
Yura sengaja mengantarkan pesanan Nara yang paling terakhir agar ia bisa mengobrol lama dengannya. Yura sangat merindukan sosok Lulu, dan Nara adalah salah satu obat penawar untuk rasa rindu itu. Yura merasa, Nara maupun Lulu adalah kedua orang baik dan tulus untuknya selama ini.
"Hanya sisa 3 toples Bu, variannya pun tinggal ini," kata Yura lalu dia simpan kookiesnya di atas meja.
"Iya gak apa-apa! Saya udah bayar lewat dompet digital ya, saya udah kirim ke akun kamu!" kata Nara.
"Iya Bu, terimakasih banyak!" sahut Yura.
Nara pandangi Yura sekali lagi, dengan lekat. Nara mencoba mencari dusta yang Arkan katakan kemarin di sorot matanya.
"M, Yura ... kamu mau donasi buat siapa? Kebetulan tadi saya lihat banner promosi kamu!" Nara mulai mengorek rasa penasarannya.
"M, buat adik teman saya Bu," jawab Yura masih samar dan belum menjawab rasa penasaran Nara.
"Oh, saya kira Chiyo itu teman sekolah kamu sama Arkan."
"Bukan, dia ... masih sangat kecil, baru 10 tahun, leukimia stadium tiga!" jelaskan Yura dan lagi, setiap ingat itu seketika matanya berembun dan hal itu juga mengundang rasa empati Nara.
"Oh ya? Baru 10 tahun?"
Yura mengangguk, tiba-tiba dia ingat Chiyo dan untuk beberapa detik tiba-tiba dia tak bisa berkata-kata.
"Coba ceritakan Yura, tapi ... kenapa teman-teman kamu malah bully program promosi kamu kemarin?"
Hiks, Yura mulai tak bisa menahan emosinya. Tanpa aba-aba dia terisak. Sepertinya Yura ingat semua yang dia alami saat ini. Mendapat tekanan dari Dara, putus dengan Keita, dibenci oleh Keita, dibenci oleh Arkan dan dibenci orang lain, semuanya terasa sangat menekan mentalnya. Ditambah lagi pertemuannya dengan Chiyo, itu semua menambah tekanan batin Yura. Saat kini dia berbincang dan berhadapan langsung dengan Nara, Yura tiba-tiba seperti gunung es yang roboh dan mencair.
"Yura, ada apa? Pasti ada yang sedang kamu sembunyikan kan?" tanya Nara sembari memegang pundak Yura yang tiba-tiba kuyu. Yura masih menunduk menikmati tangisannya.
Nara semakin yakin, kalau saat ini Yura sedang tidak baik-baik saja. Nara sangat yakin kalau Yura sedang menyimpan masalah yang cukup berat.
"Oke, menangislah, setelah itu, kamu cerita ya?" kata Nara membuat Yura merasa lebih baik.
'Apa aku ceritakan saja semuanya sama Bu Nara? Tapi, bagaimana kalau masalah ini semakin melebar? Apa Dara akan lebih nekat lagi?' batin Yura berkecamuk. Dia bimbang sekali, dia ingin bercerita tapi dia juga takut akan resiko yang dia dapatkan nantinya.
Saat Yura sedikit lebih tenang, Nara segera memberikan beberapa lembar tissu pada Yura. Ya, Yura bisa melepaskan beban-benannya walau sejenak. Dia sudah berhenti menangis, lega rasanya.
"Jadi ... Chiyo itu siapa? Boleh saya tahu kan?" tanya Nara setelah Yura sudah berhenti menangis.
"Dia ini, adik dari Zahran, teman saya!" jawabnya singkat.
"Zahran ini, siapa? Apa teman kampus kamu dulu?"
"Zahran itu selingkuhan dia Ma!"
Tiba-tiba ada seseorang yang menjawab dari arah anak tangga. Ya, ada Arkan disana. Yura terkaget. Yura tak tahu kalau Arkan sedang ada di rumah. Tapi dia sedang terburu-buru untuk pergi.
"Arkaaaan!" kata Nara kesal.
"Emang benar, tanya aja sendiri!" kata Arkan, dia masih bersikap sinis pada Yura. Yura jadi bingung.
