
Nara mulai beraktifitas normal lagi, dia bangun pagi dan menyiapkan sarapan seperti dulu, dia sudah bosan bermanja-manja ria.
Azka datang dan sudah siap untuk bersantap pagi di meja makan, dia selalu tak sabar untuk menikmati masakan Nara yang tak pernah gagal membuatnya terkesan.
" kangen masakanku kan?" tanya Nara saat dia menghidangkan sarapan untuk Azka.
Azka hanya tersenyum.
Mereka duduk bersama disana dan mulai sarapan.
"sekarang kamu mulai sibuk lagi kan?" tanya Nara memulai topik pembicaraan.
"iya,musim baru kompetisi akan dimulai beberapa pekan lagi.." sahutnya.
"masih bisa gak ya aku nonton kamu langsung ditribun?" tanya Nara lagi, dia tampak cemas,dia merasa tidak mungkin menonton langsung ke venue dalam keadaan hamil seperti sekarang.
"kalo mau ya bisa aja, nanti kita sewa beberapa orang buat mengawal kamu.." sahutnya lagi sedikit menggoda Nara, Nara cuma nyengir geli mendengarnya.
Kriiiiing..
Ponsel Azka diatas meja makan berdering, dengan jelas Nara bisa lihat kalau yang menelphone itu Kalyla. sudah lama sekali Kalyla tidak menghubungi Azka.
Nara insecure lagi, Azka juga jadi agak risih dengan panggilan Kalyla itu.
"angkat aja, mungkin penting!" kata Nara mencoba terlihat biasa padahal dalam hati dia merasa takut, dia takut kalyla mulai merancang rencana baru untuk mengusik kembali kebahagiannya.
Kriiiing, Kalyla terus mencoba menghubungi Azka.
Azka masih cuek dan melanjutkn sarapan.
"kenapa gak diangkat?" tanya Nara.
" paling nanya kabar, gak terlalu penting.." sahutnya.
"angkatlah! gak boleh begitu, gimana pun juga kalian itu teman.."
Kriiing, dering telphon terus mengganggu, Azka pun kali ini mau mengangkatnya.
" Halo.."
__ADS_1
"apa kabar ka?"
"baik, kamu?"
Walaupun bukan apa-apa sedikitnya Nara tetap merasa cemburu melihat itu, terlebih dia merasa khawatir dan takut akan kehilangan Azka. dia terlanjur mencintainya sepenuh hati. dia tidak akan sanggup untuk kehilangan Azka apalagi saat ini hanya Azka lah yang bisa dia anggap keluarga.
"oh ya? papi mami kamu mau pulang dari jerman? syukurlah.. iya.. iya, "
itulah kalimat terakhir yang Azka katakan, Nara mulai penasaran dengan obrolan Azka dan Lyla.
"orang tuanya mau pulang dari jerman ya?" tanya Nara penasaran.
"iya.."
" wah, pasti dia senang.."
"pasti.."
" m.. antarkan aku ke cafe ya, aku udah mulai kuat kok buat beraktifitas normal kayak dulu.."
" iya.."
Sejak Kalyla menelphone tadi sikap Azka cenderung agak dingin seperti sebelum dia memiliki Nara, ada apa ya ?? dan sikapnya ini membuat Nara makin insecure.
Walaupun cafe cukup rame, Nara malah merasa sunyi, dia hanya duduk dimeja kasir dan pikirannya melabur.
'pasti perasaannya gak bisa hilang begitu saja sama Kalyla, gak mungkin.. huh, kenapa gue takut lagi yaa..' pikirnya.
Nara usap perutnya yang mulai terlihat membesar.
'apa karena ini Azka terpaksa bersikap manis selama ini? heh.. kalau benar, aaaah.. mana mungkin gue tetap bertahan dan memaksa.. ya! pasti Azka masih sayang sama Lyla.. pasti!' pikiran Nara mulai mengganggu dirinya sendiri, cemas berlebih dan itu membuatnya insecure lagi.
Setelah cafe tutup.
Nara duduk bersama Lulu yang sedang menghitung pembukuan, Nara masih kepikiran Azka terus apalagi sampai sepetang ini dia belum datang untuk menjemput.
"nih Nar, ini laba bersih bulan ini.. gue udah anggarkan buat belanja bulan depan, dan gue udah siapkan buat gaji pegawai.. itu sisanya.." kata Lulu lalu menyodorkan faktur faktur yang tadi dia hitung kearah Nara, Nara belum menanggapi, dia masih tampak melamun, Lulu jadi cemas.
" Nar.." sadarkan Lulu, Nara hanya menoleh.
__ADS_1
"kenapa?" tanya Lulu.
"gak kenapa-napa.." sahutnya lalu pura-pura memeriksa kembali pembukuan yang tadi Lulu berikan.
" jangan bohong, dari tadi lo melamun terus.."
"gak ada apa-apa, gue cuma ngerasa agak kecapean.." dalihnya.
"Azka juga belum datang, kenapa? apa kalian berantem?"
"dia ada urusan sama team sunrise.."
" kalo ada apa-apa cerita ya, lo gak boleh memendam masalah sendiri.."
"iya cerewet!" cibirnya lalu dia bereskan tasnya.
"cerewet cerewet gini sayang lhoo.."
" iyaaa, makasih ya aunti Lulu.."
Mereka keluar dari cafe dan menguncinya, dan dalam hitungan menit Azka datang, dia kelihatan merasa bersalah karena telat datang menjemput.
"maaf telat.." kata Azka.
"gak telat kok, tepat waktu malahan.." sahut Lulu.
"oh..syukurlah.."
Dalam perjalanan, Nara hanya diam masih ada yang mengganjal hatinya.
" tadi bang Banyu mendadak manggil semua pemain.." kata Azka.
" oh.." tanggapi Nara dingin.
Kriiiiing, lagi dan lagi..
Kalyla lagi lagi menghubungi Azka dan tak terbayang seperti apa perasaan Nara saat ini. ketakutan itu semakin ada dan menguasai hatinya.
Azka juga sadar kalau yang membuat Nara agak berubah adalah hal ini.
__ADS_1
Kriing.. Azka tidak mengangkatnya, dia tidak mau menimbulkan masalah baru, dia tidak mau Nara merasa insecure terus menerus, mereka biarkan dering telphone dari Kalyla memecah kesunyian diantara keduanya.
Bersambung.