
Arkan tak bisa tidur nyenyak, luka di lengan kanan bagian atasnya mulai bereaksi. Dia sedang membayangkan besok dia akan bertemu Nara di meja makan dan sudah pasti dia tak akan bisa menggerakan tangannya dengan baik.
Drdd Drdd ...
Ponselnya bergetar dua kali, mungkin ada pesan masuk dan dari nomor baru. Arkan tatap layar ponselnya dan ternyata,
-Chat room
+62××× : Kak
Arkan. : ???
+62××× : Yura
Sejenak Arkan berdecak, Yura? Chat dia di jam 02.15 begini? Entah Arkan senang atau biasa-biasa saja tapi yang pasti saat ini Arkan agak stuck.
Setelah beberapa menit berpikir, Arkan malah menghubunginya secara langsung, dia merasa percaya tak percaya kalau yang mengirimkan pesan padanya itu adalah Yura.
Bagaimana reaksi Yura saat Arkan tiba-tiba menelphonenya? Dia juga benar-benar terperanjat, padahal tadinya Yura hanya iseng mengirim pesan karena dia memang tak bisa tidur semalaman. Karena gabut dia mengirim pesan pada nomor Arkan yang dia dapat dari Keita.
"M, halo?" sapa Yura pelan.
"Yura?" yakinkan Arkan.
"Iyaa, maaf ganggu ya?"
"Belum tidur?" tanya Arkan malah berbasa-basi.
"Belum, gimana sekarang? Apa tangan Kakak masih sakit?"
"Heum, sekarang malah kerasa makin sakit!"
"Oh ya? Gimana dong? Kak Arkan gak bisa bawa motor sendiri dong?"
"Paling gue minta jemput aja sama si Kei!"
"Aaah iya, itu ide bagus!"
Sejenak hening lagi, walau hanya via telphon tapi Yura merasa masih agak nervous berbincang seperti ini dengan Arkan.
"Tidurlah!" kata Arkan tiba-tiba.
"I-iya Kak!"
__ADS_1
"Maaf, sore tadi gue benar-benar mengacaukan acara kencan kalian berdua!"
"Gak kok, gak apa-apa! Ya udah, bye!" pamit Yura dan mereka benar-benar mengakhiri perbincangan singkat itu.
Arkan? Dia sedikit terhibur dengan obrolan itu, dan dia jadi ingat adegan tatap-tatapan tadi sore saat Yura membantunya memasangkan t-shirt milik Keita, Arkan sepertinya mulai terpanah asmara Yura. Tapi sayangnya Keita lebih dulu mendeklarasikan rasa sukanya pada Yura dan tentu saja itu artinya dia tak punya kesempatan apa-apa lagi.
***
Tak seperti biasa, hari ini Arkan memakai jaket. Dia ingin memyamarkan tonjolan perban yang cukup jelas terlihat jika ia hanya mengenakan seragam sekolah saja.
"Di luar cerah banget lho, kok tumben-tumbenan kamu pake jaket?" sapa Nara yang sedang menyiapkan piring sarapan Arkan.
"Ma, aku lagi gak mau makan nasi pagi ini." kata Arkan, Arkan pikir makan nasi akan membutuhkan waktu lama karena tangan kanannya tak bisa digunakan dengan sempurna saat ini.
"Lho kok?"
"Aku mau roti aja!"
"Ya udah! Pake hazelnut?"
Arkan hanya mengangguk, Nara segera mengambilkan dua lembar roti tawar dan mengoleskan hazelnut favorit Arkan. Sampai sejauh ini Nara tak menyimpan rasa curiga pada Arkan.
"Gak lama lagi kan Papa habis kontrak di Merlion! Mama sama tante Lulu rencananya mau liburan bareng, kira-kira kemana yaa?" tanya Nara membangun topik pembicaraan.
Arkan langsung berpikir, kalau liburan bareng Lulu berarti liburan bareng Yura juga?
"Ya iya lah! Yura kan sudah resmi jadi bagian dari keluarga tante Lulu sama Om Yuki!"
Arkan malah sudah membayangkan yang indah-indah, bisa liburan bersama gadis manis yang belakangan sudah berhasil mencuri separuh hatinya itu.
"Keita?" sapa Nara.
Mendengar nama itu sontak Arkan terkaget, dia jadi merasa bersalah karena baru saja dia membayangkan kebersamaan dengan gadis gebetan sahabatnya itu.
