
"Kok bisa sih kamu kebetulan lewat rumah Kak Arkan begitu?" tanya Alika, sejak tadi dia belagak seperti wartawan kepo yang terus mengulik bagaimana kronologi Yura sampai bisa berkesempatan membawakan buku tugas Arkan yang ketinggalan.
"Udah jodoh kali," celetuk Yura nyeleneh.
"Heh, ngarep!" cibir Alika.
Yura dan Alika duduk di bangku yang sama, sejak kelas 10 mereka memang teman satu bangku.
"Udah deh cepetan kerjain PRnya, bentar lagi Pak Ilham masuk lho," peringatkan Yura pada Alika yang malah terus kepo terhadapnya.
"Sambil cerita dong, sumpah aku tuh penasaran sangat tahu gak? Kok bisa-bisanya kamu lewat depan rumah Kak Arkan terus kebetulan juga mama-nya menitipkan bukunya yang ketinggalan itu! Masih gak habis pikir aku tuh," ucap Alika lagi belum selesai dengan rasa penasarannya.
"Ya udah, jadi ... pagi tadi aku sengaja lewat cluster yang sebelumnya gak pernah aku lewati, jalan yang aku lewati tadi di portal karena ada orang meninggal, nah aku baru tahu juga kalau ternyata Aku sama Kak Arkan tuh satu Perumahan juga, ya cuma memang beda cluster sih, dia tinggal di cluster favorit!"
"Terus, terus?"
"Ya gitu, pas lewat tadi ada mamanya yang kayaknya sengaja nunggu seseorang lewat, aku awalnya kaget pas dia nyebut nama Kak Arkan, huh, emang dasar jodoh, pagi-pagi udah ketemu sama calon mama mertua!"
__ADS_1
"Heh, halu!" cibir Alika berkali-kali.
"Mamanya itu cakep banget Al, pantesan aja anaknya juga cakep. Bener-bener ya Kak Arkan, mamanya cakep plus baik, Papanya ganteng plus atlet basket keren pada masanya, rumahnya gede, nyaman, perfect banget deh, boyfriend material banget pokoknya!" Ungkap Yura penuh semangat.
"Ho oh Yur, lucky banget deh yang bisa jadi pacarnya! Tapi siapa ya, cewek populer sekelas Amanda aja dia tolak mentah-mentah, nah apa kabar kita yang cuma remahan rengginang kayak gini?"
"Ya Tuhan, remahan rengginang? Tapi remahan rengginang dipake temen makan bakso enak tauuu!" canda Yura dan Alika juga menanggapinya dengan tawa malas dan garing.
KRIIIIIING sampai akhirnya bel tanda masuk pelajaran jam pertama berbunyi dan Alika mempercepat kekuatan tangan-tangannya, masih ada 2 soal lagi yang harus dia salin dari buku catatan Yura.
BRAAAAK
Yura terperanjat saat seseorang membuka pintu kamarnya dengan paksa, Yura yang saat itu sedang asyik rebahan sembari streaming video musik boygrup favoritnya sampai terperanjat.
"Ibu bilang harus hemat-hemat listrik! Gue gak dibolehin make mesin cuci, nih cuciin seragam gue, sekalian!" Kata Tania lalu dia lempar beberapa potong pakaian tepat kearah Yura sampai berhamburan di tempat tidurnya.
Siapa Tania? Kenapa dia semena-mena memerintah Yura seperti itu?
__ADS_1
"Iya Kak!" sahut Yura pasrah lalu bangkit dari atas kasurnya, melipat earphone dan ponselnya lalu menyimpannya di atas meja.
"Oh iya sebentar, tadi ada yang bilang lo masuk ke kelas gue nyariin Arkan, ngapain?" tahan Tania, Tania memang satu kelas dengan Arkan.
"Tadi buku tugasnya ketinggalan dan kebetulan tadi aku lewat depan rumahnya, Mamanya yang minta aku buat ngasih bukunya yang ketinggalan itu." jawab Yura lugas.
"Kok bisa?"
"Gak tahu kak, kebetulan aja!"
"Huh, jangan macam-macam ya! Dan jangan pernah menunjukan pada siapapun kalau kita ini saudara seatap! Gue gak sudi kalau orang-orang sampai tahu kenyataan kalau gue yang kece ini punya saudara tiri cupu macam elo!" kata Tania keras sekali, tapi Yura sama sekali tak merasa tersinggung. Hal seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari untuk Yura.
Sudah sejak lama Yura tinggal bersama Tania dan Ibu tirinya. Yura kehilangan ibu kandungnya saat dia masih balita, dan beberapa tahun kemudian saat dia menginjak usia remaja, sang Ayah memutuskan untuk menikah lagi dengan janda beranak satu. Sejak Ayah masih ada Ibu dan Tania sudah menunjukan gelagat buruk. Mereka memperlakukan Yura dengan sangat tidak baik dan sekarang saat Ayah Yura juga telah tiada, mereka semakin memperlakukan Yura layaknya pembantu, Yura adalah figur Cinderella di jaman modern ini, ya, Yura adalah Cinderella jaman now.
Tapi meskipun begitu, Yura selalu mencoba menerima nasibnya dengan hati yang lapang. Dia selalu ingat amanat mendiang ayah yang menyatakan kalau perbuatan baik tak akan mengkhianati pelakunya. Yura sudah memupuk kesabaran sedari dini dan itulah sebabnya dia tumbuh baik menjadi anak yang tegar dan ceria walaupun di bawah tekanan Ibu dan saudari tirinya.
Bersambung
__ADS_1