Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Gagal Maning


__ADS_3

Saking intensnya ....


Mereka sudah merubah posisi mereka. Yura malahan sudah terbaring di tepi kolam, bertelanjang dada dan Arkan mencumbunya penuh gairah sampai Yura tak tahan lagi. Tapi ....


"Tunggu Kak," desah Yura lalu dia meminta Arkan untuk menghentikan sejenak permainan mereka.


"Kenapa sayang?" bisik Arkan jelas sekali kalau saat ini dia sangat tidak tahan.


"Pinggangku sakit, perutku juga ... apa mungkin ...." gumamnya, lalu Yura setengah bangkit dan mencoba mencari tahu kenapa pinggangnya begitu sakit, seperti sebuah siklus bulanan yang selalu dia dapatkan selama ini.


Arkan menyingkir dari atas Yura, dan ....


HAH!!!!


***


"Maaf ya," ucap Yura yang sudah berpiyama kali ini, Arkan juga sudah mengenakan kembali pakaiannya. Mereka sudah pindah ke atas tempat tidur, tapi tak ada lagi permainan panas seperti tadi.


"Iya, gak apa-apa, kita bisa menunggunya sampai nanti!" kata Arkan.


Sebenarnya apa yang terjadi?


Ternyata Yura mendapatkan menstruasinya malam ini. Gagal sudah bonding yang mereka bangun selama beberapa menit di tepi kolam tadi. Tapi mau bagaimana lagi, Arkan harus mengalah pada alam dan pada kodrat istrinya sebagai perempuan.


"Tunggu 5 sampai 6 hari lagi, maaf ya," ucap Yura masih tak henti-hentinya mengucap kata maaf. Bagaimana Yura tak merasa bersalah, dia tahu betul kalau tadi Arkan sudah hampir sampai pada klimaksnya, tapi tak sempat Arkan menyapa mahkota istrinya, malah harus kalah dengan tamu bulanan yang datang tanpa di undang malam ini.


"Gak usah minta maaf," kata Arkan yang masih merelakan sebelah lengannya untuk menjadi tumpuan kepala Yura.


"Habisnya aku gak enak, karena ... seharusnya kita sudah melakukannya sejak semalam! Dan saat aku sudah mulai siap, tamu bulananku malah datang, gak diundang! Mengganggu!" gerutu Yura, Arkan hanya tersenyum.


Walau gagal lagi, tapi Arkan merasa tak masalah. Yang penting sekarang Yura sudah mutlak menjadi miliknya, itu lah yang paling penting untuk Arkan saat ini.


***


WUZZZZZ ....


Semua orang sudah kembali ke Jakarta termasuk sepasang pengantin baru itu. Ya walau mereka gagal melewati malam pertama mereka tapi itu bukan masalah besar untuk keduanya.


Yura sudah bisa menjadi nyonya di rumah Arkan. Sementara rumahnya bersama Yuki akan ditinggal karena Yuki sendiri sudah kembali ke Australia.


Yura sedang membereskan pakaiannya di lemari, menatanya dengan rapi karena mulai detik ini kamar Arkan juga adalah kamarnya.


Arkan masuk, dia membawakan koper Yura yang lainnya. Yura memang membawa semua barangnya.


"Oh iya Kak, siang ini aku mau ke toko, boleh ya?" Yura meminta izin, sekarang ini dia memang harus selalu mengawali apapun dengan izin suaminya.


"Boleh, nanti aku antar ya!"


Ting tong, ting tong ....


Bel berbunyi begitu lantang, berbunyi intens sampai beberapa kali, pemencet bel pasti memencetnya penuh emosi.


Arkan maupun Yura tak tahu siapa yang bertamu dengan tidak sopan seperti itu. Mereka segera mencari tahu siapa yang ada di depan pintu rumah mereka.


"Siapa sih yang mencet bel kayak gitu, gak sopan banget!" gerutu Yura yang mengikuti langkah Arkan yang cepat karena geram dengan tamunya itu.


Dan siapakah yang datang?


"Tega! Kamu tega banget Ar!"


Ternyata yang datang Alana, Alana datang dengan berderai air mata. Jelas sekali kalau saat ini dia sangat kecewa.


Lalu Arkan bisa apa? Dia sudah menentukan pilihan bahkan Arkan juga sudah mengikat pilihannya itu dalam ikatan pernikahan yang suci. Yura berhenti di belakang punggung Arkan begitu dia tahu kalau yang datang adalah Alana.


