
"Kenapa? Apa kamu baik-baik aja?" tanya Keita saat melihat Yura agak melamun setelah dia mendaratkan kecupannya tadi.
"M, enggak kok!"
Padahal dalam hati Yura malah semakin kepikiran ciumannya bersama Arkan. Ada setitik penyesalan apalagi saat dia tatap Keita yang sangat bahagia dengan kedatangannya hari ini.
"Kamu cape? Istirahat aja dulu ya, nanti malam aku kesini lagi!" kata Keita.
"Iya Kak!" jawab Yura, dan tiba-tiba Yura memikirkan sesuatu, Yura memegang pundak Keita secara spontan dan Keita sampai berdecak dengan adegan nakal yang tiba-tiba pacarnya lakukan itu.
"Sayang?"
Kiss, Yura sapa bibir Keita dengan ciuman nakalnya. Yura merasa dia harus melakukannya untuk menebus rasa bersalahnya di hari kemarin. Keita sampai tak percaya kalau pacarnya melakukan hal itu, tapi selebihnya dia sangat senang. Karena bagaimana pun kerinduannya terhadap Yura sudah tak dapat dibendung lagi.
Keita membungkukan badannya lalu dia tahan tubuh Yura dengan memegang erat bagian punggung hingga pinggangnya.
'Maaf aku harus lakukan ini Kak! Maaf karena aku juga pernah melakukannya dengan Kak Arkan! Maaf ....' batinnya selama dia masih asyik melakukan frenchkiss penuh gairah sampai beberapa menit lamanya.
Keita tak menyangka kalau Yura bertindak se-nakal itu tapi dia tak munafik kalau dia senang dengan hal itu.
Setelah beberapa menit saling melepas hasrat, Yura sembunyikan wajah malunya di dada Keita. Keita semakin gemas. Yura sebenarnya hanya ingin meminimalisir rasa bersalahnya karena beberapa hari sebelumnya dia juga melakukan hal yang sama bersama Arkan.
"Mulai nakal-nakal ya," bisik Keita menggoda.
"Maaf Kak, aku cuma ... aku kangen sama kamu Kak," dalihnya dan dia belum juga berani menampakan wajahnya yang memerah ke hadapan Keita.
"Aku juga!" Cup, Keita mengecup kepala Yura yang masih berlindung dalam dekapannya itu.
Yura tak tahu apakah dosa yang Arkan buat akan tetap terjaga rapi sebagai rahasianya dan rahasia Arkan? Atau akankah suatu hari terungkap dan membuat prahara dalam hubungan manisnya bersama Keita.
"Ya udah, kamu istirahat dulu ya, nanti aku jemput lagi!" kata Keita, perlahan Yura lepaskan badannya lalu dia buka coat milik Keita dan mengembalikannya.
__ADS_1
"Ya, hati-hati di jalan!"
"Ada sesuatu yang kamu sembunyikan?" tanya Keita, Deg, detak jantung Yura tiba-tiba terasa berhenti. Keita memang curiga dengan sikap aneh Yura sejak tadi dan Yura takut kalau Keita akan mengetahui rahasianya itu, Yura benar-benar sedang dilanda paranoid yang luar biasa.
"M, nggak kok! Selama ini aku selalu mencoba terbuka dengan Kak Kei!"
"Yura ...." Keita meletakan telapak tangannya yang dingin di pipi Yura, Yura semakin salah tingkah.
'Ya Tuhan, tolong singkirkan rasa parnoku ini! Jangan biarkan Kak Kei mencurigai apapun!' batinnya lalu dia sambut belaian tangan Keita, dia letakan telapak tangannya yang lebih kecil di atas tangan Keita.
"I love you Kak, aku istirahat dulu ya!" kata Yura lalu perlahan dia lepaskan tangan Keita dari pipi merahnya. Yura tak ingin suasana menjadi semakin syahdu dan biru. Dia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi karena sebagai manusia biasa, gempuran hasrat adalah sesuatu yang akan sulit dihindari oleh sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara.
"Ya udah, selamat istirahat!"
