Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
No More Hate, No More Fear


__ADS_3

"Sayang, kenapa? Mama perhatikan dari tadi kamu cuma melamun?" Nara bertanya pada Yura yang sejak tadi menunjukan pandangan yang kosong, tentu saja Nara sangat mengkhawatirkannya, terlebih saat ini menantunya itu tengah mengandung calon cucunya.


Malam ini Nara akan menginap menemani Yura yang ditinggal Arkan bertanding away ke luar kota. Sebelum pergi tidur mereka memutuskan untuk bersantai menonton TV besama. Dan sejak beberapa menit yang lalu, Nara melihat memantunya hanya bengong dengan pandangan kosong, itu lah yang Nara khawatirkan.


"Oh, nggak kok Ma," sangkal Yura lalu cepat-cepat menyingkirkan lamunannya.


"Jangan melamun, kalau ada sesuatu yang mengganjal di hati kamu ceritakan saja! Jangan dipendam sendirian, yaaa ...." kata Nara bijak membuat Yura merasa lebih baik.


"Iya Ma, terima kasih!"


"Kamu udah ngantuk?"


"Iya sih, udah mulai ngantuk!"


"Ya udah, kamu tidur ya, tapi jangan lupa habiskan dulu susunya, nih ...." Nara memberikan segelas susu yang sedari tadi nganggur di atas meja, Yura segera menerimanya lalu meminumnya sampai habis.


"Makasih Ma," ucapnya setelah selesai dengan susunya.


"Have a nice dream dear!" ucap Nara manis, Yura senang sekali mendengarnya, kalimat itu seperti lulaby yang akan mengantarnya ke alam mimpi.


"Iya Ma, Mama juga ya, bye!"


Yura beranjak menuju kamarnya meninggalkan Nara yang mungkin masih ingin menonton TV. Nara bahagia sekali rasanya. Perjalanan hidupnya begitu panjang dan melalui berbagai macam warna. Hitam, putih, kelabu dan berbagai macam warna pelangi. Mungkin ini adalah fase ia merasakan warna-warna yang indah itu. Memiliki suami yang luar biasa pengertian, memiliki anak yang membanggakan dan kini ditambah lagi menantu baik hati yang akan segera memberinya cucu.


'Oh my life! Its a long long long journey! Terima kasih Tuhan, tak mungkin kita akan merasakan bahagia jika kita tak pernah merasakan luka! Terima kasih untuk luka yang mengajariku pelajaran berharga dan terima kasih untuk kebahagiaan yang tak terkira ini! Terima kasih Tuhan!' batinnya sebelum dia putuskan tidur dan menjelang hari esok.


***


Sesuai rencana, Nara dan Yura pergi ke Bandung, bersama Azka tentunya. Setelah sampai dan beristirahat beberapa jam, Nara dan Yura sibuk mencari jajanan. Ya begitulah, Ibu dan anak menanntu ini memang kompak sekali. Nara tak seperti mertua, tapi lebih dari itu, terlebih sejak dulu Nara sudah menyimpan banyak empati untuk Han Yura.


Mereka haunting street food favorit. Berbagai macam camilan dan appetizer mereka jajaki.


"Ini namanya batagor, kamu sudah pernah coba kan?" tanya Nara memperkenalkan makanan khas kota kembang itu pada menantunya.


"Coba sih belum pernah Ma, kalau denger namanya sering! Yumm, ini pasti enak!" sahut Yura tak sabar menyantap sepiring makanan bersaus kacang di depannya saat ini.


"Ini enak banget! Batagor itu singkatan dari bakso tahu goreng! Jadi semacam somay pangsit yang di goreng, adonan baksonya dari ikan terus ini sausnya pakai saus kacang, khas banget! Coba lah!" Nara sudah seperti food blogger yang menuturkan detail bahan dari makanan yang sedang mereka cicipi itu.


Suapan pertama Yura langsung suka, binar matanya mengatakan kalau makanan yang disantapnya itu begitu nikmat. Apa lagi saat ini nafsu makannya mulai membaik, bahkan mulai di luar kendali.


"Ya ampun Ma, enak banget ya! Harus tahu resepnya nih, biar bisa bikin sendiri nanti di rumah!" ucap Yura very excited.