"Yura?" tanya Nara, sungguh dia sangat penasaran dengan teka-teki yang dia hadapi saat ini.
"Kalau dia membantah, jangan percaya Ma! Jangan terjebak sama wajah melasnya! Dia pendusta!"
"Arkana!" hentak Nara, Nara kesal karena sikap sarkas Arkan sudah sangat keterlaluan sampai membuat Yura kembali merasa tertekan.
"Aku berangkat dulu!" pamit Arkan lalu dia benar-benar berlalu setelah puas melempar beberapa kata-kata sinis pada Yura.
Nara hanya geleng-geleng kepala, dia tak mengerti kenapa Putranya begitu sarkas pada Yura. Nara semakin dibuat penasaran dengan kisah yang Yura sembunyikan di balik kesalah fahaman ini.
"Yura! Saya yakin kalau kamu sedang menyembunyikan sesuatu! Coba ceritakan, jangan buat saya meragukan kamu!" kata Nara, Yura masih gamang antara bercerita jujur atau tetap diam saja.
"Yura! Kalau ini adalah rahasia besar, saya akan menjaganya! Ceritakanlah! Apa ada yang membuat kamu takut? Apa Zahran menekan kamu?" Pertanyaan Nara semakin deras dan menekan emosional Yura.
"Ayo sayang! Jangan takut! Saya ada bersama kamu!" Nara menggenggam tangan Yura, dan barulah Yura merasakan transferan energi positif dari Nara. Yura angkat wajahnya lalu dia tatap mata Nara, ada dorongan kuat untuk berkata jujur, Yura yakin kalau Nara akan mempercayainya.
"Sebenarnya ... sebenarnya semua ini cuma permainan Dara, dia yang menginginkan ini semua!"
__ADS_1
"Dara? Dara teman sekelas Arkan di SMA dulu?"
"Ya, dia sudah suka Kak Keita sejak dulu! Dia mau saya menjauhi Kak Keita, dan ... dia malah menjebak saya seperti ini!" Akhirnya Yura mengungkapkannya. Nara semakin tertarik, dia ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya.
"Oke, jadi Dara itu yang kuliah di UK juga kan sama Keita?"
"Iya Bu, saya gak tahu pasti, tapi ... pas saya liburan ke London, dia ... dia meminta saya buat mutusin Kak Keita secara sepihak, dia mendesak, dia juga mengancam untuk bunuh diri kalau saya gak melakukan permintaannya itu!"
"Astaga, benar begitu?"
"Ya, masalah ini sangat rumit, bahkan sekarang ... orang-orang benar-benar memandang saya sebagai pengkhianat, padahal semuanya jauh dari apa yang orang-orang pikirkan! Saya turuti keinginan Dara agar dia tak nekat untuk bunuh diri, tapi dia malah menjebak saya dengan mengirim seorang anak lelaki bernama Zahran yang datang dan mengaku-ngaku sebagai selingkuhan saya selama Kak Keita kuliah di London!"
Nara berdecak, dia kini tahu benang merah dari permasalahan ini. Dia yakin kalau Yura memang menceritakan fakta yang sebenarnya.
"Kenapa kamu turuti dia Yura?" tanya Nara dengan banyak empati dan penyesalan di raut wajahnya.
"Dara gak main-main Bu, dia mengancam, dia sempat hampir melakukannya tepat di depan mata saya! Saya gak mau kejadian tragis terjadi hanya karena saya mempertahankan ego saya!"
"Ya ampun Yura, kenapa kamu gak ceritakan hal ini pada Keita, kamu harus bicara!" dorong Nara.
"Gak Bu! Saya mohon, saya mohooon dengan sangat, tolong simpan dulu cerita ini sampai situasinya memungkinkan! Saya juga, sedang ingin fokus pada Chiyo, dia harus sembuh!" Yura cepat-cepat menggenggam tangan Nara agar Nara mau menjaga rahasia dan ceritanya.
Sekali lagi Nara tatap Yura dengan lekat, ya! Yura adalah titisan bidadari berhati lembut. Nara percaya dengan cerita Yura, dia tak melihat dusta di sorot mata Yura, dia yakin itu.
"Jadi sekarang, kamu mau membantu Zahran? Orang yang sudah membuat kamu terjebak dalam kekeliruan ini?"
