Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Jelang


__ADS_3

Perut semakin membesar dan semakin banyak yang Nara rasakan. dia semakin sulit untuk beraktifitas tapi itu tidak mengurangi rasa bahagianya, dia nikmati semuanya. dia tidak mengkhawatirkan apapun selama Azka setia disampingnya.


Musim baru kompetisi sudah berlangsung dan Azka mulai disibukan dengan latihan rutin, dia mulai banyak meninggalkan Nara dirumah, tapi mereka sepakat untuk mempekerjakan seorang ART untuk membantu pekerjaan sehari-hari dirumah.


Nara duduk nyaman disofa menonton tayangan televisi, sebenarnya dia agak bosan. matanya sangat berat, hari-hari dia lewati dengan menonton atau mencari sesuatu di layar ponsel.


"huhhh.." dengusnya.


Bi Marni datang menghampiri membawakan cemilan dan segelas susu pada Nara.


"sini bi, duduk disini.." kata Nara mengajak bi Marni untuk duduk disampingnya.


"iya kenapa non, apa non merasa sakit?" tanya Bi Marni panik, dia memang selalu mencoba siaga.


"nggak kok bi, temenin saya nonton.."


"oh.. bibi kira .."


Bi marni duduk disamping Nara..


"kakinya pasti pegelkan non.. sini biar bibi pijitin.." tawarkan Bi Marni, Nara senang dengan tawaran itu.


"boleh?"


"ya boleh atuh non, sini kakinya.. selonjorin ke pangkuan bibi.."

__ADS_1


Nara lakukan sesuai instruksi Bi Marni, dan dia mulai dapat pijatan super cozy dari Bi Mar, dia sangat menikmati.


"m.. bi, bibi kan punya 3 anak.. apa bibi kesulitan saat melahirkan anak-anak bibi?" tanya Nara memulai obrolan, Bi mar tersenyum.


"gak kok non, ya.. sakit memang sakit, tapi rasa sakit itu akan hilang seketika saat kita dengar tangisan pertama anak yang lahir dari rahim kita , jangan pikirkan yang jelek-jelek ya.." kata Bi mar memberi sugesti positif pada Nara, Nara tampak lega.


"Apa bibi ditemenin sama suami waktu itu?"


"iya lah non, harus! biar para suami tahu payahnya kita saat berjuang melahirkan anak-anak mereka.. den Azka juga pasti akan dengan siap sedia nemenin kamu pas lahiran nanti.."


"m.. oh gitu yaa.., tapi katanya, saat berjuang diruang bersalin, seseorang gak bisa mengontrol emosinya, apa itu karena rasa sakitnya yang luar biasa?" Nara terus bertanya, dia seperti sedang mencari kenyamanan, dia memang dilanda kecemasan jelang persalinan yang hanya menunggu hitungan hari.


"pokoknya, non harus berpikir positif! santai.. gak usah tegang.. dan nanti,saat anak kalian lahir pasti den Azka akan semakin sayang sama non Nara, apalagi kalo dia nemenin dari mulai kontraksi awal sampai dede bayinya lahir ke dunia.."


"oh gitu ya.."


Suara klakson diluar gerbang memutus obrolan Nara dan bi Mar, itu pasti Azka.


"pasti den Azka, saya buka dulu gerbang ya.."


Nara mengangguk, Bi Mar pun pergi bergegas membukakan gerbang untuk Azka.


Huuuuuh, Nara mencoba relax, dia baringkan badannya disofa itu, lalu dia pejamkan matanya untuk beberapa saat...


kiss, tiba-tiba sebuah kecupan hangat dia terima dikeningnya, dia buka matanya dan itu Azka yang tersenyum menyambutnya.

__ADS_1


"selamat ya.. tadi kamu main luar biasa, seperti biasa .." kata Nara lalu mencoba bangkit dan duduk, dia tampak kesulitan tapi Azka sigap membantunya.


mereka duduk berdampingan..


"gak ada alasan buat bermain jelek.." kata Azka, seperti biasa dia sapa calon anaknya dengan usapan lembut dituntaskan dengan kecupan hangat. Azka sangat menyayangi Nara, itu nyata.


"halo sayang.. papa pulang.." bisik Azka kearah perut Nara, Nara hanya tertawa kecil menyaksikan interaksi imut itu.


sebuah tendangan kecil Azka terima, baby nya merespon, dia senang bukan main.


"dia dengar kata-kata papanya.." kata Azka excited.


"kamu.. mau kan temani aku diruang bersalin?" tanya Nara ragu, dia takut Azka menolak.


"tentusaja.." jawab Azka yakin.


"Aku takut.."


"kenapa?"


"aku bisa gak ya.."


"pasti bisa!"


Huuuuh, Nara membuang nafas, dia jadi merasa tegang, dengan sigap Azka tarik tangannya lalu menggenggamnya dengan hangat mencoba menenangkan dan menguatkan Nara.

__ADS_1


Rasa takutnya sedikit berkurang.


Bersambung.


__ADS_2