya mengangguk malas tanpa memberikan senyuman sedikitpun.


"Zahran!" ucapnya sembari menyodorkan tangannya, sudah Yura duga, pria muda itu pasti Zahran. Walaupun dia cukup menarik tapi itu sama sekali tak membuat Yura goyah. Hati dan cintanya masih dia simpan untuk Keita.


"Yura," balas Yura lalu dia cepat-cepat menurunkan tangannya.


"Kenapa chatnya gak dibalas?"


"Maaf, aku sibuk!" Yura masih bersikap sangat dingin.


"Heum, gitu ya, terus sekarang kamu mau kemana? Sekalian aku anter aja, kita kan harus bicara banyak sesuai instruksi Dara!"


Yura sangat kesal, bagaimana bisa Zahran tampak santai tanpa dia tahu kalau Yura masih sangat terpukul atas putusnya jalinan cintanya dengan Keita.


"Jadi kamu sudah tahu kan kalau ini semua cuma pura-pura?" tanya Yura masih dingin, Zahran mengangguk dan sungguh, tatapan matanya membuat Yura tidak nyaman, "Yup! cuma sandiwara!".


"Baiklah, tolong antar saya ke satu tempat, setelah itu kita akan membicarakan masalah ini!" kata Yura.


"Oke sayang!" jawab Zahran tengil lalu dia berikan satu helm untuk Yura, Yura makin sebal dengan sosok asing di hadapannya itu.


'Astaga? Kenapa aku mau menjalani drama gila ini? Ya Tuhan, tolong tetap jaga hati Kak Keita, semoga sebelum dia semakin benci padaku, semua kebusukan Dara ini dapat terungkap tanpa aku yang mengatakannya!' harap Yura lalu dia mulai naik ke atas sepeda motor Zahran.


"Sudah siap?" tanya Zahran.


"Heum."


"Pegangan dong," pintanya, Yura hanya mengerutkan dahi dan menekuk bibirnya.


'Heleeeh, apaan sih nih cowok tengil banget!' gerutunya.


"Udahlah, ayo jalan!"


Yura siap tanpa berpegangan pada Zahran. Yura tak ingin benar-benar terjebak dalam permainan Dara dan Zahran.


Kabar putusnya Yura dan Keita sudah menyebar secepat kilat di lingkungan orang-orang terdekat mereka. Bukan Yura atau Keita yang mengumumkannya secara resmi. Keduanya bahkan menutup akun media sosial mereka untuk sementara. Dan yang menyebarkan kabar mengejutkan ini adalah Dara dengan cara halusnya. Dan kini, Mami Papi Keita pun sampai tak percaya dengan kabar ini, yang mereka tahu Yura baru saja merayakan ulang tahun putera kesayangannya beberapa hari di London.


"Coba telepon Keita!" kata Papi, saat ini keduanya sedang menikmati sarapan.


"Jam segini dia masih tidur dong Pih, kok bisa sih? Keita gak cerita apa-apa sama Mami, tapi Yura emang ngasih Mami oleh-oleh, lewat paket sih bukan dia yang nganterin langsung!" kata Mami.


"Ya namanya juga anak muda, mungkin saja saat ini mereka sedang ada masalah! Biarkan mereka saja yang menyelesaikannya!" kata Papi bijak.


"Iya sih, huh ... anak kita benar-benar sedang jatuh cinta! Kalau benar mereka putus, ini pasti ada yang gak beres di antara keduanya!"


"Sudahlah Mih, cepat habiskan sarapannya!"


"Iya Papi!"


Ya semua pihak masih menduga-duga penyebab kandasnya hubungan Yura dan Keita. Mereka hanya belum tahu kalau semua ini hanya permainan licik Dara yang ingin menang dengan cara yang curang.


Yura tak bisa menghindari ini semua, dan andai kebusukan Dara tak pernah terungkap maka dirinya lah yang akan menjadi tersangka utamanya. Tapi untuk saat ini hanya satu yang Yura pikirkan, dia tak ingin Dara depresi dan nekat, se-simple itu lah pemikiran Yura. Kebaikan hatinya sering dimanfaatkan tidak baik oleh pihak-pihak yang iri dengannya.


