Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Restauran favorit


__ADS_3

"Kamu hebat!" kata Azka sembari menepuk pundak Arkan yang hari ini bermain sangat luar biasa. Kehadiran Azka menjadi motivasi lebih untuknya.


Venue mulai sepi, satu persatu supporter yang memadati tribun mulai beranjak meninggalkan tempat duduk mereka.


Begitu pertandingan dan seluruh acara selesai, Azka langsung menghampiri Arkan yang masih duduk sendiri menunggunya di bench. Satu persatu teman-temannya juga mulai meninggalkan venue termasuk Keita yang hari ini cepat-cepat pergi, sepertinya dia punya rencana dengan Yura, tapi Arkan tak mempedulikan hal itu, dia hanya ingin menikmati waktunya bersama Papa Azka.


"Tapi kamu harus lebih banyak berlatih lagi ya!" kata Azka dan Arkan mengangguk pasti, dia akan terus berlatih sampai dia bisa menjadi sehebat Papanya.


"Gaya Arkan melakukan lay up tuh persis gaya kamu deh, emang ya, buah itu gak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya!" tukas Nara mencoba membuat situasi kebersamaan indah ini semakin hangat.


"Aku kan belajar semua trik dari Papa!" kata Arkan, saat berdiri di antara Mama Papanya seperti sekarang ini dia tampak agak manja, beda sekali dengan image tegas,lugas dan dinginnya yang selalu dia tunjukan di depan teman-teman sekolahnya.


Perbincangan hangat Arkan dan kedua orangtuanya cukup menjadi perhatian teman-temannya yang masih tertinggal di tribun tak terkecuali Keyla dan Dara. Mereka merasakan kehangatan yang terjalin antara Arkan dan Azka, walau hanya melihat dari kejauhan tapi aura positif menaungi mereka.


"Waah, pantesan aja Arkan cakep banget ya Key, wong Mama Papanya aja se-keren itu! Lihat tuh, Papa mertuamu, pasti waktu muda dia se-keren Arkan!" goda Dara membuat Keyla semakin mengagumi seorang Arkan, Keyla bahkan membayangkan dirinya ada di tengah-tengah kehangatan itu.


"Jelas lah! Dia sempurna! hal apa yang membuat gue gak bisa jatuh cinta sama dia, gak ada kan?" tanggapi Keyla.


"Jelas!"


"Oh iya, sebenarnya ada apa sih sama si Tania? Gelagatnya aneh banget hari ini dan kenapa pula Keita, Arkan sama Vano nuduh yang enggak-enggak sama dia?" tanya Keyla beralih topik.


"Ya gak tahu dan yang lebih mengherankan kenapa Keita mengaitkan masalah tadi sama si Yura? Apa coba maksudnya?"


"Coba diingat lagi deh, tadi Keita tanya sama si Tania, dia kenal sama si Yura apa nggak? Dan si Vano nyindir-nyindir majikan sama pembokat, apa mungkin si Yura itu memang pembokat si Tania?" tanya Keyla menduga-duga, mereka memang tak bisa mengenal Tania terlalu dalam karena selama ini Tania memang tak pernah terbuka, dan walaupun mereka sudah bersahabat selama bertahun-tahun tapi keduanya tak tahu siapa Tania yang sebenarnya, bahkan Tania berhasil menipu sampai bertahun-tahun lamanya.

__ADS_1


"Bisa jadi, tapi kenapa si Tania gak pernah cerita? Dan saat kemarin-kemarin kita bahas cewek tengil itu, dia juga diam aja seolah-olah gak tahu apa-apa, ada apa ya? Kok gue jadi agak skeptis gini sih sama si Tania!"


"Sama! Dan kalau tuduhan Keita benar, apa coba maksud si Tania nyolong sepatu pembokatnya, malu-maluin banget kan?"


"Gak bisa dimaafkan!" tegas Dara, dan apa jadinya kalau mereka tahu kalau sebenarnya Tania itu murid biasa-biasa saja, bukan anak pengusaha seperti yang selalu dia katakan selama ini.


"Pulang yuk, udah sepi nih!" ajak Dara saat suasana venue sudah cukup kosong, bahkan mereka juga sudah tak menemukan Arkan dan orangtuanya di tengah lapangan.


