
Hari demi hari berlalu cukup cepat, tak terasa bulan demi bulan dan tahun demi tahun berganti. Banyak yang terjadi pada Nara dan Azka selama kurun waktu 3 tahun terakhir ini. Intrik dan masalah memang selalu terjadi di sela-sela kebahagiaan mereka tapi mereka sudah pernah belajar dari kesalahan mereka di masa yang sudah berlalu, dan masalah apapun akhirnya bisa mereka atasi dengan baik.
Arkan sudah besar, dia tumbuh jadi balita yang menggemaskan, selalu. Dia sudah bisa berceloteh, dan celotehannya selalu mampu menghibur papa dan mamanya.
Siang ini di kediaman Azka yang hangat dan damai...
Azka masih menjadi pemain andalan Sunrise, dan performanya malah semakin memuncak. Dia sedang berlatih ringan di court kecil di samping rumah dan Arkan kecil mengikuti setiap gayanya, menggemaskan sekali.
Dia memakai jersey yang sama dengan papanya, dia juga memakai headband dan armsleeve yang sama dengan Azka, pokoknya Arkan benar-benar menjadikan Azka sebagai role model dan figure favoritnya. Dia berlari-lari di sekitar Azka dan pemandangan itu sungguh sangat manis.
"Ayo shoot!" kata Azka menggoda, Arkan melempar bola mainnya kearah keranjang kecil yang sengaja Azka buatkan untuk anak lelakinya itu. Bolanya meleset dan Arkan tampak kecewa.
"Aku mau jago kayak papa dong, ajali aku pah..." celotehnya dengan aksen cadelnya, bikin Azka tak berhenti tersenyum mendengar dan melihat tingkahnya.
"Oke, nah ayo ikutin papa..."
Duk..duk..duk.. Azka mendrible bolanya secara perlahan dan dengan susah payah Arkan mengikutinya dengan gaya lucunya.
Nara datang dengan dua minuman berbeda untuk suami dan anaknya, dia bawakan air mineral untuk Azka dan dia membawakan susu untuk Arkan.
"Teng...teng...teng, waktu latihan sudah selesai...saatnya rehat!" ujar Nara dengan riang.
"Yeeee, mama!" seru Arkan lalu berlari menghampiri Nara yang menunggu di tempat yang teduh, Azka tersenyum lepas lalu dia pun berjalan mendekat kearah keduanya.
"Ini minuman kamu..." Nara memberikan susu Arkan.
"Dan ini buat papa!" Lalu Nara berikan air mineral untuk Azka, Azka menerimanya lalu berterimakasih dengan mencium pipi Nara dengan manis, Nara tersipu, walau sudah bertahun-tahun tapi dia merasa selalu kasmaran bersama Azka.
"Aku juga mau bilang makasih buat mama!" kata Arkan heboh lalu minta Azka untuk menggendongnya, Azka angkat tubuh mungil Arkan lalu Arkan juga memberi kecupan manis untuk mamanya, sampai Nara semakin semangat dibuatnya.
"Aaaah, sweet banget sih kamu..." goda Nara lalu dia membalas mengecup pipi chuby Arkan.
"Udah cukup ya latihannya, kita masuk ke rumah, yuk..." ajak Azka lalu membawa Arkan masuk ke dalam rumah dan Nara mengikuti langkahnya dari belakang.
Di sisi lainnya...
Julian menunngu seseorang, dia duduk di dalam mobilnya dan tahukah siapa yang dia tunggu???
Dia menunggu Lulu di depan rumahnya.
__ADS_1
Selama tiga tahun berlalu sudah banyak yang mereka lewati, entah bagaimana sampai akhirnya Lulu bisa menarik perhatian seorang pria baik seperti Yuki. Tapi Lulu pantas mendapatkannya, karena Lulu juga orang yang sangat tulus dan baik.
Lulu keluar dari rumahnya dalam balutan dress manis dan polesan make up yang sederhana, dia cantik sekali dan Yuki senang melihatnya, Lulu berjalan mendekat dan dia masuk ke dalam mobil Yuki yang sudah menunggunya dengan sabar.
"Sudah siap?" tanya Yuki sebelum menyalakan mobilnya kembali, Lulu terlihat sangat nervous.
"M...siap!" jawabnya mencoba yakin, Yuki menarik tangannya lalu menggenggamnya dengan hangat.
"Jangan takut ya! orangtuaku sangat senang karena akhirnya mereka bisa ketemu kamu!" kata Yuki mencoba menguatkan Lulu.
"Iya, m...makasih ya," ucapnya pelan.