"Bukan soal Zahran! Ini semua saya lakukan demi Chiyo! Hanya demi dia!"
Hati Nara tersentuh, pengorbanan Yura menggetarkan hati dan jiwanya. Nara sangat bangga pada Yura.
"Yuraaa ...."
"Jadi, saya harap Bu Nara bisa menyimpan cerita ini sampai Chiyo dinyatakan pulih, saya yakin dia akan sembuh! Baru setelah itu, Zahran juga pasti akan mengungkapkan kebenaran tanpa harus saya paksa!"
"Sayaaang!" Nara langsung memeluk Yura dengan erat. Nara sangat bangga dengan kebesaran hati Yura. Nara merasakan ketulusan Yura.
"Tapi sekarang semua teman-teman kamu memandang kamu sebagai orang yang paling bersalah! Apa kamu gak mau membela diri?"
"Saya gak akan membiarkan ketidak adilan terjadi sama kamu!"
"Tapi buat saat ini, saya mohon, simpan dulu fakta ini, kita lihat sejauh mana Dara bermain!"
Nara melepaskan pelukannya, dia tatap Yura lagi dan lagi, Nara juga menyeka airmata yang sudah membasahi pipi manis Yura sejak tadi.
"Mulianya hatimu ini Yura ...." gumamnya.
"Saya yakin, gak ada kebaikan yang gak berbuah manis, dan yang bersalah, awal akhir juga akan mendapatkan pelajaran!"
"Iya, itu benar sekali sayang! Kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang nyata kelak, saya yakin itu! Pikirkan orang-orang yang percaya sama kamu, jangan sampai orang yang membenci kamu mengendalikan emosi kamu! Teruskanlah niat baik kamu ini, dan kalau suatu hari ada yang benar-benar berniat melukai kamu, saya ada di belakang kamu! Saya gak akan membiarkan itu!"
Seperti ada matahari terbit di wajah Yura. Cerah sekali, Yura merasa sangat tenang saat ini. Sambutan Nara benar-benar membesarkan hati dan keyakinannya. Tak akan ada kecurangannya yang bebuah manis, Yura yakin kalau Dara suatu hari akan mendapatkan pelajaran atas semua tindakannya ini tanpa harus Yura sendiri yang membalasnya.
"Terima kasih banyak Bu!"
"Iya, dan saya, akan menyumbang sedikit untuk menambah program donasi kamu ini ya? Sampai kan salam saya untuk Chiyo!"
Yura tak henti-hentinya berdecak. Kebaikan Nara mengalir bagai sungai yang berarus deras. Yura sangat terharu, dia juga tak henti-hentinya mengucap syukur. Kini Yura tak mengkhawatirkan apapun lagi. Ada Nara yang akan menjaganya di belakanganya.
Selepas dari rumah Nara, Yura langsung mengunjungi Chiyo lagi di Rumah sakit. Saat itu memang sedang tak ada Zahran. Hanya ada Chiyo dengan seorang suster sedang bermain lego di atas brankarnya yang cukup luas itu.
"Halo Kakak cantik!" sapa Chiyo girang.
"Halo Chiyo! Apa kabar?"
"Baik Kak Yura, Kak Yura mau temenin aku main?"
"Iya!" Yura menjawab dengan anggukan dan senyuman membuat Chiyo begitu senang.
__ADS_1
"Asyiik! Suster Anne kayaknya udah bosen main sama aku sejak tadi!" celotehnya, Suster itu hanya tersenyum mendengarnya.
"Iya, Kak Yura temani kamu ya," kata Yura hangat sekali.
"Asyiiik!"
"Tolong jaga dia sebentar ya Mbak, nanti saya kembali!" kata suster Anne yang memang tampak lelah dan suntuk karena berjam-jam menemani Chiyo.
"Iya Sus, oh iya, Kakaknya kemana?"
"Hari ini Zahran kerja shift 2 di bengkelnya, nanti malam dia pulang!"
"Oh."
"Saya tinggal ya!"
Setelah Suster Anne pergi, tinggal lah Yura dan Chiyo disana. Yura duduk di kursi di samping brankar Chiyo.
"Kamu lagi main apa sih?" tanya Yura berbasa-basi.
