
TIDIIIIT TIDIIT
Yura baru saja mengunci pintu rumah dan dia dengar suara klakson begitu lantang dari arah luar gerbang. Yura berjalan dan segera mencari tahu siapa yang sudah membuat suara gaduh itu.
Ada sebuah mobil terparkir, Yura belum tahu pasti siapa yang ada di dalamnya. Dan beberapa saat kemudian, seorang pria tinggi keluar dari kemudi di sisi kanan. Yura berdecak dan kini dia tahu siapa yang membunyikan klakson tadi.
" Kak Arkan," sapanya, senang sekali rasanya melihat Arkan petang ini. Apakah Arkan sengaja menjemputnya? Pikir Yura.
"Sudah siap? Maksuklah!" kata Arkan lalu dia kembali masuk ke dalam mobilnya, tanpa berlama-lama lagi Yura pun masuk di seat depan.
Sebenarnya sudah lama sekali dia tak memiliki waktu bersama Arkan. Mereka sudah punya kesibukan masing-masing. Terakhir bertemu adalah beberapa minggu lalu saat Arkan hendak menemui Yuki sebelum dia benar-benar masuk squad Sunrise.
Arkan mulai melaju membawa gadis yang sempat membuatnya menggila dalam diam. Entah saat ini, apakah Arkan masih menyimpan perasaan itu? Atau sudah mulai pudar seiring berjalannya waktu?
Setiap kebersamaan selalu terasa canggung, sudah lama sekali mereka tak bersama seperti ini.
"Apa si Kei masih intens ngasih kabar sama lo?" tanya Arkan akhirnya memulai obrolan.
"Iya Kak masih, heum beberapa hari lagi hari ulang tahunnya, sayang tahun ini kami tetap tak bisa merayakannya bersama-sama secara langsung," sahut Yura dan tiba-tiba dia merasa lesu.
Arkan melirik, dia yakin kalau Yura memang sudah benar-benar memantapkan hatinya untuk Keita. Dia merasa sudah benar-benar tak ada kesempatan untuknya tapi never mind, sudah mendapat kontrak dari Sunrise sudah lumayan membuatnya lupa akan perasaan itu.
"Ada rencana?" tanya Arkan.
"Eumm, ada sih. Rencananya aku mau kasih kejutan virtual buat dia, hehe," jawab Yura lalu kemudian dia tertawa malu-malu, dan sepertinya Arkan kembali merasa iri.
"Menarik."
"Gak tanya apa rencana yang udah aku siapkan nanti?" tanya Yura menggoda, Arkan sebenarnya malas tapi akhirnya dia tanya saja sebagai bentuk penghargaan untuk Yura, "apa?"
"Aku mau bikin cake sendiri terus aku akan persembahkan cakenya via video call, maunya sih aku juga mau tampil beda jadi semacam dinner virtual gitu, entahlah ... masih ada waktu dua hari lagi buat menyempurnakan rencana itu," cerita Yura dengan penuh semangat.
__ADS_1
Arkan hanya tersenyum getir, dia mulai berpikir lagi 'andai gue yang ada di posisi itu!' tapi Arkan segera buang jauh-jauh lagi pikiran liar itu, dia akan fokus pada karirnya.
"Oh iya Kak, apa aku cari outfitnya di butik kak Alana aja ya? Mahal-mahal gak sih harganya? Secara, barang-barang rancangannya itu bagus-bagus," cetus Yura, dia terlihat ragu.
"Coba aja, mau gue antar?" tawarkan Arkan.
"Eum, gak tahu sih."
"Kita kesana sekarang," putuskan Arkan.
"Tapi, Papa Mama kamu udah nunggu kan?"
"Belanjanya jangan lama-lama!"
"Heum, oke deh. Makasih ya Kak sebelumnya."
Dan akhirnya Arkan putuskan untuk mengantar Yura menuju butik gadis yang selama ini dekat dengannya. Bagaimana reaksi Alana saat nanti dia tahu Arkan datang bersama Yura?
Alana hanya berdiri termangu di depan dinding kaca besar di butiknya. Ada beberapa pelanggan yang sedang berkunjung dan sudah dihandle oleh beberapa pegawainya.
