
Arrgggghhhh
Yura terbangun, dahinya berkeringat hebat dan nafasnya tersengal.
Huh ... huh ... huh ...
"Apa itu mimpi? Kak! Kak Keita!" gumamnya lalu dia berseru meneriakan nama Keita. Tapi faktanya saat ini Yura masih terbaring di atas tempat tidurnya.
Ternyata kepulangan Keita hanya mimpi, kemarahan Keita juga hanya mimpi. Tiba-tiba Yura kembali merasa sangat bersalah. Ia yakin, situasi dalam mimpinya barusan pasti akan benar-benar terjadi andai saja Keita mengetahui apa yang terjadi padanya dan pada Arkan di kamar Arkan beberapa jam lalu.
"Maafin aku Kak, itu semua bukan keinginanku! Dan maaf kalau selama ini aku masih menyimpan sedikit perasaan aneh ini terhadap Kak Arkan, tapi aku janji, aku akan benar-benar menyingkirkannya! Aku akan selalu setia sama kamu Kak," ucap Yura dalam sekali. Mimpi itu seperti peringatan dini untuknya.
Yura tatap jam digital di meja belajarnya, dan ini masih pukul 02.24 dini hari. Rasanya sulit untuk kembali tertidur, akhirnya dia putuskan untuk menelepon Keita karena di London saat ini masih sekitar pukul 7 malam lebih.
Sayang, jaringannya tidak stabil dan akhirnya Yura tak bisa mencurahkan kegundahannya itu. Yura tak sabar ingin segera bertemu dengan kekasihnya itu.
Beberapa jam kemudian ....
Yura sedang membereskan seisi rumah, kejadian semalam dan mimpi semalam hampir membuatnya stress, dia mencoba melupakannya dengan membereskan rumahnya.
DRDDD ... DRDDD ...
Ponselnya berbunyi, ada telephone masuk dari nomor asing berawalan +61, Yura yakin itu panggilan dari Yuki.
"Halo? Ayah?" sapa Yura yakin dan penuh harap.
"Iya Yura, ini Ayah ...."
Senang rasanya, sudah seminggu Yuki pergi dan baru kali ini dia menghubunginya lagi.
"Ayaaah, bagaimana kabar Ayah disana?"
"Baik Yura, bagaimana denganmu?"
"Baik!"
"Apa kabar dengan skill membuat kue-mu?" tanya Yuki kali ini dengan nada yang agak menggoda, Yura sampai tertawa kecil dibuatnya, "hihi, semakin hari semakin baik kok, andai Ayah ada disini, kue-kueku semakin enak ...."
"Sabar ya, secepatnya Ayah akan pulang, oh iya, semalam Keita menelepon."
Deg, hati Yura berdebar lagi, semalam? Keita menelepon Yuki? Kok bisa? Bahkan Yura baru tahu nomor telepon Yuki hari ini.
'Apa Kak Kei benar-benar tahu ciuman semalam? Kok bisa? Apa semalam dia ngadu sama Ayah? Iiih, kok bisa?' batinnya paranoid, Yura semakin dan semakin merasa skeptis.
__ADS_1
"Yuraa ...." panggil Yuki saat beberapa saat dia tak mendengar suara putri angkatnya itu.
"I-iya Yah ...." sahut Yura tersadar.
"Keita meminta Ayah untuk mengizinkanmu ...."
"Mengizinkan apa Yah?" sambar Yura ketakutan.
'Apa mengizinkan dia untuk memutuskan hubungannya denganku? Astagaa ... tega banget Kak Kei,' pikirnya semakin dan semakin paranoid.
"Kamu kenapa? Apa kamu baik-baik saja?"
"I-iya maaf Ayah, aku menyela perkataan Ayah."
"Jadi, semalam Keita minta izin buat mengajak kamu ke London untuk beberapa hari!"
WHAT? Kejutan lainnya Yura dapatkan secara spontan. Meminta Yura untuk datang ke London? Dan keita lebih dulu meminta izin kepada sang Ayah sebelum mengkonfirmasi langsung kepadanya, aaahh Keita, so sweet sekali.
"Benarkah?" yakinkan Yura.
"Iya, apa kamu merindukannya?" tanya Yuki kembali dengan nada menggoda. Pipi manisnya memerah, dia tersipu malu dan Yuki bisa tahu kalau saat ini Yura tengah tersipu.
"M, iya ... aku merindukannya Ayah," akui Yura.
