
"Hah Kak Dara???"
Yura terkaget saat dia terbangun ada Dara duduk di tepi tempat tidurnya menggantikan posisi Keita. Ya, tadi pintunya memang tak terkunci dan selepas Keita pergi Dara masuk mencoba mengintimidasi Yura lagi.
Siapa yang tak kaget saat terbangun di tengah malam ada seseorang duduk memandangi dengan tatapan misterius. Dara memang sudah setengah gila, dia ternyata phsyco.
"Tenang aja, gak usah takut!" kata Dara sok kalem.
Yura angkat setengah tubuhnya lalu agak mundur menjaga jarak dengan Kakak kelas obsesifnya itu.
"Ini masih tengah malam Kak, apa yang Kak Dara lakukan disini?" tanya Yura ketakutan.
"Cuma mau mastiin aja kalau kamu gak bicara yang aneh-aneh sama Keita! Yura, aku udah merasa kalau kemenanganku sudah ada di depan mata, dan andai besok pagi kamu menggagalkannya ... entahlah, semuanya berakhir, mungkin hidupku juga akan berakhir!" Lagi dan lagi Dara mengancam Yura, itu adalah senjata andalannya.
"Nggak kok, selepas makan malam tadi dia cuma duduk beberapa menit dan dia langsung pulang," tukas Yura.
"Ya, aku tahu ... setelah aku hitung-hitung tadi dia gak sampai 15 menit disini!"
Astaga, apa sejak tadi Dara mengikuti Yura dan Keita? Yura semakin takut, dia pikir memang seharusnya dia tak main-main dengan orang seperti Dara. Tapi ... bagaimana dengan nasib Keita nanti? Apa Keita akan baik-baik saja saat nanti Dara sudah berhasil menjeratnya dengan obsesi gilanya itu?
"Kak, kalau nanti kalian udah sama-sama, tolong jangan kecewakan Kak Kei ya?" pinta Yura dalam hening malam di sebuah kamar sewa kecil di pinggiran kota London.
"Masalah itu gak usah ajari aku! Aku tahu apa saja yang harus aku lakukan buat bikin dia nyaman! Di dunia ini gak ada yang lebih mencintai dia selain aku!"
"Ya, semoga kalian bahagia."
"Dan tolong, setelah nanti kamu lepas dari Keita, jangan coba-coba berlindung sama Arkan!"
'Arkan? Kenapa Kak Dara bawa-bawa nama Kak Arkan? Apa maksudnya?' batinnya terheran dan terkaget lagi saat nama Arkan tiba-tiba disebut.
"Yura, kami, aku dan Keyla gak ngerti kenapa kamu bisa jadi ancaman yang cukup besar! Kamu memang tak bisa kami remehkan begitu saja, kamu tahu kalau aku dan Keyla merasa sangat insecure setiap kali melihat atau sekedar mendengar namamu?"
Yura berdecak lagi, benarkah selama ini dirinya se-precious itu sampai membuat kedua mantan Kakak kelasnya yang populer merasa insecure?
"Ya sudah, lanjutkan istirahatmu! Besok lakukan dengan baik dan se-natural mungkin!" kata Dara lalu dia bangkit dan bersiap untuk pergi lagi.
'Gila ... ini benar-benar gila!' batinnya sampai dia melihat Dara berlalu dari ruangannya.
Setelah itu Yura tak bisa tidur lagi, masalah yang merundungnya begitu komplek.
__ADS_1
***
Pagi yang masih terasa dingin ....
Keita menjemputnya dan mengantar ke Bandara. Selama 20 menit perjalanan tak ada sepatah kata pun yang Yura katakan pada Keita yang mengemudi dengan fokus walau sesekali melirik ke arah Yura yang duduk di sampingnya.
"Jangan sedih, nanti kita akan ke tempat yang lebih indah lagi!" kata Keita lalu dia raih tangan Yura tapi Yura malah melepasnya, Keita makin tak mengerti.
"Ma-maaf kak, tanganku kesemutan!" dalihnya.
"Oh, sini ... biar aku angetin!" Keita kembali merebut tangan Yura dan Yura akhirnya pasrah, anggap saja itu sebagai genggaman tangan terakhir.
Dan sampai di Heatrow Airport lagi, Yura menghela nafas dalam-dalam dan menahan diri di dalam mobil sementara Keita menurunkan koper dan barang-barangnya dari dalam bagasi.
