Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Malam Terakhir


__ADS_3

Makan malam terakhir Yura di London bersama Keita. Dan bisa jadi ini juga makan malam terakhirnya bersama Keita, benar-benar yang terakhir.


Yura tak bisa menikmati sajian spesial yang Keita pesankan untuknya. Fokusnya pecah dan yang dia ingat hanya kecaman Dara sore tadi.


"Kenapa sih? Steaknya gak enak?" tanya Keita saat dia melihat Yura hanya bengong di depan hotplate-nya.


"Enak kok, enak."


"Yakin? Mau pesan yang lain?" tawarkan Keita.


"Gak usah Kak, aku makan sekarang!" Yura segera sembunyikan lagi rasa gundahnya. Dia mulai menggerakan pisau daging dan garfunya.


"Gak mau pulang ke Jakarta cepat-cepat ya?" tanya Keita dengan nada menggoda dan secara tidak langsung hal itu malah melukai hati Yura. Yura tak kuasa, dia memang tak ingin cepat-cepat pergi tapi pada kenyataannya bahkan Yura terdesak untuk segera mengakhiri hubungannya besok pagi.


'Apa aku bisa?' batinnya lalu dia tatap senyum lepas Keita yang mungkin besok pagi tak akan bisa dia lihat lagi.


"Sayang ...." panggil Keita. Sepertinya dia mulai merasakan keanehan di gelagat Yura.


"Ya!"


"Kamu kenapa sih?"


"Gak apa-apa, ayo kita habiskan steaknya, rasanya aku cape banget hari ini, aku mau cepet-cepet istirahat!" dalih Yura, dan kini kecurigaan Keita makin besar. Jelas sekali kalau saat ini Yura sangat tidak nyaman, dia juga merasa tak enak hati.


"Kamu sakit?"


"Nggak Kak, aku cuma ... gak mau bangun terlambat besok!"


"Oh, ya udah ... habiskan ya!"


Yura hanya menukas seperlunya. Dia juga merasa potongan daging dan saus barbaque yang melewati mulutnya terasa begitu hambar. Yura tak ingin menikmati malam terakhirnya ini. Terlalu berat membayangkan apa yang akan terjadi esok pagi, dia hanya ingin cepat pulang ke penginapan dan tidur berharap dia bisa sedikit melupakan bebannya hari ini.


Beberapa saat kemudian ....

__ADS_1


Keita mengantar Yura, mereka sudah sampai di depan pintu penginapan Yura. Yura perhatikan ke sekitar, dia berharap tak ada Dara disana karena jujur saja, sejak tadi dia merasa terus diawasi.


"Masuk dulu Kak, sebentar ...." kata Yura lalu dia tarik tangan Keita masuk ke dalam ruangannya. Keita makin di buat heran dengan sikap aneh Yura sejak sore tadi.


"M, oke!"


Mereka masuk, bahkan Yura mengunci pintunya. Apa yang akan Yura lakukan?


Yura lepaskan mantel tebalnya, hanya menyisakan cardigan tipis dan dia juga melepaskan mantel Keita perlahan, Keita semakin dan semakin tidak mengerti.


"Hey, apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?" tanya Keita, yura ingin menjawab 'iya!' tapi dia menahannya di ujung lidahnya.


"Karena ini malam terakhir, aku mau Kakak temani aku sampai aku benar-benar tertidur!" kata Yura masih menjadi teka-teki untuk Keita.


Dan andai Keita mengerti, saat Yura menyatakan 'malam terakhir', bisa jadi malam ini memang malam terakhir mereka bisa bersama-sama sebagai sepasang kekasih.


"Ya ampun, makin kesini kamu makin manja yaa," kata Keita menggoda lalu mencubit hidung Yura dan Yura hanya tersenyum getir.


"Jangan pulang sebelum aku benar-benar tidur ya Kak," pinta Yura dan andai Keita sadar kalau saat ini mata Yura menggambarkan betapa dia sangat bimbang dan takut.


Yura berbaring, menepikan tubuh dan jiwanya yang lelah di atas tempat tidur yang nyaman itu. Sementara Keita duduk di tepi tempat tidur membelai kepala Yura sampai Yura benar-benar merasa nyaman dibuatnya.


"Aku gak mau ada disembunyikan, ceritakan lah!" kata Keita membujuk, Yura menatapnya dengan lekat berharap ada kekuatan yang bisa dia dapat dari sana tapi semakin lekat Yura malah semakin merasa sakit. Besok dan seterusnya mana bisa dia memandangi wajah Keita seperti ini lagi.