"Kak Alana," gumamnya, dan jujur saja Yura jadi sedikit takut.


"Apa lagi? Apa yang salah?" tanya Arkan tampak gusar, dia tidak senang dengan drama yang Alana sajikan di depan pintu rumahnya saat ini.


"Kenapa kamu lakukan ini sama aku Ar, kenapa???" Alana masih bertanya kenapa, dia lancarkan pukulan manjanya di dada kokoh Arkan. Kini Arkan sedang berdiri di antara dua perempuan, perempuan yang mencintainya dan perempuan yang dicintainya.


"Cukup Al!" kata Arkan lalu mengehentikan tangan Alana yang terus memukul dadanya itu. Yura muncul dari balik punggung Arkan, dan seketika mata Alana memicing dengan penuh kebencian.


"Heh, kalian! Kenapa kalian lakukan ini, huh? Hey kamu, Han Yura ... apa-apaan ini? Kalian benar-benar keterlaluan!" Alana masih melancarkan protesnya.


Alana memang agak histeris siang ini, dia kelihatan lelah dan tidak fit. Mungkin tekanan batin begitu menyiksanya sampai dia tampak ringkih sekali saat ini.


"Kalian ... kalian ...."


BRUK, Alana jatuh terkulai beruntung Arkan replect menahannya agar tak sampai jatuh ke lantai. Arkan maupun Yura panik, sejak awal Alana memang sudah kelihatan tidak baik.

__ADS_1


"Bawa ke dalam Kak, kasihan Kak Alana!" kata Yura lalu meminta Arkan untuk menggendong Alana masuk ke dalam rumah mereka. Arkan pun melakukannya dan membaringkannya di atas sofa.


"Ya ampun Kak Alana ... mukanya juga pucat banget lho!" khawatirkan Yura.


"Huh, kenapa harus pingsan disini sih!" gerutu Arkan.


"Kak gak boleh gitu! Bentar, aku ambilin dulu minyak angin ya, jagain!" kata Yura, dia malah begitu peduli pada Alana, padahal Arkan pribadi rasanya tak ingin berurusan dengan Alana lagi.


Beberapa saat kemudian Yura kembali dengan minyak angin dan segelas air hangat kalau-kalau nanti Alana tersadar.


"Biar aku yang tangani Kak!" kata Yura lalu dia duduk di sofa yang sama dengan sofa tempat Alana terbaring saat ini.


Arkan perhatikan betapa Yura telaten mengurus Alana yang pingsan. Arkan yakin kalau Yura memang benar-benar orang baik yang tulus.


"Bangunlah Kak," gumamnya sembari mencoba menyadarkan Alana dengan memijat-mijat kedua sisi kening Alana dengan minyak beraroma hangat itu.


Dan tak lama setelah itu Ahsan datang, sepertinya tadi Ahsan memang mengikuti arah pergi adiknya dan dia hanya terlambat beberapa menit. Ahsan datang dengan kemarahan, ada banyak hal yang membuatnya marah. Dia marah karena kenyataan pahit bahwa gadis yang mulai disukainya itu telah menikah dengan lelaki yang adiknya cintai. Dan Ahsan juga marah melihat Alana terbaring lemah di atas sofa.


"Apa yang lo lakukan sama adek gue!" Ahsan menerjang Arkan dan menarik kerah bajunya tapi Yura sigap bagkit dan memisah keduanya yang siap untuk bersitegang. Yura tak ingin ada keributan apapun.


"Jangan macam-macam dengan suami saya!" kata Yura tegas, Ahsan kembali menelan ludahnya sendiri.


Arkan tersanjung sekali dengan pembelaan istrinya itu, Arkan sangat bangga dengan sikap tegas Yura.


"Heh, apa kalian berbahagia sekarang ini?" tanya Ahsan dengan nada sarkas, ciri khasnya.


"Ya! Kami sangat berbahagia, apa kamu gak bisa melihatnya?"


"Kalian bahagia di atas penderitaan orang lain!" kecam Ahsan.


"Lalu kami harus terbelenggu demi kebahagiaan orang lain? Sudah cukup ya nyalah-nyalahin orangnya! Semua orang punya pilihan, dan kami juga berhak memilih! Iya kan?" Yura benar-benar tegas, dia bicara begitu lugas sampai Ahsan pun tak tahu harus membalasnya dengan cara seperti apa.


