Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Mybeautiful boss


__ADS_3

Yura nervous bukan main, sebentar lagi dia akan mengahadapi calon bosnya, tapi karena Nara sering datang agak siang maka Yura harus rela menunggu. Tapi dia tak hanya duduk berpangku tangan, dengan giat dia membantu Danty dan beberapa pegawai lain membereskan seisi cafe.


Ya, Yura memang figur gadis remaja yang menyenangkan. Dia bukan tipe gadis-gadis manja yang mengandalkan uang jajan dari orangtua untuk bergaya. Dia selalu mendapatkan hal-hal yang dia inginkan jika dia sudah menyumbangkan keringatnya.


Selama ini Yura mendapat uang jajan jika dia sudah membantu Ibu tirinya mengantarkan kue-kue produksinya. Jika dalam seminggu tak ada pesanan maka seminggu pula Yura tak mendapat uang jajan.


"Itu, bos kita datang!" ujar Danty lalu dia menunjuk kearah area parkir, sebuah mobil baru saja terparkir disana dan Nara keluar dari dalamnya. Yura pastikan sekali lagi dan dia cukup terkesiap saat tahu kalau pemilik kafe ini adalah Nara, Mamanya Arkan.


'Lho, itukan ... Mamanya Kak Arkan!' batinnya dan dia masih memperhatikan Nara yang masih berdiri bengong di tempat parkir.


Ternyata Nara juga bengong saat melihat sepeda Yura terparkir di depan cafenya, Nara ingat betul kalau itu adalah sepeda gadis yang kemarin tak sengaja tertabrak oleh Arkan.


Daripada penasaran lama-lama, Nara pun langsung masuk ke dalam cafenya dan dia langsung memperhatikan Yura yang menyambutnya dengan senyum terbaiknya.


"Yura," sapa Nara, Danty sampai berdecak saat bosnya itu mengenal Yura.


"Pagi tante!" Sapa Yura lalu membungkuk tanda hormat.


"Oh, Bu Nara sudah kenal dengan Yura?" tanya Danty.


"Yura ini teman sekolah Arkan, anak saya!" jawab Nara lalu dia mengelus punggung Yura dengan lembut, sungguh usapan itu adalah usapan kasih sayang yang sudah lama sekali tak pernah Yura rasakan lagi semenjak Ayahnya meninggal.


"Oh iya iya, Yura kan sekolah di SMA yang sama sama den Arkan!" sadari Danty.


"Jadi, kamu yang Danty rekomendasikan untuk menjadi kurir freelance disini?" tanya Nara, sebenarnya Nara agak ragu karena dia sedikit tak percaya bagaimana gadis remaja seperti Yura mau bekerja.

__ADS_1


Yura mengangguk pasti tapi kemudian dia menunduk lugu, dia malu berhadapan dengan Nara saat ini.


"Iya bu, Yura ini anak yang rajin kok, tapi kalau di hari-hari sekolah dia paling bisa mulai bekerja setelah dia selesai sekolah dan di hari minggu dia akan bekerja dari shift pagi!" jelaskan Danty.


Nara tatap sosok Yura sekali lagi, ada rasa iba dan salut yang terpancar dari sorot mata Nara. Dia yakin kalau Yura memang gadis baik dan pekerja keras.


"Ya sudah, kamu ikut saya ke ruangan saya dulu ya!" ajak Nara lalu dia merangkul Yura menggiringnya untuk ikut ke dalam ruang kerjanya. Jujur saja saat ini Yura sangat gugup apalagi begitu tahu kalau calon bosnya ini adalah Nara.


Setelah sampai di ruangan itu, Yura duduk di depan Nara dan Nara kembali memperhatikan sosok Yura yang masih malu-malu berhadapan dengannya.


"Kaki kamu udah gak sakit lagi?" tanya Nara penuh perhatian.


"Udah baikan kok, bu." jawab Yura dan akhirnya dia ikut memanggil Nara dengan sebutan 'bu' seperti yang Danty dan pegawai lainnya lakukan.


"Syukurlah, dan apa kamu yakin mau bekerja disini? Dan pekerjaan kamu itu di lapangan lho," yakinkan Nara.


