
"Garden party ... white holy, heum ... kayaknya yang ini sakral banget deh!" Yura sedang melihat-lihat konsep pernikahan di laptopnya. Dia begitu antusias, sepertinya Yura memang tak main-main dengan niatnya. Dia percaya pada Arkan.
"Yur, ini pesanan Kak Gayatri, 24 toples kecil, dikirim ke alamat rumahnya! Dia udah transfer uangnya kan ke rekening kamu?" Alika datang dengan satu box besar lalu meletakannya di atas meja, menuliskan alamat pelanggan yang ia tuju.
Yura simpan laptopnya lalu menghampiri Alika yang belakangan begitu sibuk karena dirinya harus sibuk mengurusi rencana pernikahannya.
"Udah Al, Kak Gaya udah transfer uangnya! Aku pesan dulu ojolnya ya!" kata Yura sigap lalu mencoba mencari ojek online untuk mengantar box itu.
"Terus pesanan Bu Atika juga minta diantar nanti sore, barangnya udah ready kok, tapi dia minta pembayaran COD," lanjut Alika, sigap dan lugas sekali.
"Oke! Minggu ini kita menjual banyak produk, senangnyaa!"
"Setiap minggu ada progress kok walau gak drastis, tapi kan lumayan!"
"Iya Al, makasih ya, berkat kerja keras kamu!"
"Kerja keras kita!" sambar Alika, Yura tersenyum lalu merangkul pundak sahabatnya itu dengan tangan kanannya.
"Maaf ya kalau belakangan kamu jadi sibuk sendiri," kata Yura.
"Gak apa-apa! Kamu fokus aja sama perencanaan hari pernikahan kamu! Gimana? Udah berapa persen persiapannya?"
"70%, semoga lancar sampai hari-H!"
"Semoga! Makanya kamu fokus aja, urusan kookies, biar aku yang handle Yur!"
"Oke, makasih ya!"
"Oh iya, ngomong-ngomong, orang lain udah pada tahu sama rencana pernikahan kamu ini?"
"Gak ada, sebenarnya kami agak merahasiakan rencana ini! Kamu tahu kan, gimana obsesi Kak Alana terus gimana juga sikap Ahsan selama ini? Aku cuma takut, mereka punya niat buruk buat menggagalkan rencana baik kami!" tutur Yura.
"Aah iya, itu bener banget Yur! Sebaiknya kamu keep rencana ini sampai persiapan kamu ready 100%!"
"Heum, kami juga gak akan undang banyak orang kok, cuma kerabat dekat, dan teman-teman dekat, kecuali Kak Alana dan Kakaknya itu .... rencananya kami juga akan mengadakan pesta kecil di Bali! Nanti kamu sama Zahran dapat undangan Vip ya," goda Yura, Alika senang sekali mendengarnya.
"Benarkah? Jadi udah fix di Bali? Waaah, senangnya ...." kata Alika girang.
"Semoga saja, tapi katanya Kak Arkan udah booking sebuah resort di Ubud, entahlah ... soal tekhnis sebenarnya udah dihandle sama Kak Arkan dan Mamanya!"
"Ya ampuun, seneng banget deh! Selamat ya Yura, kamu sangat pantas mendapatkan semua kebahagiaan ini! Aku merasakan dan melihat sendiri bagaimana kamu melewati aral dan getir selama bertahun-tahun! Sekarang sudah tiba saatnya kamu mengecap buah dari kesabaran kamu!"
"Iya Al, makasih juga ya, berkata do'a dan dukungan kamu juga! Kamu sudah memberi banyak energi positif buatku! Aku sayang kamu Al ...."
"Aaaah, love you too!" kata Alika dan pada akhirnya mereka saling berpelukan. Sebuah hubungan pertemanan yang terjalin dengan indah.
Kedatangan sebuah mobil di halaman toko menghentikan momen mengharukan itu. Yura tahu betul itu mobil siapa. Seketika aura bahagianya berubah menjadi ketidak sukaan.
