Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
ADA APA DENGAN AHSAN?


__ADS_3

Tak ada lagi ketakutan yang tersisa. Yura yakin kalau Arkan akan lebih percaya padanya apapun yang terjadi nantinya.


Seperti biasa, Arkan mengantar Yura pulang sampai ke depan kamar hotelnya, hanya sampai di depan kamar hotelnya saja.


"Besok pagi aku ada latihan, kamu pergi ke Bandara sendiri gak apa-apa kan?" tanya Arkan.


"Iya, Kak Arkan harus tetap fokus pada pertandingan! Semangat ya!" kata Yura, Arkan mengangguk. Satu hari yang manis di kota Pahlawan, Surabaya.


Setelah selesai berpamitan, Yura daratkan lagi tubuhnya yang lelah di atas tempat tidur. Seharian berjalan-jalan bersama Arkan membuatnya kelelahan tapi selebihnya dia merasa sangat bahagia.


'Kamu harus percaya aku, dan aku akan percaya kamu!' batinnya lalu perlahan dia pejamkan matanya.


TOK TOK, sampai beberapa menit kemudian ada seseorang mengetuk pintu kamarnya. Yura tak tahu itu siapa, apa Arkan kembali lagi mengetuk pintu? Untuk apa? Tanya Yura dalam hati sembari perlahan dia berjalan lalu membukakan pintu.


"Kak Keyla ...." sapa Yura, ternyata yang datang Keyla.


"Apa aku mengganggu waktu istirahat kamu?" tanya Keyla mencoba bersikap ramah walau jelas kalau dia sebenarnya selalu iri dengan Yura.


"Nggak kok, masuk yuk ...." ajak Yura pleasure. Kayla pun masuk mengikuti langkah Yura sampai mereka duduk di sepasang sofa kecil yang ada di tengah ruang kamar hotel itu.


"Kapan kamu pulang ke Jakarta? Apa kamu mau tetap disini sampai pertandingan Arkan selesai?" tanya Keyla memulai obrolan.


"Besok pagi Kak! Maunya begitu sih, tapi ... aku juga kan punya urusan di Jakarta," sahut Yura.


"Huh, kamu ini ... kenapa kamu bisa sefenomenal ini ya ...." kata Keyla dengan nada sinis, tapi Yura tak menyadari sarkasme Keyla, dia memang kadang selalu melihat seseorang dari sisi positivnya saja.


"Aah, Kak Keyla bisa saja ...."


"Han Yura ... kamu tahu ada berapa banyak hati yang terluka sama kamu?" tanya Keyla aneh, baru lah Yura menyadari ketidak sukaan Keyla. Yura hanya bisa diam.


"Kamu sudah memikat beberapa orang, entah apa yang mereka lihat dari kamu! Dan sekarang Arkan, bahkan kamu merebutnya secara ilegal dari Alana!" kata-kata Keyla semakin sarkas, Yura mulai merasa rintangan datang lagi.


"Maaf Kak, aku gak merebutnya, Kak Arkan datang dengan sendirinya!" sahut Yura tegas, dia mulai berani menyuarakan haknya untuk tak dijadikan pihak yang bersalah secara terus menerus.


"Heh," Keyla malah tersenyum kecut.


"Itu kan menurut kamu!"


"Maaf kalau aku gak sopan menanyakan hal ini, terus tujuan Kak Keyla mendatangiku sekarang apa? Apa untuk memberi peringatan? Agar aku menjauhi Kak Arkan seperti yang lainnya lakukan?" Yura sungguh mencoba memberanikan dirinya, dia menggebrak rasa segan dan takutnya. Yura merasa ini sudah tiba waktunya dia menyuarakan haknya untuk memiliki siapapun yang menyayanginya.


Sepertinya Yura benar-bebar belajar dari pengalamannya saat harus kehilangan Keita. Kini Yura tak akan diam saja, Yura akan memperjuangkan keadilan untuk dirinya sendiri.


"Apa maksud kamu, seperti yang orang lain lakukan?"


"Aku kehilangan Kak Keita demi menghargai Kak Dara! Dan untuk sekarang ini ... aku gak mau melakukan kebodohan itu lagi Kak!" tegas Yura.


"Huh, beraninya kamu bicara begitu di depanku!"


"Maaf Kak, aku gak bermaksud begitu kok!"