"Aku lagi main lego Kak, aku mau buatkan gedung yang tinggi buat Kak Zahran! Nanti aku buatkan juga buat Kak Yura ya!" sahutnya dan mata serta tangannya tetap fokus pada lego-lego itu.
"Waah, gedung apaan sih?"
"Gedung yang tinggi Kak, biar pas nanti aku udah ada di surga, Kak Zahran atau Kak Yura bisa lihat aku dari dekat dari atas gedung ini!"
Deg, Chiyo bicara apa? Kenapa dia bicara seolah-olah ajalnya sudah dekat? Yura sangat ketakutan.
"Chiyooo, kamu bicara apa sih? Kamu, sama Kak Zahran akan tinggal sama-sama di gedung tinggi ini!" kata Yura lalu dia menunjuk gedung yang terbentuk dari tumpukan lego yang Chiyo buat tadi.
"Dimana saja aku senang kok Kak! Di surga, aku akan ketemu Ibu sama Ayah, kalau disini, aku cuma tinggal sama Kak Zahran! Kadang dia menyebalkan! Aku kangen Ibu sama Ayah!"
Yura semakin tak kuasa, harapan polos Chiyo membuatnya ingin menangis, lagi. Hari ini begitu banyak airmata yang Yura tumpahkan. Dan kalau boleh jujur, Yura juga jadi sangat merindukan orang-orang terkasihnya yang telah lama dipanggil Tuhan ke surga-Nya.
"Tapi, kamu harus sembuh, Ibu kan sudah sama Ayah, nah ... Kak Zahran cuma sendirian, dia cuma punya kamu! Temani dia, yaa ...." Yura mencoba memberi optimisme kepada anak lelaki kecil itu, walau Chiyo tak begitu faham makna dalam dari kata-kata Yura tapi Chiyo menukasnya dengan senyum dengan bibirnya yang terlampau kering itu.
"Tapi ...."
"Tapi kenapa?"
"Aku bosan disuntik terus! Katanya surga itu tempat yang bagus, makanya aku mau pergi saja, ke surga, ketemu Ibu sama Ayah!"
Yura semakin tercekat. Kata-kata Chiyo adalah metafora yang memiliki makna sungguh mendalam.
"Sudah, pokoknya kamu harus sembuh! Sebentar lagi kamu akan sembuh! Kamu bisa main sama teman-teman kamu lagi!"
"Iya Kak!"
"Kamu itu kuat! Kamu pasti bisa!"
"Iya Kak, aaah ... punggungku sakit lagi!" keluh Chiyo tiba-tiba. Yura ingat kalau saat itu Chiyo bisa nyaman dan terlelap dengan elusan di bagian punggung.
"Kamu baring ya, biar Kakak usapin punggung kamu!" kata Yura.
"Asyiik, oke Kak!"
Setelah membereskan lego-lego itu, Chiyo baringkan tubuh ringkihnya itu lalu dia berikan punggungnya ke hadapan Yura. Dengan sabar Yura mengelusnya dengan kelembutan dan kasih sayang. Sejak pertama bertatap muka, Yura menganggap Chiyo sebagai adiknya sendiri.
"Tangan Kak Yura lembut! Gak kayak tangan Kak Zahran!" celoteh Chiyo membuat Yura terkekeh, kejujuran Chiyo memang selalu membuatnya tergelitik.
"Tapi, dia sayang sama kamu, lebih dari siapapun!"
"Iya, aku juga sayang Kak Zahran ...."
Yura terus mengusap punggung yang hanya tinggal tulang terbalut kulit itu dengan lembut sampai celotehan Chiyo tak terdengar lagi. Sepertinya Chiyo nyaman sampai dia tertidur. Yura senang karena dia bisa menemaninya sampai tertidur.
Diam-diam ....
__ADS_1
Sejak 5 menit yang lalu ada yang menyaksikan ketulusan Yura di balik pintu yang tak tertutup rapat itu. Ya! Zahran melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Dia kini semakin yakin kalau Yura adalah orang baik yang tak semestinya dia manfaatkan demi mendapat uang dari Dara.
Tapi, apakah Zahran akan mampu lepas dari bayang-bayang ancaman Dara?