Tapi apa yang Yura katakan memang benar, setiap orang berhak memilih, karena memilih adalah hak. Walau apa yang Arkan putuskan saat ini terkesan melukai Alana tapi sebenarnya Arkan juga berhak menentukan kebahagiaannya yang berdasarkan pilihan hati nuraninya.


'Heum! Bini gue, terbaik!' batin Arkan bangga, tapi dia masih menunjukan mimik tegas di depan Ahsan.


"Urusan kita belum selesai Han Yura!" desis Ahsan tajam sekali sampai membuat Yura sempat gentar tapi kali ini Arkan yang sigap mengahadangnya.


"Urusan istri gue! Berarti urusan gue juga! Jangan macam-macam!" kata Arkan mengecam.


Ahsan mencoba tak peduli, dia segera mengambil alih Alana yang perlahan terusik, mungkin karena kegaduhan yang terjadi, lagi pula upaya Yura untuk membangunkannya tadi juga sudah mulai berhasil.


"Bang Ahsaaan," gumam Alana begitu melihat Ahsan ada di depannya.


"Kita pulang, dan secepatnya kita akan dapatkan apa yang kita mau!" kata Ahsan pelan bahkan cenderung berbisik, Alana sebenarnya sudah tak merasakan apa-apa, rasa sakitnya terlalu dalam sampai dia tak sadar telah menyakiti dirinya sendiri, lagi, dengan mendatangi kediaman Arkan yang notabene telah memperistri Yura.


Sejujurnya Yura takut, Yura takut dengan Ahsan. Dan kalau Ahsan dan Alana bersatu, maka bukan tidak mungkin keduanya akan menjadi ancaman untuk rumah tangganya bersama Arkan.


'Gak! Aku gak akan membiarkan siapapun mengganggu hubungan kami! Gak! Gak akan ada lagi yang mengalah!' batinnya sembari mencoba melawan ketakutannya itu.


Ahsan memapah Alana yang masih lemas keluar dari rumah Arkan, melewati Arkan dan Yura yang hanya diam sampai keduanya benar-benar berlalu dari pintu.


"Kalau dia mulai kurang ajar lagi, kamu harus segera hubungi aku!" kata Arkan tegas, diam-diam Arkan juga takut kalau Ahsan mengganggu istrinya jika suatu saat Arkan tak bisa mengawasinya.


Yura membalik badannya dan menghadap langsung, dan saat bicara dengan Arkan dia harus sedikit mengangkat wajahnya karena Arkan begitu tinggi menjulang.


"Iya," sahutnya.


"Abaikan orang-orang seperti mereka!"


"Iyaa, intinya ... kamu harus membangun kepercayaan yang kuat terhadapku, begitupun sebaliknya! Jadi ... kalau suatu hari nanti ada hal-hal yang gak kita inginkan, setidaknya kita tahu kalau itu bukan kehendak kita! Kamu ngerti kan maksudku Kak?"


"Ya!"


"Syukurlah kalau begitu! Oh iya, aku mau ke Toko sebentar, boleh kan?"


"Iya, mau pergi sekarang?"


"Heum."


"Ya udah, yuk!" Arkan menautkan jari-jarinya ke jari-jari Yura dan mereka pergi ke luar rumah sambil bergandengan tangan.


Jari-jari mereka bertautan dengan erat seolah-olah menegaskan kalau mereka tak ingin dipisahkan oleh badai sehebat apapun. Apapun yang akan terjadi nanti, mereka ingin selalu bersama seperti sekarang ini, selalu dan selamanya.


***


Entah apa yang Ahsan dan Alana rencanakan lagi tapi Yura mencoba untuk tak memikirkan hal itu. Dia jalankan saja tugasnya sebagai istri dengan baik.


Seperti pagi ini, dia menyiapkan sarapan untuk Arkan, Yura sangat senang menjalani peran barunya itu. Arkan turun dari lantai atas. Dan rasanya senang sekali bisa melihat Yura sibuk di dapurnya seperti sekarang ini.

__ADS_1


"Aku belum bisa masakin banyak-banyak, cuma ngolah bahan yang ada di lemari es kamu aja Kak! Gak ada apa-apa, kayaknya hari ini aku harus belanja!" kata Yura sementara tangan dan matanya masih fokus dengan telur mata sapi yang dia coba untuk buat sesempurna mungkin.