"Ya, kemarin saya pesan toples bentuk ini 2 kodi kak," Yura sedang bertransaksi di sebuah toko perlengkapan kue dan Zahran menunggu berdiri di belakangnya.


"Oh iya, atas nama Han Yura ya?" tanya penjaga toko.


"Iya Kak."


"Sebentar ya, saya ambilkan dulu barangnya!"


"Iya!"


Yura menunggu, sembari menunggu dia pilah pilih ornamen-ornamen lucu untuk hiasan cake. Dia gemas dan tak sabar ingin segera mengembangkan usahanya.


"Kamu jualan kue?" tanya Zahran mencoba mencairkan suasana yang terasa kaku.


"Ya," jawab Yura singkat tanpa menoleh sedikitpun.


"Wah, hebat!" sanjungnya.


Yura enggan menanggapinya, dia kadung kesal dengan sosoknya yang sudah menjadi bagian dari kejahatan Dara, ya tapi Yura bisa apa? Dia juga terlanjur masuk dalam permainannya.


"Semoga sukses ya!" bisik Zahran, Yura menoleh, bisikan Zahran terlalu dekat dan membuatnya geli.


"Terima kasih, tapi tolong jaga jarak!" kata Yura kekik.


"Iya iya! Emang kenapa sih? Nafasku bau apa?" gerutunya lalu dia mengeluarkan nafas ke telapak tangannya. Tengil sekali tingkahnya dan itu membuat Yura semakin kesal.


"Jaga jarak, kita gak ada hubungan apa-apa!" tegas Yura lalu dia melengos menjauh dari Zahran. Zahran tersenyum dan memandangi Yura yang sedari tadi marah-marah dan bersikap judes padanya. Apakah Zahran tertarik pada Yura?

__ADS_1


'Han Yura ....' batinnya dan matanya masih lekat mengawasi setiap gerak Yura.


Sampai sang penjaga toko datang membawa 2 box besar toples-toples pesanan Yura. Mereka sedang melakukan transaksi dan setelah beberapa menit akhirnya selesai juga.


"Lho, barangnya?" tanya Zahran agak terheran saat Yura tak membawa serta box-box itu.


"Nanti di kirim lewat paket!" jawabnya ketus lalu berjalan mendahului Zahran, Zahran hanya geleng-geleng kepala.


"Hey Han Yura!" panggil Zahran dan bahkan Zahran berani menarik lengan Yura saat di tempat parkir.


"Iih, apaan sih, lepas gak?" ancam Yura, perlahan Zahran melepaskannya.


"Cukup ya gue bersikap manis sama lo! Kok lo marah-marah terus sih?"


Yura berdecak. Kini Zahran sepertinya sedang menunjukan jati dirinya. Yura tak kalah kesal karena mau bagaimana pun, saat ini dia masih sangat berduka dan sesak. Siapa pula yang rela cinta sejatinya ditawan begitu saja oleh orang lain.


"Terus aku harus gimana? Kita kan gak dituntut buat mesra-mesraan! Kita cuma pacaran waktu kamu telepon aku pas di Bandara itu, udah! Sebenarnya aku merasa semuanya udah selesai!" jawab Yura tegas, heh, Zahran keluarkan senyum kecutnya.


"Sial! Kalau bukan karena duit! Gue gak sudi ya main drama-dramaan kayak gini! Sialan emang si Dara!" gerutunya, Yura dengar pengakuan itu dan dia semakin, semakin dan semakin kesal dengan sosok Zahran. Dia yakin kalau Zahran bukan orang baik.


"Jadi kamu dibayar sama Dara?" tanya Yura.


"Iyalah! Kalau gak ada bayarannya mana mau gue ribet-ribet kayak gini! Duitnya abis dalam sehari dan dramanya harus lanjut lagi! Kesel gue!"


Yura semakin meradang. Bagaimana bisa hal paling menyakitkannya ini dimanfaatkan seperti itu oleh Zahran. Yura sampai tak kuasa menahan genangan air mata di kelopak matanya. Air matanya jatuh bergulir begitu saja membasahi pipi manisnya.


"Tega! Kalian emang benar-benar tega!" desis Yura kesal.