"Kenapa? Boleh saya tahu alasannya kenapa kamu mau bekerja disini?"


"M, saya ... saya mau belajar mandiri," jawab Yura malu-malu.


"Memangnya orangtua kamu gak melarang?"


"Nggak kok, Ibu saya sangat mendukung keputusan saya ini."


"Ayah kamu???"

__ADS_1


Sejenak Yura menghela nafas, malu rasanya kalau saat ini dia mengungkapkan keadaan yang sebenarnya, dia takut kalau Nara akan menganggapnya sedang mencari-cari simpati.


"M, sebenarnya beliau sudah gak ada!" ungkap Yura dan seketika Nara semakin tertarik dengan sosok Yura, entah kenapa Nara merasa sedang melihat dirinya di masa lalu.


"Oh, jadi saat ini kamu cuma tinggal sama ibu kamu?" Nara semakin antusias mengorek kehidupan gadis kecil di hadapannya saat ini.


"Sebenarnya, orangtua kandung saya sudah meninggal dan saat ini saya tinggal dengan Ibu dan saudari sambung saya," ungkap Yura pada akhirnya.


DEG, Nara sampai terpaku, dia benar-benar merasa sedang berkaca, dia merasa Yura benar-benar gambarannya di masa lalu.


"Saya, cuma mau meringankan beban Ibu, tolong terima saya jadi bagian dari karyawan anda..." ucap Yura sopan sekali, Nara malah mulai merasakan matanya berembun. Dia tatap Yura dengan mata berkaca-kaca.


'Ya Tuhan, gadis ini ....' batinnya lirih.


"Saya janji, saya akan bekerja dengan maksimal!" tambah Yura, Nara menengadahkan kepalanya berharap airmatanya tak jatuh. Dia langsung tersentuh dengan kisah singkat yang baru saja Yura ungkapkan. Apa yang Yura alami saat ini benar-benar sama persis dengan situasi hidupnya di masa lalu.


"Maaf saya terlalu banyak bertanya, tapi ... apa mereka memperlakukanmu dengan baik?" tanya Nara sekali lagi, dia ingin mengorek lebih dalam kehidupan Yura.


"Ma,maksudnya?"


"Maksud saya, Ibu dan saudara tiri kamu ... apa mereka memperlakukan kamu dengan baik?" Nara mengulangi kata-katanya.


Sejenak Yura terdiam, ingin sekali rasanya dia mencurahkan semua kejujurannya, tapi dia ingat lagi pesan mendiang Ayahnya kalau Yura tak boleh menjelek-jelekan siapapun.


'Yura, seburuk apapun seseorang memperlakukan dan memandangmu, jangan balas mereka dengan hal yang sama selama kamu bisa masih mengatasinya dengan senyuman dan kata maaf! Perbuatan baik akan selalu kembali pada pelakunya, dan cukup Tuhan saja yang membalas perbuatan buruk seseorang, memaafkan adalah hal yang paling kita butuhkan saat kita menginginkan kehidupan yang damai!', Yura ingat sekali kata-kata Ayah itu, itu adalah kata-kata yang Ayah katakan saat Yura masih kecil dan sampai detik ini kata-kata itu masih lekat dalam benak Yura, Yura merasa itu adalah salah satu harta warisan paling berharga yang Ayah tinggalkan untuknya. Setiap mengingatnya, Yura merasakan kedamaian yang nyata. Tak ada kemarahan, tak ada dendam dan selama Yura masih bisa mengahadapi sikap buruk Ibu dan Tania dengan kata maaf, Yura tak pernah merasa kesal sedikitpun dan hatinya pun tak pernah merasakan dendam yang mendalam.

__ADS_1


Dendam hanya akan membuat hati terbakar, mungkin memaafkan bukan hal yang mudah bagi sebagian orang tapi Yura mampu menerapkan kata-kata peninggalan Ayahnya itu. Buktinya sampai detik ini Yura selalu menghadapi segala kesulitannya dengan hati yang lapang, dia hanya menggerutu dalam hati jika sesuatu mulai mengusik kedamaian hatinya.


Ya hanya itu saja kuncinya, memaafkan dan mensyukuri apapun yang terjadi dalam kehidupan kita.


__ADS_2