"Aku tahu maksud kamu Han Yura! Kamu hanya perlu berhati-hati, jalanmu gak akan pernah berjalan mulus!"


Yura hanya mampu mengelus dada, kadang dia tak mengerti kenapa begitu banyak yang menginginkannya menderita, Yura sangat tak mengerti.


Keyla menatap Yura dalam sekali, sampai Yura merasakan kebencian yang dalam tapi sekali lagi Yura ingat, dia sudah tak akan merasakan kegetiran lagi. Yura percaya pada Arkan dan Arkan juga akan selalu percaya pada Yura. Yura tak peduli lagi dengan aral yang membentang di hadapannya, rasa saling percaya itu akan selalu menguatkan keyakinannya.


***


Dari Bandara, Yura malah langsung ke tokonya. Dia ingin segera bertemu dengan Alika, sahabat terbaiknya yang selama ini selalu memberinya dukungan moril maupun dukungan materil.


"Ini handphone kamu, makasih banyak ya Al, berkat dorongan kamu, aku bisa melewati masalah pelik itu! Makasih banyak Al!" kata Yura lalu dia berikan kembali ponsel milik Alika.


"Iya Yur! Kamu gak boleh lemah, melawan itu bukan berarti kita berlaku keras, kita juga perlu memperjuangkan kebahagiaan kita sendiri! Jangan mengalah terus!"


Yura tersenyum pada Alika, senang sekali rasanya punya teman sebaik dia. Saat ada di dekat Alika, Yura tak merasa gundah, karena teman baik lebih berharga dari pada harus terpuruk karena ulah seorang pembenci.

__ADS_1


"Oh iya Yur, kemarin si Ahsan kesini!"


Yura terdiam sejenak, walau masih tak habis pikir tapi Yura sudah kuatkan tekadnya untuk tak mempedulikan Ahsan lagi.


"Terus, dia tahu aku pergi ke Surabaya?" tanya Yura.


"Iya, aku kasih tahu! Biar sekalian dia tahu kalau kamu gak selemah yang dia kira! Dia pikir kamu akan terpuruk dan menangis di pojokan? No way! Han Yura gak akan membiarkan pengganggu mengusik kebahagiaannya lagi! Betulkan?" jawab Alika penuh semangat, Yura hanya tersenyum mendengarnya.


"Betul sekali! Dan kamu tahu gak Al, Kak Arkan ...." Yura hendak mengungkapkan sesuatu, tapi tiba-tiba tertahan di bibirnya, Alika jadi penasaran.


"Kenapa? Kak Arkan kenapa?"


"Dia ... katanya dia mau lamar aku saat kompetisi musim ini selesai!" ungkap Yura malu-malu, dan Alika bersiap untuk bersorak sorai ria.


"Benarkah? Waaah ... itu adalah keputusan yang paling tepat Yur! Aku ngerti kenapa Kak Arkan ambil keputusan ini, karena dia pengen jagain kamu dengan lebih leluasa, dan karena dia juga gak mau kehilangan kamu Yur, iya kan?"


Yura anggukan kepalanya walau masih malu-malu, Alika kembali bersorak, dia merasakan kebahagiaan Yura dan tentunya dia juga ikut berbahagia.


"Aaaah, so sweet banget siiih, tapi by the way, selamat ya ... kamu pantas mendapatkan kebahagiaan ini Yur!"


Yura memeluk Alika, memeluk tubuhnya bersama ketulusannya. Bahagia rasanya dikelilingi orang baik sepertinya, pikir Yura.


***


Yura pulang ke Jakarta, Ahsan dan Alana pergi ke Surabaya. Mereka pikir Yura masih di Surabaya, mereka merasa main kucing-kucingan. Ahsan kesal bukan main.


"Udahlah Bang, ngapain sih masih ngurusin si Yura! Ya bagus dong kalau dia balik ke Jakarta, jadi gak ada yang ganggu lagi konsentrasi Arkan!" kata Alana, saat ini mereka sedang menikmati makan siang di Restaurant hotel Grand Pearl, hotel yang juga sempat Yura tempati.


"Kenapa Abang harus berurusan sama dia! Huh, awal bertemu aja udah nyebelin!" gerutu Ahsan kesal.


"Ya udah lah, gak usah urusi dia lagi, oke? Aku yakin kok, hubungan dia sama Arkan gak akan berlangsung lama! Biarkan alam yang bekerja Bang, mereka gak akan bertahan lama!" kata Alana penuh keyakinan.


