
Mahligai rumah tangga itu seperti bahtera yang mengarungi lautan, jangan harap setiap pernikahan itu selalu so sweet dan berjalan mulus. selalu ada angin atau bahkan ombak yang siap membuat bahtera oleng.
Dan dalam setiap bahtera selalu ada kapten dan anak buah kapal, bagaimana sebuah bahtera sampai ke tempat tujuan? tentu saja di butuhkan koordinasi yang baik antara keduanya.
Bisakah Azka jadi kapten yang baik yang bisa membawa bahtera rumah tangganya melenggang mulus melewati samudra kehidupan?
Atau mungkin dia akan goyah oleh angin dan gelombang godaan yang akan semakin kuat menerjang bahtera rumah tangganya?
Matahari sudah naik dari ufuk timur
Arkan masih terjaga di cradle nyamannya..
ARKANA PUTRA AZKA, itulah nama si Azka junior.
Azka sudah bangun sejak pagi, sejak jadi papa dia memang giat bangun pagi, dia tidak ingin melewatkan momen dimana buah hatinya membuka mata untuk pertama kalinya di pagi hari.
Azka iseng sekali, dia goyangkan dengan lembut cradle tempat arkan bobo gemes itu..
"bangun boy, ini udah pagi..." bisik Azka, Arkan berhasil terusik, tubuh mungilnya menggeliat dan itu membuat Azka merasa sukses.
"Ayo temani papa latihan boy.." Azka semakin usil, dan itu membuat Arkan semkin terusik.
Tak lama Nara datang, dia segera hampiri kedua pria yang sangat dia cintai itu.
"kamu usil banget sih, gangguin Arkan!" tegur Nara sebal, Azka memang selalu melakukan hal ini hampir setiap pagi.
"semalam kan kita gak sempat ketemu.." tukas Azka lalu dia usap-usap pipi bakpau anaknya dengan lembut.
__ADS_1
"ayo sarapan.." ajak Nara.
"gak ah, aku mau tunggu dia sampai dia buka matanya.." kata Azka.
Nara senang melihat interaksi manis itu, dia sangat senang melihat betapa Azka sangat menyayangi Arkan.
Nara pandangi Azka yang juga memandangi Arkan dengan penuh kasih sayang.
'aaaah,my beautiful life.. terimakasih tuhan untuk semua ini' batin Nara penuh syukur.
Azka belum mau beranjak dari sana, dia kembali goyang-goyangkan keranjang tidur Arkan dengan lembut, itu malah membuat anaknya semakin nyaman dan nyenyak.
"ayolah, Arkan masih nyenyak dia gak akan bisa di ganggu-ganggu begitu!" ajak Nara lagi.
"gemes.." gumam Azka gemas.
Mereka duduk bersama di meja makan..
"Sepertinya kita perlu ganti meja makan yang lebih besar lagi!" kata Azka sembari mengoleskan selai diatas roti tawarnya.
"Kita kan cuma berdua, Arkan belum bisa bergabung di meja makan ini.." sahut Nara yang melakukan hal yang sama.
"sebentar lagi dia tumbuh besar! adik-adiknya juga akan segera menyusul!" kata Azka dengan sedikit gurauan, Nara hanya memicingkan matanya.
"adik-adiknya?"
"Arkan butuh teman di rumah ini!"
__ADS_1
"heh, kamu ini.. Arkan tuh baru 2 bulan! kamu udah memikirkan adik buat dia! kamu pikir hamil plus melahirkan itu enteng apa??" gerutu Nara, Azka malah makin gemas dengan wajah cemberut istrinya.
"iya sih, aku tahu gimana beratnya perjuangan kamu.. aku lihat sendiri!"
"nah itu tahu, jujur saja.. aku masih sedikit trauma kalau inget pas lahiran Arkan kemarin! ya ampun, sakitnya gak bisa diungkapkan dengan kata-kata!"
Azka menarik jari jemari Nara dengan lembut..
"maaf ya!"
"maaf kenapa?" tanya Nara.
"mungkin, aku gak akan pernah bisa membalas semua pengorbanan kamu demi memberikan kebahagian yang sempurna ini.." kata-kata Azka manis sekali, Nara sampai terbawa perasaan.
"kamu bisa membalas itu semua! kamu cuma perlu setia! udah.. itu aja yang aku harapkan!"
Mereka saling memandang, dan Azka akan lakukan permintaan itu.
"itu prinsip yang sudah aku tanamkan sejak tahu kalau kamu mengandung buah cinta kita!"
Nara tersipu, ya! sejak tahu kalau Nara hamil beberapa bulan lalu, Azka memang berubah sangat drastis! dia benar-benar menjadi pria yang setia dan siaga dan itu sungguh membuat kebahagiannya semakin sempurna.
"pertahankan ya!"
"pasti!" tegaskan Azka.
Bersambung.
__ADS_1