
Yura menuntun sepedanya, ini sudah jam delapan malam dan dia cukup kelelahan hari ini. Dia memasuki gerbang lalu menyimpan sepeda kesayangannya itu di teras rumah.
Walau lelah tapi Yura sangat senang karena hari ini dia mengantar banyak pesanan dan itu artinya dia mendapat uang saku lebih banyak. Dia tak sabar ingin memasukannya ke dalam celengan ayam yang dia sembunyikan di bawah dipannya.
"Aku pulang!" seru Yura sejurus dia membukakan pintu rumahnya, tapi langkahnya malah tertahan di ambang pintu.
Apa yang terjadi?
Yura melihat Ibu tirinya sedang menangis perih di ruang depan, bisa di bilang itu adalah ruang tamu. Yura sama sekali tak tahu apa yang menyebabkan Ibunya menangis seperti itu, dia tengak tengok kanan kiri dan dia tak melihat Tania dimana pun.
"Bu," panggilnya pelan dan penuh ke-hati-hatian kemudian berjalan mendekat secara perlahan.
Ibu terus menangis dan sama sekali tak menjawab sapaan Yura.
"Ibu kenapa?" tanya Yura lalu duduk di sofa di samping Ibu yang mulai menyeka airmatanya secara perlahan.
"Kacau Yura! Kacau!" sahutnya, dan itu malah menambah rasa penasaran di benak Yura.
"Apanya yang kacau bu?"
"Rumah ini! Rumah ini mau disita bank kalau Ibu tak bisa menyelesaikan tunggakan cicilan ibu lusa!" cetus Ibu.
Yura terbelalak, seperti ada sesuatu yang menghantam kepalanya, sakit sekali. Disita? Oleh pihak Bank? Yura bahkan tidak tahu kapan Ibu menjaminkan rumahnya ini kepada pihak Bank.
"Ka-kapan Ibu meminjam uang ke Bank?" tanya Yura dan hatinya masih terasa sesak tiba-tiba.
__ADS_1
" Sekitar satu tahun yang lalu, Ibu sudah menunggak cicilan sampai 3 bulan! Dan pihak Bank akan menyegel rumah ini kalau lusa Ibu tak menyelesaikan pembayarannya!"
"Terus, Ibu pakai uangnya buat apa? Kok aku gak tahu?"
"Hey Yura! Dipikir biaya hidupmu itu gak sedikit? Ya duitnya Ibu pakai buat kebutuhan sehari-hari lah!" jawab Ibu nyolot, Yura mulai merasa sakit hati sekarang. Setiap ada masalah selalu dia yang dikambing hitamkan. Padahal selama ini Yura bahkan jarang sekali mendapat uang jajan dari Ibu. Yura menduga kalau uang itu Ibu hamburkan untuk memenuhi kebutuhan Tania yang sudah belagak seperti kaum hedonis.
"Hey Yura! Ayahmu tak meninggalkan harta yang cukup untuk kita! Dia cuma meninggalkan rumah ini, coba kamu pikirkan! Seharusnya Ibu menitipkanmu saja di panti asuhan! Kalau saja Ibu tak ikut-ikut repot mengurusmu, mungkin Ibu gak akan kesusahan seperti ini!" lontar Ibu lagi, Yura benar-benar sakit hati.
Apa? Ibu kesusahan karena mengurus Yura? Bahkan Yura sudah mulai mandiri sejak ayah meninggal. Dan sebentar, Ibu menyalahkan Ayah yang tak meninggalkan apapun? Heh, ingin rasanya Yura menyumpal mulut Ibunya itu. Mobil, motor sudah ludes terjual untuk membeli koleksi tas dan sepatu mahal Ibu, dan parahnya Ibu tertipu. Beberapa bulan lalu Ibu rela menjual mobil Ayah -ya walaupun hanya mobil sedan tua- dan menukarnya dengan tas branded yang belakangan ternyata tas itu KW, KW kesekian dan Ibu tak bisa menjualnya lagi.
Gak ada akhlak memang, dan sekarang dengan renyahnya Ibu menyalahkan Yura dan mendiang ayahnya? Sudah tak ada kata maaf dalam hati Yura, dia sudah sangat sakit hati malam ini.