'Arkaaan,' batinnya penuh suka cita, senyum manisnya terbit bagai matahari yang terbit dari ufuk timur dan seketika itu pudar dalam hitungan detik begitu dia melihat Yura juga turun dari mobil Arkan.
Rasa jealous langsung menguasai hatinya, walau sudah lama tak bertemu tapi Alana ingat kalau Yura adalah pacarnya Keita.
"Waaah, keren banget ya Kak Alana punya usaha sendiri dari passionnya sendiri," ungkap Yura bangga dan dia juga berharap suatu hari dia bisa seperti Alana.
"Lo juga pasti bisa!" sahut Arkan, walau tak ada aksen berarti tapi kata-kata Arkan adalah sebuah harapan yang langsung Yura amini dalam hatinya, 'aamiin.'
Keduanya mulai masuk, dan Alana menyambut dengan senyum masam. Yura takjub dengan semua rancangan Alana yang terpajang di manequin dan yang tergantung di hanger-hanger. Interior butik Alana juga sangat rapi dan classy membuat Yura termotivasi untuk mewujudkan mimpi-mimpinya juga.
'Waah, bisa gak ya aku punya ruang usaha seperti ini? Huh, pasti mendiang Ayah, mendiang Ibu, mendiang Ibu Lulu akan sangat bangga padaku!' batinnya dan masih melihat-lihat ke sekitarnya dengan kekaguman yang dalam.
__ADS_1
"Kok bisa kalian datang sama-sama?" tanya Alana dengan nada sinis, jelas terlihat kalau saat ini dia sangat tidak suka dengan keberadaan Yura.
"Dia butuh sesuatu buat dia pakai di hari ulang tahu Keita!" jawab Arkan jelas.
"I-iya Kak Alana, bagusnya aku pakai apa ya buat hari ulang tahun Kak Kei nanti," sambung Yura dengan sangat sopan, Yura masih merasa kalau Alana adalah Kakak kelas polulernya.
"Si Kei mau pulang dari UK?" tanya Alana heran.
"M, nggak sih, aku mau kasih dia kejutan virtual, hehe," jawab Yura malu-malu dan lagi-lagi Alana iri dengan sikap manis Yura. Dia iri karena dia tak bisa menjalani hubungan yang manis bersama Arkan selayaknya yang Yura dan Keita jalani selama ini.
"Oh, heum ... hebat ya kalian! LDR-an sampai tiga tahun lamanya, salut deh," puji Alana masih dengan nada sinis. Dia juga seperti sedang menyentil dan menyindir Arkan yang tak bisa dia miliki secara utuh.
"Ya, gitu deh Kak. Biarpun kami berjauhan tapi kami mencoba tetap saling percaya dan pengertian," sambut Yura.
"Cepetlah, Mama sama Papa udah nunggu kan?" kata Arkan mencoba menghindari obrolan yang sejak tadi terasa memojokannya.
"Iya Kak," sahut Yura.
"Pilihlah, nanti pegawaiku bisa bantu," kata Alana.
"Iya Kak, terima kasih." Yura berlalu menjauh dari Arkan dan Alana. Yura mulai memilih beberapa deretan dress di pojok butik.
Alana melirik sejenak dengan tatapan sinis dan Arkan bisa lihat itu dengan jelas. Kemudian Alana menatap Arkan.
"Dari mana mau kemana?" tanya Alana.
"Mama nyuruh jemput dia, kita mau makan malam sama-sama," jawabnya lugas, mendengar hal itu Alana malah semakin merasa tersisihkan.
"Waah, kayaknya dia udah berkesan banget ya di mata Mama Papa kamu?"
"Dia kan anaknya Tante Lulu sama Om Yuki, kami udah seperti keluarga kok."
__ADS_1
"Heum, gitu yaa, semoga dia bisa tetap setia sama si Keita!" ucapnya masih dengan nada sindir menyindir. Arkan sangat malas, dia semakin merasa kurang nyaman ada di dekat Alana. Dia merasa Alana selalu mengekang kebebasannya dan dia tak suka dengan hal itu. Mungkin itu adalah sebab kenapa Arkan masih menggantung statusnya selama bertahun-tahun.
Entahlan, entah seperti apa kisah cinta mereka semua nanti. Dan seiring berjalannya waktu, mereka pun semakin tumbuh dewasa dan tentu saja perasaan cinta mereka pun akan semakin dalam dan rumit.