"Lah, ngapain lo mewek disini? Entar dikiranya gue ngapa-ngapain lo lagi!"


"Heh, dasar, kalian manusia gak punya hati!"


"Jangan salahin gue! Ya ini kan rencana si Dara!"


"Heh, suatu hari pasti kebusukan kalian ini akan segera terbongkar!"


Yura tak tahan lagi, dia segera melangkah pergi meninggalkan Zahran. Tapi dia tak tinggal diam, Zahran segera menaiki sepeda motornya lalu dia menyusul Yura yang sudah hampir sampai di tepi jalan raya.


"Eit eit, jangan ngambekan gitu dong!" dengan sigap Zahran menahan langkah Yura dengan menghadangkan badan sepeda motornya.


"Apaan sih! Kita gak ada urusan lagi ya!" kata Yura kesal.


"Ayolah maafin gue! Kita harus bicara! Masih ada beberapa tugas yang harus gue selesaikan!" Zahran memohon dan Yura tak peduli.


"Ayolah!" Zahran malah mencuri start, dia pasangkan helmnya langsung ke kepala Yura dengan tangannya, Yura semakiiiiiiiiiin kesal.


"Huh, bener-bener ya ..."


"Yuk, naik!"


"Gak mau!" tolak Yura mentah-mentah.


"Kalau gak mau setiap hari gue akan recokin dan gangguin lo!" ancamnya, Yura sangat tak mengerti lagi bagaimana cara menghadapi Zahran yang sangat menyebalkan hari ini.


Dengan sangat terpaksa Yura ikuti saja apa maunya. Berharap setelah ini urusannya dengan Zahran akan segera selesai.


GRUUUUUNG, mereka pergi dan tahukah kemana Zahran membawa Yura pergi? Ke kedai bakso pinggir jalan. Yura pikir Zahran ini orangnya memang anti jaim, dengan lagaknya yang selangit tapi dia malah ajak Yura makan di pinggir jalan seperti ini.


"Jangan ajak gue makan di cafe! Duit gue gak akan cukup!" ucapnya sembari membantu melepaskan helm Yura yang masih bengong.


"Kenapa diam saja? Gak suka gue ajak makan bakso pinggir jalan begini? Emang ya cewek-cewek jaman sekarang pada matre semua!" gerutu Zahran, Yura memicingkan matanya.


"Heh, siapa bilang? Aku suka!"


Yura menyingkirkan pikirannya yang awalnya menganggap ajakan Zahran ini merendahkannya tapi kemudian Yura sadar kalau dulu sebelum dia diangkat menjadi anak oleh Yuki dan Lulu, hidupnya juga susah dan penuh liku bahkan dia tak bisa jajan dan makan enak sesuka hatinya.


'Huh, maafkan aku Tuhan! Aku bahkan sering lupa mensyukuri semua nikmatMu!' batin Yura dan dia sudah duduk di bangku memanjang khas kedai bakso pinggir jalan, Zahran duduk di sampingnya.


"2 mas!" seru Zahran, memesan.


"Kita makan sambil ngobrol, dengan begitu pembicaraan kita akan segera selesai!" kata Yura.


"Jadi gini, si Dara tuh malah nyuruh gue buat nerusin drama ini sampai beberapa minggu ke depan sampai dia dan mantan pacar lo itu pulang ke Jakarta!"


Yura menoleh seketika, apa benar yang Zahran katakan? Beberapa pekan lagi Keita dan Dara akan pulang ke Jakarta?


"Apa? Mereka mau pulang?"


"Katanya sih begitu!"


Yura mulai merasa sedih lagi, bagaimana bisa keadaannya menjadi serumit ini.

__ADS_1


DRRDDD ... DRRDDD ...


Ponsel dalam tasnya bergetar dia ambil dan yang menelpon sekarang adalah ....


"Kak Arkan?" gumam Yura, dia angkat saja tanpa pikir panjang, Yura takut Arkan ada kepentingan dengan dirinya.


"Halo Kak?" sapa Yura.


"Apa yang gue dengar benar?" tanya Arkan dan Yura yakin kalau maksud dari pertanyaannya adalah berkaitan dengan kandasnya hubungan cintanya dengan Keita.