"Baiklah, kalau begitu Ayah mengizinkannya."
"Ada beberapa syarat yang harus kamu ingat!"
"Apa itu?"
"Kamu harus tetap bisa menjaga diri! Bisa?"
"Tentu saja bisa!"
"Kalian gak boleh menginap di kamar yang sama! Kalian hanya boleh menghabiskan waktu sampai jam 8 malam! Bisa?"
"Bisa! Aku akan menurut Ayah ...."
"Baiklah, kamu boleh pergi!"
Yuki memang sosok Ayah yang pengertian, dia benar-benar mengizinkan Yura untuk menemui kekasihnya di London. Yura senang, lebih dari senang.
"Makasih Ayah, makasih banyak."
__ADS_1
"Iya, tetap jaga dirimu baik-baik ya!"
"Iya Ayah ...."
Siangnya, Ada seseorang datang bertamu. Ternyata itu Maminya Keita. Yura sampai malu, dia mencoba menjaga sikapnya. Rasanya mendebarkan sekali calon Mami mertua datang berkunjung ke rumahnya.
"Ini tiketnya, kamu akan pergi besok pagi ...." Mami menyodorkan sebuah tiket pesawat tujuan London.
"Terima kasih tante ...."
"Kamu tahu? Besok dia ulang tahun, dan yang paling dia inginkan adalah pulang ke Jakarta, sayang saat ini dia tetap tak bisa pulang! Dan sebagai gantinya, dia mau kamu yang datang kesana, itu kado ulang dari kami untuknya!" kata Mami membuat Yura terenyuh.
Beruntung sekali memiliki kekasih seperti Keita, pikirnya.
"Wah, Kak Keita ada-ada aja ya," ucap Yura malu-malu.
"Yura, tante merasa Keita benar-benar serius sama kamu! Tante sih senang-senang aja, apapun pilihannya akan selalu tante dukung. Karena jujur saja, saat dulu dia meminta untuk tetap di Jakarta dan tante bersikeras memintanya untuk kuliah di Inggris, tante masih merasa bersalah, apalagi saat ini Arkan sudah resmi masuk squad Sunrise ... pasti Keita juga menginginkan hal itu," Mami bercerita cukup panjang lebar dan beberapa kalimatnya terus membuat Yura terbawa perasaan.
"Tapi, Kak Kei pasti bisa lebih sukses di luar basket Tante ...."
"Semoga! Yura, jangan pernah kecewakan dia ya, dia adalah putera kesayangan Tante, dia sangat berharga untuk Tante," pinta Mami semakin membuat atmosfer di sekitar ruang tengah itu terasa haru.
"Tentu saja Tante, Saya akan berusaha tetap menjaga hubungan baik ini. Saya juga akan mendukung setiap langkah Kak Keita."
Mami menyambut tekad Yura dengan senyum manis, lalu dia genggam tangan Yura dengan hangat.
"Terima kasih ya Yura ...."
"Ya, Tante."
Bahagia rasanya jadi seorang Yura. Selama ini dia dikelilingi orang-orang yang selalu menyayanginya. Semua orang percaya pada ketulusan Yura tapi tak sedikit pula yang merasa iri dan dengki padanya. Akankan Yura tetap mendapatkan perhatian dari orang-orang baik di sekitarnya? Atau akan ada seseorang yang sengaja merencanakan sesuatu yang akan mencoreng citra baik Yura?
"Aah iya Tante, ini ada kue hasil kreasiku sendiri ... mohon diterima ya," Dengan bangga Yura menyodorkan beberapa toples kue buatannya pada Mami.
"Oh ya? Waah, jadi kamu sudah berhasil membuatnya?"
"Ya, belum begitu sempurna sih, tapi semoga tante suka ya."
"Tentu saja, ini buat teman minum teh Papinya Keita, pasti dia senang dan bangga, karena calon menantunya jago bikin kue seperti ini," sanjungnya.
"Aaah, tante ...."
"Semoga kalian sama-sama sukses ya! Sama-sama saling mendukung dan saling melengkapi kelemahan dan kelebihan masing-masing!"
__ADS_1
Nestapa itu sudah berlalu, sejak Yura pergi dari rumah Ibu dan Tania, hari-harinya selalu dipenuhi dengan kebahagiaan walau ada juga beberapa peristiwa duka yang dia dapatkan. Tapi sejauh ini, Yura tak pernah kekurangan orang-orang baik yang menyayanginya.
Akankah ini tetap bertahan lama?