Ya! Siapa lagi yang mampu membuatnya bad mood dalam seketika seperti itu kalau bukan Ahsan. Yura kesal, dia masih selalu merasa kesal setiap melihat apapun yang berkaitan dengan Ahsan, dan sudah sepekan lebih Yura tak bertemu dengan pria congkak itu.
Ahsan mendorong pintu masuk toko dan dia datang dengan sebuah paper bag kecil di tangan. Entah apa yang dibawanya itu. Yura langsung memajang muka jutek dan Alika bisa melihat itu dengan jelas. Alika sangat mengerti bahkan dia juga merasakan hawa kebencian Yura terhadap Ahsan.
PUT, Ahsan meletakan paper bag kecil itu di atas etalase kaca di depan Yura berdiri sekarang.
"Apaan tuh?" tanya Alika dengan nada menggoda.
__ADS_1
"Pengganti ponsel kamu yang rusak!" kata Ahsan tegas, dia masih terlihat dingin padahal sudah beberapa hari ini dia tak bisa berhenti memikirkan Yura.
"Gak usah! Makasih!" sahut Yura tegas, dia benar-benar mencoba menunjukan powernya di hadapan Ahsan. Yura benar-benar tak ingin terlihat lemah di depan Ahsan.
"Ambil! Gak sopan nolak pemberian orang lain!" kata Ahsan lalu menyodorkan paper bag itu lebih dekat ke arah Yura.
"Gak apa-apa kok! Gak usah merasa bersalah begini, pacar saya sudah membelikan yang baru!" kata Yura sinis.
"Tentu saja, pacarmu bisa membelikan apa saja yang kamu butuh!"
"Ya, jadi kamu gak perlu repot-repot mengganti ponsel saya yang sengaja kamu rusak itu! Walau kamu gak meminta maaf secara langsung, saya sudah mencoba memaafkan kamu!"
"Hm, aku ... aku ke belakang dulu ya!" pamit Alika yang malah beranjak ke belakang dapur meninggalkan Yura dan Ahsan berdua saja.
Yura masih bersikap dingin dan Ahsan masih asyik memandanginya dengan tatapan yang lekat.
'Damn! Kenapa gue merasakan sesuatu yang berbeda! Kenapa dia begitu menawan, Tuhan? Kenapa Engkau merubah hati dan pandanganku secepat ini?' batinnya, sepertinya Ahsan sedang mencoba menyangkal tapi dia tak mampu.
"Kalau gak ada keperluan apa-apa lagi, silakan pergi! Saya masih banyak pekerjaan!" kata Yura, berani sekali. Dia balas arogansi Ahsan dengan arogansinya sendiri. Yura sudah menunjukan sisi lainnya di hadapan Ahsan karena faktanya Ahsan memang sudah terlalu mengusik ketenangan dalam hidupnya.
"Heh Han Yura!" panggil Ahsan, Yura beranikan diri untuk melempar pandangannya pada Ahsan. Dan lagi-lagi, sejurus matanya memicing, panah cupid juga semakin menghujam ke jantung Ahsan. Tapi Ahsan selalu dan selalu menyangkalnya.
"Apa lagi? Maaf saat ini saya sangat sibuk, saya gak akan melayani orang yang gak berkepentingan!"
"Saya menemui kamu, saya ada perlu sama kamu! Saya punya niat baik sama kamu tapi kamu malah bersikap begini, dimana sopan santun kamu, heh?" Ahsan malah semakin nyolot dan Yura semakin kesal.
"Apa? Sopan santun? Kamu mau membicarakan sopan santun sama saya? Terus bagaimana dengan sikap bar-bar kamu terhadap saya selama ini? Dari awal kita bertemu kamu gak punya sopan santun itu! So, gak usah bicara adab sementara kamu sendiri masih gak beradab!" Yura semakin memberanikan diri keluar dari zona nyamannya, tapi tentu saja Ahsan yang tempramental tak tinggal diam.
GAP, seperti biasa, dia lancang merebut pergelangan tangan Yura dengan kasar. Di hadapan Yura, Ahsan sudah menjadi pribadi yang sangat labil. Di satu sisi dia ingin menyangkal perasaannya tapi di sisi lain dia juga masih tak terima diperlakukan seperti itu oleh Yura.