"Siapa? Pacar lo yang di London itu?" tanya Zahran tengil sampai Arkan dengar dan sontak saja Arkan curiga dan meragu pada Yura.


"Siapa itu?" tanya Arkan tajam.


"M, bukan siapa-siapa!"


"Siapa?" Arkan masih terdengar mendesak.


"Han Yura!" Bahkan Arkan membentak, Yura harus jawab apa? Kalau dia jawab yang sebenarnya pasti urusannya dengan Dara tak akan pernah selesai. Tapi sungguh, saat ini Yura benar-benar butuh orang untuk mencurahkan beban-bebannya ini.


"Nanti malam gue ke rumah!" kata Arkan terakhir lalu dia akhiri sambungan teleponnya.


Yura gamang, bimbang dan lebih dari sekadar galau. Dia seperti ada di sebuah lahan bekas medan perang yang menyisakan banyak ranjau di dalamnya. sekelilingnya adalah jebakan yang akan membahayakannya. Satu-satunya cara untuk selamat hanyalah diam dan menunggu keajaiban datang.


"Siapa?" tanya Zahran sekali lagi.


"Kamu gak perlu tahu!" jawab Yura lalu dia masukan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Ya gue perlu tahu lah, sementara ini kan lo tuh pacar gue!" kata Zahran lalu merangkul Yura yang serta merta menolak.


"Jangan macam-macam!" kecamnya tegas.


"Iya deh! Dan, gue harap lo mau membantu gue!"


"Maksudnya?"


"Ya, gue butuh tambahan uang dan si Dara akan transfer uangnya kalau gue sama lo udah sepakat buat benar-benar pacaran untuk beberapa minggu ke depan!"


Yura sudah malas mendengar suara Zahran, Yura kesal sampai dia tak tahu lagi harus bersikap bagaimana.


"Han Yuraaa ...."


"Apa? Aku membantu kamu sementara aku harus kehilangan lelaki baik yang sudah 3 tahun ini jadi pacarku?" sambar Yura, kekik lagi dan lagi.


"Ya kalau itu sih urusan si Dara!"


"Sebentar! Apa kamu ini benar sepupunya Dara? Atau jangan-jangan ...."


"Bukan, gue bukan sepupunya!" tegaskan Zahran.


"Terus?"


"Dulu gue kerja di showroom punya Bapaknya!"


Yura hargai jawaban jujur Zahran. Jadi Zahran ini mantan pegawai Dara yang dia sulap menjadi sepupunya yang seolah-olah adalah orang ke-3 dalam hubungannya dengan Keita.


"Terus kamu pakai uangnya buat apa? Judi?" tanya Yura asal, dia yakin kalau orang-orang berandal seperti Zahran akan menghabiskan banyak uang untuk hal-hal negatif.


"Heh, sok tahu!" gerutu Zahran.


"Terus buat apa?"


Zahran sejenak terdiam, dia bahkan diam dan tak banyak bicara lagi untuk beberapa detik. Yura bahkan menunggu Zahran menjawab pertanyaannya.


"Kalau gak jawab berarti benar duitnya kamu pakai buat hal-hal gak bener!" cibir Yura.


"Pokoknya lo harus mau! Bantu gue, oke?" kata Zahran sama sekali tak menjawab pertanyaan Yura.


"Heh? Bantu kamu? Dan secara gak langsung aku mengorbankan hubungan baikku dengan Kak Keita buat menolong kamu bertaruh dalam judi?"


"Adik gue sakit!"


Barulah Yura terdiam dan menge-rem mulut sinisnya. Benarkah yang Zahran katakan? Benarkah Zahran lakukan hal ini untuk adiknya yang sakit?


"Sakit apa?"


"Ini baksonya, silakan!"


Pertanyaan Yura terpotong karena Bakso pesanan mereka sudah siap. Zahran juga seolah melupakan pertanyaan terakhir Yura. Yura jadi penasaran.


"Ayo makan!" kata Zahran yang langsung melahap baksonya tanpa aba-aba seperti orang kelaparan.

__ADS_1


Benarkah apa yang Zahran katakan? Atau dirinya hanya membual agar Yura percaya dan mau membantunya?


__ADS_2