"Gampang, nanti kita bikin bareng ya!"


"Oke Ma!"


"Makanlah yang banyak!"


Nara senang melihat Yura begitu bahagia dengan makanannya. Belum juga habis kunyahan di mulutnya, Yura langsung melahap lagi suapan berikutnya, benar-benar bahagia. Ya, makanan enak memang salah satu yang bisa membuat insan bahagia.


"Setelah ini, kita mau makan apa lagi?" tanya Nara semangat.


"M, apa ya? Ini kan apperizer, berarti kita harus beralih ke main course Ma!"


"Heum, okay, gimana kalau kita makan nasi liwet di rumah makan favorit Mama sama Papa kalau ke Bandung!" usul Nara, Yura sih setuju-setuju saja, untuknya saat ini semua makanan terasa enak.


"Waah, pasti enak tuh!"


"Bukan lagi! Nasi yang di kasih daun rempah dan biasanya lauknya tuh ikan atau ayam bakar plus berbagai macam sambal yang menggugah selera!"

__ADS_1


"Ya ampun Ma, baru juga aku menghabiskan sepiring batagor ini, aku jadi laper lagi!"


"Gak apa-apa sayang! Kamu memang harus makan banyak! Biar gak mudah cape ya!"


"Tapi ... timbanganku tiap hari makin naik lho Ma! Aku jadi insecure kalau lihat perubahanku saat ini!" keluh Yura. Nara sangat mengerti, dia ingat sekali kalau dirinya juga dulu pernah mengalami hal itu.


"Jangan insecure sayang! Look at you! Kamu terlihat lebih cantik dari sebelumnya, kalau gak percaya coba tanya Arkan sendiri! Tanya dan dapatkan jawabannya, dia pasti juga setuju dengan pendapat Mama karena kenyataannya kamu semakin dan semakin cantik dari biasanya!"


'Ya Tuhan, Mama sama anak paling bisa bikin aku tersanjung ke level tertinggi! Tapi, makasih ya Ma, kehadiran Mama mampu mengobati rasa rinduku pada orang-orang baik yang sudah pergi dari kehidupanku! Ayah ... Ibu Lulu ... aku sangat merindukan mereka tapi kasih sayang Mama Nara sudah cukup mengobati rasa rinduku!' batin Yura, sangat dalam sampai tanpa sadar dia hampir membuat matanya berkaca-kaca.


"Ayo kita lanjutkan perjalanan kuliner kita!" ajak Nara.


"Ayo Ma! Tapi, Papa gak di ajak?"


"Dia mah tidur, pulas, gak bisa diganggu! Lagian kalau jalan sama Papa Azka tuh gak bisa santai, ya begitulah kaum Bapak! Gak akan mengerti kesenangan kaum Ibu kalau lagi hang out, iyakan?" jawab Nara, relate sekali sampai membuat Yura terkekeh, sebenarnya Arkan juga seperti itu. Saat para pria belanja, mereka akan suka, cek, bayar. Lain halnya dengan perempuan, lihat, suka, cek berkali-kali, coba, cek lagi, cek harga, cek motif lain dan begitulah.


Nara dan Yura hanya tertawa saat menceritakan hal itu. Apa yang mereka obrolkan adalah obrolan ringan sehari-hari yang membuat hubungan mereka semakin dan semakin erat.


Selesai memuaskan hasrat makan mereka. Selanjutnya mereka berbelanja sepuas hati. Kota Bandung adalah salah satu surganya belanja fashion dan itulah yang Nara sukai setiap pergi ke Bandung. Dan kali ini lebih menyenangkan karena ia ditemani oleh menantunya.


"Yura, lihat ini ... gemas deh!" kata Nara sembari menunjukan sepatu bayi imut bergaya sneaker.


"Ya ampun, imut banget Ma! Kita harus membelinya!"


"Ya! Kita harus membelinya beberapa pasang dan beberapa warna!"


"Iya Ma, dan Mama tahu gak, aku merasa ... ada dua bayi yang bergerak-gerak dalam perutku belakangan ini," ungkap Yura, Nara senang bukan main mendengarnya.


"Yang benar? Kamu sudah pastikan?"


"Belum sih, hehe! Entahlah, atau mungkin karena gerakannya yang sangat aktif!"