"Apa lagi ini? Apa ini kesopanan? Merebut tangan orang lain secara ilegal?" tanya Yura.
'Kak Arkaaan!' batin Yura yang segera menghempas cengkraman tangan Ahsan tapi belum berhasil bahkan sampai Arkan masuk. Arkan marah, dia sangat tidak suka dengan pemandangan itu. Barulah dia yang berhasil melepaskan tangan kekasihnya dari Ahsan. Ahsan juga baru sadar dengan kehadiran Arkan.
"Ada apa ini?" tanya Arkan, walau marah tapi dia tetap berusaha menjaga amarahnya agar tak terjadi keributan di dalam toko kekasihnya ini.
Ahsan tak merasa malu sama sekali, dia malah merasa semakin tertantang dengan kedatangan Arkan.
Alika yang sejak tadi mengintip di balik ambang pintu pantry juga merasakan ketegangan yang mendalam.
'Waaah, bisa-bisa ada perang gladiator cinta disini! Gimana ini?' batinnya, dan masih sempat mengatakan lelucon konyol dalam batinnya. Dia memang merasa kalau kisah cinta sahabatnya itu penuh dengan intrik.
"Sudah, aku gak mau ada keributan disini! Tolong jangan terpancing!" Yura keluar dari area etalasenya lalu mendekat ke arah dua pria yang tengah mendebatkannya itu. Yura dorong dada Arkan agak menjauh dari Ahsan yang sedikit mati kutu di hadapan Arkan.
"Dia pegang-pegang tangan kamu, itu maksudnya apa?" tanya Arkan masih tampak marah.
"Udahlah, nanti aku jelaskan!" gumam Yura, dia benar-benar tak ingin ada provokasi apapun.
"Seperti yang lo lihat! Gue merebut tangannya dengan sangat mudah! Sama seperti gue akan merebutnya dari lo, dengan mudah juga!" cetus Ahsan, dan itu adalah sebuah provokasi yang nyata. Amarah Arkan tersulut dan Yura semakin panik.
"Apa maksud lo, heh?" Arkan hendak menerjang tapi Yura sekuat tenaga menahan tubuh jangkungnya itu.
"Jangan! Please! Aku gak mau ada keributan!" tahan Yura.
"Dia udah se-fontal ini kenapa kamu diam aja?" Bahkan Arkan membentak Yura.
__ADS_1
"Ya, dia diam saja karena dia menikmatinya!" sela Ahsan, Yura kesal, dia kesal bukan main. Ternyata masih saja ada aral yang mungkin menjegal hari bahagianya.
"Diam kamu! Kita gak ada urusan apa-apa!" kecam Yura sembari menoleh ke arah Ahsan yang hanya tersenyum puas ke arahnya.
"Oke, urusan kita hari ini selesai! Tapi, besok kita akan bertemu lagi, atau bahkan nanti malam! We'll see! See you honey! Dan buat lo Arkana! Lo sedang head to head dengan gue! Gue gak akan melepaskan Han Yura begitu saja!" Ahsan benar-benar menyebalkan, kata-katanya membuat Arkan berpikiran liar, Arkan pikir Ahsan sering menemui Yura di belakangnya, tanpa sepengetahuannya.
Ahsan pergi, berlalu, meninggalkan Arkan dan Yura yang sepertinya siap untuk bersitegang. Setelah Ahsan pergi, Arkan langsung menatap Yura penuh curiga.
"Dia sering kesini? Kenapa kamu gak pernah bicara kalau dia masih sering mengganggu kamu?" tanya Arkan, tak ada kehangatan dalam intonasi bicaranya. Nara tahu kalau Arkan sangat marah saat ini.
"Tolong tenang dulu! Jangan terprovokasi, kamu harus ingat, gimana gigihnya mereka mencoba mengganggu hubungan kita!" Yura mencoba menenangkan.
"Kamu ...."
