
Saat Yura kembali dari mengantar pesanan dia cukup stuck saat melihat motor Arkan dan Keita terparkir di depan cafe. Dia jadi ragu untuk masuk, dia malu saat nanti Keita juga melihat dirinya dan pekerjaannya.
'Yaah, ada bos junior!' batinnya dan dia tak bisa membuang waktu dia pun masuk ke dalam cafe mendapati Arkan, Keita dan Vano di salah satu sudut cafe. Begitu masuk, Keita melambaikan tangannya dan mengisyaratkan Yura untuk menghampirinya, tapi dia ragu.
"Sana samperin! Kakak-kakak kelas kece kamu kan mereka?" kata Danty dengan nada menggoda, Yura jadi malu.
Dia pun berjalan menghampiri ketiga Kakak kelas kecenya itu walau ragu dan malu-malu.
"Duduklah! Lo pasti kecapeankan?" pinta Keita lalu menepuk kursi kosong di sampingnya.
"Maaf kak, aku kan lagi kerja!" sahut Yura tegas.
"Lo boleh duduk!" kata Arkan menyetujui, Yura pikir itu salah satu akses penting dia bisa duduk karena dia anggap Arkan sebagai bosnya juga, Yura duduk di samping Keita yang sepertinya semakin tertarik dengan sosoknya.
"Kita ajak saja si Yura!" kata Vano tiba-tiba, Yura tidak tahu apa maksudnya, mau diajak kemana dia sekarang oleh ketiga Kakak kelasnya itu.
"Ide bagus! Biar gue boncengan juga!" sambut Keita penuh semangat.
"Tanya dulu dia mau apa nggak?" tanya Arkan.
"Yura, lo ikut kita ya?" ajak Keita tanpa menjelaskan kemana Yura harus mengikutinya.
"Kemana Kak?"
"Ke mall sih, hangout hangout sekalian nyari sepatu baru!" jawab Vano mendahului, Yura ingat kalau dia juga punya jatah uang dari Lulu tadi, rasanya dia juga ingin membeli sepasang sepatu baru.
"Gimana? Mau ya?" yakinkan Keita antusias, Yura tidak tahu karena saat ini dia masih harus bekerja dan dia tak mungkin ikut saat nanti dia pulang kerja karena waktunya terlalu larut.
Nara tampak baru saja menuruni tangga dan menyapa keberadaan anaknya bersama teman-temannya dengan senyum manisnya.
"Kayaknya gak bisa Kak, aku masih harus kerja sampai jam 7 nanti!" jawabnya pelan lalu dia bangkit karena tidak merasa enak dengan bigbossnya.
"Gak apa-apa Yura, kamu duduk aja disitu!" kata Nara membuat Yura malu, tapi akhirnya dia duduk lagi karena Keita juga tiba-tiba menahan tangannya. Nara juga ikut bergabung dan duduk di samping Arkan.
"Jadi rencananya kalian mau kemana?" tanya Nara.
"Ngemall tante! Haunting jajanan-jajanan kekinian!" jawab Vano semangat.
__ADS_1
"Heh, jajanan aja yang ada di otak lo!" cibir Keita.
"Sekalian nyari sepatu baru!" sambung Arkan.
"Kalian mau ajak Yura juga?" tanya Nara, dia memang orangtua yang pengertian tapi jujur saja Yura merasa tidak enak dengan pertanyaan itu.
"Nggak kok bu, saya gak ikut! Masih banyak yang harus saya kerjakan disini." sambar Yura cepat-cepat dan Keita terlihat kecewa.
"Gak apa-apa, pergilah! Ikuti Kakak-kakak kelasmu ini!" Setujui Nara lalu dia tersenyum menggoda, Yura sampai tak percaya mendengarnya. Jadi Bosnya menginzinkannya untuk pergi hangout dengan ketiga Kakak kelasnya itu.
"Wah, makasih banyak tante!" kata Keita senang sekali, sedangkan Arkan? Dia datar saja sejak tadi, dia tak merasa harus senang atau apapun itu.
"Tapi Bu,"
"Pergilah! Sekali-kali kamu perlu hiburan!"