"Bagaimana bisa kamu jadi seyakin itu?"


"Buktinya, sama aku aja cuma bisa sampai jadi sahabat, apa mungkin bisa si Yura memikat hati Arkan sampai dia mau menjalani hubungan yang serius? Arkan itu cowok yang cuek! Udah, biarin aja Bang!"


"Well, bagus sih kalau pikiranmu se-positif ini, tapi apa penyebabnya?"


"Entah, aku gak tahu ini akan seperti apa kedepannya, tapi aku yakin kalau Arkan pasti akan kembali ke pelukanku Bang! Bang Ahsan bisa lihat sendiri kan, perbedaanku dengan dia? Kentara kan? Sebentar lagi Arkan pasti akan berpaling lagi sama aku!" jawabnya penuh keyakinan, Ahsan malah merasa sangat getir.


'Entahlah Alana! Kamu memang bisa dibilang lebih unggul jika dipandang secara kasat mata, tapi ... Bahkan aku merasakan sesuatu yang lain darinya! Aaah, Ahsan! Sadarlah! Apa yang lo pikirkan!' ungkap Ahsan dalam hatinya. Apa maksud Ahsan? Apakah dia juga mulai merasakan sesuatu yang lain pada Yura? Apakah rasa benci Ahsan perlahan menjadi cinta? Jika iya, betapa menyesalnya Ahsan karena sudah melukai Yura sampai beberapa kali.


Ahsan sampai ingat bagaimana Yura memicingkan mata ke arahnya. Ahsan juga terbayang bagaimana raut wajah Yura yang lembut menyeringai kepadanya, tiba-tiba Ahsan terus terbanyang dengan Yura, ada apa dengan Ahsan sebenarnya?


"Bang, cepat habiskan makan siangmu! Kita akan cari atribut Sunrise dulu di sekitar Gedung Arena! hari ini mereka mulai bermain di jam 15.00 Bang!"


"Heum!" sahut Ahsan sembari mencoba menepis bayang-bayang Yura yang terus berputar-putar di sekitarnya.


Walau terpisah jarak, Yura masih bisa menyaksikan pertandingan Arkan lewat layar kaca. Dengan rasa bangga dia menantikan aksi kekasihnya di televisi yang menggantung di dinding tokonya. Selama matanya tertuju pada pertandingan, hatinya pun ikut berdoa agar Arkan dan team diberi kemenangan hari ini, maka rasa bangganya akan terus berlipat-lipat.


***


Krekk ... tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar hotel Ahsan. Ahsan yang kala itu terlelap sendirian perlahan membuka matanya yang masih ngantuk saat suara sepatu bersahutan di lantai kamarnya.


"Siapa itu?" tanya Ahsan mulai panik, dia amat sangat ketakutan.


"Apa kamu berniat mencelakakan saya, huh?" tanya seorang perempuan yang setengah badannya tertutup oleh kegelapan. Ahsan hanya mampu melihat setengah badannya saja dari bagian dada sampai kaki.


"Siapa kamu?" tanya Ahsan yang mulai ketakutan.


"Saya tahu niat busuk kamu! Bagaimana kalau pada akhirnya kamu jatuh cinta pada saya, huh? Apa kamu akan bisa menahannya?"


Tap ... tap ... tap, langkah perempuan dengan dress satin tipis itu mendekat, semakin mendekat dan penampakan wajahnya semakin jelas.


"Han Yura, ngapain kamu disini?"

__ADS_1


Ternyata yang datang Yura, Yura datang dengan lingeri tipis ke kamar hotel Ahsan membuat Ahsan terkaget dan bahkan Ahsan ketakutan.


"Saya cuma mau bilang, jangan ganggu-ganggu saya lagi! Atau saya akan menghukum kamu dengan membuat kamu jatuh cinta pada saya, mau?" ancam Yura, dia tampak konyol sekali malam ini.


"Apa-apaan kamu hey!" tanya Ahsan yang semakin panik. Yura bahkan berani naik ke atas tempat tidur Ahsan sambil merangkak mendekat membuat Ahsan ada dalam tekanan yang nyata.


"Jangan ganggu saya!"


"Kamu yang sudah ganggu waktu istirahat saya! Sana! Sana pergi, kamu benar-benar menakuti saya!" usir Ahsan, malam ini dia dibuat tak berdaya oleh kehadiran Yura.