"Ingat! Saling percaya! Apa kamu gak mau percaya sama aku? Kamu akan lebih percaya sama bualan dia?" sela Yura, dia belajar untuk mengendalikan situasi panas. Yura sudah berguru dari pengalaman, dia tak ingin orang-orang yang berniat jahat padanya memanfaatkan situasi panas ini. Yura harus lugas, tinggal menunggu hari, pernikahan mereka akan digelar. Yura tak ingin Ahsan dan provokasinya menghancurkan niat besarnya bersama Arkan.
"Tapi kenapa kamu gak cerita tentang sikap kurang ajar si Ahsan? Apa dia sering melakukannya?"
"Nggak kok! Dia hanya datang hari ini, ini! Dia katanya mau ganti ponselku yang rusak!" tegas Yura lalu dia menunjukan paper bag yang Ahsan tinggalkan di atas etalase.
"Aku menolaknya! Tapi dia maksa, udah gitu aja ...."
"Tapi dia masih maksa-maksa kamu kan?"
"Iya, tapi itu gak akan mempan kok! Buat saat ini, fokusku cuma kamu Kak! Justru aku cemas kamu terganggu sama permainan Ahsan, atau Kak Alana atau yang lainnya, ini yang aku takutkan! Aku udah banyak belajar, makanya aku gak mau terpancing! Dan sekarang, aku malah takut kamu yang terpancing Kak! Saat kamu marah, itu lah yang Ahsan inginkan! Saat emosi kamu gak stabil, dia pasti akan memanfaatkan situasi! So, please, kamu cuma perlu percaya sama aku, aku juga akan selalu percaya sama kamu! Cuma itu!" Kata-kata Yura berhasil mengendalikan amarah Arkan.
Yura tahu betul, bagaimana dia harus menghadapi situasi seperti ini. Dia benar-benar sudah belajar. Pengalaman buruk telah menjadi guru terbaik untuknya.
Yura menarik sebuah kursi lalu meminta Arkan untuk duduk, karena amarah akan sedikit mereda ketika duduk, pikirnya. "Duduklah Kak! Tenangkan dirimu!"
Arkan menurut saja, dan Yura mengelus pundaknya dengan lembut, sangat lembut dan intens sampai membuat amarah Arkan semakin surut.
Alika yang masih mengintip merasa begitu bangga pada Yura.
"Aaah Han Yura, kamu memang pacar terbaeekk! kamu benar-benar belajar dari pengalaman buruk di masa lalu, so proud of you!" gumamnya bangga.
"Kaak, aku gak mau, hal-hal seperti ini mengalahkan kamu! Sekarang pilihannya cuma dua, kamu percaya aku, atau kamu mau percaya mereka," ucap Yura lagi sesaat Arkan terlihat lebih tenang, Arkan menarik tangan Yura dari pundaknya lalu menggenggamnya dengan kuat, sangat kuat, sebagai representasi kalau Arkan benar-benar tak akan melepaskan Yura untuk alasan apapun lagi.
"Aku percaya kamu!" tegas Arkan, Yura tersenyum, akhirnya badai reda dengan cepat.
"Makasih ...." ucapnya lembut dengan perasaan lega.
"Maaf ya, tadi aku sempat bentak kamu!" ucap Arkan bergantian.
"Iya gak apa-apa!"
"Tolong jangan mengalah lagi untuk siapapun!" pinta Arkan dan sorot matanya sedang menunjukan rasa takut kehilangan yang sangat dalam.
"Gak akan lagi!"
Seorang kurir masuk, mengganggu momen manis keduanya. Yura jadi malu tapi Arkan malah sengaja menahannya walau di depan kurir itu.
"Hm ... m ... maaf mbak, saya mau ambil paket barang yang mau mbak kirim!" kata kurir itu malu-malu.
"Iya ... sebentar ya, iiih Kak Arkan, lepas dulu iih," bisiknya malu-malu tapi Arkan malah mengeratkan genggaman tangannya sambil tersenyum menggoda.
__ADS_1
"Udah ... udah, take your time, abang kurir ini biar aku yang handle!" Alika datang bak pahlawan lalu dia lah yang menghadapi kurir itu.
"Iih nakal deh!" bisik Yura yang masih berdiri di depan kekasihnya yang masih terduduk manis dengan senyum menggodanya itu.