Keita berlalu meninggalkan Yura sendiri di tempat asing itu bersama rasa bimbangnya. Apa yang Yura rasakan saat ini begitu komplek. Dia akui kalau saat ini dia memang masih kadang mempertimbangakan Arkan walau hanya dalam fantasinya saja.
'Aku setia! Aku akan selalu setia!' tekadnya lalu dia menepikan tubuh lelahnya di atas tempat tidur single yang ada di sudut kamar sewa kecil itu.
Arkan sudah menjalani latihan rutin bersama Sunrise. Dia mencoba terbiasa, dia juga mencoba tetap konsentrasi walau sesekali kabar kepergian Yura ke London mengganggu fokusnya.
"Bagus Arkan! Good job!" kata coach yang melihat Arkan memenangkan duel sengit di bawah ring bersama Dandi dalam mini games itu.
Arkan senang bisa melakukan lay up saat Dandi mengawalnya dengan ketat. Dandi adalah salah satu pemain yang tempo hari meremehkannya di loker room.
"Sialan!" gerutu Dandi, dan dia merasa kalau Arkan ternyata salah satu ancaman untuknya.
"Keren Bro! Beberapa hari lalu dia meremehkan lo! Sekarang lo balas cemoohan mereka dengan performa yang baik, okay!" bisik Rado, sang kapten yang ikut bangga dengan penampilan Arkan di lapangan sore ini.
"Makasih Bang!" sahut Arkan.
"Dandi! Mana defense-mu? Fokus! Fokus! Fokus!" teriak coach mengomel ke arah Dandi yang sepertinya sudah kalah mental dengan penampilan baik Arkan.
__ADS_1
"Sialan! Lihat aja nanti!" gumamnya benci.
Ya, persaingan antar pemain di dalam team tak kalah sengit dengan persaingan antar club. Arkan harus menyiapkan fisik dan mental yang kuat.
PRIIIIT
"Latihan selesai! Balik ke mess, mandi dan kita akan makan malam bersama nanti malam! Kita akan melakukan briefing! Oke!" seru Aris, manager Sunrise.
"Oke Bos!" hampir seluruh pemain dan official menyahut dengan seruan penuh semangat.
Arkan menepi di bench dan mengambil sebotol minuman isotonik dari termos es besar yang senantiasa tersaji di kiri kanan bench.
"Gue yakin lo akan masuk squad inti secepatnya!" kata Rado yang lagi-lagi memberi semangat untuk Arkan, dia duduk di samping Arkan dan meminum minuman yang sama dengan Arkan.
"Ya, gue harap begitu Bang, tapi ... ya, gue tahu diri lah! Bisa dikasih menit bermain beberapa menit juga, gue akan sangat senang!" sahut Arkan, sepertinya Arkan mulai nyaman dengan Rado.
"Kalau lihat dari performa lo tadi gue yakin sih! Lo benar-benar titisan Azka Putra Wijaya! Gaya main lo hampir sama kayak beliau!" sanjung Rado dan Arkan senang karena sang Papa memang kebanggaan sejatinya.
"Lo tahu betul sama bokap gue Bang?"
"Gue emang merhatiin dia! Dulu, di tahun terakhirnya bersama Sunrise gue masih umur sepuluh tahunan kalau gak salah! Dan gue ngefans banget sama bokap lo! Dia strong! Dia pemain panutan pokoknya!"
"Oh, gitu ya?"
"Iya! Yaa walaupun dia agak emosian tapi beruntung ada kapten Yuki yang senantiasa calming down, aaah, gue inget banget di satu pertandingan saat gue masih duduk di kelas 1 SD, duh, gak kerasa gue udah tua sekarang!" kenang Rado dan Arkan hanya tersenyum simpul mendengarkannya.
'Dengar itu Pah! Papa tuh legend ternyata! Aku makin bangga sama Papa!' batin Arkan sembari dia kencangkan lagi tali sepatunya.
"Cabut yuk!" ajak Rado yang sudah mulai bangkit.
"Iya Bang!"
__ADS_1
Dan begitulah, Arkan sudah mulai berbaur walau kadang masih merasa sangat ciut. Tapi dia berjanji kalau dia akan berusaha menjadi pemain yang baik di masa mendatang.