"Lets go!", keduanya pulang menyelesaikan akhir hari ini dengan rasa ragu dan curiga pada sahabat mereka sendiri.


Sesuai rencana, sepulang dari pertandingan, Nara, Azka dan Arkan menepi di sebuah restauran favorit mereka selama ini. Setiap Azka pulang ke Jakarta, makan bersama di tempat itu adalah agenda wajib mereka.


Mereka sedang menikmati appetizer berupa sup cream jamur, menu classic favorit Azka dan kini sudah menjadi favorit anaknya juga.


"Lusa Papa harus berangkat lagi!" jawabnya dan seketika Arkan tampak kecewa, dia sangat membutuhkan waktu yang banyak dengan Papanya, tapi Azka juga harus tetap menjunjung profesionalitasnya.


"Arkan, hari ini kan Papa pulangnya mendadak, bukan libur kompetisi jadi Papa gak bisa lama-lama!" tenangkan Nara.


"Sabar ya, cuma tinggal 2 bulan lagi kok, kontrak Papa selesai disana!"


"Jadi setelah ini Papa gak akan pergi kesana lagi?" yakinkan Arkan penuh harap, Azka mengangguk lalu tersenyum dan senyum manis remaja 17 tahun itu terbit lagi, maniiis sekali dan sungguh senyuman itu adalah yang selalu Azka dambakan selama ini.


"Iya, Kakek kan butuh bantuan Papa buat mengurusi bisnis keluarga! Jadi mulai nanti kamu bisa punya waktu lebih banyak lagi sama Papa!" sambung Nara semakin menguatkan kebahagiaan Arkan.


Arkan senang sekali, dia memang anak yang sungguh sangat beruntung. Tak ada alasan untuk tak mensyukuri hidup. Lahir dari keluarga berada dan sejak bayi Arkan tak pernah kekurangan kasih sayang dan perhatian, dia selalu mendapatkannya dengan utuh dan sempurna, jauh sekali dengan nasib Yura, jauh sekali.

__ADS_1


"Andai saja Yura bersedia tinggal bersama Lulu dan Yuki, mereka pasti bisa saling melengkapi!" kata Nara memulai obrolan yang lain, Arkan sedikit mengerutkan dahinya mendengar hal itu.


"Kita kan harus tetap menghargai pilihan anak itu!" sahut Azka.


"Iya sih! Tapi, Aku ragu kalau Yura hidup bahagia selama ini sama orangtua sambungnya! Sepertinya dia punya beban tersendiri dan tak bisa meninggalkan Ibunya begitu saja!"


Arkan jadi ingat masalah sepatu yang Tania pakai tadi pagi, dia juga menduga kalau Yura dan Tania adalah saudara tiri.


"Yura?" tanya Arkan yang ingin masuk dalam obrolan itu.


"Iya, tante Lulu sama om Yuki terkesan sama dia, dan tadi sempat terpikir buat mengadopsi Yura, kasihan kan dia? Kamu pernah cerita kalau Ibunya cerewet dan galak, iya kan?" jelaskan Nara lalu bertanya, Arkan jadi tertarik.


"Ya, pas dia luka juga bukannya bantuin jalan malah terus diomeli! Dan sekarang Aku baru tahu kalau dia juga punya saudara tiri yang sama menyebalkannya sama Ibu tirinya!" cerita Arkan, Nara terkesiap! Saudara tiri? Kenapa apa yang Yura alami sama seperti yang dia alami di masa lalu.


"Benarkah?" yakinkan Nara.


"Kenapa anak itu semakin sama sepertimu?" tanya Azka yang diam-diam juga tertarik dengan kisah Yura.


"Iya! Kalau benar dia juga punya saudara tiri yang menyebalkan, fix! Yura itu gambaran Mama di masa lalu!" kata Nara dan kemudian dia tertegun.


"Semoga dia bisa sukses dan bahagia seperti Mama saat ini!" harap Arkan dan mendengar do'a tulus Arkan, Nara maupun Azka terasa sangat damai dan sontak mengamininya.


"Aamiin!"


"Oh iya, dari mana kamu tahu kalau Yura itu punya saudara tiri?" tanya Nara, tak sabar rasanya ingin mendengar episode baru dari kisah Yura yang selalu dia nantikan selama ini.

__ADS_1


__ADS_2