"Pagi Tante!" sapa Keita yang langsung bergabung di meja makan, mereka memang sudah sangat akrab.
"Kamu mau sarapan nasi atau mau roti kayak Arkan?" tanya Nara.
"Gak Tan, aku udah sarapan kok!"
"Oh, ya sudah! Jadi kenapa nih? Kok tumben-tumbenan kamu minta dijemput sama Keita?" tanya Nara agak mengintrogasi.
"Lagi males aja bawa motor sendiri ma," sahut Arkan berdalih.
__ADS_1
"Oh gitu, terus kasian dong Keita jadi gak bisa boncengin pacarnya, hehe...." goda Nara, Keita malah jadi agak tersipu mendengarnya.
"Apaan si Mam, kita berdua gak punya pacar kok! Apaan sih pacar-pacaran!" sahut Arkan.
"Yee kamu aja yang ketinggalan! Mama tahu kok sekarang Keita sama Yura pacaran, iya kan Kei?" Nara malah terus menggoda.
"Aah belum kok Tan," sangkal Keita malu-malu.
"Kamu itu gercep Kei, Yura itu memang manis, baik, sabar, cocok banget buat dijadikan pacar! Gak apa-apa pacaran di usia seperti kalian ini, tapi harus tetap bisa jaga diri yaaa!" pesan Nara.
Dan di bagian saat Nara mengatakan Arkan kurang gercep, ya! Itu benar sekali, pikir Arkan. Dia jadi agak menyesal tak mengunci Yura lebih dulu dan saat ini dia harus menikmati hari-harinya melihat Keita dan Yura bersama-sama menghabiskan waktu manis mereka.
"Aku cuma pengen jagain dia aja kok Tan! Kalau jodoh ya aku jadiin isteri juga entar di masa depan!" kata Keita bergurau dan jujur saja Arkan sedikit jealous mendengarnya.
"Waah, bener-bener kamu ya Kei! Tapi yang penting sekarang kalian rajin belajar aja dulu! jangan pikirkan yang macam-macam!"
"Ashiaaap Tan!"
Arkan meradang, harusnya dia yang bercanda soal Yura bersama Mamanya saat ini.
"Cabut yuk!" ajaknya.
"Hayuu!"
"Berangkat dulu Ma!" kata Arkan lalu mencium pipi Nara dengan hangat.
"Pergi dulu ya Tan!"
"Iya, hati-hati yaa jangan ngebut-ngebut!" pesan Nara saat keduanya berlalu menuju halaman rumah.
Ekspresi Arkan dan Keita hari ini kontras jauh, Keita tampak sangat happy dan berbunga-bunga. Beda lagi dengan Arkan yang pagi ini sudah bergelut dengan rasa cemburu, dia kesal tapi dia bisa apa? Dia memang terlambat menyadari kalau Yura adalah gadis yang menarik.
"Kayaknya gue udah dapat lampu hijau dari semua orang!" kata Keita lalu dia pakai helmnya, begitu pun dengan Arkan.
"Yayaya!" sahut Arkan malas.
"Kok bisa yaa gue baru sadar kalau di sekolah ada gadis semenarik si Yura! Beruntung gue ketemu dia di saat yang tepat!" oceh Keita lagi semakin membuat Arkan merasa malas mendengarnya.
Jangankan 'elo', gue juga baru nyadar sekarang! pikir Arkan dan dia kesal melihat respon orang-orang yang welcome terhadap hubungan antara Keita dan Yura. mungkin saat ini ingin sekali rasanya Arkan bernyanyi
'harusnya, aku yang disanaaa ....' tepat di hadapan Yura dan Keita. Konyol memang, tapi itu hanya sedikit gambaran yang mungkin saja sedang Arkan rasakan saat ini.
"Kalau gitu cepet-cepet tembak dia, gak mau kan tiba-tiba ada yang nyalip dari belakang!" kata Arkan dan dia sedang menceritakan dirinya sendiri saat ini.
__ADS_1
"Gak akan, gak akan ada yang bisa nyalip-nyalip gue!" sanggah Keita lalu dia bersiap di atas tunggangannya dan Arkan juga sudah siap di belakang punggungnya.
Dan begitulah, sepertinya kisah cinta segitiga akan terulang kembali.