"Habis sarapan aku harus ke kantor Sunrise, nanti aja ya belanjanya agak sorean!" kata Arkan.


"Gak apa-apa, aku bisa pergi sendiri kok!"


"Gak, pokoknya kita pergi sama-sama!" tegas Arkan.


"Gandengan?"


"Heum! Kayak truk gandeng!"


Yura tertawa kecil, candaan garing tapi masih saja menggelitik. Dan Arkan menunggu di meja makan, Yura datang dengan beberapa telur mata sapi yang dia buat begitu sempurna.


"Cuma ada ini, jadi pagi ini cuma sarapan ini!" kata Yura lalu dia menarik roti dan menaruh telurnya di atas roti itu, sarapan yang sederhana. Tapi untuk Arkan, sarapan pagi ini masih begitu istimewa.


Sudah hampir seminggu Yura menjadi istrinya, dan ngomong-ngomong, mereka belum juga melakukannya sampai detik ini.


"Ya udah kalau begitu, aku ke toko dulu dan kalau nanti kamu udah selesai dengan urusan kamu, jemput lagi aku ke toko ya," kata Yura mengatur jadwalnya sendiri.


"Oke!" sahut Arkan yang sudah menghabiskan setengah sarapannya.


"Memangnya, musim baru kompetisi kapan dimulainya Kak?"


"Minggu depan, dan mulai minggu depan kamu wajib hadir di setiap pertandinganku!"


"Iya iya, itu pasti! Apa perlu aku bawa atribut cheerleaders buat nyemangatin kamu kak?" canda Yura.


"Gak perlu! Cukup duduk manis, di tribun paling depan, terus senyum di sepanjang pertandingan, itu udah lebih dari cukup!"


"Oke deh!"


Yura datang ke toko hari ini.


Dia tak tega lama-lama meninggalkan Alika kewalahan sendiri. Apalagi mereka memproduksi kue-kue mereka sendiri.


"Makasih banyak ya Bu atas kunjungannya!" kata Yura pada seorang pelanggan yang baru saja membeli di tokonya.


"Iya Mbak! Oh iya, katanya Mbak ini pengantin baru ya ... duh, selamat ya!" kata pelanggan itu berbasa-basi membuat Yura salah tingkah.


"Aaah iya, terima kasih banyak Bu!"


"Semoga rumah tangganya langgeng ya, harmonis terus sampai tua!"


"Aamin, aamiin Bu, terima kasih sekali lagi!"


"Dan satu lagi, semoga cepat-cepat di kasih momongan!"


"Ooh, iya, semoga Bu! Terima kasih ya untuk do'a dan harapannya!"


Yura senang setiap ada yang mendo'akannya, dia aamiini saja karena do'a bisa datang dari mana saja dan dari siapa saja.


"Heum, tadi malam gak gagal kan?" Alika datang menghampiri ke meja kasir dan langsung menggoda.


"Iiih apaan sih," Yura salah tingkah.


"Jangan sampai gagal lagi!"


"Gak boleh ikutan bayangin looh! Awas!" Yura balik menggoda.


"Bayangin kamu boleh kan, kebayang dong ... gimana Kak Arkan memperlakukan kamu nanti kalau saatnya sudah tiba!"


"Iiih Alika!"


"Sudah nonton videonya belum? Kamu gak boleh kaku lho! Kamu harus punya inisiatif biar Kak Arkan makin sayang sama kamu!"


"Ya ampun Alika!"


"Dan kamu tahu gak Yur, pembuahan sel telur di masa setelah haid akan lebih cepat! Kamu bisa langsung hamil lhoo kalau nanti malam Kak Arkan sukses melakukannya!"


"Alika!" Yura tak tahan dengan obrolan nakal Alika, dia sendiri sampai tak kuasa membayangkannya.


"Apa sih Yur, aku cuma mengenang pelajaran biologi kok, kamu mah pikirannya pasti kemana-mana, iya kan?"


"Terserah deh!"


"Cieee cieee, pengantin baru, siap-siap nanti malam ya Yur!"


Yura hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah tengil sahabatnya itu. Dan ya, rencananya nanti malam Yura memang akan menyerahkan dirinya setelah terhalang beberapa hari karena menstruasinya. Dan malam ini dia sudah siap, sudah siap menjalankan baktinya sebagai seorang istri untuk melayani suaminya di atas ranjang.

__ADS_1


__ADS_2