Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Double date


__ADS_3

Ting tong


Arkan berdiri tepat di depan pintu rumah Alana dan tak lama pintunya terbuka.


CKTT


Mata bulat itu, hidung mancung itu, senyum gigi kelinci itu, pipi merah merona itu adalah gambaran sempurna seorang gadis remaja yang selama ini Arkan kagumi. Walau belakangan ada yang mengalihkan perhatiannya itu tapi kini hati Arkan mulai tergugah lagi.


"Hai," sapa Alana dengan mimik muka malas, dia tak merasa surprise karena dia masih kesal dengan anak lelaki jangkung itu.


"Keita on the way, kamu siap-siap dulu ya." kata Arkan, ya Arkan memang begitu, walau cukup terpana tapi dia tak memperlihatkannya di depan siapapun, Arkan memang pandai menyembunyikan perasaannya.


"Udah siap sih, tinggal ambil tas! Kamu duduk dulu aja, aku ambilin minum!" kata Alana.


"Gak usah,"


"Kamu naik apa kesini?"


"Naik ojol."


"Oh, tangan kamu luka kenapa sih? Cedera pas main basket?" tanya Alana, dia memang cerewet dan itu sudah menjadi karakternya.


"Nanti aja ya ceritanya."


TIDIIIT TIDIIIT


Mobil Keita sudah menepi di depan pagar rumah Alana, kemudian Keita membukakan jendela mobil Yura dengan begitu Arkan dan Alana bisa melihat Yura dan Keita cukup jelas.


"Itu pacar Keita?" tanya Alana, dengan berat hati Arkan mengangguk.


"Ya udah aku bawa tas dulu ya,"


Alana pamit sebentar dan Arkan segera berjalan menghampiri mobil yang sudah menepi itu.


Arkan benci harus melihat Yura duduk di seat depan di samping Keita seperti itu, walau saat ini dia akan ditemani Alana tapu perasaannya berbeda sekali saat ini.


"Kak Arkan duduk di depan aja," kata Yura menawarkan tempat duduknya.


"Gak usah, gue di belakang aja sama Alana." sahutnya.


Dan tak lama Alana muncul dengan langkah seribunya.


"Yuk," dan dia siap, Arkan bukakan pintu untuk Alana.

__ADS_1


GRUUUNG


Mereka meluncur, menikmati akhir pekan dengan berencana menghabiskan waktu di satu tempat teduh yang tak terlalu jauh dari Jakarta.


Alana tak mencoba Akrab dengan Yura, dia merasa Yura telah mengambil perhatian Keita dan Arkan yang dulu sangat solid dengannya.


"Udah dapat aja dari Korea Al?" tanya Keita dengan sedikit nada gurauan, ya dulu mereka memang sudah sangat akrab.


"Banyak lah, pengalaman, pelajaran! Tapi rasanya aku udah kehilangan sesuatu disini," jawabnya lalu manik matanya bergulir ke sisi Arkan yang duduk di sebelah kirinya.


"Heum, tenang aja Al, selama ini Arkan setia! Si Keyla si Amanda, lewat! Gak ada yang berhasil meruntuhkan kesetiaannya sama lo!" sahut Keita mencoba menaikan moodnya lagi.


"Oh ya?"


"Iya lah! Arkan cuma untuk Alana dan begitu pun sebaliknya!" goda Keita, Alana hanya tersenyum hambar dan merasakan Arkan yang malah abai dan lebih asyik dengan game di gawainya.


Dan begitulah, selama lebih dari dua jam perjalanan akhirnya mereka sampai di sebuah objek wisata alam di daerah bekasi. Begitu turun dari mobil, aroma dedaunan yang memasok oksigen langsung menyeruak menyegarkan hari-hari yang penat pagi orang perkotaan seperti mereka.


Keita membantu Yura keluar, menyiapkan tongkatnya lalu membantunya berdiri. Alana menyaksikan itu dan dia iri, dia iri karena Arkan tak bertindak semanis itu.


"Hati-hati," gumam Keita sampai akhirnya Yura berhasil berdiri tegak dengan tongkatnya itu.


"Dia kenapa?" tanya Alana pelan pada Arkan.


"Kok bisa kebetulan, kamu luka di tangan dan dia luka di kaki!" sahutnya sinis.


"Heh," Arkan tak memikirkan sejauh itu dan dia hanya tersenyum hambar.


Mereka berjalan beriringan, menikmati panorama yang di dominasi dengan warna hijau yang menenangkan jiwa.