"Yura, andai benar janin yang kamu kandung ini adalah kembar, Mama sangat bahagia! Entahlah, entah harus dengan cara apa lagi Mama bersyukur atas anugrah Tuhan!"


"Iya Ma, tapi gak tahu juga sih, soalnya belum chek up lagi!"


"Tapi yang paling penting, kalian tetap sehat! Ya?"


Yura mengangguk kemudian tersenyum lepas, bahagianya sepanjang hari ini. Dan mereka mengakhiri kesenangan hari ini dengan menonton pertandingan Arkan di gedung olah raga, sungguh hari panjang yang melelahkan tapi menyenangkan.


***


"Sejak awal terdeteksi, embrio dalam rahim kamu itu tunggal! Wajar kalau dia bergerak sangat aktif, dia berjenis kelamin laki-laki! Dia sangat sehat! Jangan terlalu banyak mengkhawatirkan sesuatu ya, tetaplah berpikiran poisitif!"


Selepas chek up, Yura malah terlihat bete. Sejak beberapa hari lalu dia menganggap kalau janin yang ada di dalam rahimnya adalah ganda atau kembar tapi ternyata kenyataannya tak sesuai ekspektasi. Mungkin Yura kecewa dengan dirinya sendiri yang telalu banyak berharap. Arkan bisa melihat kekecewaannya dengan jelas.


"Kamu kenapa? Kok kayak yang gak senang, anak kita sehat! Perkembangannya sangat baik! Kenapa?" tanya Arkan lalu menarik tangan Yura yang tampak kecewa itu lalu menggenggamnya.


"Aku kira ada bayi kembar disini, ternyata ...."


"lho, kenapa kamu kecewa? Kita harus tetap mensyukurinya kan?"


"Tapi aku udah terlanjur berharap!"


"Sayang, kembar ataupun tunggal, ini adalah anugrah! Semangat dong! Kamu gak boleh sedih-sedih! Kamu harus tetap semangat, ya?" bujuk Arkan, Arkan mengerti, Yura hanyalah orang biasa yang kecewa karena fakta yang ia dapat tak sesuai ekspektasinya.


"Iya!"


"Mau ice cream?" tawari Arkan seperti membujuk anak kecil untuk tak merajuk lagi. Yura hanya tersenyum geli, Arkan memang paling bisa membuat mood-nya bangkit kembali.

__ADS_1


"Mauuu!" jawabnya manja.


Sudahlah, pikir Yura. Apapun yang Tuhan berikan adalah yang terbaik. Yura pun jadi belajar bahwa terlalu berharap akan membuat kita kecewa saat harapan itu tak sesuai ekspektasi.


Dan hasilnya, satu scoop ice cream dengan waflle dan toping lainnya siap dinikmati. Arkan tahu ice cream selalu bisa membuat istrinya merasa lebih relax. Arkan sangat mengerti kalau beberapa hari sebelum chek up, Yura selalu merasa kalau calon anak mereka adalah kembar namun kenyataannya bukan.


"Jangan sedih-sedih lagi ya!" kata Arkan sembari menonton Yura menyendok sendok demi sendok ice creamnya.


"Iya, maaf juga ya karena aku terlalu berlebihan! Seharusnya aku menerima semuanya dengan rasa syukur!"


"Gak apa-apa, wajar juga kalau kamu kecewa, tapi gak boleh berlarut-larut! Oke?"


"Iya sayang!"


Tak sengaja mata Yura menangkap dua sosok yang tak asing untuknya. Dua sosok yang sempat selalu membuatnya takut dan cemas. Ahsan dan Alana.


Kini keduanya pun menyadari keberadaan Yura dan Arkan dan pada akhirnya, mereka pun duduk bersama. Situasi agak canggung, tapi yang pasti Alana sedikit terlihat lebih tenang saat ini.


"Kalian pantas bahagia!" ucap Alana, Yura maupun Arkan terkejut. Mereka terkejut dengan sikap Alana yang terkesan sudah menerima pernikahan Arkan dan Yura walau sepertinya memang belum sepenuh hati.


"Kak, Kak Alana juga akan segera mendapatkan kebahagiaan seperti yang kami rasakan saat ini!" Yura memberanikan diri untuk bicara, bicara dengan hati-hati,Yura tahu kalau Alana masih cukup rapuh.