Yura senang bukan main, ternyata hari ini dia mendapat banyak serentetan kebaikan dari orang-orang di dekatnya, mulai dari simpati dan pelukan Alika, kebaikan Lulu dan Yuki, ajakan Keita, Arkan dan Vano dan terakhir dia juga mendapat persetujuan dari Nara.
"Pakai sewajarnya ya!" kata Nara lalu dia berikan kredit card miliknya pada Arkan.
"Belikan Yura sepasang sepatu baru ya," bisik Nara pada Arkan, Arkan hanya mengangguk.
Yura tidak tahu kalau kesabarannya akan selalu berbuah manis. Walaupun dia mendapat perlakuan buruk dari Ibu dan Tania tapi saat ini dia dikelilingi orang-orang baik yang begitu terkesan dan menyayanginya dengan sepenuh hati.
"Berangkat sekarang?" tanya Vano yang sudah tak sabar ingin segera berangkat.
"Oke,"
"M, aku ambil tas dulu ya," izin Yura, Nara mengangguk sambil tersenyum lalu Yura segera beranjak ke lokernya di belakang ruang utama cafe.
"Jaga dia ya!" kata Nara begitu Yura berlalu.
"Siap Tante!" jawab Keita semangat.
"Traktir dia," kata Nara lagi menggoda.
"Oh pasti tante, sekalian ada yang lagi modus nih," goda Vano membuat Keita malu di depan Nara.
__ADS_1
"Wah, jadi kamu tertarik sama Yura kei?" tanya Nara membuat Keita semakin salah tingkah.
"Tunggu di luar yuk!" ajak Arkan yang mulai bangkit, Vano dan Keita menyusul.
"Pergi dulu ma!" pamit Arkan lalu berlalu ke luar cafe Mamanya itu.
"Pergi dulu ya Tan," pamit Vano dan Keita kemudian.
"Ya, hati-hati di jalan ya, jangan ngebut-ngebut!" pesan Nara dan dia hanya tinggal menunggu Yura keluar dari lokernya, apakah Yura akan bersenang-senang dengan ketiga Kakak kelas kecenya itu?
Yura sudah mengganti seragam kerjanya dengan seragam sekolahnya lagi, setelah berpamitan pada Nara dan Danty dia segera hampiri ketiga cowok keren yang sudah menunggunya di parkiran cafe.
Vano sudah bersiap di belakang Arkan dan Yura akan segera menempati jok kosong di belakang punggung Keita yang segera memberikan helm pada Yura begitu Yura datang menghampirinya.
Yura kesulitan membuka pengaman helm itu dan dengan sigap Keita membantunya dan bahkan memasangkan helmnya dengan tangannya sendiri, manis sekali. Yura semakin dan semakin merasakan grogi dan getaran aneh dalam hatinya.
"Terimakasih banyak Kak!" ucapnya.
"Naiklah!" kata Keita, sudah seperti seorang pacar untuk Yura.
"Cie cieee!" goda Vano dan Arkan diam saja, dia tak terlalu tertarik dengan hal itu.
Mereka berempat pun berlalu meninggalkan area parkir menuju tempat tujuan.
Nara menyaksikan mereka berlalu, dan entah kenapa dia senang melihat kepedulian Keita dan teman-temannya terhadap Yura. Diam-diam Nara juga mengaharapkan kebahagiaan untuk Yura, dia tahu betul kalau kehidupan yang Yura alami saat ini sangat sulit dan berat, dan itu selalu mengingatkannya pada dirinya sendiri di masa lalu.
"Mereka manis sekali ya Bu," kata Danty cukup mengejutkan Nara, Nara menyahut dengan senyum.
"Ya, semoga mereka bersenang-senang!" harap Nara.
"Semoga, kasihan Yura! Bisa jadi ini adalah hal paling menyenangkan buat dia Bu, sejak Ayahnya meninggal dia tak pernah merasakan kesenangan seperti ini lagi!" kata Danty lalu sedikit bercerita.
"Kasihan dia, tapi dia anak yang tegar! Saya yakin dia akan menemukan keberuntungannya di masa depan!" harap Nara.
"Aamiin!" sambut Danty.
Ya, seharusnya Yura tetap semangat dan tetap berada di jalurnya karena banyak sekali orang yang mulai menyayanginya dan selalu mendoakan yang terbaik untuknya.
__ADS_1