"Hey Yura! Kenapa diam saja? Huh? Coba bantu berpikir, setelah ini kita mau tinggal dimana?" tanya Ibu, dia memang kelihatan agak stres.
GRUUUNG
Sepertinya Tania baru pulang, dia memarkirkan sepeda motornya di depan rumah. Dan tak lama dia datang dengan atribut basket, mungkin dia baru pulang dari menonton pertandingan antara team sekolah di venue Sunrise.
"Ada apa ini? Kenapa Ibu nangis? kenapa juga si Yura mewek begitu?" tanya Tania begitu dia membukakan pintu dan mendapati Yura dan Ibunya menangis perih di ruang itu.
"Sayaaang, kemarilah!" kata Ibu lalu mengulurkan tangannya, Tania berjalan mendekat.
Yura iri, dia iri sekali. Tania yang selama ini mengahabiskan banyak uang selalu mendapat perlakuan penuh kasih dari Ibu, tapi Yura sadar kalau itu sesuatu yang wajar karena Tania memang anak kandung Ibu, anak yang keluar dari dalam rahimnya. Sedangkan Yura? Siapa dia? Bahkan Ibu menyesal tidak menitipkannya di panti asuhan.
"Ada apa sih? Kok perasaanku gak enak!" tanya Tania yang sudah duduk di dekat Ibu, lalu Ibu langsung menangis sembari jatuh dalam pelukan gadis tersayangnya itu.
__ADS_1
"Rumah kita akan disita!" ungkap Ibu dan dia kembali menangis tersedu sedan, seketika matanya terbelalak, dia tak kalah shock.
"Disita?" hentaknya.
"Iya, sayang, maafkan Ibu karena tak bisa membuatmu bahagia! Ibu memang tak sanggup membahagiakan kamu, maafkan Ibu!"
"Bentar, bentar ... ini Ibu lagi ngeprank aku atau apa sih? Kok gak lucu sih, gak lucu bu!" kata Tania yang mencoba menyangkal kenyataan yang baru saja dia dengar.
"Maafkan Ibu!"
"No! Terus kita mau tinggal dimana? Dimana bu? Rumah ini saja sudah jelek, dan kita juga harus kehilangan rumah jelek ini? Terus kita mau tinggal dimana Ibu?"
Satu lagi makhluk tak tahu malu yang ingin Yura sumoal mulutnya, dengan santainya Tania menyebut rumah peninggalan Ayahnya sebagai rumah yang jelek? Tania memang anak tak tahu malu, tak bersyukur dan tak tahu berterimakasih.
Jika Yura ingat-ingat lagi, dulu Tania dicampakan sama sekali oleh Ayahnya. Tapi bisa-bisanya dia menyepelekan kasih sayang Ayah Yura yang sudah menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri.
"Kita akan cari rumah kontrakan, mudah-mudahan pihak Bank mau bermurah hati dan memberikan kita sedikit uang sisa penyitaan rumah ini," jawab Ibu.
"What? Rumah kontrakan? Ibu bercanda? Bagaimana bisa bu? Apa kata teman-temanku nanti, huh? Aku gak bisa bayangkan, aku gak mau! Pokoknya aku gak mau!" hentak Tania, dia histeris sekali, otaknya tak bisa menerima kenyataan ini dan yang dia pikirkan hanyalah gengsi dan gengsi.
"Maafkan Ibu sayang," ucap Ibu berkali-kali bahkan Ibu sampai berlutut di kaki Tania, sebenarnya Yura tak tega melihatnya tapi dia ingat lagi betapa Ibu juga sering bersikap keterlaluan padanya.
"Gak! Kalau benar ini sampai terjadi, Aku gak akan bisa maafkan Ibu! Aku menyesal jadi anak Ibu! Ibu gak bisa membuatku jadi seperti teman-temanku! Aku benci, aku benci Ibu!" Tania masih berontak lalu bangkit dan bahkan membuat Ibu sedikit terjengkang, Ibu menangis perih lagi dan Yura lama-lama tak tahan melihatnya.
Walau berkali-kali Ibu menyakitinya tapi nuraninya masih tergerak untuk membantu Ibu bangkit, Yura tak tega juga melihat Ibu diperlakukan seperti itu.
__ADS_1