"Gak! aku yang harus bilang makasih sama kamu! karena kamu, sudah hadir di saat yang sangat tepat!" sahutnya manis sekali, Lulu sampai tersipu. Lalu dia merasa semuanya hanya mimpi karena akhirnya dia bisa mendapatkan hati Yuki setelah sekian lama.
"Kita pergi sekarang?" tanya Yuki.
"Oke!"
Yuki pun mulai menghidupkan lagi mobilnya dan mereka meluncur menuju rumah keluarga besar Yuki. Sungguh manis akhir pencarian mereka, Yuki pantas mendapat Lulu yang selama ini selalu menjadi sahabat paling tulus untuk Nara dan begitupun sebaliknya, Lulu pantas mendapatkan Yuki.
Nara dan Azka sudah terbaring bersama di kasur yang sama, Nara sedang mengecek ponselnya dan tiba-tiba senyumnya rekah saat dia melihat sesuatu, dia baru saja melihat postingan Lulu malam ini.
"Akhirnya, semoga mereka bisa bahagia seperti kita!" harap Azka lalu memeluk Nara dengan erat.
"Ya! semoga, ya ampun Lulu...lo tuh beruntung banget tahu gak, selamat ya! lo adalah orang yang sangat baik, dan akhirnya lo dapatkan yang terbaik!" kata Nara penuh haru, bahkan dia menitikan airmata bahagia.
"Mereka pantas mendapatkannya!"
Nara tersenyum dan dia bersyukur karena semuanya berjalan sesuai yang dia harapkan sejak dulu.
"Seperti kita! mereka pantas mendapatkan kebahagiaan seperti yang sudah kita dapatkan selama ini!" ucap Azka lalu dia peluk Nara lebih erat lagi.
"Ya!"
"Oh iya, tahu gak? tadi Arkan minta kado untuk ulang tahunnya yang ke empat!" ujar Azka mengganti topik pembicaraan.
"Kado? apa?" tanya Nara.
"Dia minta adik bayi!" bisik Azka menggoda.
__ADS_1
"Huh, itu sih bukan cuma Arkan yang minta, kamu juga kan?" cibir Nara, Azka tersenyum innocent.
"Ayolah, aku rasa satu anak gak akan cukup untuk meramaikan rumah kita ini!" bujuk Azka.
"Iya..iya, kita mulai program lagi ya buat anak kedua!" setujui Nara, dan Azka senang bukan main.
"Makasih sayang," bisik Azka lalu mengecup pipi Nara untuk yang ke sekian kalinya hari ini.
"Pokoknya kali ini kita harus berusaha dapatkan baby girl!" harap Nara.
"Aamiin, aku janji aku akan selalu siaga untuk kalian!"
"Oke, i love you my ex boss!" ungkap Nara, Azka tertawa geli.
"Boss? huh, udah lewat beberapa tahun itu!"
"Kamu tahu apa julukan yang selalu aku ungkapkan dalam hati setiap kamu bersikap menyebalkan dulu? waktu kamu masih jadi majikanku??"
"Apa tuh?"
"Karena kadang-kadang kamu itu bersikap manis lalu kemudian berubah jadi monster yang menyebalkan, jadi aku selalu menyimpan julukan itu dan sampai sekarang aku masih mengingatnya!" kenang Nara
"Apa sayang?", Azka semakin penasaran.
Nara tersenyum, dia ingat semua yang sudah dia lewati, bagaimana dia bertemu dengan Azka pada awalnya dan bagaimana dia bisa bersama dalam pelukan hangat malam ini pada akhirnya. Suka, duka, cinta, nafsu, kecewa, curiga, cemburu, tawa, tangisan semuanya sudah terbungkus rapi jadi kenangan yang akhirnya berbuah kebahagiaan yang bisa dia rasakan sampai detik ini.
"Kamu itu...." Nara malah menahan kalimatnya, dan azka malah semakin penasaran.
"Apa?"
"Mysweet savage boss!" ungkap Nara, Azka tersenyum geli mendengarnya, dia ingat betul memang bagaimana kejamnya dulu terhadap Nara. dia ingat semuanya...
"Oke, tapi kemudian kita bahagia, untuk selama-lamanya!" kata Azka penuh harap.
"Aamiin!" sambut Nara.
Azka menatap Nara dengan lekat, dan inilah kebahagiaan yang nyata untuknya, dia berjanji akan menjaga Nara sampai akhir hayatnya dan Nara juga berjanji akan selalu membahagiakan Azka di sisa umurnya.
"Oh mysweet savage boss, now you're my super sweet husband!" bisik Nara menggoda, Azka menyambutnya dengan ciuman hangat, malam-malam yang indah, malam-malam yang biru untuk Nara dan Azka.
__ADS_1
~TAMAT~