"Iya Yura, maaf ya! Maaf kalau selama ini aku selalu menyimpan rasa iri dan dengki terhadap kamu! Selama ini aku selalu menyalahkan kamu! Padahal, ini semua jelas, semua ini salahku, karena terlalu berharap pada Arkan dan sebenarnya sejak dulu ... Arkan sudah memintaku buat gak mendekat lagi! Aku yang bodoh! Aku yang terus memaksa Arkan buat bisa mencintai aku lagi seperti dulu!" tutur Alana, lirih namun mencoba sadar akan kesalahannya. Yura jadi kasihan, dia hargai pengakuan Alana dan Yura pikir Alana memang sudah benar-benar sadar sekarang.


"Jangan nyalahin diri sendiri kayak gitu Kak! Sekarang Kakak harus bangkit, kebahagiaan sedang menunggu Kakak di depan sana!" semangati Yura.


"Iya Yura, makasih banyak ya, selama ini kamu gak pernah membalas kata-kata kasarku! Sekarang aku sadar dan aku jadi sangat malu!"


Yura mengangguk lalu mengukir senyum untuk meyakinkan Alana kalau dirinya sudah melupakan apapun yang terjadi di masa lalu. Arkan hanya diam, dia senang istrinya bisa berbesar hati dan menanggapi permintaan maaf Alana dengan bijak.


Sedangkan Ahsan, mungkin dia sedang menerima tulah atas sikap buruknya terhadap Yura berbulan-bulan yang lalu. Sikap pongahnya kini hilang bak ditelan bumi. Ahsan malah merasakan rasa suka yang teramat dalam namun ia sadar itu sangat percuma. Arkan telah memiliki hati Han Yura, Arkan telah menjaganya dengan baik sehingga tak akan ada pengganggu yang mampu menghancurkan keutuhan rumah tangga mereka.


"Aku sudah putuskan! Aku akan ikut orang tuaku ke Swiss! Mungkin kita gak akan bertemu untuk waktu yang lama! Tapi, aku senang, aku senang karena aku bisa minta maaf secera langsung seperti ini sama kamu, sama Arkan! Rasanya ... rasanya lega sekali," tutur Alana lagi, dia benar-benar menanggalkan keangkuhannya sore ini. Tak ada lagi Alana yang bersikeras merebut hati Arkan.


"Benarkah?" yakinkan Yura.


"Ya, besok aku berangkat!"


Yura sejenak melirik ke arah Ahsan. Ya, seminggu yang lalu Ahsan pernah mengatakannya. Ternyata benar kalai Alana memang akan pergi ke Swiss.


"Dimana pun kamu berada, semoga kamu selalu bahagia!"


"Iya, makasih Yura, let me hold you!"


Yura tersenyum dan mereka bisa berpelukan sekarang. Perjalanan yang panjang dan terjal sampai mereka bisa berpelukan hangat seperti sekarang ini. Arkan maupun Ahsan begitu merasa damai melihatnya. Akhirnya riak kecil yang hampir menjadi gulungan gelombang itu kini mereda. Situasi kembali tenang. Tak ada lagi benci dan tak ada lagi dendam.


"Maafin gue bro!" kata Ahsan lalu menyodorkan kepalan tangannya ke arah Arkan yang duduk di sisi Yura, Arkan membalasnya, mereka beradu tos sebagai tanda kalau di antara mereka juga sudah tak ada dendam dan benci lagi, benar-benar sudah clear.


"Ya, gue juga!"


Yura senang sekali, pergelutan emosi yang selama ini terjadi berakhir dengan pelukan hangat dan tos damai. Mereka berempat berbahagia di sore yang cerah ini.


"Aah iya, ngomong-ngomong berapa lama lagi anak kalian lahir?" Alana berganti topik, membuat yang awalnya mengharu biru menjadi lebih cair. Dia tak segan mengelus perut perempuan yang sempat membuatnya membenci itu.


"Sekitar 3 bulan lagi kak!"


"Aaaah, gak sabar ya rasanya! Selamat ya buat kalian berdua!"


"Iya Kak, makasih ya!"

__ADS_1


'Akhirnya ....' batin Yura.


__ADS_2