Yura sedang mempersiapkan diri, pasti akan ada guncangan hebat setelah ini. Dan lagi! Dari kejauhan Yura melihat Dara bersembunyi di salah satu pilar di Bandara besar itu.
KRIIING, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Yura kaget karena selama di London tak ada yang menghubunginya. Dan jika dilihat dari avatar kontaknya, itu pasti Zahran yang Dara maksud kemarin.
"Siapa yang telepon?" tanya Keita mengagetkan yang tiba-tiba hadir lalu membukakan pintu mobil Yura. Yura terkaget.
"I-ini ...." Yura sampai gagu karena ini pasti sudah masuk skenario Dara.
"Ini siapa?" tanya Keita, tak ada aba-aba dan Keita kelihatan sangat marah.
"Itu ...."
Keita angkat teleponnya dan Yura tak tahu lagi apa yang akan terjadi setelah ini, dia hanya bisa pasrah dan tak bisa melakukan pembelaan apapun.
Seketika wajah Keita merah padam ....
"Sayaaang, berarti aku jemput kamu jam berapa?" itulah kalimat pertama yang Keita dengar. Dia muak dan dia langsung matikan sambungan teleponnya. Keita marah, sangat marah.
"Apa-apaan ini? Apa dia salah sambung?" tanya Keita, Yura sudah mulai tak kuasa, dia mulai menangis.
"Han Yura! Jawab!" Bentaknya, Yura hanya menggelengkan kepala karena terlalu sesak hanya untuk sekedar menjawab 'ya'.
"Maksudnya apa?" Desak Keita, Yura tak berani menunjukan wajahnya, dia tak akan tega melihat Keita saat ini.
"Sebelum aku marah besar ...."
__ADS_1
"Maaf Kak," sambar Yura, "Maaf kenapa?"
"Maaf kalau selama ini aku gak setia sama Kakak!"
BYAAAAR, seketika Keita terdiam. Pengakuan paling menyakitkan dalam hidup Keita.
"Maafkan aku!" Yura meraih tangan Keita tapi serta merta Keita menghempaskannya dengan kasar.
"Aku ... aku gak sanggup lagi menjalani hubungan dengan dua pria sekaligus!" ungkap Yura, sesuai skenario Dara.
"Gak mungkin ...." gumam Keita.
"Maaf Kak, sudah setahun! Kami backstreet tapi, jujur saja aku udah sayang banget sama dia!"
"Gak mungkin! Gak mungkin kamu kayak gini Yura! Ini apa? Ini cuma prank kan?"
Yura hanya menggelengkan kepalanya tanpa berani mengangkat wajahnya ke hadapan Keita yang sudah pasti sangat, sangat, sangat kecewa pagi ini.
"Yura!" hardiknya sekali lagi.
"Aku mau putus saja Kak! Aku gak tahan dengan hubungan jarak jauh ini!" tegas Yura, dia tak mau berlama-lama dengan drama ini.
"Semudah itu?"
"Ya! Anggap saja ini pertemuan terakhir kita! Maaf aku sudah gak tahan lagi Kak!"
Yura menarik tubuhnya dari dalam mobil dan melewati Keita begitu saja. Keita yang merasa tersambar petir pagi ini.
Derai air mata tak juga berhenti tapi apa daya? Yura tak bisa menarik kata-katanya lagi. Sialnya dia harus membuat Keita kecewa dengan kebohongan yang dia paksakan demi menyelamatkan Dara dari obsesi gilanya.
"Selamat tinggal, maaf kalau selama setahun terakhir ini aku cuma bersandiwara Kak, tapi ... aku akan tetap mendo'akan yang terbaik untuk Kakak!" kata Yura lalu dia ambil kopernya.
Keita tak bergerak dari tempatnya berdiri, dia mematung dan sakit hati.
'I love you!' batin Yura saat beberapa detik dia puaskan matanya dengan memandangi Keita.
Dan tanpa ada kata lagi, Yura mulai melangkah bersama lukanya menuju terminal keberangkatan. Dia tak ingin berlarut-larut lagi.
Keita bahkan harus menangis, dia hentakan kepalan tangan beberapa kali di body mobilnya. Semuanya sangat cepat dan dia tak percaya dengan apa yang dia dapat di pagi yang dingin ini.
__ADS_1
Bagaimana kehidupan mereka setelah ini? Apakah masalah Yura sudah selesai? Atau ini hanya sebuah awal dari nestapa yang akan kembali menimpanya?