"Aku ngantuk, aku merem ya ... dan kalau aku udah gak respon, berarti aku udah benar-benar tidur!" kata Yura lalu perlahan dia pejamkan matanya.


"Yur, apa kamu gak suka dengan liburan singkat ini?" tanya Keita menahan Yura untuk tak benar-benar memejamkan matanya.


"Senang Kak, senang banget!" jawabnya lugas.


"Terus, kenapa? Kok rasanya kamu bersikap aneh malam ini? Apa kamu benar-benar gak mau pulang ke Jakarta?"


Yura tersenyum se-simpul mungkin tapi tetap saja senyumnya terlihat sangat terpaksa.

__ADS_1


"Iya, kalau boleh, aku mau lebih lama lagi ada disini, di dekat kamu seperti ini! Tapi, sayang ... besok pagi semuanya akan berakhir!"


'Semuanya akan berakhir! Andai kamu tahu Kak?' batinnya menuntaskan kalimat sebelumnya.


"Sebelum kamu datang kesini, aku senang karena gak sabar mau cepat-cepat ketemu sama kamu dan sekarang, saat kebersamaan kita akan segera berakhir, aku merasa menyesal karena setelah ini kita harus berjarak ribuan mil lagi!"


"Semoga Kak Dara bisa menemani kamu nanti ya," cetus Yura, Keita heran lalu mengerutkan keningnya.


"Kok Dara sih?"


"Ya maksudnya, setelah aku pulang, orang yang bisa nemenin kamu disini ya cuma Kak Dara! Dia, pasti akan membuat Kak Kei merasa lebih baik!"


"Buatku gak pengaruh sih, ada atupun gak ada dia gak berarti apa-apa!"


"Tapi Kak Kei gak boleh gitu, Kakak harus menghargai keberaadaanya! Sebagai sama-sama pelajar dari negeri yang jauh, kalian harus bisa saling menjaga! Dan aku lihat, Kak Dara masih sangat menyukai Kakak!"


"Ayolah, itu sama sekali gak berarti apa-apa kok buatku! Sekarang ini aku cuma memikirkan hubungan dan masa depan kita berdua nanti!"


"Heum ...."


"Selesai study, aku akan ikut andil dalam usaha kecil-kecilan Papi, terus kalau ada rezeki aku bantu-bantu kamu beli toko buat usaha kookies kamu! Do'akan ya ...."


Yura tak tahan ingin menjerit dan menangis mendengar harapan Keita barusan. Mungkin, saat besok Yura mulai menuruti instruksi Dara, harapan itu akan gugur dan pudar bersama kemarahan Keita, sungguh Yura tak bisa membayangkan hal itu.


"Maunya sih setelah aku lulus aku langsung lamar kamu tapi, tentunya aku harus punya pekerjaan yang layak dulu, jadi ... kamu yang sabar ya, mungkin tunggu aku 2 tahun lagi atau lebih cepat lebih baik!"


Harapan indah Keita malah semakin mengiris nurani Yura. Bagaimana bisa besok Yura memutuskan ikatan cintanya bersama Keita begitu saja.


Yura tidak meng'iya'kan, dia pejamkan matanya, dia pura-pura tidur saja. Karena meng'amini harapan Keita malah terasa menyakitkan untuknya. Yura hanya berharap apa yang Dara pinta padanya sore tadi hanya ilusi saja. Atau saat dia terbangun mungkin dia tiba-tiba sudah pulang ke Jakarta.


"Eh, beneran udah tidur ya? Cepet banget ...." kata Keita saat tahu Yura tak merespon lagi obrolannya.


Keita tarik selimut lalu dengan penuh kasih sayang dia selimuti kekasihnya itu. Memandang beberapa menit lalu dia juga tinggalkan kecupan selamat malam di keningnya. Kemudian dia pulang tanpa ada kata lagi.

__ADS_1


Sejurus Keita berlalu dari balik pintu, maka setitik air mata tiba-tiba hadir dan mengalir dari ujung mata Han Yura. Tapi sungguh, Yura tak ingin membuka matanya lagi, dia ingin tetap memejamkan mata dan saat ia besok terbangun, apa yang mengguncang jiwanya hari ini hanyalah sebuah mimpi.


__ADS_2