
Selesai pertandingan Azka heran karena tak mendapati istri dan anaknya di tribun, dia malah melihat Kalyla duduk manis disana.
Azka berjalan mendekati Budi yang sedang membereskan peralatan medisnya.
"Lo lihat gak kapan anak istri gue pergi dari tribun?" tanya Azka lalu sekali lagi dia mencoba mencari Nara dan Azka diantara para supporter yang masih bertahan disana.
"Gue gak merhatiin, apa mereka udah pergi?" Budi malah bertanya balik.
Azka kelelahan dan dia langsung pergi menuju loker room, dia ingin segera mencari keberadaan Nara dan Arkan, walau sepanjang hari ini dia bersikap dingin tapi sebenarnya hatinya sungguh sangat khawatir saat tahu keduanya pergi tanpa sepengetahuannya.
Nara sudah sampai di rumah sejak tadi, dengan emosi dia mengemasi beberapa pakaiannya, dia masuk-masuk kedalam koper kecil dengan penuh emosi, airmatanya berderai dan tak peduli dengan Arkan yang menangis terbaring diatas tempat tidurnya.
Hati Nara terlanjur hancur, dia tidak ingin lagi mendengar apa-apa. Dia ingin pergi jauh dari Azka yang berubah secepat kilat, dia tidak ingin lagi mentoleri perubahan Azka, dia sudah memantapkan hatinya untuk pergi.
"Kita pergi saja ya sayang! mama bisa mengurus kamu sendirian! mama bisa membesarkan kamu dengan baik sendirian!" kata Nara pada Arkan yang masih menangis histeris tak seperti biasanya, mungkin saja Arkan mengerti kalau saat ini papa dan mamanya sedang marahan.
Oaaahhhh...oaaahhhh...
__ADS_1
Arkan malah semakin mengencangkan volume tangisannya, Nara hampir menyerah dengan situasi ini. Mentalnya semakin tertekan melihat anaknya tak berhenti menangis. tapi dia tak mau berlama-lama lagi, dia segera menggendong Arkan dengan satu tangannya, dan tangannya yang lain menggusur koper kecil miliknya, dia juga membawa tas besar milik Arkan di pundaknya, Nara benar-benar ingin pergi dari rumah itu.
Dia menuruni tangga dengan susah payah dan tangisan Arkan menambah rasa stresnya, tapi Nara bertahan dia memacu kembali langkahnya agar dia bisa pergi sebelum Azka datang, dia malas kalau harus berdebat lagi.
Benar saja...
Selang beberapa menit Azka pulang dan langsung mencari Nara dan Arkan, dan hasilnya Azka tidak menemukan keduanya di sudut rumah manapun. Dia terdiam, mungkin dia menyesal. Azka tahu jika marah dan kesal Nara pasti akan mengasingkan diri dan hari ini hal itu terjadi lagi.
Nara mematikan ponselnya dengan begitu Azka tak dapat melacak kepergian dan keberadaannya.
Kemana Nara pergi?
Dia tak tahu harus pergi kemana...
Dia masih didalam taxi bersama Arkan yang tak berhenti merengek. Nara pikir, jika dia pergi ke cafe atau ke rumah ibu tirinya, sudah pasti Azka akan menemukannya dengan mudah. Dia pun pergi tak tentu arah.
Ckttt, tiba-tiba supir taksi menghentikan laju mobilnya, Nara heran...
__ADS_1
"Lho, kenapa berhenti pak?" tanya Nara.
"Kayaknya ban belakang saya gembos, sebentar ya mbak..." kata supir taxi lalu dia keluar mencoba memeriksa sendiri keadaan roda belakang mobilnya. Dan benar saja, dia harus mengganti dengan ban cadangannya.
"Maaf ya mbak, tunggu sebentar...saya ganti dulu ban servnya.." kata si supir taxi, Nara hanya mengangguk dan menunggu di pinggir jalan sembari terus berusaha menenangkan Arkan yang tak kunjung berhenti menangis.
Sepertinya Arkan memang merasakan kekacauan yang tengah terjadi pada orangtuanya, biar dia masih bayi tapi dia pasti tak ingin papa mamanya mengalami konflik berkepanjangan.
Seperti kebetulan-kebetulan lainnya, Yuki yang biasa melewati jalan itu langsung sadar dengan keberadaan Nara dan Arkan yang ada di pinggir jalan menunggu taxi yang dia tumpangi diperbaiki oleh sang supir taxi.
Langsung saja Yuki menepi, dan saat Yuki sampai di dekat Nara dengan motorsportnya Nara langsung tahu kalau itu memang Yuki.
Apakah Yuki akan kembali menjadi penolong untuk Nara seperti yang selalu dia lakukan di masa lalu?
Atau Nara akan mencoba menjaga jarak agar tidak membuat situasi semakin kacau?
Bersambung.
__ADS_1