"Seger banget ya," ungkap Yura yang merasa sangat damai ada di bawah pohon-pohon menjulang tinggi yang meneduhkan terik di sore yang cerah ceria ini.


"Ya cocok banget buat kita-kita yang tiap harinya cuma berteman sama asap kendaraan bermotor, hehe." sahut Keita bercanda.


"Bener banget!"


"Aku baru tahu tempat ini," kata Alana kali ini.


"Gue juga baru sih, padahal gak terlalu jauh dari jakarta tapi kok baru tahu ada tempat secozy ini disini!" sahut Keita.


"Ya, daripada ngemall-ngemall terus sih, ini alternatif wisata sederhana yang menyenangkan!"


Heum, Keita menahan langkah lalu sejenak menyusun rencana.

__ADS_1


"Gue sama Yura mau kesana, kalian mau cari spot lain?" tanya Keita, Alana hanya mengangguk begitu pun dengan Arkan.


Atmosper Arkan Alana dan atmosfer yang Keita dan Yura rasakan sungguh jauh berbeda. Arkan dan Alana malah tampak kaku dan dingin, beda dengan Keita dan Yura yang begitu menikmati kebersamaan mereka.


Dan berkali-kali Alana melihat Arkan melirik kearah pasangan yang tengah kasmaran itu, Alana merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan perasaan Arkan.


"Apa dia siswi baru di sekolah?" tanya Alana tiba-tiba.


"Bukan, dia satu tingkat di bawah kami," sahut Arkan lalu kembali fokus dengan gawainya.


Alana melirik lagi ke arah Keita dan Yura yang tengah asyik berswapoto dan duduk-duduk santai di atas hamoc yang terikat di antara dua pepohonan, sementara saat ini dirinya dan Arkan sudah naik di salah satu rumah pohon.


"Kok tahun lalu aku rasanya gak pernah lihat dia," kata Alana lagi, berkali-kali mencoba mencairkan suasana kebersamaannya bersama Arkan.


"Dia gak terlalu menonjol di sekolah,"


"Oh, pantesan aja, terus gimana bisa Keita ketemu sama dia? Kelihatannya si Kei benar-benar tertarik dengan dia!"


Arkan tak menjawab, dia merasa yang lebih dulu menemukan Yura adalah dirinya, dan dia menyesal karena sudah melewatkan kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan Yura.


"Aah iya, kamu juga belum jawab, tangan kamu luka kenapa?" sungguh hari ini Alana benar-benar seperti wartawan yang terus menerus mengajukan beberapa pertanyaan pada Arkan.


Arkan membuka jaketnya, lalu dia menyingkap lengan t-shirtnya dan memperlihatkan luka bekas jahitan yang belum begitu kering itu, Alana langsung meringis, dia kini tahu kalau Arkan tak berbohong. Sejak tadi dia berpikir kalau Arkan sengaja mencari-cari alasan agar tak menjemputnya di Bandara.


"Astaga, Arkaaan, ini kenapa? Ya ampun berapa jahitan ini?" hentaknya, dia terlihat sangat panik dan Arkan lekas menutup kembali lengannya yang luka itu.


"Aku kena bacok anak-anak SMA sebelah!"


"Astaga, ya Tuhan! Arkan sayang, aku kira tadi kamu bohong lho, maafin aku yaa, maafin aku!" kata Alana lalu spontan dia memeluk Arkan di atas rumah pohon itu dan di momen yang sama Yura tak sengaja melihat pemandangan itu.


'Cocok banget!' batinnya, ada rasa iri terbesit dalam benaknya.


"Yur," tapi kemudian Keita menarik jari-jemarinya.


"I-iya Kak," sahutnya gugup, dia sudah menduga kalau saat ini Keita akan segera mengungkapkan maksud harinya.


"Langsung aja ya, gak usah basa-basi lagi?"


"M, iya ... kenapa?"


"Lo udah tahukan kalau gue suka sama lo?" tanya Keita dan Yura hanya tersenyum malu-malu.


"Gue, gue ... gue mau minta jawaban dari lo, singkat dan jelas saja, gak usah mikir lagi ya karena gue udah pernah tanya ini sebelumnya di Rumah sakit! Yur, lo mau gak jadi pacar gue?"

__ADS_1


Yura tahu pertanyaan itu lah yang akan Keita ajukan, dia masih ragu tapi saat dia lihat sorot mata Keita lalu sejenak dia juga melihat kebersamaan Arkan dan Alana yang semakin lama semakin cair, dia pikir dia sudah dapat jawabab pastinya.


__ADS_2