"Kamu harus terjebak! Kamu harus merasakan akibatnya sudah main-main dengan Han Yura!" kata Yura yang semakin lancang, bahkan dia berani duduk di atas pangkuan Ahsan. Malam ini Yura terlihat sangat liar, entah apa maunya.


"Apa kamu sudah gila Han Yura? Turun! Saya bilang turun!"


Yura malah mendekatkan wajahnya, semakin mendekat dan bibirnya yang merah bagai mawar merah yang rekah semakin mendekat ke rahang tegas Ahsan.


"Han Yura!"


Haaaah, huu ... huuuh ....


Ahsan terbangun, sekujur tubuhnya berkeringat. Dia sendiri merasa heran kenapa dia harus mimpi aneh bersama Yura, gadis yang ingin sekali dia hancurkan saat ini.


Ahsan setengah bangkit lalu bersandar pada dipannya, dia tak habis pikir dengan mimpinya sendiri.


"Sialan! Kenapa dia hadir dalam mimpi gue?" gerutunya kesal. Bahkan setelah mimpi itu selesai Ahsan sampai tak bisa membuat bayangan Yura enyah dari pikirannya.


Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Ahsan mulai merasakan perasaan yang aneh terhadap Yura? Tapi, sekuat hati dia selalu menyangkalnya.


Ahsan bangkit, dia mengambil sebotol air mineral dan meminum setengah botol dalam satu kali tegukan.


Bahkan sampai pagi pun Ahsan tak bisa tertidur lagi. Alhasil dia meninggalkan mata yang lelah dan Alana bisa melihatnya dengan jelas. Ahsan putuskan untuk memakai kacamata, dia merasa sangat kusut sebab terlalu banyak memikirkan Yura semalaman.


"Udah, buka aja kacamatanya Bang! Coba cerita, apa yang membuatmu tak bisa tidur semalaman?" tanya Alana yang sudah menikmati sarapannya sejak tadi. Ahsan malah diam saja bersandar di kursinya. Ahsan tampak bad mood sekali.


"Bang!"


"Udah, cepat habiskan sarapannya!"


"Sore ini adalah pertandingan terakhir Arkan, kita harus datang lebih awal untuk mendapat seat terdepan Bang!"


"Heum!"


"Eh, itu Keyla deh, apa dia masih ada pekerjaan disini?" sadari Alana saat Keyla masuk ke restauran yang sama, Alana langsung melambai-lambaikan tangannya dengan girang, Ahsan tetap bersikap cuek.


Keyla yang menyadari kehadiran Alana langsung berjalan menghampiri dan duduk bergabung.


"Sejak kapan Kak Alana disini?" tanya Keyla menyapa.


"Dari kemarin sih, kita berdua sengaja ngambil pertandingan ke-2 dan ke-3, biar lebih jelas aja hasilnya!" jawab Alana penuh semangat.


"Oh, iya sih!"


"Kamu, sejak kapan?"


"Aku datang hampir barengan sama kedatangan team Sunrise! Pekan ini cuma ada sedikit pekerjaan makanya aku stay untuk beberapa hari lagi sekalian nonton Arkan bertanding!"


"Heum,kebetulan banget ya, ada pekerjaan di kota yang sama, jadi bisa sekalian dukum mantan teman SMA, so precious!"


"Ya, begitu lah!"


Keyla juga sempat melirik ke arah Ahsan yang cuek terhadapnya. Sebelumnya Alana sempat berniat untuk mendekatkan Keyla dan Ahsan tapi Ahsan tak merespon niat baik adiknya itu.


"Kalian itu akur terus deh! Senang rasanya punya saudara yang perhatian dan care satu sama lain kayak kalian ini!" ungkap Keyla dan Ahsan sama sekali tak menukas. Alana sebenarnya kesal dengan sikap dingin Ahsan.


"Ya gitu deh Key ... bla ... bla ... bla,"

__ADS_1


Keyla dan Alana asyik berbincang sementara Ahsan tetap sunyi, dan diam-diam dia sedang memikirkan seseorang.


'Han Yura! Kenapa lo begitu frontal mengganggu mental gue, huh?' batinnya kesal. Ternyata sejak tadi, Yura lah yang ada di pikiran Ahsan, ada apa dengan Ahsan? Apa dia benar-benar mulai tertarik dengan Han Yura?


__ADS_2